NovelToon NovelToon
Through My Eyes

Through My Eyes

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:640.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tirza

"Kata orang, cinta itu berawal dari mata, kemudian turun ke hati. Namun, itu tidak berlaku bagi kami. Cinta kami bermula dari getaran yang timbul di dalam hati, sementara mata hanyalah buktinya."- Yuri

Yuanri Agatha, atau yang biasa disapa dengan sebutan Yuri, adalah seorang perempuan dengan paras cantik serta bentuk tubuh yang sempurna. Meski begitu kisah hidupnya tidak seindah penampilan fisiknya.

Ada satu masa dimana perempuan itu akhirnya berpikir untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan hinaan warga sekitar, yang terus melabelnya sebagai wanita penggoda. Padahal, kenyataannya adalah bahwa Yuri selalu menjaga kehormatannya.

Keputusan mengakhiri hidup itu ia urungkan saat melihat seorang laki-laki terbaring dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas sebuah karang, yang lokasinya tidak jauh dari tempat, yang sudah ia rencanakan untuk mengakhiri hidup.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Segera favoritkan kisah ini dan nantikan kelanjutan kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pendonor Rahasia

Yuri masih menangis hingga sebuah bunyi dering handphone mengalihkan kesedihannya. Yuri segera melangkah meninggalkan ranjang untuk mengambil handphone-nya yang terletak di atas nakas.

Sebuah nama tertulis di layar. Panggilan masuk dari orang yang ia kenal.

📞'Halo! Kak Radit?' (Yuri)

📞'Maaf mengganggumu malam-malam seperti ini. Hanya saja ada kabar penting dan mendesak, yang harus ku sampaikan padamu.' (Raditya)

📞'Kabar?' (Yuri)

📞'Yuri, sesuatu telah terjadi. Rumah Sakit mengabariku bahwa.....' (Raditya)

📞'Halo! Kak? (Yuri)

📞 'Don..... tal.... tera........' ( Raditya)

📞 'Halo?' (Yuri)

📞 'Yuri? Halo?' (Raditya)

📞 'Iya kak? Maaf, di sini hujan. Sinyalnya kurang baik. Tetapi, sekarang sudah jelas. Tolong diulangi!' (Yuri)

📞 'Pendonor mata Bram membatalkan niatnya di detik-detik terakhir. (Raditya)

📞 'Apa? Batal?' (Yuri)

📞 'Aku sudah berusaha membujuk laki-laki itu dengan berbagai macam cara. Namun, berkali-kali ia hanya meminta maaf dan mengatakan belum siap.' (Raditya)

📞 'Apa mungkin ia meminta penundaan waktu kak. Coba pastikan ulang!' (Yuri)

📞 'Aku sempat berpikir ke arah itu dan menanyakan kepadanya. Namun, tetap saja jawabannya hanya mohon maaf dan saya belum siap'. (Raditya)

📞 'Apa Mas Bram dan Nona Rosalie mengetahuinya?'(Yuri)

📞 'Aku bingung bagaimana cara memberi tahu mereka berdua. Oleh karena itu, aku menghubungimu untuk membantuku berpikir. (Raditya)

Yuri menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia membayangkan bagaimana reaksi Bram jika mendengar hal ini.

Laki-laki itu tentu akan merasa lebih hancur lagi, saat Radit memberitahu yang sebenarnya. Kabar itu juga mungkin akan terasa lebih menyakitkan dibandingkan saat laki-laki itu mendengar bahwa dirinya mengalami kebutaan untuk pertama kali.

📞 'Halo, Yuri! Kau masih mendengarku?' (Raditya)

📞 'Kak?' (Yuri)

📞 'Iya? (Raditya)

📞 'Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjalani serangkaian tes pra-tindakan transplantasi kornea bagi pendonor? Bisakah dilakukan dan diketahui hasilnya dalam sehari?' (Yuri)

📞 'Dengan pengaruhku, tentu saja bisa.' (Raditya)

📞 'Kalau begitu tolong siapkan semuanya. Aku.... Aku yang akan menjadi pendonor itu.' (Yuri)

📞 'Kau gila! Kau akan menjadi buta Yuri. Aku tidak akan menurutimu kali ini. (Raditya)

📞 'Kamu tahu bahwa kita tidak punya pilihan lain. (Yuri)

📞 'Aku masih bisa mengusahakannya lagi. Mungkin kita hanya perlu menundanya beberapa saat.' (Raditya)

📞 'Kak? Ku mohon. Mungkin dengan ini aku merasa hidupku sedikit lebih berarti.' (Yuri)

