NovelToon NovelToon
Mahligai Prahara

Mahligai Prahara

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:348.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: cmeely ayu

Inginku rengkuh kebahagiaan, namun apalah daya nestapa lebih dulu merajai mahligai pernikahan kita.
Terbelenggu dalam dilema yang dihadiri oleh orang ke tiga.

"Aku tak akan pernah mempermasalahkan tentang apa yang terjadi pada kesucianmu ataupun anak yang ada dalam kandunganmu.
Aku akan menerimanya, karena anak dalam kandunganmu adalah anakku juga."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cmeely ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seulas Senyum Pahit.

Terpuruk dalam keadaan, dan terbenam dalam kepiluan.

Seolah cobaan tak pernah usai silih berganti menerjang biduk rumah tangga.

Bahtera cinta mereka terus terombang-ambing dalam pusaran deras permasalahan.

Belum usai yang satu, tumbuh lagi yang lainnya. Hanya dera dan dera yang seolah tak pernah menampakkan ujungnya.

Entah kapan usai segala derita, berharap raga masih bisa bertahan meski nyatanya hati menjerit dalam kesakitan.

********

Bak mengurung diri dalam keheningan, hanum tak mengucap sepatah kata apapun semenjak perdebatan itu terjadi. Ia bersikap layaknya nyonya rumah yang di penuhi dengan aura suram.

Tanpa hadirnya sebuah senyuman hangat yang biasanya sering kali ia tampakkan pada Dewi.

Akan tetapi kini semuanya sudah berbeda.

Sengit dan arogan telah kembali menjadi identitas dirinya. Menyisihkan segala kebaikan hati yang sempat mengeratkan hubungan mereka hingga sampai pada jalinan persahabatan tanpa memandang siapa yang berkuasa dalam singgasana yang sesungguhnya.

Hening, tiada satupun yang berbicara dalam ruang keluarga itu.

Dewi hanya terdiam seraya menundukkan kepalanya. Menyembunyikan sengguk yang telah merambat hingga batang kerongkongannya dan menyamarkan tangis yang terpendam dalam hatinya.

Bulir air matanya telah menggenang dalam kelopak mata, hanya tinggal menanti sebuah keputusan antara tetap tinggal atau terusir dari kediaman sang majikan.

Sedangkan Hanum melipat kedua tangannya seolah malas untuk mendengar sebuah keputusan yang telah ia yakini kebenarannya.

Senyumnya diam-diam menyeringai, senang dengan keputusan yang masih belum di utarakan. Ia yakini dalam hatinya bahwa suaminya itu pastilah akan selalu mempertahankan dirinya daripada orang asing yang mencoba menghancurkan biduk rumah tangga mereka.

Akan tetapi hatinya kian sesak, seolah di hujam oleh kenyataan yang tak ia kira-kira.

Seringainya luruh berganti dengan ketidak percayaan dengan apa yang barusaja di dengarnya.

"Maaf ya, sayang." Reynand berucap lirih seraya menggenggam erat kedua jemari tangan istrinya.

Gemetar menahan kemarahan, kebencian dan rasa sakit itu tak lagi bisa ia utarakan.

Sorot matanya menjadi sayu, dan batinnya pun meronta menyuarakan ketidak terimaan.

'Ini nggak adil! Seharusnya tidak nggak begini, Rey!" Jeritnya dalam hati.

Relung dadanya terasa sakit, teramat sakit hingga ia hanya mampu menghela napas pasrah. Memendam asa dan beban hatinya dalam pemikiran tersembunyinya.

Ia lelah untuk berdebat, lelah untuk mengeluh akan segala aspek kehidupan yang tak pernah berpihak kepadanya.

"Baiklah, karena kau memilih untuk mempertahankan dia tinggal dalam rumah kita. Itu bukanlah sebuah keputusan yang buruk, Rey," ucapnya dengan nada lirih.

Menyisipkan kelukaan yang teramat berat terdengar di setiap bait kata yang di tuturkan olehnya.

Senyumnya mengembang sempurna, hingga setitik air mata keluar dari sudut persembunyiannya.

"Terimakasih, Rey. Memang sepertinya kita tidak pernah di restui oleh sang pemilik kehidupan. Kau dan aku tidak akan pernah menjadi kita, jika kau saja lebih memberatkan orang lain daripada aku, istri mu sendiri," ujarnya diiringi dengan tawa lara, "dan lagi, memang sepertinya kita harus segera usai dalam perjalanan rumah tangga ini. Kehidupan terlalu kejam, tak pernah berpihak pada setiap kebaikan dan ketulusan yang ku ciptakan. Kau bebas memilih Rey, tidak memberatkan diriku dan memilih untuk mempertahankan dia," imbuhnya lagi seraya menunjuk Dewi yang masih berdiam diri dalam keheningan.

"Aku pergi, Rey. Semoga pilihanmu tidak pernah kau sesali dalam hidupmu."

