Terkadang kita tidak mengerti arah tujuan kehidupan, kadang kita sudah merasa bahagia namun Maut memisahkan kita dengan orang yang kita cintai, sulit rasanya untuk menjauhkan semua kenangan tentangnya meskipun seorang pengganti sudah memberikan yang terbaik kepada kita.
Ini Novel aku yang kedua mengisahkan tentang Seorang Laki laki yang bernama Betrand yang dengan susah payah mendapatkan hati wanita yang dia cintai bernama Richa Devanya, seorang wanita yang memiliki penyakit Leukemia. Setelah melahirkan seorang putri yang cantik, Richa meninggal dunia dan ibu Betrand memaksa Betrand untuk mencari ibu pengganti buat anaknya.
Namun Betrand masih belum siap, dan muncullah adik Mendiang Richa yang mirip dengan kakaknya yang sudah meninggal. Bagaimana selanjutnya? Apakah Betrand akan jatuh cinta kepada Debby adik Richa? Atau kepada istri pengganti Richa yang bernama Celine yang
dia nikahi secara terpaksa?
Mohon Bantu Author dengan memberikan Like, Vote, koment, dan Favoritkan yah agar semua pemberitahuan Novelku muncul diberanda kalian dan jangan lupa Follow aku 🥰🥰😍
Makasih 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartinA Felicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Part 1
Pagi sudah tiba tidak telat seperti biasanya dan hari itu tampak cerah, keluarga Leonardo sudah mempersiapkan segala yang perlu untuk acara hari ini.
“Mah!” Ucap Leonardo sambil merapikan lengan kemeja batiknya.
“Semua da beres kan, Ma?” Tanya Leonardo lagi.
Ariana sedang sibuk membereskan isi tasnya, dia sedang memasukkan tissue, parfum dan sebagainya ke dalam tasnya.
“Sudah, Pah... Putri juga sudah dimandikan sama Bibi. Ngomong-ngomong papa sudah makan suplemen yang kemarin mama beli belum?” Ucap Ariana.
“Papa akan semakin sehat tanpa suplemen itu, Mah... Sebentar lagi kita akan kedatangan menantu baru, semoga Celine bisa menjadi istri yang baik buat Betrand dan ibu yang baik buat cucu kita. Papa sangat berharap dia bisa membuat Betrand lebih baik.” Ucap Leonardo.
“Mama juga demikian kok, Pah! Yauda sebaiknya papa pakai sepatu dulu yah, mama mau ke kamar Putri.” Ucap Ariana.
Ariana melangkah ke kamar Putri dan membereskan semua keperluan Putri di dalam tasnya. Putri sudah rapi dan cantik karena sudah didandani Bibi.
“Cantik sekali kamu, Sayang!” Ucap Ariana
“Iya, kan Putri uda mandi, Nek... Kita mau ke rumah mama baru ya?” Tanya Putri.
“Iya, Sayang! Kamu senang gak kalau mama Celine jadi mama baru Putri?” Tanya Ariana.
“Senang banget, Putri bisa manja-manja dengan mama Cecil, Putri bisa bobok dengan mama Celine, Putri juga punya teman bermain. Putri senangnya sebanyak ini.” Ucap gadis kecil itu sambil menunjukkan semua jari-jarinya.
Ariana tertawa melihat tingkah cucu satu-satunya, dia mengecup kening Putri dengan penuh kasih sayang. Dia melihat foto Richa yang menggantung di dinding kamar Putri.
Ariana memeluk Putri, “Semoga kamu juga senang ya, Richa... Semuanya akan baik-baik saja, Celine itu wanita yang baik.” Gumam Ariana dalam hati.
“Kita berangkat yok, Nek!” Ucap Putri sambil menggendong tas dan bonekanya.
“Emangnya kamu bawa Pinky?” Tanya Ariana.
“Iya dong, Nek... Kan Pinky teman baiknya Putri.” Ucap Pinky.
“Oke deh kalau gitu, kita keluar kamar yok! Kita temui kakek dan pergi.” Ucap Ariana.
“Horre, ayo!” Jawab Putri.
Mereka melangkah dari dalam kamar Putri, Ariana pamit dan menitipkan rumah kepada Bibi yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumahnya.
“Baik.... Nyonya!” Jawab Bibi.
“Terimahkasih, Bibik!” Jawab Ariana lagi.
Leonardo turun dari kamarnya, dia membawa tas istrinya dan menghampiri istrinya. Mereka melangkah ke luar rumah menuju mobil, lalu duduk di mobil.
“Loh... Betrand mana, Mah?” Tanya Leonardo.
“Buset, mama lupa bangunin dia, lagi pula kan dia belum tahu kalau hari ini kita akan melamar Cecilia untuk dia.” Ucap Ariana.