📞 'Yuri!' (Raditya)

📞 'Kak, percayalah padaku. Ini akan jauh lebih baik dari pada aku harus menikah dengan Awan. (Yuri)

📞 'Menikah? Awan?' (Raditya)

📞 'Dia mengetahui bahwa statusku dan Mas Bram hanyalah pura-pura. Dia mengancam akan mengadukan semua pada warga dan memprovokasi mereka agar melukai kami, jika aku tidak memenuhi keinginannya untuk menikahinya.' (Yuri)

📞 'Kau! Kenapa tidak pernah menceritakan hal ini padaku? Jadi itu juga alasanmu membuatnya sangat membencimu, supaya kalian tidak bertemu lagi dan akan lebih mudah bagimu untuk melupakannya? Ternyata kau sungguh egois dan memikirkan dirimu sendiri! (Raditya)

Meski menyakitkan, Yuri mencoba mendengar dan menerima ucapan Radit dengan besar hati. Lebih baik, ia tetap diam dari pada membuat keadaan menjadi runyam.

Seandainya Rosalie tidak melanggar batasannya, yang pada akhirnya membuat gadis itu mengetahui perasaan Yuri yang sesungguhnya, tentu hingga saat ini hubungan Bram dan dirinya akan tetap baik-baik saja. Namun, biarlah hal ini, ia simpan bagi dirinya sendiri.

📞 'Bukan urusanmu kak! Yang jelas aku sudah berjanji akan menikah dengan laki-laki itu, setelah operasi Mas Bram selesai dilakukan dan setelah ia pulih kembali. Ini satu-satunya kesempatanku untuk meloloskan diri.' (Yuri)

📞 'Apa harus dengan cara seperti ini? Aku bisa menghajar laki-laki itu dan menyuruh dia tutup mulut. (Raditya)

📞 'Dan pada akhirnya reputasimu menjadi rusak karenanya. Apa kau siap? (Yuri)

📞 Yuri! (Raditya)

📞 'Sampai jumpa besok di rumah sakit kak. (Yuri)

📞' Ayolah Yuri! Jangan gegabah! (Raditya)

📞 'Aku tahu apa yang aku lakukan kak. Aku akan baik-baik saja setelah ini. Aku hanya memohon padamu, jika memang korneaku cocok dengan miliknya, jangan pernah mengatakan padanya bahwa aku lah pendonor itu. Biarkan Mas Bram berpikir bahwa semua berjalan sesuai rencana! Pendonornya adalah seorang laki-laki. (Yuri)

📞 'Tapi Yuri?" (Raditya)

📞 'Lakukan saja permintaanku! Lakukan ini supaya Mas Bram dan Nona Rosalie bahagia.' (Yuri)

📞 'Bahagia di atas penderitaanmu? (Raditya)

📞 'Kita berdua sama-sama tahu. Aku seharusnya sudah mati karena bunuh diri di pantai waktu itu. Tidak ada lagi yang tersisa dari hidupku sekarang, kak. Aku hanya berharap, sekali saja, aku bisa merasakan hidupku berarti.' (Yuri)

📞 'Gadis bodoh!' (Raditya)

Radit memutuskan sambungan telponnya karena kesal. Ia menyerah. Ia tidak bisa membantah argumentasi Yuri sehingga hanya mampu mengatakan kata-kata itu.

Setelah menenangkan dirinya selama beberapa saat Radit pun segera menghubungi pihak Rumah Sakit untuk mengatur semuanya. Laki-laki itu juga tidak lupa meminta mereka untuk menyembunyikan identitas calon pendonor kornea Bram.

 -----------------

Setelah sambungan telepon Radit terputus, Yuri segera bangkit meninggalkan kamarnya, untuk menuju ke suatu tempat. Suatu tempat di mana ia biasa menghabiskan waktunya berjam-jam untuk melukis.

Dengan langkah yang pasti, ia berjalan memasuki ruangan itu. Entah mengapa gadis itu seperti mendapatkan kekuatan baru sekarang.

Awalnya ia berpikir bahwa hidupnya akan berakhir dengan kesedihan yang abadi. Ia kehilangan cintanya dan akan menikahi pria yang tidak ia cintai sebagai gantinya. Namun, sekarang semuanya berbeda.

Bagi gadis itu, tidak ada masa depan yang lebih baik dari ini. Meski Yuri mengetahui bahwa ia dan Bram tidak mungkin bersatu, namun setidaknya ada bagian kecil dari tubuhnya yang akan menyatu dengan laki-laki itu. Ada bagian dari dirinya yang akan dibawa oleh laki-laki itu kemanapun ia pergi.

