menceritakan tentang perjodohan seorang ceo dingin dengan gadis cantik anak tunggal di keluarga kaya raya, yaitu sahabat papanya sendiri. mampukah mereka menyatuhkan cinta mereka meskipun memiliki sifat yang sangat berbeda dari keduanya??
ini karya pertama ku,, 😊😊
maaf typo bertebaran guys
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajra Ichi Ocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Rya hanya bisa menangis tanpa bisa mengatakan apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Ia hanya merutuki hidupnya yang kini tak berjalan sesuai keinginannya, bukan salahnya memang, karena pernikahannya dan Mahendra bukanlah keinginan Rya melainkan, keinginan kedua orang tuanya dan ayah Mahendra sendiri.
Sementara Mahendra kini hanya terduduk sambil mencerna semua perkataan Rya padanya, Mahendra kini merasa bahwa saat ini Rya benar-benar marah padanya, dan Rya sangat tertekan akan perlakuannya saat ini.
Mahendra lalu mengeluarkan ponselnya dan memesan makanan untuk sarapan, dengan kondisi Rya yang masih marah padanya ia tak mungkin menyuruh Rya melakukannya.
Dan sebagai rasa bersalah Mahendra dan juga bentuk penyesalannya atas perlakuannya selama ini, Mahendra telah bertekad untuk memperbaiki hubungannya dan Rya.
Setelah pesanan makanan Mahendra telah tiba, Mahendra pun menerima paket dan membayarnya lalu meletakan makanan dengan rapi di atas meja makan, seperti yang Rya selalu lakukan untuknya.
Lalu ia melangkah mendekati pintu kamar Rya untuk mengajak Rya sarapan bersamanya.
Tok tok tok, suara pintu kamar Rya yang di ketuk, sementara Rya seperti tak ingin beranjak dari ranjangnya dan mencoba untuk bersikap dingin pada Mahendra.
Karena tidak mendapat jawaban dan Mahendra yakin bahwa Rya mendengarkannya namun masih marah padanya, Mahendra semakin mengetuk pintu dengan menggedornya.
"Dasar pria tak punya hati, apa dia berencana merusak pintu itu." ucap Rya turun dari ranjangnya dan membukakan pintu untuk Mahendra
Rya membuka pintu dan mendapati Mahendra yang kini sedikit memperlihatkan senyum dan sedang memandang ke arahnya.
"Ada apa lagi?" tanya Rya dengan mode galaknya.
"Ayo kita sarapan bersama." Jawab Mahendra mengajak Rya.
Rya yang mendengar itu langsung saja menepuk jidatnya dan kembali mengingat tugasnya yaitu menyiapkan makanan setiap hari untuk Mahendra.
Rya langsung saja masuk kembali ke dalam kamarnya berniat mengambil ponselnya namun di cegat oleh Mahendra.
"Kau mau kemana?" tanya Mahendra yang memperhatikan gerak-gerik Rya.
"Tentu saja mengambil ponsel ku untuk memesan makanan." jawab Rya dengan wajah kesalnya karena pertanyaan Mahendra
"Tidak perlu, aku sudah memesannya dan sudah menyiapkannya di atas meja." ucap Mahendra yang membuat Rya kaget namun berusaha menyembunyikan ekspresinya.
"Benarkah? aku pikir selain marah-marah, tidak ada lagi yang bisa kau lakukan." sindir Rya pada Mahendra dan langsung melangkahkan kakinya menuju meja makan meninggalkan Mahendra yang masih berdiri di depan pintu.
Rya langsung mendudukan tubuhnya dan di ikuti oleh Mahendra yang juga baru tiba di meja makan menyusul langkah Rya.
Merekapun memulai sarapannya tanpa suara, hanya suara sendok dan garpu yang terdengar dari mereka berdua.
Setelah selesai sarapan Rya langsung saja berdiri untuk membereskan sisa-sisa makanan mereka berdua namun Mahendra ingin menyampaikan sesuatu pada Rya sehingga Mahendra membutuhkan waktu untuk berbicara dengan Rya.
"Bisakah kita bicara sebentar? aku ingin menyampaikan sesuatu pada mu!" ucap Mahendra yang menghentikan aktivitas Rya.
"Ada apa lagi sekarang?" jawab Rya yang mendudukan tubuhnya kembali masih dengan wajah sinisnya pada Mahendra.
"Aku ingin minta maaf kepadamu dan tentang semua perlakuan ku yang sudah melukai perasaan mu, aku benar-benar menyesal akan hal itu, aku juga berjanji tak akan menekan mu lagi." ucap Mahendra tulus yang membuat Rya sedikit memandang aneh ke arah Mahendra.
