Menjadi seorang model terkenal ternyata membuat Laluna Bachtiar menjadi sosok yang angkuh dan keras kepala. Luna, kembali ke Indonesia setelah lima tahun menetap dan menjadi model terkenal di Amerika, setelah memergoki sahabat dan kekasihnya berselingkuh.
Kehidupan hedonis yang terbiasa dijalani Luna selama berada di Amerika membuat Rafli Bachtiar (Ayah), marah dan cemas.
Giovanni Halim, supir pribadi kepercayaan Rafli akhirnya menugaskan Gio untuk menjaga Luna kemana pun anak gadisnya itu melangkah.
"Aku benci kamu!" Hardik Luna pada Gio setiap kali Gio berhasil menyeretnya pulang dari club malam.
Gio hanya menatap Luna dingin. Semakin hari keduanya malah semakin akrab. Hingga pada akhirnya, Luna menyadari ada yang mulai aneh dengan perasaannya pada supir pribadinya itu.
Giovanni tidak mampu menolak pesona Nona muda kesayangan Tuannya itu, sementara di kampung halaman, Gio telah bertunangan dengan Dewi.
Bagaimana akhir perjalanan cinta Gio dan Luna ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerinduan
Seorang lelaki berusia 32 tahun mengetuk pelan pena yang sedang ia pegang setelah menandatangani berkas penting. Ia duduk bersandar, menatap keluar gedung tinggi menjulang itu dengan tatapan kosong.
Setiap hari ia sering menghabiskan waktu di dalam ruangan yang baru tiga tahun ia tempati itu. Ia memutar kursi kebesarannya, diraihnya sebuah bingkai foto. Wajah seorang perempuan sedang tersenyum manis.
"Tuan, ada meeting penting dengan para investor jam dua nanti." Sekretarisnya masuk, menginfokan agenda meeting untuk siang nanti.
"Atur saja sebaik mungkin, Clarissa." Titahnya penuh wibawa. Si sektretaris mengangguk patuh lalu kembali keluar.
Lelaki itu kembali berkutat dengan alam pikirannya. Ia kembali meraih foto perempuan yang sedang tersenyum di atas meja kerjanya itu. Ia menatap benda itu penuh kerinduan.
Lama sekali rasanya waktu berjalan, namun ia tetap harus bersabar. Ia telah menjalani hidupnya dengan baik selama ini. Ia telah berjanji untuk tetap setia menjaga cintanya untuk gadis di dalam foto itu selama bertahun-tahun.
Saat sedang termenung, pintu ruangannya kembali diketuk. Seorang pria masuk, senyum di wajah lelaki itu terkembang. Ia segera memeluk tamu nya.
"Apa kabar, Gio?"
****************
Giovanni Halim, seorang ajudan pribadi Tuan Rafli itu kini menjelma menjadi seorang lelaki penuh wibawa yang memimpin sebuah perusahaan besar yang baru berdiri kurang lebih tiga tahun.
Perusahaan itu berkembang dan melesat dengan sangat cepat. Gio menjalani peran barunya dengan sangat baik sekali. Tentu ini tidak lepas dari dukungan dan juga semangat dari Tuan Rafli.
"Papa bangga, kamu bisa membuktikan kesuksesanmu hanya dalam waktu singkat." Papa tersenyum bangga pada Gio.
"Ini semua berkat Papa. Terima kasih banyak ya Pa."
Tuan Rafli mengangguk. Sejurus kemudian ia menatap Gio dengan mimik yang lebih serius.
"Gio, kau sudah berhasil membuktikan kepada Papa keseriusan mu mengelola perusahaan. Bahkan hanya dalam waktu dua tahun, modal yang papa berikan bisa kau kembalikan. Sekarang, saatnya untuk pergi menemui Luna, katakan padanya kau telah sukses. Dan, lamar lah dia."
Gio tersenyum, akhirnya setelah tiga tahun penantian dan berhasil membuktikan ke pada papa ia bisa mengelola perusahaan, Gio kembali mendapatkan izin untuk mencari Luna nya.
Kerinduan ini begitu membuncah, Gio tak sabar ingin segera menarik Luna ke dalam pelukan. Papa sudah sangat berjasa terhadap karirnya. Juga telah sempurna menutupi kebenaran akan statusnya selama ini.
Ia ingat tiga tahun yang lalu saat ia kembali ke Jakarta tepat di hari pernikahannya yang gagal. Papa menatapnya penuh keterkejutan. Pasalnya papa sudah terlanjur mengatakan pada Luna bahwa ia telah menikah.
"Pa, aku ingin tahu dimana Laluna sekarang." Pinta Gio dengan wajah memelas. Ia ingin segera menemui gadis yang teramat ia cintai itu.
"Gio, Luna sekarang berada di London. Tapi, papa belum mengizinkan kau untuk menemuinya dulu sekarang."
Gio menatap papa sedih, ia berharap sekali bisa segera menemukan Luna.
"Pa..."
"Gio, kau bersungguh-sungguh bukan ingin menikahi Luna?" Tanya papa serius. Gio mengangguk mantap.
