Warning! 21+
Evellyn seorang gadis muda berusia 17 tahun terpaksa melarikan diri dari rumah. Gadis yang bahkan belum lulus sekolah itu terpaksa melepaskan diri dari jerat sang ibu tiri yang ingin menjual dirinya, karena terlilit hutang judi disebuah pusat perjudian kasino.
Namun kesialan terjadi saat dirinya dalam misi pelarian diri. Gadis itu terjebak dalam situasi yang tidak kalah rumit dan menegangkan. Evelly terjebak diantara orang-orang yang menguasai dunia bawah tanah.
Akankah Evelly berhasil lolos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Canggung
Tok
Tok
Tok
"Masuk," ujar Yansen.
Kriekkkk
Evellyn menekan handle pintu. Mata gadis itu bersitatap dengan mata Yansen.
Deg
Deg
Deg
Jantung keduanya bertalu-talu. Terus terang Yansen merasa terganggu dengan debaran jantungnya sendiri.
"Bagaimana keadaan tuan?" tanya Evellyn berbasa basi.
"Kenapa kamu bertanya? masih ingat punya majikan?"
Evellyn tidak menggubris ucapan pedas dari Yansen. Gadis itu duduk di sofa sembari bermain ponsel.
"Sabar Eve, jangan kamu tanggepi omongan sambal pecel lele ini. Kalau suatu saat kamu jadi dokter, kasih saja dia suntik mati," batin Evellyn.
"Dasar tidak perhatian, bukannya dilihat keadaan lukaku, atau dipegang, diraba, ditanya mana yang sakit. Ini malah sibuk bermain ponsel," batin Yansen.
"Ambilkan aku minum!" ujar Yansen.
Evellyn berdiri dan menuangkan segelas air untuk Yansen, kemudian menyodorkan nya pada pria itu.
"Apa matamu tidak berfungsi lagi? sudah tahu tanganku sakit, malah disuruh minum sendiri."
Tanpa menjawab Evellyn membantu Yansen minum, gadis itu sama sekali tidak meladeni ucapan pedas Yansen.
"Kupaskan aku buah jeruk!" ujar Yansen.
Evellyn mengambil sebuah jeruk dari keranjang parcell dan mengupas buah itu hingga bersih.
"Kenapa dia diam saja? biasanya dia akan membalas ucapanku. Kalau begini kan serasa jadi ikan ****** yang bertengkar dengan cermin." batin Yansen.
"Hemm...bagaimana rasanya dicuekin? nggak enak kan? rasain! sampai pulang aku nggak akan meladeni mulut siletmu itu, bila perlu akan kujahit biar cepat diam," batin Evellyn.
Satu persatu Evellyn memasukkan ruas jeruk kedalam mulut Yansen. Tanpa banyak bicara atau menoleh kearah pria itu. Sementara Yansen selalu mencuri-curi pandang kearah Evellyn, yang tanpak fokus dengan jeruknya.
"Aku lapar, suapi aku roti itu!"
Evellyn meraih plastik yang berisi aneka macam roti. Evellyn dengan telaten menyuapi Yansen tanpa bicara sedikitpun.
"Benar-Benar nggak enak liat dia diam gini. Aku kayak orang gila ngomong sendiri," batin Yansen.
"Cukup. Berikan aku air minum," ujar Yansen.
Evellynpun membantu Yansen minum kembali.
"Apa ada lagi yang tuan butuhkan?" tanya Evellyn.
"Tidak ada."Jawab Yansen.
"Kalau begitu beristirahatlah," ujar Evellyn.
Evellyn membantu Yansen untuk berbaring, namun diluar dugaan tubuhnya malah terhuyung kedepan dan menyisakan jarak hanya beberapa senti saja dari wajah Yansen.
Deg
Deg
Deg
Jantung keduanya kembali berdebar, tatapan mereka sempat beradu sampai Evellyn memutuskan kontak mata itu dengan sengaja.
"Maaf," ujar Evellyn canggung.
Evellyn kemudian kembali duduk disofa panjang dan meraih ponsel berpura-pura menyibukkan diri. Tanpa Yansen tahu, jantung Evellyn sedang marathon saat ini.
"Sial. Situasi apaan itu tadi? udah kayak film india aja," batin Evellyn.
"Ada apa dengan jantungku? aku nggak mungkin menyukai gadis kecil itu kan?" batin Yansen.
Evellyn berbaring di sofa panjang dan memejamkan mata. Evellyn ingin Yansen mengira dirinya lelah dan tertidur. Meskipun sebenarnya pikiran gadis itu sedang traveling tidak tahu arah.
Waktu menunjukkan pukul 1 malam, saat Yansen perlahan turun dari atas tempat tidur dan menghampiri Evellyn.
"Sebenarnya apa kelebihan gadis ini? bukankah dia masih anak-anak? tapi kenapa dia bisa membuat perasaanku jungkir balik. Berkali-kali aku menyangkal perasaanku, tapi sepertinya aku memang menyukai gadis ini."
