Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Waktunya Mengakhiri Semua
Akhirnya Emma kembali ke kehidupan aslinya. Lembur sampai pagi memang lebih cocok untuknya daripada bergelut dengan laptop. Menghadapi penjahat juga lebih mudah baginya daripada harus mengajarkan moral ke anak-anak. Emma merasa memang inilah hidupnya.
Dengan kaos hitam berlapis kemeja hijau tua lusuh karena seharian berlarian mengejar para preman, ia duduk di ruang rapat menatap skema pelarian para begundal. Ia sengaja memenuhi pikirannya dengan kasus-kasus kekerasan agar ia terlepas dari bayangan Levi.
Sungguh konyol bukan? Dia sendiri yang awalnya memutuskan untuk mengejar cinta pertamanya itu, tapi sekarang, saat cinta pertamanya sudah ada di genggamannya, ia malah melepaskannya begitu saja.
"Tejo!!! Tejo!!!!" Panggilnya tanpa menyadari bahwa dirinya sekarang sedang sendirian di ruangan itu. Tentu saja ada petugas yang piket jaga namun, diruangan itu dia benar-benar sendirian bertemankan berkas tentang identitas para preman.
"Haish!! Main kabur aja itu anak!"
"Haaaah...."
Ia menyenderkan punggung beratnya di kursi sambil menatap langit-langit, yang sudah menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini. Lalu ia melirik handphone-nya, yang deringnya ia abaikan seharian.
Sebenarnya ia tahu kalau Levi berulang kali berusaha menelponnya. Dia juga tahu panggilan yang diangkat oleh Tejo tadi siang adalah Levi. Tapi dia harus melupakannya. Karena hanya itu yang ia bisa lakukan untuk Levi.
"Benar-benar kejam kamu Emma," gerutunya saat menggeser layar handphonenya keatas dan kebawah sampai ia menemukan notif bahwa Levi telah menelponnya ratusan kali.
Ingatanya kembali ke momen saat ia menyatakan cinta. Ia tak menyangka akan melihat tatapan penuh cinta dari Levi. Iya, Emma menyadarinya.
Emma awalnya hanya ingin meluapkan perasaannya untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar meninggalkan dunia. Tapi keegoisan itu malah menciptakan tragedi yang menyakitkan saat ia menatap binar mata Levi.
"Levi juga mencintaiku," bisiknya. Sedikit ujung bibirnya terangkat, namun kembali turun ketika ia memikirkan akibat dari cinta Levi. Bayangan masa depan penuh air mata mengiringi kepergiannya, menjadi mimpi buruk baru baginya.
"Tahu begitu, aku tidak akan pernah bilang cinta..... Atau seharusnya dari awal aku tak mendekatimu."
Matanya terpejam dengan air mata yang mengalir ke pipi pucatnya.
Drrrrt...drrrrrt...
Ia melihat layar HP nya yang jelas menampilkan foto Levi dengan kemeja biru kesukaannya dan tampak manis dengan pose acungan jempol ala bapak-bapak.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Ia membiarkan dering HP nya lama sampai berhenti dengan sendirinya.
Drrrrrt....drrrrtt....
HP nya kembali berdering dengan menampilkan nama yang sama.
Bip!
"Halo?" Akhirnya Emma menerima panggilan itu dengan suara parau karena habis menangis.
"Mi? Emina!!!" Teriak Levi.
"Iya Vi? Ada apa?"
"Ada apa? Ada apa kamu bilang. Aku seharian menelponmu tapi nggak kamu angkat. Malah tadi si mas-mas Jawa itu yang mengangkat telponmu." Levi berbicara tanpa henti seperti kereta ekspress.
"Tejo, namanya Tejo Vi," balasnya lemas.
"Iya, terserahlah. Kamu dimana? Kenapa tiba-tiba resign? Sakit kamu kambuh? Kamu udah makan?"
"Sudah," singkat Emma.
"Kamu ini..."
Mendengar suara Levi sungguh membuatnya goyah. Ia sudah menahan air matanya yang hampir keluar dengan memejamkan matanya.
'Seharusnya aku blokir saja nomernya,' batin Emma.
"Sudah ya Vi, aku masih banyak pekerjaan."
"Sebentar.... Tolong Mi jangan tutup dulu!"
"Apa lagi?" Lirih Emma.
"Tentang kemarin, aku mau menjawabmu," Levi menelan ludahnya, mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengungkapkan kalau dirinya juga mencintai Emma.
"Aku, aku juga mencintaimu Emina."
Ucapan Levi itu seperti pelatuk yang di tarik untuk memicu air mata Emma mengalir deras.
