Cerita ini tentang cowok 'penakut' yang selalu ditolak sama cewek.
Dia bernama Dafa, dimana dia selalu berteman dengan cewek dan dengan mudahnya dia jatuh cinta. Entah beneran cinta atau karena merasa iri sama yang lain yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar. Dafa tipe orang yang mudah terbawa perasaan, sehingga jika ada seseorang yang baik kepadanya dia langsung suka. Tetapi sayangnya, yang dekat dengannya rata-rata hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih.
Ikuti ceritanya dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nureti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Aku sampai di rumah di antar sama Kak Adi.
"Awas kuotanya." katanya.
"Kalem weh." kataku.
Kak Adi melajukan motornya untuk pulang.
"Assalamualaikum." ucapku memasuki rumah.
"Waalaikumsalam." ucap ayah dan ibu bersamaan.
Aku menyalami mereka satu-satu.
"Baru pulang nak?" tanya ibu.
"Iya bu, tadi nganterin kado dulu ke rumah teman." kataku.
"Iya sudah ganti baju dulu sana terus makan." katanya.
"Syiap bu." kataku hormat.
Aku masuk ke kamar untuk mengganti pakaian. Aku merebahkan diri sejenak di kasur sambil mainan handpone.
Karena cacing-cacing di perut ku sudah demo di dalam sana. Aku keluar mencari makanan. Hari ini ibu memasak sayur lodeh, ikan goreng, dan sambal. Keluarga aku memang setiap makan menu wajibnya sayur yang berkuah (dalam bahasa jawanya janganan) dan sambal. Kalau tidak ada itu tidak afdol rasanya.
Aku makan di ruang televisi sambil nonton acara komedi. Iya karena aku lebih suka acara komedi dan kartun di bandingkan sinetron atau pun gosip. Selesai itu aku mengambil handpone ku yang ada di kamar dan merebahkan diri di sofa dengan televisi yang masih menyala.
Aku membuka sosial media dan ada satu pesan dari orang yang tidak di kenal.
"Hai." isi pesan tersebut.
Aku stalking akun itu dan ternyata cowok yang suka banget sama club sepakbola Barcelona. Di akunnya banyak postingan club sepakbola tersebut.
Aku membalas pesan itu dengan mengetikan "Hai juga." padahal dia online 1 jam yang lalu.
Hari mulai sore, aku berniat jalan-jalan sore menggunakan sepeda. Aku mengeluarkan sepeda ku dan mengayuhnya menelusuri jalan setapak.
Aku melewati sawah-sawah yang hijau, pemandangan yang indah dan udara yang sejuk di sore hari.
Aku mampir dulu di pasar sore yang ada di tepian jalan. Aku sedikit membeli cemilan dan melanjutkan mengayuh sepeda untuk pulang ke rumah. Karena sudah mau magrib.
"Habis dari mana Nin?" tanya ibu ketika aku turun dari sepeda.
"Biasa bu, jalan-jalan sore dan membeli ini." kataku menunjukan tentengan cemilan yang aku beli tadi.
"Iya sudah mandi sana." katanya.
"Iya bu." kataku masuk ke rumah.
Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. 15 menit aku di dalam kamar mandi. Aku keluar dengan handuk yang menutupi tubuh ku dan menuju lemari untuk mengambil piama. Aku melaksanakan shalat magrib terlebih dahulu, setelah itu aku ke ruang televisi untuk memakan cemilan ku yang aku letakkan di atas meja.
"Ibu." teriakku.
"Ada apa sih teriak-teriak." katanya menghampiri ku.
"Siapa yang makan tahu jeletot ku (tahu isi yang super pedas)?" tanyaku.
"Mana ibu tahu, ayah kamu kali yang makan." katanya.
Ayah yang keluar dari kamar berkata "Ada apa sih magrib-magrib ribut."
"Ayah makan tahu jeletot ku?" tanyaku.
"Iya nak, maaf." katanya cengengesan.
"Ihhh ayah kenapa tidak makan yang lain saja, aku lagi kepengen itu." kataku kesal.
"Lagian punya anaknya asal makan-makan saja." kata ibu memukul lengan ayah.
"Iya orang ada di meja, iya ayah makan saja." katanya.
"Iya sudah kamu makan itu bakso saja. Kamu juga membeli bakso kan." kata ibu.
"Hmmm." kataku masih merajuk.
"Ayo kita beli lagi." kata ayah merayu ku.
"Sudah tidak usah." kataku ketus.
"Iya sudah kalu tidak mau." kata ayah duduk dan nyalain televisi.
Aku tidak menjawabnya. Aku mengambil bakso yang tadi di beli dan memakannya. Aku makan bakso sambil mainan handpone membuka sosial media, dan ternyata cowo itu balas pesan aku lima menit yang lalu.
"boleh kenalan?" tanyanya.
"boleh." balasku.
Pesan ku langsung mendapat balasan karena ternyata dia juga lagi online.
"Namanya siapa?" tanyanya.
"Nina." balasku.