“Waduh, mama gimana sih? Yang paling penting kan dia, kok dia malahan yang belum siap-siap. Yauda mama bangunin aja dulu anak kesayangan mama itu.” Ucap Leonardo.
Ariana langsung keluar dari dalam mobil dan melangkah cepat menuju kamar anaknya. Dia membangunkan anaknya dan meminta anaknya cepat bersiap-siap.
Tok tok tok Suara Pintu diketuk.
Betrand beranjak dari tidurnya, dia melangkah membuka pintu kamarnya. Dia menggaruk kepalanya dan mengegrutu.
“Ada apa sih, Mah? Baru jam 8 uda bangunin Betrand.” Ucap Betrand.
“Kamu harus cepet-cepet mandi! Kita harus ke Bogor.” Ucap Ariana.
“Ngapain ke Bogor, Mah?” Tanya Betrand.
“Kamu ini gimana sih? Kita kan harus melamar Celine hari ini. Buruan!” Ucap Ariana.
“Melamar? Kok mendadak begini sih, Mah?” Tanya Betrand.
“Terus kamu maunya kapan lagi? Keburu Cecil hamil?” Ucap Ariana.
“Gak mungkin hamil lah, Mah. Betrand juga gak sengaja kok tidurin dia, lagi pula Betrand rasa itu gagal kok.” Ucap Betrand.
“Kamu tahu gak, kalau yang gak sengaja itu justru itu yang selalu jadi, kamu gak lihat apa banyak sekarang anak sekolahan hamil di luar nikah. Itu semua kan karena gak sengaja.” Ucap Ariana.
Betrand berpikir sejenak, “Iya juga sih, apa yang dikatakan mama ada benarnya juga. Sebrengseknya gue, gue gak akan mau punya anak di luar nikah.” Ucap Betrand.
“Makanya itu, yauda buruan mandi!” Ucap Ariana.
Betrand bergegas mandi, sedangkan Ariana mencarikan kemeja batik yang akan digunakan Betrand. Dia meletakkan baju di atas kasur Betrand dan turun ke bawah mencarikan sepatu yang akan dipakai Betrand.
Betrand sudah selesai mandi, dia memakai batik yang sudah diambilkan ibunya dan memakainya. Dia memandang foto istrinya dari cermin yang di hadapannya.
“Maafin aku, Sayang! Aku berjanji kalau aku gak akan melupakanmu.” Ucap Betrand tersenyum.
Betrand turun dari atas menuju lantai dasar rumah mereka dan mereka bergegas pergi dari rumah itu. Betrand mengemudi mobilnya dan di sampingnya Leonardo sang ayahnya.
Dibelakang ada Ariana dan cucunya Putri, sepanjang jalan Putri menceritakan tentang kebaikan Cecilia membuat Betrand semakin muak.
“Nih bocah ngeselin banget sih.” Ucap Betrand dalam hatinya.
Setelah mengendarai mobil dengan kecepatan sedang akhirnya mereka sampai di kota Bogor, perjalanan hari ini tidaklah macet seperti hari kerja umumnya, sehingga mereka bisa sampai lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.
Ariana membuka ponselnya dan memberitahukan alamat dan nama Rumah Sakit yang sudah di SMS Celine tadi malam.
Betrand mengemudi mengikuti arah Maps Google, dia berhasil membawa keluarganya menuju Rumah Sakit.
“Bener gak ini Rumah Sakitnya, Mah?” Tanya Leoanardo pada istrinya.
“Sepertinya sih iya, Pah! Mama juga kan belum tahu, biar mama telepon Celine yah.” Ucap Ariana.
“Emangnya dia gak ngasih tahu nomor ruangan ibunya?” Tanya Leonardo.
“Ada sih, Pah! Ini ruangan 3 C.” Ucap Ariana.
“Gak usah ditelpon, Mah... Biar kita masuk aja ke dalem, kita izin ke suster yang jaga.” Ucap Leonardo.
“Oke deh, Pah! Ayo kita turun.” Ucap Ariana.
Mereka turun tanpa rombongan karena memang itu adalah Rumah Sakit dan pasti tidak diizinkan membawa keluarga yang banyak.
“Untung saja kita gak ikutkan bibik, supir dan keluarga dekat kita lainnya ya, Mah!” Ucap Leonardo.
“Iya, Pah... Kita aja diizinin masuk da syukur, Pah. Semoga aja hari ini berjalan lancar ya, Pah!” Ucap Ariana.
Leonardo tersenyum, dia sangat yakin Tuhan akan merestui hubungan Celine dengan Betrand. Leonardo teringat akan perjuangannya merebut hati Ariana yang juga merupakan anak Panti.
