18+
Namanya Somalia Wardana, orang sering memanggilnya Somi. Tak sedikit orang mencibir namanya karena dinilai sama dengan salah satu negara miskin di dunia. Namun, ia tak kecewa, karena nama itu adalah nama pemberian Alm papanya saat bertugas di negara tersebut. Papanya hanya pulang membawa nama dan nama tersebut ialah satu-satunya pemberian untuk Somalia, Oleh karena, itu ia sangat menghargai nama pemberian mendiang papanya.
Pekerjaannya? Somi sibuk mengurusi pernikahan kliennya. Sebagai WO, Somi dituntut untuk profesional dalam menangani pernikahan para kliennya. Somi sibuk mengurusi pernikahan orang dari pada pernikahannya kelak.
Area terlarang!!! teruntuk penikmat halu belaka 😋 Siapkan hati kalian karena itu poin utamanya.
Mau tahu kisahnya bukan?
Nggak ada salahnya mampir dan menjadikan novel ini bacaan favorit kalian 🙏
Maaf novel ini slow up ya manteman. Juru ketik sedang banyak kreditan panci 😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Tak ada alasan lagi bagi Somi untuk menolak pesona dan cinta dari sang pengacara. Bukan main Gandhi memperlakukannya dengan romantis. Bak seorang ratu, apa pun yang diinginkan Somi sebisa mungkin Gandhi berikan. Bahkan ketika Somi dan adiknya berbelanja, secara tak sadar Somi menggunakan uang hasil rampokan dari Gandhi. Dan pria itu tak keberatan, alih-alih memberikan bonus untuk Fani ternyata Gandhi sengaja mentransfer lebih banyak dari yang jajan Fani sebelumnya. Pria yang sedang berbunga-bunga hatinya tersebut menyuruh Fani untuk membelanjakan uang yang ia kirimkan untuk Somi tentunya.
"Mbak, hari ini ada rejeki nomplok! kita bisa bersenang-senang dan makan enak," ujar Fani sambil tertawa riang. Gadis itu bersyukur memiliki tameng yakni bosnya saat ini. Apapun yang ia minta dengan menggunakan alasan Somi pasti Gandhi akan menyetujuinya.
Keduanya melampiaskannya hasrat untuk segera menghabiskan uang yang jatuh ke akun tabungan Fani. Hingga tak sadar ada seseorang yang diam-diam membuntuti keduanya. Pria berhoddie dan mengenakan masker tersebut sejak tadi mengikuti kemanapun Somi dan Fani pergi. Entah siapa di antara keduanya yang menjadi target atau incaran pria misterius tersebut. Karena tak terlalu mencurigakan, Somi serta Fani tak menyadari kehadiran pria misterius tersebut.
Setelah puas bersenang-senang, Somalia serta Fani adik dari sang kekasih hati Somi bergegas meninggalkan pusat perbelanjaan yang mereka berdua kunjungi. Karena hari ini bukan weekend, jadi pusat perbelanjaan favorit keduanya tak seramai biasanya. Tempat parkir yang biasanya terlihat sesak, kini hanya dihuni beberapa gelintir mobil saja. Fani segera membantu calon kakak iparnya untuk memasukan beberapa paper bag yang menjadi tempat untuk menaruh barang belanjaan mereka. Beberapa paper bag tersebut Somi dan Fani masukkan di bagasi mobil Fani.
Kini keduanya bertolak dari Mall favorit mereka dan pulang. Sebelum Fani pulang, ia akan mengantarkan kakak iparnya terlebih dahulu ke tempat sang Abang. Sebagai rasa terima kasihnya karena telah ditraktir dengan berbagai barang mewah, sudah sepantasnya ia mengantarkan kekasih sang Abang pulang dengan selamat.
Fani merasa sedikit gelisah, berkali-kali ia menatap kaca spion di mobilnya. Ia juga melihat gelagat yang sama pada Somalia yang duduk di kursi sampingnya. Sepertinya calon kakak iparnya juga merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan saat ini.
"Kurasa kita sedang dibuntuti Mbak, bagaimana kalau kita hubungi Abang Gandhi?" Fani ketakutan setengah mati mana kala ia melihat sebuah mobil berwarna hitam mengikuti ke mana pun mereka pergi.
" Jangan dulu Fan! kita tak boleh membuatnya khawatir. Pria itu sedang berkonsentrasi dalam sebuah kasus besar, kalau kita bisa atasi lebih baik jangan melibatkan dia," Somi tak setuju bila Fani memberitahu keadaan mereka pada Gandhi. Karena ia tak ingin pria yang ia cintai terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan Mbak?" Masih dengan tingkat ketakutan yang tinggi, Fani sedikit gemetar sambil menjalankan mobilnya.
"Aku ada ide! aku akan turun untuk mengecoh orang itu, lalu kamu pergi tabrak pria tersebut!" perintah Somi pada Fani.
