Dilarang memplagiat karya!
"Pernikahan kontrak yang akan kita jalani mencakup batasan dan durasi. Nggak ada cinta, nggak ada tuntutan di luar kontrak yang nanti kita sepakati. Lo setuju, Aluna?"
"Ya. Aku setuju, Kak Ryu."
"Bersiaplah menjadi Nyonya Mahesa. Besok pagi, Lo siapin semua dokumen. Satu minggu lagi kita menikah."
Aluna merasa teramat hancur ketika mendapati pria yang dicinta berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Tak hanya meninggalkan luka, pengkhianatan itu juga menjatuhkan harga diri Aluna di mata keluarga besarnya.
Tepat di puncak keterpurukannya, tawaran gila datang dari sosok yang disegani di kampus, Ryuga Mahesa--Sang Presiden Mahasiswa.
Ryuga menawarkan pernikahan mendadak--perjanjian kontrak dengan tujuan yang tidak diketahui pasti oleh Aluna.
Aluna yang terdesak untuk menyelamatkan harga diri serta kehormatan keluarganya, terpaksa menerima tawaran itu dan bersedia memainkan sandiwara cinta bersama Ryuga dengan menyandang gelar Istri Presiden Mahasiswa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31 Surga Dunia
Happy reading
Xavier membuktikan ucapan sekaligus ancamannya. Menyebar vidio yang memperlihatkan aib Baskara dan Tifany di beberapa sosial media, tak terkecuali di X.
Cuitan pedas para netizen memenuhi kolom komentar, membuat sepasang insan yang menjadi pelaku di vidio itu geram bercampur malu.
Baskara memohon pada Xavier untuk menghapus semua vidio yang disebarkan dan berjanji akan pergi jauh dari kehidupan Aluna.
Namun terlambat.
Sudah banyak pengguna sosial media yang me-reupload vidio itu.
Aib Baskara dan Tifany tersebar luas di jagad maya. Bahkan menjadi trending topik.
"Bas, gimana ini? Butikku makin sepi. Tagihan kian membengkak. Uang kita juga semakin menipis. Ditambah, papa--mama nggak mau lagi mengganggap ku sebagai anak mereka, setelah melihat vidio yang dishare oleh Xavier." Tifany menyandarkan kepalanya di bahu Baskara sambil memijit kening yang terasa pening. Bukan hanya pening memikirkan berbagai masalah yang tengah menimpa, tapi karena sebab lain.
Ada yang aneh di dalam tubuhnya.
Setiap pagi, ia serasa ingin memuntahkan semua isi perut. Apalagi ketika mencium aroma bawang.
"Kita jual butik ini, lalu terbang ke Kalimantan."
"Gila kamu, Bas. Aku nggak rela menjual butik ini. Butik yang aku gadang-gadang bakal meraup untung besar dan menjadikan aku orang kaya sekaligus calon menantu idaman papamu."
"Papa sudah berubah pikiran. Dia nggak lagi menuntut punya menantu berlimpah harta atau anak orang kaya."
"Jadi, maksud kamu ... papa merestui hubungan kita dan mau menerimaku sebagai menantu?" Wajah Tifany berbinar ketika mengucap kalimat itu.
Baskara menggeleng lemah. Kepalanya menunduk dalam, sembunyikan air bening yang sudah menganak di sudut mata. Tekan perasaan yang sesakkan dada. Berusaha legawa menerima akibat dari perbuatan yang dilakukan dan berdamai dengan takdir.
"Papa mengusirku dari rumah. Dia malu dan teramat marah. Papa nggak nyangka, aku bisa ngelakuin hal terbodoh dan menjijikan baginya."
Tifany membuang napas. Sejenak pejamkan mata. Batinnya merutuki takdir buruk yang mencekik erat dan membawa mereka berdua ke lembah derita.
Sayang, keangkuhan membuatnya enggan introspeksi diri.
"Semua ini gara-gara Aluna --"
"Berhenti nyalahin Aluna, Fan. Kita yang salah --"
"Owh, jadi kamu membela Aluna?!"
"Bukan itu maksudku --"
"Lalu apa? Jelas-jelas kamu membela Aluna."
"Fan, kita salah karena terlalu berani mengacau pesta pernikahan Ryuga dan Aluna. Kita lupa kalau Aluna adik Xavier--Ketua Geng Bima Sakti yang bisa menghalalkan segala cara untuk membalas perbuatan yang kita lakuin ke Aluna. Bukan cuma menyebar vidio, tapi ... dia juga bisa membunuh kita --"
Baskara menjeda ucapannya. Hela napas panjang, tatap lekat wajah wanita yang sudah ditanami benih.
"Dari pada terus terpancing mencari gara-gara yang bisa ngerugiin dan mengancam nyawa kita sendiri, lebih baik kita memulai hidup baru di Kalimantan. Kita bisa membuka usaha di sana."
"Tapi, kuliah kita gimana, Bas?"
Baskara kembali menghela napas. Rangkul pundak Tifany. Labuhkan kecupan dalam di pucuk kepala. Beri afeksi. Coba hadirkan rasa tenang.