Hanum melepaskan genggaman tangan suaminya. Seulas senyum pahit pun tertoreh di bibirnya. Senyum yang di penuhi dengan lara dan juga dusta.

Ia tidak bahagia, akan tetapi kekejaman yang seolah tak pernah usai itu membuat ia lelah untuk terus menitikkan air mata.

Larut dalam keterpurukan yang memang seolah hendak menenggelamkan dirinya dalam kubangan siksa jiwa.

Langkah kakinya berayun perlahan, menapaki satu persatu anak tangga yang ada di rumah itu. Setiap langkahnya melepaskan segala kenangan, dan meninggalkan sedikit demi sedikit sebuah harapan. Tiada yang tersisa, hanya lara yang akan terus singgah dalam dirinya dan memandunya untuk terus melangkah meski tiada lagi yang akan berpihak kepada dirinya.

Ia telah lelah, lelah berbaik hati dan terus mengalah. Apa yang di milikinya tak pernah benar-benar ada dalam genggamannya.

Semua serba semu, seolah abstrak tak tersentuh oleh raga.

Sakit, rasanya seperti ada banyak luka yang terus mengoyak dalam dirinya.

Ia butuh sandaran, bukan hanya di jadikan sebuah bidak dalam setiap pergerakan.

Ia butuh kasih sayang, bukan hanya bait kata romantis yang selalu membuatnya terngiang.

Sesak, ingin rasanya Hanum berteriak melepaskan segala gejolak yang mengurung dirinya.

Hingga sebuah pelukan hangat merengkuh tubuhnya, mencoba menenangkannya meski nyatanya itu tak memberikan arti apapun saat ini.

Reynand memeluknya dengan kehangatan, merengkuh tubuhnya untuk tetap erat bersamanya, "jangan pergi," ujarnya berbisik di telinga istrinya.

Hanum hanya tersenyum mendengar kata-kata itu. Sebuah kata kiasan yang selalu berhasil membuat ia luluh dalam beberapa waktu yang lalu.

"Rey, aku bukan pilihan mu. Lantas kenapa aku harus tetap singgah di sini bersama denganmu?" tanya hanum seraya melepaskan diri dari rengkuhan suaminya.

"Tidakkah terbesit dalam pikiran mu kenapa aku mempertahankan ia di dalam rumah tangga kita? aku hanya khawatir dengan keadaan mu, sayang. Itu saja dan tidak ada sesuatu apapun antara aku dan dia," jawabnya lirih.

"Hanya khawatir dengan ku, tapi tidak dengan perasaan ku, Rey. Lepaskan aku, kita usai sampai di sini."

1
Elok Pratiwi
kecewa
YuWie
chuzz langsung nengok ivana..semoga happy
YuWie
kopi like..bagus..walo isinya banyak kesedihan dan end nya pun sad ending
Ersa
novel ini bagus, meskri tdk happy ending tapi aku suka
Sri Wahyuni
num klau d awal suami dah nerima kmu yg dah ga suci lg dngn lapang dda knp ga jjur lgi mslh s dannil spya ga ada slh fhm yg bsa mnghancurkn biduk rmh tannga mu
Sri Wahyuni
mka y jd cwe tuh hanum hrs byk brsyukur punya suami yg mncinta mlah d cuekin akhir y karma mu lngsung d byr lunas
mbak i
terlepas dari ending nya yang bikin sedih,,,tapi cerita ini sangat bagus bahasanya indah banget,,,terima kasih untuk cerita yang luar biasa ini,,walau penuh air mata😭
Fa Rel
terpuruk boleh sampai benci anak hanum wanita bodoh
Fa Rel
bikin reynand nyesel thor
Fa Rel
terlalu banyak.bermain kata kayak.puisi aja
Andi Rezky
penasaran critanya
Acheuom Rahmawatie
prahara
Acheuom Rahmawatie
reyy suami idaman🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Acheuom Rahmawatie
hamil
Masiah Firman
Daniiiil kurang ajar ...perusaka rumah tangga
Masiah Firman
kurang dialognya thour
Masiah Firman
hiiiih peninor
Masiah Firman
thour 😀😀😀
Sushie Ajjah
kenapa???.... endingnya bikin🥺🥺😢😭😭😭😭
Cmeely Ayu: Terima kasih, Kak Sushie🙏
Untuk endingnya kenapa begini, ya.
Aku menyesuaikan dengan judulnya sih, kakak ☺️ Karena judulnya emang udh sedih atau Ndak bahagia, jadi endingnya pun sama🤗.
Terima kasih sudah berkenan hadir, kakak 🙏
total 1 replies
Ind_Di
keren banget banget banget & mengandung banyak bawang sumpah 😭😭😭
thanks author udh bikin novel kek gini yg bahasanya so puitis...
aq sukaaaa 😍😍😍
Cmeely Ayu: Terima kasih banyak, kakak🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!