"Jangan deket-deket gue! Inget, jarak lo satu meter." — Nicktan Megantara.
Nicktan adalah pembalap GT3 yang perfeksionis. Hidupnya diatur dengan ketat oleh ayahnya, Azeus, demi menjaga kondisi jantungnya yang sensitif. Segala bentuk "debaran emosional" adalah terlarang.
Lalu hadirlah Elea. Gadis agresif yang tak kenal takut dan hobi memancing emosi Nick. Satu tahun mereka terpisah oleh benua dan ego, Nick berubah menjadi aktor dingin yang hampa. Namun malam itu, di tengah sunyinya Jakarta, Nicktan menemukan kembali mangsa lamanya.
Sebuah kisah tentang pengabdian, rahasia keluarga Megantara yang terkubur selama dua dekade, dan perjuangan seorang pria yang mencintai wanita hingga ke titik jantungnya berhenti berdetak.
Visualisasi Nicktan terinspirasi dari Wang Yibo, namun seluruh alur cerita dan pengembangan karakter adalah murni fiksi karya penulis.
#wangyibo
Novel ini adalah Season 2 dari novel "Owned By Azeus"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Deru Mesin
Sirkuit siang itu terasa seperti kawah candradimuka. Panas matahari yang memantul di atas aspal hitam menciptakan fatamorgana yang bergoyang. Deru mesin motor 1000cc milik Nicktan memecah keheningan, suaranya melengking tinggi di lintasan lurus sebelum berubah menjadi geraman berat saat ia melakukan downshift tajam di tikungan pertama.
Di area pit box, Ardan berdiri dengan gelisah sembari menatap monitor yang menampilkan lap time Nick. Di sampingnya, Hendra, kepala mekanik senior, sibuk mencatat data telemetri.
"Dan, liat tikungan kelima. Nick terlalu agresif narik gasnya. Ban belakangnya hampir sliding tadi," Hendra menunjuk grafik di layar tabletnya.
Ardan mengusap wajahnya yang berkeringat. "Dia lagi nggak stabil, Hen. Emosinya ugal ugalan. Kalau kayak begini terus, balap resmi seminggu lagi bisa jadi bencana."
"Kita harus ingetin dia," sahut Hendra. "Habis ini dia ada jadwal tes mobil GT3 kan? Sesuai rencana tim, musim depan dia harus mulai transisi ke balap mobil. Kalau di motor aja dia emosian, gila aja gue lepas dia bawa mobil tenaga 500 horsepower."
Nick masuk ke pit lane dengan kecepatan rendah. Begitu motor berhenti, ia segera melepas helmnya, menampakkan wajah yang basah oleh keringat dan rahang yang mengeras.
"Nick! Sini lo!" panggil Ardan tegas.
Nick berjalan mendekat, menyambar handuk putih dari tangan asisten staf. "Gimana lap time gue?" tanya Nick datar.
"Ancur!" semprot Ardan tanpa tedeng aling aling.
"Lo telat ngerem di tikungan sepuluh, terus ugal ugalan di tikungan lima. Lo mau balapan atau mau bunuh diri, hah?"
Nick menatap monitor tanpa ekspresi. "Gue cuma nyari limit motornya, Dan."
Hendra menepuk bahu Nick. "Limit motor itu ada hitungannya, Nick, bukan perasaan. Lo dengerin gue ya, jadwal minggu depan padat. Habis balap motor hari Minggu, Seninnya lo udah harus duduk di kokpit mobil buat tes ketahanan. Gue nggak mau denger lo cedera gara gara masalah personal."
"Masalah personal apa maksud lo?" tanya Nick ketus pada Hendra.
Ardan mendengus, ia menarik Nick sedikit menjauh dari kru. "Halah, nggak usah akting. Masih centang satu kan chat dari si cewek kopi? Lo jangan bawa basa perasaan ke aspal, Nick. Bahaya."
