# YANG GA SABAR SAMA JALAN CERITANYA PASTI NYERAH DI TENGAH JALAN... #
( Bikin bingung kalo bacanya dari tengah. Saran penulis ikuti dari awal yaa. mksh...🙏😊)
Berawal dari misteri tentang kehamilan seorang gadis yatim piatu bernama Gendis akibat perbuatan seorang pria yang membuatnya terpuruk.
Dan pengalaman aneh yang dialami oleh sang adik yang bernama Patih, karena menolak cinta seorang wanita, membuatnya harus berjuang untuk bisa lepas dari pengaruh ilmu hitam.
Juga kehadiran anak indigo yang akan membantu mengungkap kisah mistis yang mewarnai perjalanan hidup para tokohnya, membuat kisah ini makin menarik.
Mau tahu...?
Simak kisahnya yuk...
( Mohon bijak dlm berkomentar. Kalo ga suka diskeep aja. Gampang kan ...? )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 ( Berubah )
Hari itu Patih kembali ke kampus, perasaannya lebih tenang setelah menuruti saran Komar.
Patih yakin doa kedua orangtuanya adalah penangkal terampuh dari semua 'kiriman' tak kasat mata itu. Ditambah doa dari sang kakak yang selalu mencemaskannya, Gendis.
" Woooii, Patih. Nongol juga akhirnya. Sehat friend...," sapa Arik.
" Alhamdulillah, berkat doa dari Lo semua gua sehat nih, makasih ya udah mau jengukin Gue...," kata Patih sambil tersenyum walau masih terlihat agak pucat.
" Sama-sama lah, kaya sama siapa aja sih Lo...," kata Arik menepuk pundak Patih.
Lalu beberapa teman Patih pun mendekati Patih. Memberi sapaan hangat pada Patih.
Patih menjawab sambil sesekali mengedarkan pandangannya seperti mencari seseorang.
" Nyari siapa Lo...?" tanya Wayan.
" Nyari Erlin...," kata Patih malu-malu.
" Kangen Lo sama Erlin, tumben...," sindir Maya.
" Ehm, ga kok. Cuma biasanya dia kan paling heboh kalo ketemu Gue...," kata Patih salah tingkah.
" Ciee, ciee, kangen juga akhirnya. Makanya jangan suka jual mahal, sok nolak segala. Padahal si Erlin tulus lho sama Lo. Sekarang ga ada, nyariin. Ntar kalo diambil orang, nyesel dehh...," cibir Faisal.
Semua teman Patih tertawa melihat Patih yang salah tingkah.
" Nah, tuh dia, si dewi bulan nongol...," tunjuk Wayan kearah Erlin.
" Hai, seru amat. Ngobrolin apa nih...?" tanya Erlin ramah.
" Lagi ngomongin Lo, tuh si Patih kangen katanya...," cibir Maya.
" What, serius Lo...?!" Erlin pura-pura terkejut.
Hatinya melonjak gembira saat mendengar ucapan Maya. Erlin melirik ke arah Patih, tapi Patih seperti biasa malah melengos menghindari tatapan Erlin.
Erlin sedikit kecewa, tapi segera ditepisnya.
Erlin tak menyelidiki lebih jauh, dia malah menanyakan tugas dari dosen yang harus dikumpulkan.
" Wayan, Gue liat tugas Lo ya. Buat nyocokin jawaban aja...," pinta Erlin.
" Tumben. Biasanya kan sama Patih...," kata Wayan sambil mengeluarkan buku tugasnya.
" Hmm, Lo gimana sih, Patih kan ga tau kalo ada tugas dodol, dia aja baru masuk hari ini...," protes Erlin.
" Tapi Gue juga ngerjain kok, kan ada Faisal yang kasih tau Gue kalo Kita ada tugas dari Dosen...," kata Patih datar.
Semua terdiam sejenak. Tapi Erlin tak menghiraukan Patih. Setelah mendapatkan buku Wayan, ia pun duduk di samping Maya dan mulai mencocokkan jawabannya dengan Wayan.
" Siipp, selesai. Nih Yan,Gue balikin buku Lo, makasih yaa...," kata Erlin sambil tersenyum.
" Lo yakin jawaban Gue bener, biasanya kan Lo minta sama Patih...?" tanya Wayan heran.
" Kalo emang salah, berarti nilai Kita kan sama. Ya udah gapapa, kalo nilainya jelek, kan Gue ga sendiri...," kata Erlin sambil berlalu.
" Sial*n Lo...!" kata Wayan diiringi tawa teman- temannya.
Maya mengejar langkah Erlin dan berjalan disamping Erlin.
" Lo kenapa Lin...?" tanya Maya bingung.
" Ga kenapa kenapa...," jawab Erlin malas.
" Biasanya Lo kan sama si Patih...," ucapan Maya terputus.