"Apa demam di tubuh ku semalam berpindah ke tubuhnya karena melakukan skin to skin." batin Rya
Sementara Mahendra yang tak mendapat jawaban dari Rya kembali melanjutkan perkatannya.
"Aku tidak akan menyuruh mu untuk mengikuti kelas memasak lagi jika kau tidak ingin." sambung Mahendra
Rya nampak kebingungan dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut Mahendra, sementara Mahendra menanti balasan ucapan Rya untuknya.
"Apa kau sakit? apa kau merasa tidak enak badan?" tanya Rya yang kini berdiri dan meletakan punggung tangannya di dahi Mahendra.
"Wanita ini benar-benar." Batin Mahendra marah namun mencoba menyembunyikannya.
"Aku tidak apa-apa, dan aku sangat merasa sehat." jawab Mahendra mencoba tersenyum.
"Tidak, pasti ada sesuatu yang terjadi pada diri mu, lihatlah senyum mu itu, apa kau sedang kerasukan sekarang." ucap Rya sambil menggeleng.
"Crystal Ratu Atmaja, aku bilang aku tidak apa-apa, dan aku baik-baik saja." ucap Mahendra yang kini sedikit menaikan intonasi suaranya dan menekan setiap ucapannya
Rya sontak duduk kembali setelah mendengar ucapan Mahendra yang kini terlihat sedikit emosi akan ucapannya.
"Syukurlah jika sekarang kau sudah sadar, ternyata saat melihat ku sakit kau akhirnya tersadar akan perlakuan buruk mu terhadap ku, ku pikir menunggu aku mati dulu baru kau menyadari semua kesalahan mu dan penyesalan mu karena telah menyiksa ku." sindir Rya pada Mahendra.
Sementara Mahendra yang mendengar ucapan Rya hanya bisa menahan gemuruh di dadanya, mengingat niat baiknya ingin berdamai dan minta maaf hanya mendapat kata-kata sindiran dari Rya, namun Mahendra tetap bersabar karena memang dirinya lah yang bersalah dan Mahendra pantas mendapatkan setiap kata-kata pedas dari istrinya itu.
"Jadi bagaimana, apakah kau mau memaafkan ku?" tanya Mahendra kemudian.
"Baiklah aku akan memaafkan mu, aku juga tetap akan mengikuti kelas memasak, tapi kau tidak boleh memaksa ku atau mengeluarkan kata-kata buruk untuk ku saat aku melakulan kesalahan, dan yang paling penting jangan pernah menghukum ku lagi dengan hukuman seperti biasanya yang kau lakukan. kau harus ingat pernikahan kita hanya berlangsung selama 2 tahun, jadi aku tidak ingin ada sesuatu kekurangan pada diri ku saat kita akhirnya berpisah nanti." ucap Rya menatap Mahendra.
"Baiklah aku berjanji akan melakukannya, tapi bisa kah aku meminta satu hal pada mu?" tanya Mahendra pada Rya.
"Pria ini memang mempunyai pikiran yang picik, lihat saja dia pasti akan meminta balasan saat kita meminta sesuatu padanya, padahal dia sendiri yang memintanya tadi, dasar." batin Rya
"Baiklah, ucapkan apa keinginan mu." jawab Rya kemudian.
"permintaan ku adalah, kamu tidak boleh berkencan dengan siapapun saat kau masih terikat pernikahan dengan ku." ucap Mahendra dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah aku akan melakukannya, itu persoalan yang mudah, aku juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tua ku dengan tiba-tiba berselingkuh, kau tenang saja untuk masalah itu." ucap Rya dengan hati yang berbunga karena permintaan Mahendra yang sangat mudah ia lakukan.
"Apa kau tidak ingin melarang ku juga." tanya Mahendra lagi.
"Itu urusan mu, aku hanya minta jangan pernah kau membawa wanita lain masuk ke apartemen ini, aku tidak mau mengotori mata ku dengan melihat aksi kalian." ucap Rya tersenyum sinis.
"Bukannya kau menyukainya?" Goda Mahendra.
"Dasar pria mesum." ucap Rya berlalu meninggalkan Mahendra dan melanjutkan aktivitasnya yang tertunda yaitu membersihkan meja makan.
Sementara Mahendra kini tersenyum melihat tingkah lucu Rya saat Mahendra membahas sesuatu yang menuju ke hal-hal dewasa.