Kehidupan Alex anak seorang pengusaha ternama dan tekemuka yang hidup bebas dan tidak terarah.
Kehidupan Filece, yang merubah nama nya sendiri menjadi Zahra setelah menghadapi gelombang hidup di tengah keluarganya.
akan kah Alex dan Zahra bisa hidup bersama dengan bahagia atau malah sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ima alyanadira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-31
Setibanya di rumah Zahra masih teringat dengan Miko, sudah lama sekali ia tidak melihat nya.
Tiba-tiba Zahra teringat akan perkataan Luna.
"Apa benar yang dikatakan Luna?, Lalu apa yang ku lihat satu tahun yang lalu" gumam Zahra mengingat peristiwa satu tahun yang lalu.
"Ah sudahlah, untuk apa aku memikirkan kan masa lalu, aku sudah bersuami, alangkah berdosanya aku bila memikirkan lelaki lain dalam pikiranku ini" Zahra berusaha menepis bayangan Miko yang kini tiba-tiba melintas dalam ingatannya.
"Lebih baik aku menunaikan sholat isya" lirih Zahra lagi namun belum sempat ia melangkah ke kamar mandi, suara ponselnya berdering.
Tertera nama Alex disana sebagai pemanggil.
"Hallo"
"Zahra, bagaimana kabar mu hari ini?"
"Aku baik"
"Hafidz sudah tidur?"
"Baru saja siap menyusu, terus langsung tidur, dan ini aku lagi mau sholat isya"
"Oh baiklah assalamu'alaikum"
"Tunggu!"
"Ya"
"Kamu sudah pulang kerumah"
"Aku lagi di luar"
"Sama wanita itu"
"Wanita yang mana?"
"Sudahlah, Alex kamu jangan menutupinya lagi, aku sudah tau semuanya"
"Darimana kamu tau"
"Apa penting bagimu dari mana aku taunya"
"Kamu salah paham Zahra"
"Kalau aku salah paham tidak mungkin kamu bertanya tentang poligami waktu itu, pertanyaan mu sudah cukup memberitahuku tentang maksudmu"
"Jadi karena itu kami ingin pulang ke rumah Papa?"
"Aku kesini karena rindu dengan Bik Ira"
"Zahra semua yang kamu pikir tentang aku salah, apa perlu aku kerumah Papa sekarang"
"Untuk apa kamu datang kesini"
"Untuk menjelaskan semuanya kepada mu, lewat telpon seperti ini susah"
"Tidak perlu, tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau sampai kamu menikahi wanita itu, aku akan mundur dari kehidupanmu"
Selesai berucap demikian Zahra mematikan sambungan teleponnya lalu melanjutkan niatnya untuk sholat isya.
_________
Sementara di sebuah kamar apartemen seorang pria terlihat uringan sehabis mematikan ponselnya sementara wanita di sampingnya sedikit cemberut karena mendengar percakapan itu.
"Mengapa kamu belum mengatakan semua ini kepada istri mu itu"
"Feliysa, kamu sabaran kenapa?"
"Sampai kapan? Udah kamu langsung terus terang saja kepada nya tentang hubungan kita"
"Tidak semudah itu Feliysa, aku harus membujuk nya perlahan sampai dia menyetujui nya"
"Huh takut sekali sih kamu sama istrimu itu"
"Iya aku takut bila harus kehilangan dirinya, oleh karena itu aku harus pelan-pelan membujuknya"
"Secinta itukah kamu dengan dia?" Feliysa merasa cemburu
"Aku cinta sama kalian berdua, dan aku tidak ingin kehilangan kalian berdua" Alex meraih tubuh Feliysa untuk masuk ke dalam pelukannya
"Aku juga cinta sama kamu Alex" Feliysa balas memeluk Alex manja dan ia mulai mencium Alex tapi dengan cepat Alex menolaknya.
"Kenapa???bukankah kau mencintaiku"
"Iya, tapi kita melakukan nya setelah kita menikah oke!"
"Sejak kapan kamu begini"
"Sejak aku mengenal Zahra"
"Huh Zahra lagi, Zahra lagi" keluh Feliysa kesal dan melepaskan rangkulannya.
"Sayang jangan kesal gitu dong! Aku janji secepatnya akan menikahimu, lalu kita akan melakukan nya. Sekarang ayo kita tidur" ajak Alex.
"Janji ya secepat nya kamu akan menikahiku?, Lagi pula apa susahnya sih untuk Zahra, aku saja mau di madu asalkan bisa bersama denganmu"
"Iya aku janji, udah ga usah dibahas lagi ya" Alex memeluk Feliysa dan mengajak nya untuk tidur.
Mereka pun berbaring dan tidur sambil berpelukan.
.
.
.
{Author:mmm... gaya loe Lex ga mau di cium karena takut dosa, emang berpelukan dan tidur satu ranjang ama yang bukan mahrom ntu kagak dosa ape?