Bagian yang penting, yang akan membuat laki-laki itu melihat keindahan seperti caranya memandang. Bagian penting, yang akan membuat laki-laki itu bisa melihat dirinya sendiri, melihat orang-orang yang ia cintai, dan melihat dunia.

Gadis itu berpikir, apa gunanya bisa melihat, jika semua hal itu sudah terenggut darinya tanpa sisa? Sementara laki-laki itu, ia memiliki semuanya tanpa pernah bisa memandang miliknya. Oleh karena itu, Yuri tidak merasa ragu dan menyesal atas pilihannya ini.

Bagi gadis itu, apa yang ia lakukan bukanlah sebuah pengorbanan. Itu hanyalah suatu tindakan menempatkan sesuatu dengan semestinya.

Sudah sepantasnya Yuri memilih gelap. Ia membiarkan dirinya berkawan dengan gelap, karena seperti itulah keadaan hidupnya sejak dulu.

Gadis itu berharap, mungkin dengan cara ini, suatu saat nanti ia dapat menemukan ketenangan jiwa. Sesuatu yang tidak pernah ia memiliki ketika cahaya masih menyelimuti harinya.

Saat ini Yuri sudah berdiri di hadapan sebuah lukisan yang tertutup oleh kain hitam di dalam studio lukis miliknya. Ia sedang berdiri menatap sebuah lukisan yang belum selesai ia kerjakan.

Gadis itu tidak bisa melanjutkan lukisannya waktu itu karena tidak mengetahui seperti apa sorot mata laki-laki itu nantinya pasca operasi. Namun, sekarang ia sudah mengetahui harus melukis seperti apa.

Yuri segera mengambil kuas dan menuangkan cat pada palet kesayangannya. Malam Ini ia berusaha menikmati saat-saat melukisnya. Mungkin ini benar-benar menjadi kali terakhir baginya untuk menyentuh dan menggunakan benda-benda itu.

Setelah beberapa menit, gadis itu sudah berhasil menyelesaikan lukisannya. Ia masih berada di ruangan itu untuk meneliti hasil karyanya. Setelah memastikan tidak ada kekurangan, Yuri pun memandang lukisan itu cukup lama dan tersenyum bahagia.

-------‐-----‐--

Keesokan harinya, Yuri benar-benar pergi ke Rumah Sakit yang ada di kota, tempat Bram biasa memeriksakan diri. Dengan pengaturan yang telah dilakukan oleh Radit dan tanpa sepengetahuan Bram, Yuri mengikuti prosedur demi prosedur yang ada untuk mendapatkan beberapa hasil test.

Sepertinya Yuri memang sangat siap dengan semuanya. Hasil tes kesehatan gadis itu menunjukkan bahwa ia berada dalam kondisi sangat baik dan ia siap melakukan transplantasi kornea besok, jika kornea mereka cocok. Sementara itu, menyangkut hasil tes kecocokan kornea akan keluar beberapa jam kemudian.

Saat ini, Yuri dan Radit sedang menanti hasil tes terakhir dengan gugup dan was-was. Yuri berharap agar tidak ada kendala di hasil tes terakhirnya, sementara Radit, laki-laki itu mengharapkan yang lain.

Radit masih berharap ada cara lain untuk menyelesaikan masalah, baik itu masalah siapa pendonor Bram dan masalah pernikahan Yuri yang dilakukan di bawah tekanan. Laki-laki itu benar-benar tidak tega jika Yuri yang sudah hidup sebatang kara harus menambah penderitaannya dengan mengalami kebutaan.

"Dokter Radit! Ini hasilnya." Dokter mata yang biasa menangani Bram datang membawa hasil tes kecocokan kornea Yuri dan Bram kepada Radit, yang sedang menemani Yuri di kamar perawatan gadis itu.

"Cocok!" Raditya menghembuskan napasnya dengan berat.

Yuri tersenyum mendengar hasil tes itu. Gadis itu nampak lega sekarang.

"Persiapkan dirimu! Besok pagi kita akan melakukan operasi." Raditya meninggalkan Yuri sendirian di dalam kamar dengan perasaan sedih yang mendalam.

 -------------------

*Keesokan Harinya*

Ranjang Yuri telah di dorong memasuki sebuah ruangan yang berukuran sangat besar. Ruangan itu dilengkapi dengan berbagai peralatan yang super canggih.

