Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.
Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.
Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menemukan Aruna
"Jino...." Suara nyaring Mama Dila membuat Jino kalang kabut. Dandanan keren, pakaian stylist, rambut klimis dan minyak wangi yang dia semprotkan ke seluruh badan, harus kembali dia acak dengan menyambar hodie, menutupi semuanya hingga batas kepala.
"Mama boleh masuk?" Seru Mama Dila kedua kalinya.
Dibaringkannya tubuh di atas kasur, mendekap bantal dan tangan yang dibuat sibuk mengotak atik ponsel,"Masuk aja Ma." Saut Jino setelah dirasa semuanya tidak mencurigakan.
Wajah cantik bergurat lelah itu menyembul dibalik pintu,"Kamu lagi apa, Mama nggak ganggu kan?"
"Ini lagi nyari materi ujian di Mbah pinter."
Senyuman bangga diberikannya dengan mudah, tak menyangka putra bungsunya ini bisa juga belajar tanpa disuruh, tidak berpikir bahwa ini hanya akal-akalannya saja.
"Memang pelajaran apa sih, kok serius banget?" Menarik kursi yang dibuatnya menghadap Jino.
"Matematika." Jawab Jino sekenanya, karena dari sekian pelajaran hanya matematika lah yang berkelebat, pelajaran yang selalu membuatnya galau dan resah, apalagi sudah berhubungan dengan rumus logaritma yang membuat isi otaknya depresi dalam hitungan detik saja.
"Kok pulangnya malem banget Ma?" Berbasa basi, padahal dia berharap Mamanya akan pulang bila hari sudah menjelang pagi, membiarkan dulu dia pergi dan Mama baru bisa kembali.
"Biasalah, Papah kan banyak urusannya." Mama Dila menyusur kamar Jino yang terasa lain,"....wangi banget kamar kamu." Dan tanpa sengaja, sepatu hitam mengkilap langsung menyedot perhatiannya saat itu juga,"... kenapa sepatu itu ada di sana?"
"Hah?" Jino mulai gelagapan, merutuki kebodohannya yang sudah melupakan keberadaan sepatu itu.
"Oh itu.... itu tadi habis aku lap, soalnya berdebu...kurang perawatan."
Kening Mama Dila berkerut, apa iya sepatu yang disimpan di lemari bisa berdebu?
Melihat gelagat Mama yang mulai tak mengenakan, Jino segera bangkit, memberikan jurus kedua yang biasanya berhasil untuk mengelabui. Disentuhnya tangan Mama,"Keliatannya Mama capek banget, mau aku pijitin?"
Mendapat perhatian yang jarang-jarang Jino berikan, Mama Dila tersenyum,"Nggak usah, Mama kesini tuh cuma mau nanyain Mas mu.... dia kemana ya, mobilnya udah pulang kok orangnya nggak ada?"
"Mas Nuno pergi, cuma pake motor aku."
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah Ma, Mas Nuno kan punya SIM C."
Mama Dila berdecak,"Maksudnya kenapa nggak pake mobil.... emang Mas mu kemana sih?"
"Nggak tahu.... tapi bilangnya sih, mobilnya mau dibarter sama motor aku."
Dijepitnya hidung Nuno dengan keras,"Jangan mimpi.... Mama nggak bakalan izinin kamu bawa mobil, karena...."
"Karena kalau kamu bawa mobil ciwi-ciwi bakal tambah lengket sama kamu....?" Gerutu Jino seraya menirukan suara Mama dengan jari telunjuk yang dia acung-acungkan.
"Pinter." Timpal Mama Dila seraya ngeloyor pergi, yang bersamaan itu juga Jino bisa bernafas lega, meraup udara sebanyak-banyaknya,"Selamet.... selamet....thanks god."
Namun tak lama dia kembali mendesah,"Lah janji gue sama si Dinda gimana....?"
🌿🌿🌿🌿
Nuno mendesah gelisah, seluruh makam sudah dia putari, jalan sekitar sudah dia susuri, bahkan dua kali dia bolak balik ke kosan Aruna, namun kosan itu tetap gelap, gorden masih belum juga ditutup, pertanda Aruna memang belum kembali juga.
Beberapa kali dia menghubungi Aruna, melakukan panggilan telepon maupun pesan terkirim, tapi tak satupun saluran udara itu bisa membantu Nuno mengetahui keberadaan Aruna.
"Jino, kamu dimana, udah pulang kan... ini alamat yang kamu kirim itu udah bener kan?" Karena penasaran akhirnya Nuno kembali menghubungi Jino.
Decakan sebal terdengar jelas dari ponselnya yang memancarkan sinyal kuat,"Apaan, orang nggak jadi pergi kok."
"Loh kenapa, katanya ada janji?"
"Nggak usah dibahas, bikin badmood aja... itu alamat udah sejelas-jelasnya Mas, masa aku salah sih." Dengusnya dengan nada tinggi, kesalnya masih belum berhenti, terlebih lagi wanita yang diajaknya kencan mengamuk karena acara yang tiba-tiba dia batalkan dengan alasan yang katanya tidak masuk akal.
"Ya udah." Nuno memutus sambungan secara sepihak, meyakini apa yang dikatakan Jino jauh dari kata keliru. Nuno kembali menguras otak, kemana lagi dia harus mencari, semuanya hanya terjawab dengan hembusan nafasnya yang sudah digerogoti rasa lelah.
Jino mendongak, kilatan cahaya memberikan pertanda bahwa hujan akan segera datang. Nuno pun memilih pergi, menghentikan pencarian yang tidak akan membuahkan hasil. Mungkin Aruna sedang bersama dengan suaminya, dan dia tidak berhak untuk itu semua.