{Alex:ya elah thor, kayak kagak tau aja loe kalau gue awam ama agama, ini pun udah ada kemajuan saat gue bersama Zahra
{Author:lha jadi kapan loe berubah?
{Alex:ada, dimana di saat Zahra pergi dalam hidup gue, disitu gue nyesel banget, gue mulai memperdalam ilmu agama dan berharap bisa bersama lagi dengannya.
{Author:emang dia mau balikan ama loe lagi???
{Alex:kan loe yang buat alurnya, jadi satuin gue ama dia lagi please!!!
{Author:gue mikir dulu😂😂😂ape dia mau ama loe atau kagak😂
________
Selesai melaksanakan shalat Zahra belum bisa tidur, ia memanggil Reva" Reva tolong jaga Hafidz ya!, Kalau dia bangun panggil aku!"
"Baik non" jawab Reva berbaring di atas ranjang milik Zahra.
Lalu Zahra keluar menuju dapur, ia menuangkan air putih kedalam gelas lalu meminumnya.
Tiba-tiba suara Bik Ira mengagetkannya
"Non, kenapa belum tidur?
"Eh Bibik, ini belum ngantuk aja bik"Zahraeletakkan gelas dari tangannya di atas meja.
"Kenapa?, apa non sedang memikirkan sesuatu"
"Darimana bibik tau kalau aku sekarang sedang memikirkan sesuatu?" Heran Zahra menatap Bik Ira
"Ah non ini, Bibik lho yang merawat non dari kecil, jadi Bibik bisa tau dengan sikap non"
"Hehehe, iya juga ya. Oh iya Bik aku mau nanya boleh?"
"Boleh non tanya saja, kalau Bibik bisa pasti Bibik akan bantu non"
"Tapi ini hanya rahasia kita berdua aja, Bibik jangan menceritakan nya kepada siapa pun"
"Bibik janji non"
"Begini Bik, sepertinya Alex ingin menikah lagi dengan mantan kekasihnya, tapi aku bilang sama dia kalau dia sampai menikah dengan mantannya itu maka aku akan mundur dalam kehidupan nya" jelas Zahra kepada Bik Ira
"Jadi non mau Bibik jawab apa?" Tanya Bik Ira untuk memancing reaksi dari Zahra
"Ya Allah Bibik, ya menurut pendapat dan pandangan Bibiklah" kesal Zahra gemes
"Mmm, kalau menurut Bibik ni ya non, seandainya den Alex menikah dengan mantan kekasihnya itu dan tidak bisa untuk dicegah, mending non jangan nyerah deh"
"Lho kenapa harus begitu Bik" Tanya Zahra memperbaiki posisi duduknya lebih serius menghadap Bik Ira yang sedang duduk di sampingnya
"Begini lho non, sakit memang mendapati kenyataan kalau suami kita ingin menikah lagi, sakitnya itu pasti nyut nya di dalam hati banget, sehingga kita lebih memutuskan untuk berpisah saja, tapi coba non lihat dari sisi lain pula! Kini non tidak sendiri, ada den Hafidz bersama non, jadi dampak perpisahan dari kedua orang tuanya pasti berimbas kepada den Hafidz juga, yang tentunya den Hafidz pasti membutuhkan sosok seorang ayah untuknya, jadi menurut Bibik andai pun den Alex ingin mendua bertahanlah demi den Hafidz, karena seorang ibu itu pasti siap mengorbankan kebahagiaannya demi kebahagiaan anaknya"
Setelah mendengar penuturan dari Bik Ira seketika air matanya luruh tak terbendung ia membenarkan perkataan dari Bik Ira karena dia juga anak dari korban perpisahan kedua orang tuanya.
"Non, Allah itu tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya"
Zahra menggenggam erat tangan Bik Ira" terimakasih ya Bik sudah mengingatkan Zahra" lalu Zahra memeluk Bik Ira erat dan menumpahkan tangisnya disana.
Bik Ira mengelus punggung Zahra untuk memberikan ketenangan kepadanya"sabar ya non"
"Insyaallah Bik, sekali lagi terimakasih sudah mengingatkan Zahra"
"Iya non, sebijak apapun seseorang kalau dia sedang mengalami masalah pasti akan membutuhkan orang lain untuk menyadarkan kita lagi"
"Iya Bibik benar, aku selalu di nasehati Ustad Alfatih akan hal itu, namun untuk sejenak aku melupakan semuanya dalam amarah dan kesendirian ku"
"Non tidak usah sedih lagi, non tidak sendiri. bila non sedang ada masalah cerita aja sama Bibik, insyaallah Bibik akan bantu"
"Ya sudah aku tidur dulu ya Bik, sekali lagi terima kasih" Zahra pun berlalu masuk kedalam kamarnya.