Untuk menghindari pertemuan dengan Rosalie, Yuri dibawa masuk lebih dulu menuju ruang operasi. Setelah gadis itu berada di dalam dan cukup siap, petugas baru membawa masuk Bram ke dalam.

Saat ini Bram dan Yuri sudah berada di dalam ruangan yang sama. Mereka berbaring di tempat yang berbeda namun dalam posisi bersebelahan.

Yuri menoleh ke tempat di mana Bram berada. Gadis itu memuaskan dirinya dengan memandang Bram untuk terakhir kali, sebelum kesadarannya terenggut karena anastesi dan kegelapan menyelimuti hidupnya selamanya.

"Aku memenuhi janjiku padamu, Mas. Aku tetap mendampingimu saat operasi ini dilaksanakan," gumam Yuri di dalam hati sambil menatap Bram dengan penuh cinta.

Semua orang di dalam ruangan itu nampak sibuk bersiap-siap, hingga dokter mata yang menangani Bram dan Raditya memasuki ruangan operasi bersama-sama. Radit menggenggam tangan Yuri untuk memberi kekuatan padanya. Sementara gadis itu hanya bisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak boleh bersuara, sebab jika ia bersuara, Bram pasti akan mendengarnya.

"Saya akan melakukan anastesi kepada anda berdua," ucap dokter anastesi kepada dua orang pasien yang berbaring di hadapannya.

"Setelah saya menyuntikan cairan anastesi, anda berdua akan kehilangan kesadaran. Dan kita bisa memulai operasinya," sambung dokter itu kembali.

Dokter itu sedang bersiap-siap. Namun, sebelum jarum suntik itu sempat menyentuh Bram, laki-laki itu tiba-tiba ingin berbicara.

"Tunggu Dokter! Sebelum kesadaran saya hilang, bolehkah saya mengucapkan terima kasih kepada pendonor saya?" Bram menghentikan tindakan dokter anastesi itu sejenak.

"Dua menit. Silakan!" Dokter itu memberikan waktu.

"Tuan! Terima kasih. Apa yang anda lakukan ini, sungguh bernilai bagi saya. Saya hampir saja putus asa dan kehilangan harapan hidup karena kebutaan ini. Namun, berkat anda, saya bukan hanya memiliki harapan hidup tetapi saya benar-benar memiliki hidup yang baru," ucap Bram dengan tulus dari hatinya.

"Tuan! Saya tidak mengenal siapa anda, seperti apa wajah anda, dan saya juga tidak mengetahui apa yang mendorong anda untuk mau membantu saya. Tetapi yang jelas, saya tahu bahwa anda memiliki hati yang mulia untuk orang asing seperti saya. Sekali lagi saya berterima kasih," sambung Bram kembali.

Yuri tidak menjawab. Gadis itu tidak bisa menjawab. Ia hanya menangis mendengar ucapan Bram.

Radit memberi kode kepada Dokter Anastesi untuk melanjutkan tugasnya. Dalam hitungan satu sampai lima keduanya diharapakan sudah kehilangan kesadaran.

Di detik-detik terakhir kesadarannya, Bram mendengar suara seorang perempuan yang ia kenal berbicara padanya. Suara itu menjadi suara terakhir yang ia dengar sebelum ia memasuki kehidupannya yang baru.

"Aku mencintaimu Abraham Adiputera. Berbahagialah!" Laki-laki itu pun terlelap dalam tidur yang dalam.

 ------------------

Selamat membaca!

 

 

1
Fi Fin
kapan ada sinar bahagia yuri 😭😭😭
Rinisa
Novel yg sangat bagus & menyentuh...👍🏻👍🏻👍🏻
Rinisa
best
Rinisa
Beneran bram masih hidup ....
Rinisa
Next read
Sri Widjiastuti
pasrah amat yahh??
Rinisa
Akhirnya...
Rinisa
Next
Rinisa
Cinta Yuri begitu besar kepada Bram...
Rinisa
Bram Cemburu...😍
Rinisa
So sweet...🤗😍
Rinisa
Novel ke 1 & 2 sangat bagus, saya yakin yg ke 3 ini juga pasti bagus...👍🏻🤗
Gendhuk sri
kerennn
Gendhuk sri
deg degan 😭
Gendhuk sri
bram bertahan y yuri juga bertahan demi kamu
Gendhuk sri
bram bram katanya orang berpendidikan pangkat juga tinggi tp mulutmu itu lo pingin gw gampar
Gendhuk sri
cemburu ya
Gendhuk sri
ok kaka novelmu bagus2
Ratna Yuni
kak tirza karya mu emang beda syuka deh
Becky D'lafonte
mulai posesif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!