21++ Harap bijak memilih bacaan. Bukan bacaan untuk teenager, ABG, Bocil dan kawan-kawan.
Widia adalah mahasiswi tahun pertama yang mendadak harus menikah dengan pacarnya karena paksaan dari kakaknya.
Dalam perjalanan rumah tangganya, Widia dan Ivan yang tidak pernah berkonflik besar tiba-tiba berpisah. Widia menghilang meninggalkan suami dan anaknya.
Setelah beberapa waktu, Widia yang dikira telah tiada ditemukan bersama dengan laki-laki tampan lain yang memperbudaknya sebagai istri.
Bagaimana perjuangan Widia untuk lepas dari 'GENDAM' Sang Suami setelah hadirnya madu yang meracuni hidupnya?
Base on true story, Cus … dibaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 32
Pekerjaan Erwin sebagai sopir travel membuatnya mengenal beberapa penumpang yang sering diantarkan. Diantara penumpang itu ada yang royal dan selalu memberinya tips berupa lembaran uang yang sangat Erwin butuhkan.
Salah satu dari penumpang royal itu adalah Maya, walaupun tak secantik Widia tapi wanita dengan bentuk tubuh seperti model majalah panas itu sangat menarik perhatian pria, tak terkecuali suami abal-abal Widia.
Erwin mengenalnya saat Maya berkali-kali minta diantar menuju sebuah alamat yang sama … alamat yang menurut Erwin terlihat tidak biasa. Dalam seminggu terakhir, Erwin sudah mengantarkan Maya dua kali ke tempat tersebut.
Hubungan mereka yang semula hanya sebatas penumpang dan sopir travel berubah menjadi lebih dekat dan sedikit istimewa. Diawali dengan mengobrol ringan sepanjang jalan, sekarang saling bercerita tentang kehidupan pribadi.
Erwin yang tak pernah puas berhubungan dengan wanita cantik seperti mendapat angin segar, mendekati Maya dan mendapatkan keuntungan lebih kini menjadi fokusnya.
Seiring waktu, Erwin menjalin hubungan gelap dengan Maya tanpa sepengetahuan Widia. Wanita yang menjadi penumpang favoritnya itu sudah menjadi salah satu kesukaan dan semangat Erwin saat bekerja.
Tak jarang Maya ikut menumpang travel yang dibawa Erwin meski tidak sedang memiliki tujuan. Sebaliknya, jika travel yang dibawa Erwin sepi penumpang, Maya akan segera dihubungi Erwin untuk menemaninya.
Maya selalu diberikan kursi di sebelah Erwin dan mereka bertingkah layaknya pasangan kekasih.
Ketika harus mengantarkan Maya ke rumahnya, Erwin akan menghabiskan penumpang lain lebih dulu hingga Maya mendapat jatah paling akhir. Mencarikan kernetnya losmen murahan agar dia bisa menginap di rumah Maya.
Entah apa yang dimiliki Erwin hingga Maya juga dengan mudah bertekuk lutut padanya yang notabene hanya seorang sopir travel.
Kata-kata manis dan rayuan Erwin membuat Maya terbuai, larut lebih dalam dan akhirnya pasrah ketika Erwin menjajahnya. Sekali, dua kali dan malam panas terus terulang saat mereka bertemu muka.
Tidur di ranjang yang sama dengan Erwin sudah jadi hal biasa, Maya telah membuat Erwin lebih bersemangat saat menjalankan tugasnya mencari nafkah keluarga.
Waktu berlalu dengan cepat, hari ini … setelah seminggu meninggalkan Widia, Erwin akhirnya pulang ke rumah.
Ketukan pintu yang dinantikan Widia selama beberapa hari akhirnya tiba. Dia menyambut Erwin dan mencium punggung tangannya, "Abang udah pulang?"
"Iya, capek banget. Aku mau mandi dulu, buatin kopi ya!" Erwin berlalu melewati Widia begitu saja. Meletakkan tas pakaian kotor dengan asal, lalu masuk ke kamar mandi.
Melihat kelakuan Erwin, Widia hanya bisa bersabar. Dia mengambil tas pakaian kotor dan mengeluarkan isinya karena akan direndam dulu sebelum dicuci.
Satu persatu pakaian Erwin diperiksa kantongnya agar tidak ada hal penting yang mungkin bisa rusak saat terkena sabun cuci.
Widia terkejut, beberapa pakaian Erwin tercium aroma yang dia kenal. Bukan hanya bau keringat yang melekat, tapi aroma menyengat yang khas dari bekas bercinta.
Wanita cantik itu menemukan dan mengenali lendir yang mengering dan berbau tajam khas pria. Hati Widia teriris, sakit. Dia memandang ke arah pintu kamar mandi dimana Erwin sedang membersihkan tubuh.
Air mata Widia merebak saat membayangkan apa yang telah dilakukan Erwin di luar sana. Seminggu tak pulang ternyata Erwin masih tak bisa menahan hasratnya.
Itu memang bukan yang pertama kali Widia temukan, tapi Erwin sudah berjanji padanya untuk tidak mengulangi dan Widia sudah memaafkannya.
Tapi kenapa Erwin sepertinya lupa dengan ucapannya sendiri?
Hari ini Erwin pulang dengan tanda merah di leher dan dada juga. Meski tidak terlalu terlihat, tapi Widia mengenali itu sebagai bekas cumbuan seseorang. Hal yang juga biasa Widia lakukan pada Erwin atau sebaliknya.
Widia tidak berani menanyakan hal detail pada Erwin. Dia hanya berpikir Erwin khilaf dan bermain dengan wanita malam yang menawarkan jasa padanya.
Pikiran Widia rumit, dia takut jika banyak bertanya ... Erwin akan marah.
Rasa takut ditinggalkan dan kehilangan Erwin jauh lebih dominan dibandingkan sakit hati yang dirasakannya.
Erwin keluar dari kamar mandi dan menemukan Widia yang sedang memandangnya dengan ekspresi bingung. "Ada apa, Wid?"
Widia hanya mengacungkan pakaian kotor Erwin yang masih ada ditangannya. Erwin melihat Widia sepintas, lalu bertanya tegas, "Mana kopi buat aku, kok belum ada?!"
"Sebentar," jawab Widia lirih.
Widia membuat kopi untuk Erwin dengan sedikit enggan, menyuguhkan dengan rasa tak ikhlas.
Erwin duduk tenang, menyalakan rokok dan menghembus asapnya kuat ke arah Widia yang ada di depannya. "Ada apa lagi?"
"Bang, boleh aku nanya?"
"Hm, apa?"
"Abang ada main lagi sama wanita lain diluar sana?" tanya Widia dengan suara rendah.
Erwin menatap tajam Widia, "Kenapa memangnya?"
"Aku cuma memastikan aja, Abang sudah janji kalau nggak …" Widia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Nyalinya ciut melihat tatapan garang Erwin.
"Aku kenapa, memangnya nggak boleh main sama wanita lain? Aku laki-laki normal ... butuh kehangatan malam hari, sementara kamu jauh ada di rumah. Kamu ngerti maksud aku?"
Widia mengangguk dilematis, menerima penjelasan Erwin tanpa berani membantah. Menelannya mentah-mentah seperti apa yang diperintahkan otaknya.
Meski jauh dalam hati kecil Widia tidak menerima, tapi sekali lagi Widia dibuat tidak berdaya.
***
erwin apa khabar ya?..
smoga nasib baik berpihak padamu