Ariana dan kelurganya masuk ke dalam ruangan setelah permisi kepada suster yang jaga.
Tok tok tok Suara pintu ruangan diketuk.
Celine membuka matanya, dia baru bangun karena memang dia sudah tidur subuh. Dia tidak bisa tidur tenang karena dia memikirkan acara lamaran hari ini.
“Mungkin itu Suster yang datang.” Ucap Astuty.
“Iya, Bu.” Jawab Cecilia.
Ariana membuka pintu ruangan, mereka masuk ke dalam. Cecilia terkejut karena mereka datang lebih cepat dari dugaanya.
Celine merapikan baju dan rambutnya yang terlihat acak-acakan setelah tidur denga posisi yang tidak nyaman di ruangan itu.
“Maaf, kami gak tahu kalau Ibu dan Bapak akan datang sepagi ini.” Ucap Celine.
“Gak masalah, Nak. Kami memang sengaja datang pagi agar lebih santai dan kita bisa makan siang bersama anak Panti lainnya nanti.” Ucap Ariana.
“Silahkan duduk, tapi maaf hanya ada tikar karena ruangan ini bukan VIP jadi gak ada sofa.” Ucap Celine.
“Gak masalah, oh iya Bu Tuty gimana kabarnya?” Tanya Ariana.
“Beginilah, Bu... Sudah agak mendingan sih, sudah bisa pulang ke rumah nanti siang.” Ucap Astuty.
“Wah baguslah kalau begitu, jadi kita bisa makan siang bareng di Panti nantinya.” Ucap Leonardo.
“Iya, Pak...” Jawab Astuty.
Mereka membicarakan lamaran itu di ruangan itu, mereka memberikan beberapa hantaran sederhana sebagai lambang lamaran. Astuty tersenyum dan menerima lamaran anaknya.
“Kalau saya sih, terserah sama Celine saja, Pak... Kan yang akan menjalani hidup nantinya dia. Kalau saya mah hanya wali.” Ucap Astuty.
“Gimana, Nak? Kamu mau jadi menantu kami? Kamu mau jadi istri Betrand?” Tanya Leonard.
“Tante Celine mau kan jadi mama Putri?” Tanya Putri lagi.
Leonardo memandang anaknya Betrand dan memberikan kode agar Betrand ikut bicara kepada Cecil.
“Celine... Maukah kau menjadi istriku?” Tanya Betrand terpaksa.
Celine tersenyum, dia sangat merasa senang karena akhirnya Betrand menanyakan langsung kepadanya.
“Iya, Pak, Mas, Putri... Celine mau.” Ucap Celine.
Putri melompat kegirangan dan memeluk Celine, dia merasa senang karena akhirnya dia akan memiliki ibu.
“Sudah lama Putri ingin punya mama seperti Diana teman Putri, seperti Icha, akhirnya sekarang Putri punya mama juga” Ucapnya sambil memeluk.
Celine membelai rambut anak gadis kecil itu, dia juga merasa senang karena sekarang Putri akan menjadi anak nya.
“Kalau begitu, sebaiknya kalian nunggu di Panti aja, karena disana kan ada kursi.” Ucap Astuty.
“Emangnya ibu pulang jam berapa kata dokter?” Tanya Leonardo.
“Sebenarnya kami belum pulang karena kami belum melunasi pembayarannya, sementara uang yang kemarin Celine kasih sudah minim karena biaya di sini cukup mahal. Apalagi kemarin kami juga sudah sempat panggil tukang bangunan jadi bangunannya setengah jalan.” Ucap Astuty.
“Kalau begitu, bagaimana biar kami aja yang melunasi pembayaran administrasi Ibu Tuty?” Ucap Leonardo.
“Gak usah, Pak.” Ucap Celine.
“Kenapa?” Tanyanya lagi.
“Sebenarnya Celine sudah meminjam dari teman Celine, Pak Surya lagi diperjalanan mau memberikan uang itu.” Ucap Celine.
“Wah, kenapa kamu gak cerita kalau kamu butuh uang? Kalau tahu begitu kan kita bisa bantu.” Ucap Leonardo.
Celine menunduk malu dan takut, kemudian tak lama kemudian Pak Surya teman Celine sejak kecil datang menghantarkan duit untuk Celine.
Surya adalah teman masa kecilnya yang sudah lama menyukai Celine namun dia tidak berani mengutarakan perasaanya karena Surya dilarang ibunya berteman dengan anak Panti.
Surya berasal dari keluarga kaya yang sangat gengsi bila memiliki kerabat dari kalangan bawah dan orangtua Surya tidak ingin anaknya mencintai wanita dari kalangan bawah.
Bersambung
up bab seaon 2 dong
demen nich gwe😀
para lelaki memang terlahir posesif n egois kah