Nick terdiam, matanya menatap tajam ke arah lintasan yang kosong. "Gue nggak bawa perasaan. Gue cuma gerah."
"Bohong lo basi!" sahut Ardan. "Btw, tim promosi udah nanyain soal foto Dynamic Duo kita. Katanya mereka mau bikin acara rilis barengan sama pameran mobil sport nanti. Lo harus profesional, jangan pasang muka tembok di depan kamera."
"Terserah lo," Nick berbalik, berjalan menuju motornya lagi.
"Woi! Mau ke mana lagi lo?! Istirahat dulu!" teriak Ardan.
"Satu sesi lagi! Gue butuh fokus!" balas Nick tanpa menoleh, memasang kembali helmnya dengan gerakan brutal.
Hendra menggelengkan kepala. "Anak itu... persis banget sama Pak Azeus waktu muda. Makin dilarang makin jadi."
"Biarin aja, Hen," gumam Ardan. "Mending dia pelampiasan di sirkuit daripada ngerusakin barang di rumah. Gue cuma takut, kalau kabar Elea bener bener ilang, dia bisa nekat nabrakin diri ke pembatas jalan."
Sementara itu, di sebuah sudut dapur yang luas namun terasa dingin, Elea sedang duduk di kursi kayu kecil bersama tiga orang ART. Di depannya ada sepiring nasi dan sayur, namun tangannya hanya memainkan sendok. Ia menyuap nasi dengan sangat lambat, seolah menelan batu yang menyumbat tenggorokannya.
"Non Ele, dimakan atuh nasinya. Nanti Non sakit," bisik salah satu ART dengan raut cemas.
Elea hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya yang sembab. "Iya, Bi. Ini lagi dimakan kok."
Dari arah ruang tengah, terdengar suara tawa cekikikan yang melengking. Paman Seno dan Clarissa sedang asyik menonton film, posisi mereka terlihat sangat mesra di sofa yang dulunya sering diduduki oleh mendiang orang tua Elea. Hati Elea terasa seperti diremas. Ia ingin sekali berteriak, mengusir mereka keluar, namun ia sadar posisinya terjepit.
Rumah ini adalah peninggalan orang tuanya, dan ia tak akan membiarkan Paman Seno menguasainya sepenuhnya. Berat baginya untuk pergi, tapi tinggal di sini rasanya seperti berada di neraka. Ia butuh ponselnya. Ia butuh teman. Ia butuh suara berisik sirkelnya, atau bahkan suara ketus Nicktan yang sekarang terasa sangat mahal baginya.
Tiba-tiba, suara tawa di ruang tengah berhenti, digantikan oleh teriakan Clarissa yang dibuat-buat dengan nada manis yang menjijikkan.
"Eleaaa!! Sayang, kamu di dapur ya?"
Elea mengeraskan rahangnya. Ia tidak menyahut, tangannya mencengkeram pinggiran meja makan hingga buku jarinya memutih.
"Eleaaa!! Boleh tolong ambilkan bibi kopi nggak, Sayang? Paman kamu juga mau teh manis!" teriak Clarissa lagi, kali ini nadanya lebih menuntut.
Elea menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang hampir jatuh karena rasa hina yang ia rasakan. Ia berdiri perlahan, menepis tangan salah satu ART yang hendak membantunya.
"Nggak apa apa, Bi. Biar gue aja," bisik Elea lirih.
Ia berjalan ke arah kompor, menyalakan api dengan tangan yang sedikit gemetar. Di kepalanya, ia membayangkan Nicktan sedang melesat di sirkuit, bebas tanpa beban. Ia iri. Ia ingin lari ke sana, memeluk pria kaku itu dan meminta pertolongan, namun ia sadar, jangkauannya kini hanya sebatas cangkir kopi pahit.
"Sabar, El. Lo harus bertahan," gumamnya pada diri sendiri sembari menuangkan air panas ke dalam cangkir, air yang sepanas amarah di dalam dadanya.