"Nggak usah mikir itu, karena kita nggak punya banyak uang untuk nerusin kuliah. Lagian, kalau kita tetap tinggal di sini, cuma caci--maki yang bakal kita terima setiap hari. Jujur, mentalku nggak sekuat para artis. Kewarasanku bisa hilang dan mungkin ... aku bakal memilih mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri."
Tifany mengangguk samar. Teteskan air bening yang tak kuasa lagi dibendung dan benamkan wajahnya di dada bidang Baskara--lelaki yang dicintainya sejak masih mengenakan seragam putih--abu.
.
.
Di tempat berbeda ....
Aluna mematut diri di depan cermin. Menyisir rambut panjangnya yang tergerai dan masih sedikit basah.
Senyum tersemat di bibir, ketika pantulan wajah rupawan Ryuga terlihat jelas di cermin.
"Love, besok lusa ... gue sama anak-anak BEM mo berangkat ke Desa Bantul, buat jalanin Proyek Bakti Hukum di sana," ujar Ryuga--memulai obrolan sembari mengambil sisir dari genggaman tangan Aluna.
"Berapa hari, Kak?" Aluna menanggapi, biarkan Ryuga menyisir dan menghirup aroma rambutnya.
"Dua sampai tiga hari. Lo bisa ikut?"
Aluna mengangguk. "Iya, Insya Allah aku bisa ikut. Tapi, aku takut kalau merepotkan Kak Ryu."
Ryuga mengulas seutas senyum. Memutar pelan tubuh Aluna hingga berhadapan dengannya.
Dua pasang mata saling menatap. Mengunci atensi hanya pada satu titik--sosok yang halal dipandang berlama-lama.
"Lo ngerepotin gue, kalau nggak ikut ke Desa Bantul. Gue bakal khawatir dan kepikiran. Takut lo kenapa-napa." Usai mengucap kata itu, Ryuga menaruh sisir di atas meja dan mengangkat tubuh Aluna. Lantas berganti duduk di kursi sambil memangku wanita bergelar 'istri'.
"M-mas --" ucap Aluna--ragu.
"Gue nggak denger lo ngomong apa? Coba ulangi lagi."
"M-mas Ryu."
Ryuga mendengus geli saat mendengar panggilan yang disematkan oleh Aluna. Menggelitik telinga, tapi sweet.
"Gue, mau nebus kesalahan semalam. Boleh?"
Aluna mengerutkan dahi dan ganti bertanya. "Nebus nya pakai apa?"
"Mengulangi yang semalam, tapi gue janji nggak bakal nyakitin lo."
Aluna menelan saliva. Tubuhnya membeku. Lidahnya serasa kelu untuk sekedar mengucap sepatah kata. Biarkan Ryuga memagut bibir penuh kelembutan.
Sentuhan bibir Ryuga menuntun Aluna untuk membalas. Memandu tangannya melingkar di leher.
Cukup lama keduanya menyelami rasa manis. Bertukar saliva dan saling memagut.
"Mas aku --" Sepasang mata Aluna berkabut. Inginkan sentuhan lebih saat tangan Ryuga bermain nakal di atas dua harta yang masih terbalut kain.
"Gue tebus kesalahan semalam, Love." Ryuga berbisik. Bawa Aluna berpindah posisi di atas ranjang.
Aluna pasrah.
Menyerahkan jiwa dan raga pada lelaki yang telah berhasil mengambil alih tahta Baskara di hidupnya.
Ryuga membuktikan ucapannya. Memperlakukan dan memanjakan Aluna dengan penuh kelembutan. Membuatnya terlena, terbuai, dan mendengungkan nada-nada merdu.
"Mas --" Aluna mencengkram kuat punggung Ryuga saat raga mereka bersatu. Menggigit bibir bawahnya dan pejamkan mata, menyelami manisnya surga dunia yang disuguhkan oleh Sang Presma.
Bukan lagi mencipta rasa perih, melainkan kenikmatan yang tidak bisa dijabarkan dengan rangkaian frasa atau kata.
"Love, mau lagi?" Ryuga mengecup singkat bibir Aluna. Perlihatkan senyum khas yang menawan.
Aluna mengejapkan mata dan tersenyum. Persilahkan bagian tubuh Ryuga kembali masuk ke dalam selaput Marwah untuk menuntaskan ha-srat.
"Love --"
"Mas --"
Keduanya memekik pelan ketika sampai di puncak nikmat. Menggumamkan asma Sang Maha Cinta di dalam benak.
Kecupan dalam berlabuh di kening sebelum Ryuga menjauhkan bagian tubuhnya dari mahkota yang baru saja disinggahi.
"Sakit nggak?" bisiknya. Rengkuh tubuh Aluna dan bawa ke dalam dekapan. Tutupi tubuh polos mereka dengan selimut berwarna putih.
"Enggak." Aluna menjawab lirih. Benamkan wajah yang terhias rona merah di dada bidang Ryuga.
"Nagih?" Lagi, Ryuga menggumamkan tanya.
Wajah Aluna serasa panas. Bukan karena tersiram air panas. Tapi karena malu.
Ingin menjawab 'iya' tapi bibirnya dipaksa terkunci.
🍁🍁🍁
Bersambung
Yang setitik itu terkadang yg sangat frontal
spil tipis² Bu..🤭
kalau saja ada pegawai desaku yg ikut baca..🤭🤭