"Nina lagi ngapain?" tanyanya.
"Lagi duduk." balasku cuek.
"Hmmm... Sekolah dimana?" tanyanya masih mencari obrolan.
"Di SMP N 1." balasku.
"Aku juga alumni sana." balasnya.
"Oh iya?" balasku sok-sokan penasaran.
"Iya sekarang aku kelas dua di SMK N 1 Soedirman." balasnya.
"Berarti nanti aku ketemu dia dong karena satu sekolahan." batinku.
"Hmmm." balasku bingung.
"Sekarang kelas berapa?" tanyanya.
"Kelas tiga." kataku masih cuek.
"Wah, mau lanjutin dimana?" tanyanya.
"Di sekolah kakak." balasku dengan langsung memanggilnya kakak.
Iya karena dia kakak kelas, tidak sopan dong kalau manggilnya aku kamu atau lu gue. Jadi iya sudah aku manggilnya kakak.
"Wah, kita bakal satu sekolah." balasnya.
"Iya." balasku.
"Kamu rumahnya dimana? siapa tahu dekat." balasnya.
"Di jalan bintang." balasku.
"Kakak juga punya teman di sana." balasnya.
"Oh iya?" balasku.
"Iya namanya Malik." katanya.
"Malik? Oh my god. Apa jangan-jangan kak malik? kak malik juga sekolah disitu dan sekarang dia kelas tiga." batinku.
Kak malik adalah tetangga belakang rumahku. Ibu kalau main pasti ke rumahnya karena rumahnya menghadap ke sawah dan itu membuat ibu suka main ke rumahnya karena udaranya adem.
"Dia tetanggaku." balasku.
"Wah dunia ternyata sempit iya?" balasnya.
"Iya." balasku.
"Iya sudah besok kakak main ke rumah Malik hehe siapa tahu bisa ketemu kamu." balasnya.
"Mampus." batinku.
Aku enggan untuk membalasnya lagi. Bakso yang aku makan pun habis bersamaan dengan chattan yang sudah berhenti.
Aku yang tadinya diemin ayah, karena remote televisinya lagi di pegang sama ayah. Jadi aku terpaksa ngomong ke ayah.
"Yah, sini remotenya." kataku.
Ayah tidak menjawabnya melainkan langsung ngasih remote itu dan pergi masuk ke kamar. Mungkin ayah bosan.
Aku mencari tayangan komedi yang biasanya jam-jam segini itu banyak acara komedi. Dan iya acara yang di isi oleh Sule dan Andre itu sudah tayang. Aku menontonnya.
"Nonton apa sih Nak, sampai ketawa-ketawa begitu." kata ibu yang keluar dari kamar.
"Itu bu Sule dan Andre." kataku.
"Kamu mah misal nonton ini sudah kayak orang gila. Ketawa-ketawa sendiri." katanya.
Aku tidak menjawabnya melainkan melanjutkan ketawa karena melihat Sule yang berdandan dengan memakai kostum yang aneh-aneh.
Acara tersebut sudah selesai dan aku masuk ke kamar untuk melaksanakan shalat isya. Iya kalau acara televisinya sudah tidak ada yang asik untuk di tonton aku memilih berdiam diri di kamar.
Aku membuka handpone dan ada pesan dari Viana.
"Nin, gue besok malam ke rumah yah." isi pesannya.
"Kuy, mau ngapain Na?" tanyaku.
"Malmingan kita, sebelum otak kita meledak karena ujian hari senin." balasnya.
"Hahha okok gue tunggu di rumah." balasku.
"Syiap." balasnya.
"Eh Na, gue minta voucher kuota dong. Nanti bayarnya besok pas lu ke rumah gue." kataku.
"Ok siap." katanya.
Tidak selang lama Viana mengirimkan kode voucher kuotanya. Iya Viana jualan pulsa dan kuota makanya aku sekalian beli sama dia buat janji aku ke kak Adi.
Aku mencari nama kontak kak Adi untuk mengirimkan Voucher kuota yang tadi beli di Viana.
"12345****** itu kuotanya." pesanku yang ku kirim ke kak Adi.
"Ok." balasnya.
Aku keluar dari applikasi chatt itu dan membuka sosial media lainnya. Ternyata ada pesan dari Bayu Dicka kakak kelas itu.
"Belum tidur?" tanyanya.
Mungkin karena melihat aku sedang aktif. Aku mengabaikan pesan itu. Aku scroll-scroll feed aplikasi tersebut hingga merasa bosan dan aku meletakan handpone ku. Dan aku tertidur.
...****************...
jangan lupa mampir di karyaku juga ya
minding baca komik bobo
salam dari Barryneald :))
#Izin Thor
salam kenal 🤗
semangat berkarya 💖
jika ada waktu jgn lupa feedback ke karyaku "love in silence" dak tinggal kan jejak like dan comment mu sbg bentuk dukungan karayku 😘
Terima-kasih banyak.
jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🍇🍇🍇
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos ☘️☘️☘️
tinggalkan like and comment ya 🥭