"Papa akan memberimu modal, selama ini kau sudah banyak belajar menjadi seorang pemimpin. Papa ingin ketika kau bertemu Luna nanti, kau telah menjadi seorang pengusaha handal. Gio, Luna sudah terlalu banyak menderita selama ini. Papa ingin sekarang kau memperjuangkannya dengan cara meraih kesuksesanmu dahulu. Kau siap?" Lanjut papa lagi.
Gio berpikir sesaat lalu kembali mengangguk. Tiga tahun ia menahan semua rindu yang semakin menggebu ini. Tiga Tahun pula Gio belajar mengelola perusahaan, di bawah bimbingan Tuan Rafli ia kini menjadi pengusaha sukses. Kini tidak ada lagi alasan untuk menahan langkahnya menemui Luna.
"Aku akan menemui Luna lusa, Pa. Papa sudah mengizinkan kami bertemu, bukan?"
"Ya, Gio. Pergilah, Luna pasti akan sangat terharu nanti. Papa akan menyusul satu minggu kemudian." Papa menepuk pundak Gio penuh kebanggaan.
Selama ini Papa telah menutupi kebenaran status Gio yang gagal menikah dan menjadi pengusaha sukses dengan sangat baik. Ia juga tetap memantau Laluna dari kejauhan dengan bantuan dari Zeva.
Ia sengaja melakukan ini, ia ingin ketika Gio bertemu dengan Luna, lelaki itu telah siap bersaing dengan para lelaki yang menggilai putrinya di luar sana.
"Aku sungguh sangat merindukan Luna ku." Gio menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi setelah papa pulang. "Sayang, tunggulah aku. Aku akan menghujani mu dengan cinta yang sangat banyak. Aku akan menebus semua kesalahan ku padamu. Jaga diri baik-baik, Luna ku." Gio melihat foto Luna yang terbaru di salah satu akun medsos gadis itu tanpa diketahui Luna bahwa selama ini Gio telah mengawasinya dari jauh dengan sangat sempurna.
"Tuan, meeting akan segera dimulai." Clarissa kembali datang ke ruangan Gio. Lelaki itu tersenyum sesaat lalu mengangguk dan bersama Clarissa ia segera menuju ruangan pertemuan.
Diam-diam Clarissa memperhatikan Gio dengan tatapan kagum. Gio sangat sempurna sebagai seorang pria. Ia tampan, tubuhnya atletis berkat gym rutin yang sering dilakukan lelaki itu. Tatapannya dingin dan tajam, ia menolak banyak sekali perempuan cantik.
Namun, ia tahu mengapa Gio sangat membentengi dirinya dari para perempuan yang datang. Foto seorang gadis yang sangat cantik di atas meja kerjanya adalah alasan itu.
"Tuan, ini Laluna bukan?" Tanya Clarissa waktu itu.
Gio mengangguk. Tentu saja semua orang mengenal Luna nya. Gadis kesayangannya itu menggegerkan indonesia dengan kepergiannya yang misterius dan mendadak saat ia sedang berada di puncak karir sebagai seorang artis. Dan alasan kepergian Luna adalah karena seorang Giovanni.
"Dia sangat cantik." Gumam Clarissa lagi.
"Ya, dia wanita yang sangat aku cintai, Clarissa. Tiga tahun aku harus bersabar untuk menemuinya." Sahut Gio dengan tatapan menerawang.
"Apa Tuan akan segera melamarnya?" Tanya Clarissa lagi. Tadinya ia pikir Gio akan marah jika ia bertanya tentang Luna. Namun, nampaknya Luna adalah alasan senyum Gio saat itu. Ia menceritakan Luna dengan semangat juga penuh kerinduan.
"Iya, Clarissa. Aku akan melamar gadis manja kesayanganku itu."
"Aku turut berbahagia, Tuan. Semoga Nona Laluna segera bertemu dengan anda."
Gio mengangguk dan yakin dengan semua kata-katanya. Penantian panjangnya akan segera berakhir. Gio berjanji akan meraih Luna utuh menjadi miliknya lagi.
Gio teramat rindu, pada Luna yang manja. Pada desahan tertahan gadis itu kala ia menguasai tubuh gadis itu dahulu. Ia rindu pada Luna yang menatapnya sendu setiap kali ia mengecup bibir Luna yang basah. Ia juga rindu pada permintaan Luna yang selalu ingin tidur dalam pelukannya.
"Mas Gio, Luna gak bisa tidur." Ungkapan yang hampir setiap malam Gio dengar kala itu. Dan Gio dengan tangan yang membentang akan menyambut kehadiran Luna dalam pelukan hangatnya.
"Kenapa gak bisa tidur?" Tanya Gio sambil membelai rambut Luna yang sudah meringkuk dalam kungkungan tubuhnya.
"Gak ada Mas Gio yang peluk." Sahut Luna seperti biasa.
Kemudian sepanjang malam ia akan mendekap tubuh indah Laluna. Gio sangat merindukan gadis manja itu. Gio tahu Luna juga sangat mencintainya. Karena itu ia tidak akan pernah menyurutkan langkah untuk kembali membawa Luna kembali ke dalam hidupnya.
Kita sudah cukup lama saling terpisah, Lun. Tunggu Mas ya, Mas akan membawamu kembali. Gio membatin dengan rindu yang sudah sesak memenuhi rongga hatinya.