Namun, Fani masih ketakutan bila orang itu akan mencelakai Somi. Ia tak bisa meninggalkan bosnya begitu saja. Apalagi ia tak tahu apa yang diinginkan seseorang itu. Bagaimana kalau Somi akan celaka? Fani tak ingin itu terjadi.
"Aku takut Mbak, apa kita lapor polisi saja?"
"Ikuti saja perintahku, lakukan dengan berani Fan!" kata Somi sebelum Fani mengehentikan mobilnya agar ia bisa keluar untuk mengecoh sang penguntit.
Somi mengira orang itu tak akan mencelakai dirinya. Karena bila orang itu ingin berbuat jagat padanya serta pada Fani, pasti orang itu sudah melakukan dari tadi. Ia cukup yakin akan apa yang ia rasakan. Tak bisa dipungkiri, kekasih Gandhi tersebut juga merasa ketakutan juga sama seperti Fani. Namun ia harus bertindak bila tidak ia dan Fani bisa celaka.
"Ingat apa kataku Fan, lari lalu tabrak pria itu ketika aku mengecohnya!" ucap Somalia sebelum ia turun guna menghadapi pria tersebut.
Fani hanya memberikan anggukan kepalanya sebagi simbol mengerti akan permintaan sang kakak ipar. Fani begitu mempercayai Somi melebihi saudaranya sendiri. Ia yakin bahwa rencana Somi akan berhasil dengan baik.
Begitu Somalia turun dari mobil Fani, wanita cantik itu berjalan mendekati mobil yang mengikuti mereka berdua.
Somi menguatkan langkah kakinya, ia tahu pasti akan kalah bila ia memberontak karena ia tak bisa berkelahi untuk membela dirinya. Namun ia memiliki akal serta pikiran yang ia yakini akan mampu mengalahkan musuhnya.
Bos dari WO tersebut berusaha mengumpulkan segala nyalinya serta keberanian besarnya. Itu terlihat dari gerak-gerik yang Somi tampilkan. Somi tak sedikit pun mundur, dengan lantang ia mendekati pria yang kini turun dari mobilnya.
"Ada perlu apa Tuan? Hingga membuat Anda menghabiskan waktu mengikuti saya?" Dengan suara yang sengaja Somi buat lantang sehingga mampu membuatnya terlihat berani. Somi memang sangat takut, namun ia terpaksa melakukan ini guna menyelamatkan dirinya serta Fani.
"Aku tahu bila Kau adalah wanita pengacara itu Nona, bilang padanya agar berhenti mengacak-acak pekerjaanku!" ucap pria itu pada Somi. Pria yang tak Somi kenal itu terlihat bengis. Namun, Somi tak akan mungkin mundur begitu saja.
"Lucu sekali, kenapa tidak Anda katakan sendiri saja? Lalu apa hubungannya dengan saya? Saya hanya kliennya!" sahut Somi dengan tegas dan tak mengurangi keberaniannya.
"Bukankah kau kekasihnya? Kalau dia tak Meu menuruti permintaanku, kau akan melihat sendiri akibatnya!" ancam pria jahat itu pada Somi.
"Melihat apa? Apa Anda akan menculik saya seperti di film-film? Anda salah orang Tuan!" Somi bahkan semakin maju mendekati pria tak dikenal tersebut. Ia kini sudah cukup berani menghadapi pria itu.
"Ku peringatkan agar menuruti perkataanku Nona!"
"Dan aku peringatkan juga agar Anda tak mengusik saya serta lelaki itu!" ancam Somi pada pria yang kini berhadapan dengannya.
Tepat di saat itu juga, Fani dengan kencang melajukan mobilnya dari arah belakang. Karena tak siap-siap pria tak dikenal tersebut tak mampu menghindari laju kendaraan Fani hingga membuat tubuhnya terserempet mobil yang dikendarai oleh Fani. Somi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk kabur bersama Fani. Meski ia merasa sedikit kasihan pada pria yang tak dikenal tersebut, namun ia lebih memilih tidak menolong pria itu karena ia yakin nyawanya akan terancam bila ia masih berada di tempat tersebut.
Untung lah mereka berhasil menyelamatkan diri mereka dari ancaman pria jahat tersebut. Dengan ide cerdik dari Somi lah akhirnya keduanya bisa bernafas lega karena berhasil menyelamatkan diri.
"Kau hebat Fan!"
"Apaan, aku takut setengah mati bila Mbak Somi kenapa-kenapa tadi!"
pas ketemu sama judul ini baca sinopsisnya dan ada tulisan #tamat serta episodenya yang gak panjang langsung tertarik...
tapi ternyata... judul ini belum tamat, bahkan dari komentarnya ditulis lebih dari setahun yang lalu yaitu bulan 2 tahun 2022, apa judul ini gak dilanjutkan lagi?
kecewa sih, karena udah terlanjur baca dan sebenarnya ceritanya bagus juga, sayang mandek di tengah jalan
penasaran gimana mereka berkhianat di belakang Somi