"Mi?" Levi mulai kebingungan ketika Emma tak kunjung berbicara dan malah membiarkan Levi sendirian di panggilan itu.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Levi kembali.
"Maaf Vi, yang kemarin aku cuma bercanda."
"Apa?"
"Hahaha..." Tawa Emma terdengar sangat canggung. "Aku cuma mau mengatakan hal random yang ada di drama-drama. Aku nggak tahu kalau kamu juga bakalan baper."
"Haah...." Levi menghela nafasnya.
"Maaf ya Vi..." Lanjut Emma.
"Oke baiklah, nggak masalah kalau kamu bercanda kemarin. Yang penting hari ini aku serius. Aku mencintaimu Emina."
Mendengarkannya, hati Emma terasa perih. Mungkin jika kalimat itu ia dengar dari Levi 10 tahun yang lalu, pasti dirinya akan melompat kegirangan. Tak harus 10 tahun yang lalu, bahkan saat sehari sebelum kemarin ia mengatakan hal itu, maka Emma akan langsung mengajaknya kencan saat itu juga.
Akan tetapi dirinya saat ini telah menyadari betapa konyolnya kalimat itu.
'Seorang yang sekarat sepertiku tidak seharusnya merasakan cinta. Aku seharusnya menerima takdir ini sendirian.'
"Maaf Levi, tapi aku tidak mencintaimu. Lagi pula aku sudah punya pacar."
"Hah? Siapa? Jangan bilang dia si Tejo itu!"
"Iya," jawab Emma singkat.
"Bukankah dia hanya juniormu?"
"Iya, tapi sekarang dia pacarku. Lagi trend punya pacar brondong, aku juga mau ikut trend."
"Apa-apaan itu, kamu jangan ber-"
"Eh udah dulu ya, ayang Tejo udah datang nih. Bye bye!" Ucap Emma yang langsung menutup telponnya dan langsung memblokir nomornya.
'Fuhhh...apa yang kamu lakukan udah benar Emma. Kamu nggak boleh gentar!' batinnya.
"Ayang Tejo? Ayang?"
Tejo yang dikira sedang kabur entah kemana ternyata hanya keluar cari angin.
"Iyuh apaan sih Bu, jijik banget!!!"
"Sorry sorry, aku nggak bermaksud kayak gitu," jelas Emma kebingungan.
"Ck, dahlah. Ada yang lebih penting dari percintaan kaum milinealmu itu Bu."
"Ada apa? Kamu menemukan sesuatu?"
"Dari hasil lab, darah yang ada di tali pramuka itu benar milik Dion. Ini...." Tejo menyodorkan lembaran hasil Lab yang menunjukkan kecocokan 99%.
"Dengan ini kita bisa buka lagi kasusnya."
"Itu belum cukup, kita harus mendapatkan cctv atau sejenisnya."
"Tenang saja, aku sudah membawanya," kata Emma sembari melempar beberapa flashdisk dari tasnya yang ia dapatkan dari mengendap-ngendap di ruangan Kepala Sekolah. Ternyata ada hikmahnya juga punya Kepala Sekolah yang sering bepergian seperti Pak Surya.
"Wahh banyak sekali."
"Aku mengambil semua rekaman dari semua kamera cctv. Kini tugas kamu adalah menemukan bukti dari rekaman itu."
"Tugasku? Lalu Bu Emma gimana? masa aku sendirian?"
"Ya begitulah. Anggap saja ini pekerjaan yang tertunda setelah kamu ongkang ongkang kaki selama sebulan setelah aku di skors."
"Nggak mau! Aku nggak mau kerja sendirian!" Protes juniornya itu.
"Hahaha, iya iya, kamu nggak bakalan aku tinggal lagi. Aku bakalan menempel padamu selamanya. Selama~nya."
Bayangan tentang hari-hari penuh siksaan kerja rodi langsung menghantui kepalanya.
"Tidaaaaaakkkkk!"
"Hahaha! Dasar!"
Emma kembali duduk di kursinya dan menyalakan laptopnya. Kali ini ia tidak sedang mengamati cctv di SMA X, akan tetapi ia mencoba melihat isi dari flash disk warna hitam dengan gambar Hello Kitty di atasnya.
Ting!
Emma menancapkan ke USB.
Setelah seharian menyakinkan dirinya untuk kuat menghadapi kenyataan tentang pelaku sebenarnya tabrak lari kakaknya, dia akhirnya memeriksanya juga.
Namun halangan kembali terjadi pada penyelidikannya.
File yang ada dalam flash disk yang sudah lima tahun tidak digunakan itu malah rusak.
"Apa? Apa yang terjadi? Haish.... Astaga!!!! Apa lagi ini ya Tuhan."