**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Nilai Pertama
Setelah malam final, Keira beberapa kali ingin bertanya.
Kenapa kamu menolak tim nasional?
Kenapa kamu bilang tidak akan menyentuh voli lagi?
Apa hubungannya dengan Somerfield?
Pertanyaan itu selalu berhenti di ujung lidah. Rayhan tidak menghindar darinya. Ia tetap pulang ke Villa PIK, tetap membuat sarapan yang kadang terlalu asin, tetap mengantar Keira ke rumah sakit dan kampus. Namun setiap kali topik voli muncul, matanya berubah seperti lampu yang diredupkan.
"Aku sudah punya kamu," katanya suatu malam, ketika Keira akhirnya bertanya setengah jalan.
Jawaban itu manis.
Terlalu manis sampai Keira tahu ada bagian lain yang disembunyikan.
Namun ujian akhir semester datang tanpa menunggu siapa pun siap. Keira menutup sementara kotak pertanyaan itu dan membuka buku-buku kuliahnya.
Villa PIK berubah menjadi ruang belajar.
Di meja makan, catatan sejarah seni, teori gerak, ekonomi dasar, dan mata kuliah umum tersebar seperti peta perang. Rayhan duduk di seberangnya dengan laptop Kurnia Group, tetapi setiap dua puluh menit ia mendorong gelas air ke arah Keira.
"Minum."
"Aku baru minum."
"Tiga teguk bukan minum."
"Kamu menghitung?"
"Aku punya mata."
Keira menghela napas, lalu minum lebih banyak. Rayhan terlihat puas.
"Kamu sendiri kerja," katanya.
"Aku sedang kerja."
"Dari tadi kamu melihat aku menandai stabilo."
"Itu pekerjaanku sebagai tunangan."
Keira masih belum terbiasa mendengar kata itu. Tunangan. Cincin di jarinya terasa ringan saat ia tidak memikirkannya, tetapi begitu Rayhan mengucapkan kata itu, logam kecil itu seperti langsung punya detak sendiri.
Rayhan melihat wajahnya memerah dan tersenyum.
"Mau aku ulang?"
"Tidak."
"Tunangan."
Keira melempar penghapus. Rayhan menangkapnya tanpa melihat, sombong sekali.
Minggu ujian berjalan panjang.
Keira tetap pergi ke RS Kurnia setiap dua hari sekali. Liana belum bangun, tetapi dokter mengatakan respons sarafnya membaik. Kelvin mengirim pesan hampir tiap malam, kadang berupa foto ruang kerja W.A Group, kadang hanya keluhan bahwa menjadi CEO ternyata tidak membuatnya kebal masuk angin.
Di sela semua itu, Sophia Oei mengirim voice note.
Keira memutarnya di studio kecil kampus setelah ujian praktik.
"Keira, aku sudah melihat rekaman latihanmu minggu ini," suara Sophia terdengar tenang. "Putaranmu lebih bersih. Transisi tanganmu sudah tidak ragu. Kalau nilai akademikmu memenuhi syarat, aku akan mendukung penuh proses alih programmu. Jangan menari seolah kamu meminta maaf karena ingin hidup."
Keira memutar voice note itu dua kali.
Lalu ia duduk di lantai studio, memeluk lutut, dan menangis sebentar.
Bukan tangis sedih.
Tangis orang yang akhirnya melihat pintu terbuka setelah terlalu lama belajar bernapas di depan tembok.
***
Pengumuman nilai keluar pada hari Jumat pagi.
Keira sedang di Villa PIK, duduk bersila di sofa dengan laptop di pangkuan. Rayhan berdiri di belakang sofa, pura-pura tenang sambil menggigit sedotan es kopi yang tidak ia minum.
"Jangan berdiri di belakangku," kata Keira.
"Kenapa?"
"Auramu berat."
"Aku 190 cm. Wajar."
"Ray."
"Baik." Ia duduk di sebelahnya, tetapi lututnya naik turun.
Keira menatap lutut itu. "Kamu lebih gugup dariku."
"Nilaimu lebih penting dari rapat dewan."
"Itu berlebihan."
"Tidak."
Keira menarik napas, lalu mengeklik halaman akademik.
Beberapa detik halaman itu memuat.
Lalu angka-angka muncul.
IP semester: 4.00.
Peringkat akademik: 1.
Keira terdiam.
Rayhan berhenti bernapas di sampingnya.
Ia mengeklik halaman berikutnya, bagian penilaian komprehensif fakultas. Nilai akademik, prestasi, kegiatan, rekomendasi, dan portofolio seni tersusun dalam tabel.
Peringkat komprehensif: 1.
Keira menutup mulut.
"Aku..."