Motor yang semula diajak pulang, akhirnya dia bawa untuk berbelok, menuju tempat lain yang dianggapnya lebih dekat, sebelum tetesan hujan akan datang bergerombol, membuatnya basah dan kedinginan.
Selesai memarkirkan motornya di parkiran khusus, Nuno bergegas memijit tombol lift yang akan membawanya ke lantai tertinggi. Sebuah unit apartemen yang sewaktu dulu adalah milik Papah Aditya, yang kemudian dihadiahkan untuk Nuno saat dia berulang tahun yang ke tujuh belas kala itu.
Pintu lift terbuka, dibawanya kaki untuk keluar, menyusuri koridor sepi yang akan membawanya pada sebuah kamar apartemen. Bersamaan dengan itu, seorang wanita keluar dengan air mata yang terus dia seka, mengambil langkah terburu-buru dengan tangan yang dia dekap menutupi dada.
Nuno tertegun, rambut acak-acakan, dress yang kusut dan cardi yang dia lilit sekenanya membuat Nuno tidak percaya,"Arun..."
Dikejarnya Aruna yang mengambil jalan menuju arah tangga darurat, seperti ingin menghindari pertemuan dengan siapapun jika dia harus menggunakan lift.
"Aruna tunggu..."
Aruna menoleh, namun segera dia kembali berbalik, langkah tertatih menahan sakit dikedua selangkangannya dia berusaha untuk menghindar. Namun, Nuno yang jauh lebih cepat bisa langsung menggapai lengan Aruna dengan mudah.
"Lepas No, aku mau pulang." Ucapnya parau.
Mata bengkak dan pipi yang lebam menjadi pemandangan pertama yang menyita perhatian Nuno. Aruna menyembunyikannya dan itu membuat Nuno semakin risau,"Ikut aku!" Dibawanya Aruna ke kamar apartemen yang semula akan dia tuju.
"Apa yang terjadi?" Tanya Nuno setelah menutup pintu, membiarkan Aruna yang masih mematung tak mau duduk.
Air mata yang semula Aruna kurung akhirnya tak kuasa dia kunci terlalu lama, perlahan keluar dan berderai tak terkendali.
Nuno melepas cardi yang sedikit terburai, melihat sesuatu yang membuat jantungnya berdebar takut. Nuno terhenyak, banyak tanda keunguan di bagian leher yang merambat ke belahan dada. Aruna tergugu, dan itu membuat hati Nuno tersayat berdenyut nyeri.
Dipeluknya tubuh Aruna yang bergetar, memberikan dekapan hangat, menyudahi segala penderitaan yang terbersit di hatinya, bahwa Aruna sudah mengalami kejadian buruk yang tak kuasa Nuno bayangkan.
"No...." Aruna balas memeluk Nuno dengan erat.
"Tenanglah, ada aku disini." Bisik Nuno, memberikan kecupan singkat di kening Aruna yang belum juga mau bersua.
Di kamar lain, Aryo mendesah, mendapati Aruna yang sudah hilang dari ranjangnya yang sudah tak berbentuk, rupanya Aruna menemukan kunci kamar yang dia buang entah kemana.
Dikibasnya rambut yang masih menetes, membersihkan badan dari peluh yang mengucur setelah perjuangan keras menaklukan tubuh yang menggeliat minta disudahi.
Rokok dia sulut, membuka jendela balkon, membiarkan angin yang bercampur hujan menerpa tubuhnya yang masih bertelanjang dada, hanya berbekal handuk yang dia lilitkan sebatas pinggang.
Kemelut hati dia redam dengan mata yang dibiarkan menutup, ada penyesalan yang begitu saja datang disaat dia mengingat wajah Aruna yang memohon minta dikasihani,"Aruna...." Desisnya.
"Sayang...." Seketika bayangan Aruna menghilang, berganti dengan sentuhan tangan mulus yang melingkar penuh di pinggangnya.
"Kok nggak di baju, nanti masuk angin loh..." Dijangkaunya wajah Aryo yang membelakangi,"... atau kamu sudah bersiap untuk bertempur malam ini denganku?" Ujarnya dengan tatapan nakal.
"Tadi aku ke rumah mu, tapi kata Bi Mimin kamu pergi.... aku curiga kamu kesini, makanya aku susul kesini." Rajuknya dengan mengukir telunjuk lentik di dada Aryo, membuat gambar abstrak yang hanya dia sendiri yang tahu itu apa.
Dihisapnya rokok yang kemudian asap itu dia semburkan ke wajah Ranti, dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan untuk Ranti, apakah cinta atau hanya sekedar kebutuhan biologis semata,"Aku capek." Aryo berlalu menuju lemari, mengambil kaos dan celana pendek yang dengan segera dia kenakan.
Ranti membuntuti, mengabaikan ranjang amburadul, bersikap seolah tidak tahu dengan apa yang sudah terjadi dikamar ini, "Barusan asisten mu meneleponku, dia mencari mu."
"Ada apa?"
"Katanya formulir gugatan cerai sudah siap, hanya tinggal kamu tanda tangani."
Aryo membisu, ada sesuatu yang kembali mengganjal hatinya namun pada akhirnya dia lepas tanpa pikir,"Besok akan aku tanda tangani."
Ranti sumringah,"Jadi kapan kita akan menikah, kamu tidak lihat, perut ku semakin buncit."
Aryo memungut bantal, melemparnya ke atas ranjang yang kemudian dia tiduri,"Kita bahas nanti." Seraya menutup mata untuk segera menyambut mimpi.
Ranti menarik nafas dalam, kesabarannya masih diuji. Direbahkannya tubuh yang dibuat merapat, memeluk tubuh lelaki yang sesaat lagi akan menjadi suami sekaligus Ayah dari anak yang dikandungnya.
🥀
🥀
🥀
_ Bersambung _
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...