THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Janji Road Trip
Malam di Sektor 9 telah sepenuhnya tiba, namun kegelapan tidak pernah benar-benar pekat di dunia digital ini. Langit malam dihiasi oleh ribuan bintang buatan yang bersinar dengan intensitas konstan, menciptakan kubah cahaya perak yang memantul lembut di atas padang rumput. Angin malam membawa kesejukan yang menyegarkan, mengusir sisa-sisa hangat dari siang hari. Di bawah naungan pohon raksasa berdaun emas—pohon yang diprogram untuk mekar abadi tanpa mengenal musim gugur—Tim Aurora duduk melingkar, menikmati sisa waktu mereka sebelum harus kembali ke realitas markas.
Suasana hening namun nyaman. Bimo sedang membersihkan peralatan masaknya dengan teliti, memastikan tidak ada noda saus yang tertinggal. Kai memainkan petikan gitar hologramnya dengan nada-nada rendah dan repetitif, sebuah melodi pengantar tidur yang menenangkan saraf. Elara bersandar pada bahu Raka, matanya setengah tertutup, menikmati kedamaian yang langka ini. Raka sendiri menatap api unggun proyeksi yang menari-nari di depan mereka, pikirannya melayang jauh, menyeimbangkan antara keinginan untuk tetap di momen ini dan kesadaran akan tugas yang harus ia emban.
"Kalian tahu," suara Bimo memecah keheningan, suaranya berat karena kenyang dan puas. "Aku baru sadar sesuatu. Kita sudah bertahun-tahun berjuang, lari, bersembunyi, dan bertarung mati-matian. Tapi kapan terakhir kali kita benar-benar... liburan? Maksudku, liburan sungguhan? Bukan misi penyamaran, bukan istirahat darurat di bunker, tapi liburan?"
Kai berhenti memetik gitarnya sejenak, mengangkat alisnya. "Liburan? Apa itu? Apakah itu jenis bug baru dalam sistem sosial?" godanya, membuat Bimo melemparkan kain lap kecil ke arahnya.
"Aku serius!" bantah Bimo. "Lihat kita. Kita muda. Well, secara teknis usia biologis kita mungkin sudah tua karena stres, tapi semangat kita masih muda! Kita butuh rekreasi. Kita butuh melihat dunia selain medan perang."
Elara membuka matanya, tersenyum mendengar antusiasme Bimo. "Ide yang menarik, Bim. Tapi ke mana kita bisa pergi? Dunia luar masih banyak sektor yang tidak stabil."
Raka, yang sejak tadi diam, tiba-tiba berbicara. Suaranya tenang, namun ada getaran emosi yang terselip di dalamnya, sebuah kerinduan akan kebebasan yang selama ini ia pendam. "Bagaimana jika kita menyewa kapal terbang tua itu? Kalian ingat kapal kargo model lama yang parkir di Hanggar 4? Yang catnya sudah mengelupas tapi mesinnya masih bagus?"
Mata Kai berbinar. Dia langsung memahami arah pikiran Raka. "Kapal Old Rusty? Itu barang antik! Tapi kau benar, sistem navigasinya masih analog, jadi tidak bisa dilacak oleh satelit musuh. Kita bisa pergi ke mana saja tanpa jejak digital."
"Tepat sekali," kata Raka, tersenyum tipis. Ia membayangkan skenario itu. Sebuah perjalanan tanpa tujuan pasti, tanpa jadwal misi, tanpa alarm bahaya. Hanya mereka berempat, sebuah kapal tua, dan cakrawala luas di depan mereka. "Kita bisa mengambil cuti sebulan. Satu bulan penuh. Tidak ada komunikasi dengan markas pusat. Tidak ada laporan. Hanya kita."
Elara duduk tegak, wajahnya bersinar karena antusiasme. "Satu bulan? Benarkah itu mungkin, Ka? Aturan protokol..."
"Aku pemimpin tim," potong Raka lembut, meski ia tahu otoritasnya memiliki batas. "Dan setelah keberhasilan misi-misi terakhir, kita berhak atas jeda. Aku akan mengurus izinnya. Anggap saja ini hadiah atas kerja keras kalian."
Bimo tepuk tangan girang. "Yes! Akhirnya! Jadi, ke mana kita akan pergi? Aku ingin melihat Laut Selatan! Katanya airnya berwarna biru kristal dan pasirnya putih seperti gula halus. Aku belum pernah melihat laut asli, hanya simulasi di VR!"
"Laut Selatan itu indah," kata Kai, jarinya kembali menari di senar gitar hologram, menciptakan melodi yang menggambarkan ombak. "Ada tebing-tebing tinggi di sana, tempat matahari terbenam paling spektakuler di seluruh benua. Aku sudah menyimpan peta rute terbaik. Kita bisa menyusuri pesisir, berhenti di desa-desa kecil, mencoba makanan lokal..."
Elara menoleh ke arah Raka. Matanya, yang biasanya cerah dan penuh semangat, kini tampak lembut dan dalam. Ada harapan besar di sana, harapan yang begitu rapuh sehingga Raka merasa takut untuk menyentuhnya. Elara meraih tangan Raka, menggenggamnya erat.
"Ka," panggil Elara pelan. "Kamu pasti ikut, kan? Dalam rencana ini. Kita bakal lihat laut selatan bersama. Kita bakal bangun pagi-pagi untuk melihat matahari terbit dari dek kapal. Kamu janji?"
