"Kamu akan terus dihantui rasa bersalah Dinda. Dan kamu tidak akan bisa lepas dari semua ini. Jika kamu beranggapan, membunuh ku dapat menghentikan semuanya, kamu salah Dinda. Justru kamu akan memulai semuanya. Kamu akan terus dihantui rasa sakit dan penderitaan kemana pun kamu pergi."
Bagaimana seorang Dinda bisa mengalami berbagai hal aneh sekaligus mengerikan dalam hidupnya?
Bisakah dia melalui semua rintangan yang menghadang?
Akankah dia sanggup berjalan hingga akhir?
Peringatan : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan Nama atau pun tempat, itu semua diluar pengetahuan sang penulis. Dan tidak ada maksud dari Sang Penulis untuk menyinggung suatu pihak manapun. Penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya, jika ada bahasa atau pun perkataan yang tidak pantas.
Dan tentunya Sang Penulis tak pernah bisa lepas dari kesalahan.
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juan Atma Wikarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Namaku Dinda : Episode 32
"Celaka Nyi! kelompok tiga tidak mendengarkan perintah kita Nyi!" (Panglima Jingga)
"Ini tidak baik Panglima. Mereka sudah diselimuti rasa sombong. Itu semua akan membahayakan mereka." (Dinda)
"Hai murid murid ku! Cepat naik ke atas sini!" (Panglima Jingga)
"Cepat naik! Kalian harus melawan kesombong kalian!" (Dinda)
"Kami akan menang Nyi!!! Kami akan menghabisi mereka semua!!!"
Para murid Panglima Jingga sudah benar benar kesetanan. Mereka bahkan tidak mendengarkan aku.
"Baiklah Panglima Jingga. Sepertinya saya yang harus turun tangan untuk menghadapi mereka." (Dinda)
"Jangan Nyi! Nyai harus menyimpan tenaga Nyai untuk penyerangan selanjutnya Nyi!" (Panglima Jingga)
"Dengarkan saya Panglima! Bukan bermaksud sombong. Tapi Nyi Sarmi sudah menurunkan Ilmu Rawa Rontek agar saya tidak bisa mati. Tapi lihatlah murid Panglima! mereka harus diselamatkan!" (Dinda)
"Anakku...." (Nyi Sarmi)
"Ibu...." (Dinda)
"Nyi Sarmi..." (Panglima Jingga)
"Anakku Dinda.... Kamu harus ingat, bahwa kami tidak boleh menggunakan ilmu itu sebelum kamu benar benar menghadapi musuh yang sesungguhnya." (Nyi Sarmi)
"Tapi mereka juga musuh saya Ibu." (Dinda)
"Mereka yang ada di bawah sana memang sudah di takdirkan untuk mati. Mati dengan membawa kesombongan mereka sendiri. Sekali pun kalian berusaha keras menolong mereka, mereka tidak akan selamat." ( Nyi Sarmi)
"Nyi.... Saya mohon Nyai Sarmi. Tolonglah mereka Nyi, saya sangat menyayangi murid murid saya Nyi." (Panglima Jingga)
Panglima Jingga menangis sejadi jadinya mendengar ucapan Nyi Sarmi. Dia benar benar benar sangat menyayangi murid muridnya. Dan bahkan semua muridnya yang ada disini pun ikut memohon dan menangis kepada Nyi Sarmi.
Aku pun tak dapat menahan kesedihan ku, melihat Panglima Jingga yang terkenal dengan keceriaannya, kini menangis melihat murid muridnya tewas sia sia. Bahkan dia tak memalingkan sedikit pun pandangannya kepada murid muridnya itu.
Namun siapa yang bisa berkutik? Nasi sudah menjadi bubur. Aku dan Panglima Jingga sudah berusaha mengingatkan mereka agar mereka tidak meneruskan pertarungan di bawah. Tapi mereka tetap tidak mendengarkan.
"Dengarlah kalian semua. Mereka yang tidak mendengarkan nasehat baik akan mati membawa sesuatu yang tak berguna, karena mereka tanpa sadar sudah menyombongkan diri dihadapan Yang Maha Kuasa. Dan ini bukanlah kehendak ku Panglima Jingga. Semua atas kehendak Yang Maha Kuasa. Dan tidak ada yang bisa membantah kehendak-Nya." (Nyi Sarmi)
"Dan ini sebagai pengingat untuk diri kalian sendiri. Bahwa nasehat baik tak pantas untuk di tolak. Dan kesombongan, hanya akan membawa kebinasaan." (Nyi Sarmi)
"Maafkan saya Nyi. Saya mungkin telah gagal mendidik mereka, hingga mereka berakhir seperti ini." (Panglima Jingga)
"Panglima Jingga... Jangan pernah bersedih. Ikutilah anak ku ini. Jangan membantahnya sekali pun. Karena dia adalah pemimpin mu yang baru." (Nyi Sarmi)
"Pemimpin yang baru?" (Dinda)
"Iya anakku.... Kamu adalah pemimpin yang pantas menggantikan Ku." (Nyi Sarmi)
"Lalu bagaimana dengan Ibu? Ibu akan meninggalkan saya?" (Dinda)
"Aku tidak akan meninggalkan mu anakku. Aku akan selalu ada di hatimu. Dan sekarang tugas ku sudah selesai. Aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Sekarang sudah saatnya aku pulang." (Nyi Sarmi)
"Tunggu Ibu! Ibu!" (Dinda)
"Sudahlah Nyi. Nyi Sarmi harus pulang. Karena ini bukan lagi dunia yang seharusnya dia tempati. Sekarang mari kita selesaikan apa yang sudah kita mulai Nyi." (Panglima Jingga)
"Baiklah Panglima! Ayo kita berikan hadiah yang pantas untuk mereka!" (Dinda)
"Iya Nyi!" (Panglima Jingga)
"Hahahaha!!! Sekarang kalian sudah usai. Jumlah kalian semakin sedikit. Dan sebentar lagi, kalian akan tewas di tempat ini! Dan akan saya siksa kalian satu demi satu! Hahaha!!!"
"Tunggu!"
Orang itu langsung diam saat ada sesosok laki laki muncul dari belakang mereka.
Dan ternyata.......
"Raihan?!" (Dinda)
jadinya ngeganggu banget
baca sinopsisnya kliatanbya lymayan asik ceritanya,pas udh baca,lsg drop dgn gaya penulisan
ayooo dikoreksi thor...biar bs jd penulis beneran,bkn abal2 yg banyak berseliweran di platform ini