Ana terpaksa menikah dengan seorang pria lumpuh atas desakan ibu dan kakaknya demi mahar uang yang tak seberapa. Pria itu bernama Dave, ia juga terpaksa menikahi Ana sebab ibu tiri dan adiknya tidak sanggup lagi merawat dan mengurus Dave yang tidak bisa berjalan.
Meskipun terpaksa menjalani pernikahan, tapi Ana tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dengan ikhlas dan sabar. Namun, apa yang didapat Ana setelah Dave sembuh? Pria itu justru mengabaikannya sebagai seorang istri hanya untuk mengejar kembali mantan kekasihnya yang sudah tega membatalkan pernikahan dengannya. Bagaimana hubungan pernikahan Ana dan Dave selanjutnya? Apakah Dave akan menyesal dan mencintai Ana? atau, Ana akan meninggalkan Dave?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabur
Malam mulai turun perlahan, menyelimuti rumah. Suasana rumah itu memang jauh dari kata hangat, dan bagi Ana, tempat ini tak ubahnya seperti kurungan. Penuh banyak penderitaan dibandingkan dengan kebahagiaan selama ia tinggal di rumah ini.
Setelah makan malam yang diwarnai dengan bentakan kecil dari Rani dan keluhan tajam dari Ratna, Ana pamit kembali ke kamarnya. Tapi bukan untuk tidur. Ada gelisah yang terus mengusik pikirannya, apalagi setelah menerima surat cerai dari Dave tadi pagi. Ia mencoba menenangkan diri, duduk bersandar di kasur usang dengan mata menerawang ke langit-langit. Namun, langkah kaki dan suara berbisik yang samar dari arah ruang tamu membuatnya waspada.
Perlahan, Ana membuka pintu kamarnya dan melangkah pelan ke lorong sempit. Lampu mati di lorong itu membantunya menyelinap tanpa terlihat. Ia menempelkan tubuhnya ke dinding dan mendekatkan telinga ke arah ruang tamu. Suara Ratna terdengar lebih dulu.
“Besok sore, kita ke rumah Pak Wirya,” ujar Ratna dengan nada serius namun bersemangat. “Dia sudah setuju. Katanya tidak masalah kalau Ana sudah janda, yang penting muda dan menurut.”
Ana langsung terdiam. Jantungnya berdebar cepat.
“Meskipun tidak sekaya Dave,” sahut Rani. “Uangnya berlimpah, katanya punya vila di tiga kota. Kalau Ana menurut, kita bisa minta uang muka besar. Kan lumayan.”
Ratna terkekeh pelan. “Benar, bulan ini kita untung banyak. Hanya dengan menjual Ana, kita bisa mendapatkan banyak uang.”
Ana membeku. Nafasnya tercekat. Mulutnya langsung ditutup dengan tangan, menahan suara yang hampir keluar karena terkejut dan ketakutan. Dijual? Pada pria tua? Ia tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Tapi suara dan nada bicara itu nyata. Ibu tirinya dan kakaknya benar-benar akan menjualnya seperti barang.
Tubuh Ana gemetar. Ia mundur pelan-pelan, kembali ke kamarnya, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Ia terduduk di lantai, memeluk lutut, mencoba mengatur napas. Ketakutan menelannya bulat-bulat. Matanya mulai basah, tapi tak ada waktu untuk menangis lama.
“Dave, seandainya kau jadikan aku pembantu di rumahmu, itu jauh lebih baik dibandingkan dengan aku harus tinggal bersama mereka.”
Ana tahu, ia tak akan pernah bisa aman jika terus tinggal di bawah atap Ratna. Wanita itu tidak pernah menganggapnya sebagai anak. Dan Rani, selalu memperlakukannya seperti beban. Sekarang, setelah Dave menceraikannya, mereka melihat Ana hanya sebagai alat untuk mendapatkan uang.
Dengan tangan gemetar, Ana membuka laci kecil tempat ia menyimpan sedikit uang sisa dari pemberian Pak Wen saat ia masih tinggal di rumah Dave. Jumlahnya tak banyak, tapi cukup untuk naik bus keluar kota. Ia mengambil jaket lusuh, sandal, dan memasukkan barang-barang penting ke dalam tas kecil seperti kartu tanda pengenal.
Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam. Rumah sudah sepi. Ratna dan Rani mungkin sudah tidur, atau terlalu yakin bahwa Ana tak akan berani melakukan apa-apa.
Ana mengendap keluar dari kamar, membuka jendela belakang perlahan. Angin malam langsung menerpa wajahnya, dingin namun menyegarkan. Ia melangkah pelan-pelan, menuruni tembok belakang yang dipenuhi tanaman liar, dan berhasil keluar tanpa suara.