Pertanyaan itu sederhana, namun bobotnya terasa seperti tonase batu bagi dada Raka. Ia menatap mata Elara, melihat pantulan dirinya di sana. Ia melihat cinta, kepercayaan, dan masa depan yang Elara bayangkan—masa depan di mana Raka ada di sisinya, sehat, bahagia, dan menua bersamanya.
Raka merasakan nyeri tajam di dadanya, seolah jantungnya diremas oleh tangan tak kasat mata. Glitch di tangannya kambuh lagi, lebih kuat kali ini. Jari-jarinya berkedut, sensasi kesemutan menjalar hingga ke bahu. Ia menyembunyikan rasa sakit itu dengan mengeratkan genggamannya pada tangan Elara, berharap Elara mengira itu adalah genggaman kasih sayang, bukan upaya menahan diri agar tidak berteriak.
Dia harus berjanji. Dia harus memberikan mereka harapan ini. Karena jika dia menolak, jika dia ragu, mereka akan curiga. Mereka akan bertanya. Dan Raka tidak siap untuk menghancurkan ilusi kebahagiaan ini sebelum waktunya.
Raka menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan setiap sisa kekuatan emosionalnya. Ia menatap Elara, lalu bergantian menatap Bimo dan Kai. Wajahnya berubah menjadi sangat serius, namun matanya berkaca-kaca, dipenuhi oleh kelembutan yang tak terhingga.
"Dengar baik-baik," kata Raka, suaranya tegas namun bergetar halus. "Aku nggak bakal ketinggalan. Aku janji."
Ia sejenak, memastikan kata-katanya tertanam dalam ingatan mereka.
"Itu janji tertinggi aku. Kita akan melakukan road trip itu bersama-sama. Ke Laut Selatan. Ke tebing matahari terbenam. Ke mana pun kalian mau. Aku akan ada di sana. Di samping kalian. Selalu."
Elara tersenyum, air mata bahagia menggenang di sudut matanya. Dia menyandarkan kepalanya kembali ke bahu Raka, merasa aman dan dicintai. "Aku percaya padamu, Ka. Aku akan menunggu janji itu. Kita akan mewujudkannya."
Bimo tertawa puas. "Wah, kalau gitu aku harus mulai melatih fisik! Berenang di laut asli beda dengan di kolam renang markas! Kai, kamu juga harus latihan nyanyi lagu pantai!"
Kai menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Dasar Bimo. Tapi ide perjalanan ini... terdengar sempurna. Terima kasih, Raka. Kau selalu tahu cara membuat kami merasa hidup."
Raka hanya tersenyum, meski hatinya hancur berkeping-keping. Setiap kata "janji" yang ia ucapkan terasa seperti pisau yang mengiris jiwanya sendiri. Ia tahu ia sedang membangun kenangan yang akan menjadi racun bagi mereka nanti. Saat ia tiada, setiap ombak di Laut Selatan, setiap matahari terbit dari dek kapal, setiap tawa Bimo dan petikan gitar Kai akan mengingatkan mereka pada janji yang tidak bisa ditepati. Pada pria yang berbohong demi cinta.
Namun, ia tidak menyesal. Lebih baik mereka memiliki harapan manis untuk dikenang, daripada kebenaran pahit yang menghancurkan saat ini.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan merencanakan detail perjalanan. Bimo membuat daftar makanan yang wajib dibawa, Kai menggambar rute kasar di udara menggunakan proyeksi hologram, dan Elara membayangkan baju apa yang akan ia pakai. Raka mendengarkan semuanya, menambahkan saran sesekali, dan tertawa pada lelucon-lelucon mereka.
Di dalam saku jaketnya, foto instan dari sore tadi terasa hangat. Raka menyentuhnya sekilas, merasakan tekstur kertasnya. Ini, batinnya, adalah puncak kebahagiaanku. Dan juga awal dari penderitaan mereka.
Saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Raka berdiri. "Sudah larut. Kita harus kembali. Besok masih ada laporan yang harus kita serahkan, meskipun misinya ringan."
Mereka enggan berpisah dari momen itu, namun kelelahan akhirnya menang. Mereka membereskan peralatan piknik, mematikan api unggun proyeksi, dan berjalan kembali menuju Aurora Wing. Langkah kaki mereka ringan, hati mereka penuh dengan antisipasi masa depan.
Saat mereka naik ke kapal, Raka adalah orang terakhir yang masuk. Ia berhenti sejenak di pintu, menoleh ke belakang untuk melihat padang rumput digital sekali lagi. Pohon emas itu berdiri kokoh, saksi bisu dari janji yang mustahil. Angin malam berhembus, seolah-olah berbisik perpisahan.
Raka menutup matanya sejenak, menghela napas panjang. Lalu, dengan wajah yang kembali datar dan terkendali, ia masuk ke dalam kapal dan menutup pintunya.
Mesin kapal menderu halus, mengangkat mereka kembali ke angkasa. Di dalam kabin, teman-temannya sudah tertidur atau setengah tidur, bermimpi tentang Laut Selatan dan kebebasan. Raka duduk di kursi kopilot, menatap panel instrumen yang bercahaya.
Dia tidak tidur malam itu. Dia hanya duduk, menatap kegelapan luar jendela, menunggu fajar yang akan mengubah segalanya. Menunggu badai yang sudah ia cium baunya, bahkan sebelum langit berubah warna.
Janji itu telah diucapkan. Sekarang, ia hanya perlu menunggu waktu untuk menagihnya.
Bersambung