Rayhan sudah memeluknya sebelum kalimat itu selesai.
"Pertama," katanya di rambut Keira. Suaranya rendah dan pecah. "Kei, kamu pertama."
Keira tertawa, lalu menangis. "Aku pertama."
"Kamu pertama."
"Rayhan, aku benar-benar pertama."
"Aku tahu."
"Kamu bahkan belum lihat semua tabelnya."
"Aku tidak buta. Angka satu sangat jelas."
Keira menangis lebih keras sambil tertawa. Rayhan mengangkatnya dari sofa dan memutarnya sekali. Laptop hampir jatuh, untung Keira masih cukup sadar untuk menahan ujungnya.
"Laptop!" pekiknya.
"Maaf. Aku emosional."
"Kamu selalu emosional."
"Hari ini boleh."
Ponsel Keira berbunyi bertubi-tubi. Tina mengirim pesan penuh huruf kapital. Sania mengirim stiker piala. Kelvin menelepon dan berteriak begitu sambungan tersambung.
"KAKAKKU NOMOR SATU!"
"Kel, kecilkan suara."
"Tidak bisa. Ini pengumuman nasional keluarga Salim."
Rayhan mengambil ponsel dari tangan Keira dan berkata serius, "Kel, mulai sekarang kalau bicara dengan Keira, pakai hormat. Dia peringkat satu."
Kelvin langsung menjawab, "Siap, Kakak Peringkat Satu."
Keira menutup wajah. "Kalian memalukan."
Namun ia tersenyum.
Siang itu, surat resmi dari fakultas masuk ke emailnya.
Permohonan alih program Keira Salim ke Program Studi Seni Tari disetujui untuk semester berikutnya, dengan rekomendasi khusus dari tim penguji praktik dan pembimbing eksternal.
Keira membaca kalimat itu pelan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rayhan tidak mengganggu. Ia hanya duduk di sampingnya, menunggu sampai Keira menoleh dengan mata basah.
"Aku diterima."
"Aku tahu."
"Aku akan benar-benar belajar tari."
"Kamu sudah belajar. Sekarang kampus saja yang akhirnya mengakuinya."
Keira memukul lengannya pelan, tetapi tubuhnya langsung condong ke pelukan Rayhan.
"Aku takut bahagia," bisiknya.
"Kenapa?"
"Karena akhir-akhir ini terlalu banyak hal baik datang. Aku takut semuanya diambil lagi."
Rayhan memeluknya lebih erat. Untuk beberapa detik, ia tidak menjawab.
"Kalau ada yang mencoba mengambil," katanya akhirnya, "aku akan rebut balik."
Keira ingin percaya penuh. Ia sungguh ingin.
Namun sejak malam final, setiap janji Rayhan selalu terdengar seperti seseorang yang sedang berpacu dengan waktu.
Sore itu, Sophia menelepon langsung.
"Selamat, Keira," katanya. "Mulai semester depan, kamu bukan tamu di studio tari lagi."
Keira menggenggam ponsel dengan dua tangan. "Terima kasih, Ci Sophia."
"Jangan berterima kasih terlalu cepat. Aku akan lebih keras dari dosen lamamu."
"Aku siap."
"Bagus. Simpan rasa bahagiamu hari ini, tapi jangan mabuk pujian. Penari yang datang dari luka biasanya punya tenaga besar, tapi kalau tidak disiplin, tenaganya habis untuk membuktikan diri pada orang yang salah."
Keira menatap cincin di jarinya, lalu bayangan dirinya di kaca jendela Villa PIK.
"Aku tidak mau menari untuk membuktikan mereka salah lagi," katanya pelan. "Aku mau menari karena ini hidupku."
Sophia diam sebentar, lalu suaranya melembut. "Kalau begitu, kamu sudah mulai benar."
Malamnya, Rayhan tidak membawa Keira ke restoran mahal. Ia pulang dengan satu kotak besar berwarna cerah dan ekspresi terlalu polos.
"Hadiah untuk peringkat satu."
Keira membuka kotak itu.
Di dalamnya ada papan permainan ludo pasangan, lengkap dengan kartu tantangan kecil berwarna merah muda.
Keira menatap Rayhan.
"Ini hadiah akademik?"
"Ini stimulasi strategi."
"Kenapa ada kartu bertuliskan cium pipi lawan?"
Rayhan mengambil papan itu dari tangannya dan berjalan ke ruang keluarga.
"Besok kita uji kemampuan berpikirmu, Peringkat Satu."
Keira berdiri di tempat, wajah panas, sementara Rayhan sudah menyusun bidak dengan sangat serius.
Ia baru sadar, menjadi nomor satu ternyata tidak membuatnya menang melawan tunangan yang tidak tahu malu.