"Tapi itu tidak boleh terjadi. Masa depan gadis ini masih panjang. Aku akui aku sudah membuat kesalahan fatal. Tapi aku tidak mungkin menebusnya dengan menikahi dia. aku tidak suka berkomitmen. Kalau dia ingin disisiku selamanya tentu aku akan senang, tapi untuk menikahinya?"
Yansen merapikan rambut panjang Evellyn yang menjuntai. Entah apa yang mendorong pria itu, tiba-tiba perlahan dia mencium Evellyn.
"Ah...sial, kenapa aku ingin sekali menciumnya. Ini tidak boleh dibiarkan, setelah kupikir-pikir ada untungnya juga mengajak dia bertengkar , jadi dia bisa membenciku kan? tapi kenapa aku merasa tidak tahan melihat tatapan permusuhannya itu?"
Yansen bergegas kembali ketempat tidurnya, dia tidak ingin Evellyn terbangun dan mengetahui apa yang sedang dia lakukan.
"Dia tadi menciumku kan? aku tidak sedang bermimpi kan? lalu apa arti ciumannya itu? apa itu artinya dia juga menyukaiku? dia tidak mungkin tipe pria yang suka memanfaatkan keadaan terus menerus kan?" batin Evellyn.
Evellyn tersenyum tipis. Diriny seolah punya harapan, bahwa Yansen akan berubah menyukainya. Evellynpun membawa senyum dalam tidurnya.
*****
Evellyn menggeliatkan tubuhnya dan sedikit terganggu dengan cahaya yang masuk dari tirai jendela. Evellyn benar-benar lupa kalau saat ini dirinya sedang berada dirumah sakit. Bahkan gadis itu tidak sadar, saat baju yang ia kenakan sudah tertarik keatas hingga memperlihatkan kulit mulusnya.
"Gadis ini sangat ceroboh, apa dia tidak ingat sedang berada dimana saat ini?"
"Morning," ujar Zavier, Diego, dan Owen secara bersamaan sembari membuka pintu.
Evellyn tersentak kaget dan duduk seketika. Setelah itu dia menepuk dahinya karena baru teringat dirinya saat ini sedang berada dirumah sakit.
"Baru bangun Cil? sana cuci muka, kita sarapan sama-sama ya?" ujar Zavier.
Sementara itu Yansen seolah bersikap cuek dengan membaca majalah ditangannya.
"Gimana tanganmu Yan?" tanya diego.
"Aku mau pulang hari ini. lebay banget, luka kayak gini mesti di opname. Ini pasti akal-akalan kalian kan?" tanya Yansen setelah Evellyn berada dikamar mandi.
"Gimana? apa masalah kalian sudah selesai?" tanya Zavier.
"Selesai apanya? nggak ada yang perlu diselesaikan. Kami ini cuma hubungan majikan dan pelayan, kalian seolah menganggap kami punya hubungan spesial saja." Jawan Yansen.
"Sudah kuduga, nggak akan ada kemajuan sama bandot tua ini," timpal Diego.
"Sialan. Siapa yang kamu bilang bandot tua?" tanya Yansen.
"Kamulah. Sudah tua keras kepala," ujar Diego
"Kamu..." ucapan Yansen terhenti, saat Evellyn keluar dari kamar mandi.
"Kemarilah Cil, kakak belikan bubur ayam buat kita sarapan bersama," ujar Zavier.
"Makasih kak." Jawab Evellyn sembari mendekat.
"Dari sebanyak pria yang baik hati dihadapankku, kenapa aku harus menyukai seorang gorila?" batin Evellyn.
"Makan yang banyak, kakak perhatikan kamu sangat kurus sekarang. Apa kamu sedang banyak pikiran?" sindir Zavier.
"Nggak ada kak, mungkin karena aku sedang mikirin ujian kali ya?" ucap Evellyn.
"Kalau kamu punya masalah dalam bentuk apapun itu, kamu boleh cari kakak. Kakak akan bantu kalau kakak bisa," ujar Zavier.
"Makasih kak," ucap Evellyn.
Merekapun makan sembari berbincang. Yansen tampak tidak senang saat melihat keakraban Evellyn dengan teman-temannya. Sementara dirinya diperlakukan seperti orang asing diruangan yang sama.
"Ya Don?" Evellyn menerima panggilan yelpon dari Doni.
"Oh gitu. Bisa-Bisa. kamu jemput aku dirumah sakit X saja ya?"
"Oke. Aku tunggu," ujar Evellyn dan menutup telponnya.
Diego, Zavier dan Owen menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Yansen yang masam. Sementara Yansen memikirkan cara agar Evellyn tidak jadi pergi dengan pria yang bernama Doni itu.
TO BE CONTINUE...🤗🙏
klw Ivanka bukan perawan tua tp kek gadis rasa janda udah bolong semua