Begitu kakinya menginjak tanah luar, Ana langsung berlari. Ia tak tahu ke mana arah pasti yang dituju, tapi yang jelas, semakin jauh dari Ratna dan Rani, semakin baik.
Malam itu, di bawah langit gelap tanpa bintang, Ana menjadi pelarian. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa melarikan diri adalah satu-satunya bentuk perjuangan yang tersisa untuk mempertahankan harga diri dan kehidupannya sendiri. Ia berjanji, dalam hatinya yang masih luka, bahwa ia tak akan pernah kembali. Dan siapa pun yang mencoba menjualnya, akan kecewa.
Karena mulai malam ini, Ana akan menentukan nasibnya sendiri.
***
Keesokan paginya, Rani berjalan menuju kamar Ana sambil menguap lebar. Rambutnya masih acak-acakan, dan wajahnya masih kusut. Dengan malas, ia membuka pintu kamar Ana, berharap akan melihat adiknya sedang duduk lesu seperti biasa.
Namun tidak.
Rani terdiam di ambang pintu. Matanya membelalak, tubuhnya kaku. Kamar itu kosong tidak ada siapapun. Tirai jendela terbuka, lemari pakaian terbuka lebar, dan semua pakaian Ana telah lenyap. Tempat tidur rapi seperti tidak pernah dipakai. Tak ada jejak keberadaan Ana.
Sekujur tubuh Rani langsung panas. Panik mulai merayap ke wajahnya.
"Bu! Ibu!" teriaknya sekeras mungkin. “Bu! Ana tidak ada kamar! Dia kabur!”
Dari dapur, Ratna hampir menjatuhkan panci yang sedang ia pegang untuk merebus air. Ia segera berlari menuju kamar Ana, dan saat melihat pemandangan di dalamnya, wajahnya langsung berubah tegang.
“Tidak mungkin…” gumamnya lirih. Ia bergegas masuk, membuka laci-laci kecil, memeriksa kolong tempat tidur, membuka lemari sekali lagi. Tapi semuanya kosong.
“Dia benar-benar pergi...” desisnya. “Anak itu berani sekali!”
“Pakaiannya tidak ada satu pun!” kata Rani, kini dengan nada frustasi. “Kita kecolongan, Bu! Dia kabur tadi malam.”
Ratna mengumpat pelan, berjalan mondar-mandir dengan geram. “Ibu sudah bilang untuk tidak menundanya. Seharusnya semalam saja langsung kita bawa ke rumah Pak Wirya!”
Rani menghentakkan kakinya kesal. “Lalu sekarang bagaimana? Uang muka sudah dijanjikan. Kita berjanji akan membawa Ana sore ini.”
“Diam dulu! Ibu sedang berpikir!” bentak Ratna. Ia menarik napas dalam-dalam, menekan emosinya. Wajahnya memerah karena marah bercampur panik.
Ia lalu berjalan menuju jendela kamar Ana yang terbuka. Tirai berkibar pelan ditiup angin pagi. Ratna menyipitkan mata, menatap ke luar. Tidak ada jejak. Tidak ada siapa pun yang tahu ke mana Ana pergi. Gadis itu telah menghilang tanpa jejak.
"Dia pasti sudah merencanakan ini sejak awal," gumam Ratna penuh geram. "Dia menunggu kita lengah. Pasti Ana sudah mendengar pembicaraan kita berdua.”
Rani menatap ibunya dengan gelisah. “Kalau sampai Pak Wirya tahu Ana kabur, dia pasti akan membatalkannya. Dan kita bisa kehilangan semuanya.”
“Tidak,” jawab Ratna cepat. “Dia tidak boleh tahu. Kita bilang saja Ana sedang pergi sebentar, atau sakit. Kita cari dia hari ini juga. Sebelum semua ini jadi bencana.”
Namun Ratna tahu, dalam hatinya yang terdalam, ini bukan soal kehilangan uang atau peluang. Ini soal kehilangan kendali. Ana yang selama ini mereka tekan, mereka perintah sesuka hati akhirnya memilih untuk melawan. Dan Ratna sadar, gadis itu tidak akan mudah ditemukan lagi.
Sementara itu, jauh dari rumah itu, Ana berada di atas bus yang telah membawanya melewati beberapa kota. Ia duduk dekat jendela, memandangi dunia yang membentang luas. Wajahnya lelah, tapi sorot matanya penuh keteguhan.
Ia tidak menyesal.
Karena pagi ini, untuk pertama kalinya, ia bangun bukan sebagai seorang istri yang dibuang, atau anak tiri yang dijual. Ia bangun sebagai dirinya sendiri seorang perempuan yang memilih untuk bebas.