" Gue capek May ngejar-ngejar Patih. Kaya ga punya harga diri aja sih Gue. Orang ga suka kok Gue paksa, mending cari yang laen aja. Ya ga...?" tanya Erlin kocak.
" Serius Lo nyerah gitu aja...?" tanya Maya tak yakin.
" Iya lah, Lo ga liat si Patih selalu menghindar ketakutan kalo ada Gue. Kasian juga kalo lama-lama kaya gitu, ntar bisa sawan anak orang. Mending Gue ngalah, cari yang laen aja. Kan kata Lo, Gue ini cantik...," kata Erlin sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Haahh bagus lah kalo emang gitu, seneng Gue dengernya...," kata Maya sambil menepuk pundak Erlin.
" Coba ntar Gue liat dulu siapa yang layak jadi kandidat cowok Gue...," lanjut Erlin sambil menarik tangan Maya.
" Gue bantu milihin ya...," pinta Maya.
" Apaan sih oneng, mending Lo juga cari cowok gih, biar ga gangguin Gue mulu...," kata Erlin sebal.
" Iihh, Lo tuh nyebelin banget tau ga...," kata Maya gemas sambil menarik rambut Erlin dan hanya disambut tawa oleh Erlin.
Erlin dan Maya tertawa bersama sambil terus berbincang. Mereka pun melangkah dengan semangat menuju kelas sambil menyapa beberapa teman yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
Patih memandangi Erlin yang menjauh dari hadapannya. Ada perasaan aneh yang menyusup ke dalam hatinya saat Erlin mengabaikannya.
\=\=\=\=\=
Sepulang kuliah, seperti biasa Patih lanjut bekerja di rumah makan. Saat tiba, beberapa karyawan tampak sedang bergunjing dekat pantry.
" Assalamualaikum...," sapa Patih.
" Wa alaikumsalam, Eh Patih, udah sembuh Tih...?" tanya seorang karyawan.
" Alhamdulillah udah Bang...," jawab Patih senang.
" Sini, ada gosip baru nih...," kata Sumi sambil menarik tangan Patih.
" Apaan Bu...?" tanya Patih penasaran.
" Bu Mita kemaren ke sini, tapi disuruh keluar sama Pak Harun sambil marah-marah. Bu Mita sampe lari keluar ruangan Pak Harun sambil nangis...," kata Sumi lagi.
" Wajar kan Bu, namaya juga orang menikah pasti ada berantemnya...," sahut Patih bijak.
" Ck, Kamu nih gimana sih. Berantem juga harus ada sebabnya. Ini mah beda, ntar Kamu liat aja sendiri...," kata Sumi.
" Iya, apalagi kemaren Saya liat mukanya Bu Mita kaya bengkak terus merah-merah gitu...," kata Gito.
" Itu kaya jerawat, tapi gede segede bisul, banyak lagi di mukanya, sampe berlendir gitu. Iihh, Saya aja jijik ngeliatnya...," kata karyawan lain.
" Terus badannya juga yang biasanya sexi, semlehoy, kemaren keliatan ga seger gitu...," kata Sumi sang koki andalan.
" Kulitnya juga keliatan lebih gelap dan kusam, iihh, kenapa ya Bu Mita. Apa salah perawatan kali ya...," kata seorang karyawati yang baru saja ikut nimbrung.
" Mungkin keracunan obat...," kata Patih asal.
" Bisa juga ya. Kan Patih pinter, pasti tau ciri-ciri orang yang keracunan obat...," kata Sumi lagi.
Saat mereka sedang asyik bergosip tentang Mita, tiba-tiba terdengar mobil Harun yang baru saja parkir. Harun turun dari mobil dan segera masuk ke resto seorang diri, tanpa Mita yang biasanya selalu mengekorinya kemanapun ia pergi.
" Ssstt, Pak Harun datang...," bisik karyawan lain lalu menepi dan kembali ke tugasnya masing-masing.
" Selamat sore Pak...," sapa Patih pada Harun.
" Sore, Patih. Kamu udah sembuh, maaf Saya belum bisa jenguk Kamu, banyak kerjaan...," kata Harun sambil tersenyum.
" Gapapa Pak, diijinin istirahat aja Saya udah seneng Pak. Makasih...," kata Patih.
" Tapi Kamu masih keliatan pucet gitu Tih. Jangan dipaksain kalo belom kuat kerja...," kata Harun cemas.
" Alhamdulillah udah kuat kok Pak, tinggal lemesnya aja. Saya bosen di kamar terus Pak...," kata Patih beralasan.
" Ya udah, dilanjutin deh. Tapi Kamu tugas di dalem aja ya, ga usah nganter pesanan, kan baru sembuh, masih lemes. Ntar kalo ada apa-apa di jalan gimana...," kata Harun lagi.
" Baik Pak...," jawab Patih.
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba....
bersambung