Arya dan Rania dipaksa menikah oleh kedua orang tua masing masing karena tidak ingin wanita lain yang merawat bayi yang dilahirkan oleh Ayumi yang tidak lain dari kakak dari Rania sendiri. Arumi meninggal dunia tak lama setelah melahirkan anak keduanya.
Ternyata menjadi ibu sambung untuk anak yang terbiasa memanggil dirinya Tante dan menjadi istri dari laki laki yang terbiasa dia panggil kakak ipar adalah hal yang paling sulit dalam hidupnya. Sofia, putri pertama Arya dan Arumi yang sudah berusia sepuluh tahun tidak menerima Rania sebagai ibu sambung. Kata kata hinaan dan kata kata tuduhan dari Sofia menjadi santapan Rania di awal pernikahannya dengan Arya. Bukan hanya Sofia yang menolak kehadirannya. Arya yang seharusnya memberikan perlindungan kepada Rania. Laki laki itu juga sangat jelas menunjukkan kebenciannya pada Rania.
Lalu, sanggupkah Rania bertahan. Apakah Rania tega meninggalkan Rio yang mengenal dirinya sebagai ibunya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Dua manusia jahat merasa sudah aman untuk sementara setelah duduk di bangku mobil. Yang terpenting bagi mereka adalah terlepas dulu dari rumah Arya. Mereka sudah menghapus sebagian dari jejak dengan menghapus semua postingan di media sosial milik mereka. Setelah ini, bibi Nining dan Usi berencana akan bersembunyi di kampung mertuanya bibi Nining.
Bibi Nining memilih kampung mertuanya daripada kampungnya sendiri karena Arya sudah mengetahui dimana kampungnya.
Bibi Nining merasa jika dirinya akan aman. Jika Arya melaporkan dirinya dan Usi ke polisi. Polisi akan kewalahan untuk menemukan mereka. Selain foto foto di media sosial mereka sudah dihapus. Nining dan Usi juga bukan nama yang sebenarnya.
Bibi Nining merasa beruntung karena sejak awal bekerja tidak menggunakan nama aslinya. Tidak ada maksud lain waktu itu. Tapi sekarang hal itu sangat berguna untuk menghilangkan jejak atas kejahatan yang dia perbuat.
Di dalam taksi itu, bibi Nining dan Usi sengaja menahan diri untuk berbicara dulu. Mereka berdua sama sama menetralkan detak jantung. Hampir bisa ditangkap oleh Arya membuat dua wanita itu ketakutan.
Tapi ternyata rasa lega yang mereka rasakan hanya berlangsung beberapa menit. Rasa lega itu kini berganti dengan rasa khawatir karena taksi yang mereka dihadang oleh beberapa pria yang kini berdiri di depan mobil tersebut.
"Anda membawa dua orang penjahat. Biarkan kami menyerahkan mereka ke polisi."
Tubuh dua wanita itu bergetar. Mereka mendengar sendiri perkataan satpam pada supir taksi online.
Bibi Nining mengedarkan pandangannya. Tidak ada celah bagi mereka untuk kabur.
"Loh, ini kan pembantunya pak Arya. Kalian pencuri. Mencuri apa dari rumah pak Arya?" tanya seorang pria begitu kaca mobil dibuka lebar lebar oleh supir.
"Jangan banyak tanya, Supri. Seret saja mereka keluar."
"Padahal keluarga pak Arya itu baik loh. Banyak pembantu pembantu disini yang ingin kerja di rumah pak Arya."
"Benar, waktu covid saja. Hanya keluarga pak Arya yang sering memberikan bantuan sembako pada pembantu pembantu dan juga para satpam disini."
Suara suara pria itu terdengar hingga ke telinga bibi Nining dan Usi. Yang dikatakan oleh laki laki itu benar adanya. Bisa dikatakan, sewaktu covid. Bibi Nining tidak terkendala sama sekali dalam hal materi. Karena tetap bekerja. Berbeda dengan beberapa pembantu di kompleks itu yang dirumahkan.
Baru saja suara para laki laki itu yang terdengar. Kini bibi Nining dan Usi merasakan tarikan dari para laki laki itu.
"Turun. Jangan sampai kami menyeret kalian," kata seorang satpam.
"Tolong, biarkan kami pergi pak. Itu hanya fitnah dari istri baru pak Arya," kata bibi Nining memelas.
"Tidak bisa bi. Ini perintah dari pak Arya. Bibi dan wanita muda ini harus dibawa kembali ke rumah pak Arya."
Bibi Nining dan Usi melemas. Jika mereka meronta pasti tidak akan bisa lolos. Jumlah para laki laki itu ada lima orang dan kini sudah berjaga di sebelah pintu mobil kiri dan kanan. Jika mereka berteriak minta tolong, lebih tidak mungkin lagi. Mereka sadar, mereka memang sedang dalam masalah.
Karena tidak kunjung turun. Akhirnya bibi Nining dan Usi ditarik paksa untuk turun dari dalam mobil. Selanjutnya, Bibi Nining dan Usi digiring menuju rumah Arya. Mereka menjadi pusat perhatian bagi pengendara mobil yang keluar masuk kompleks. Bahkan ada yang bertanya penasaran. Bisa dipastikan, akan ada berita hangat tentang bibi Nining di kompleks itu dalam waktu dekat ini.
Tatapan marah dari Arya menyambut bibi Nining dan Usi. Bagaikan penjahat kelas kakap. Bibi Nining dan Usi didorong dan dihempaskan hingga terjatuh di hadapan Arya.
"Bapak bapak. Tolong periksa koper mereka. Selain menganiaya istriku. Kami juga kehilangan barang barang berharga," kata Arya pada para laki laki itu.
Karena sudah sangat marah. Arya tidak menoleh atau bertanya apapun pada Bibi Nining. Bagi Arya, biarlah pihak yang berwajib yang akan menginterogasi pembantunya. Jika mengikuti amarah hati, Arya sebenarnya ingin menampar wanita itu berkali kali. Tapi Arya sadar, di rumah itu ada anak kecil yang harus dijaga mentalnya.
Berbeda dengan Arya. Rania terus menatap bibi Nining dan Usi dengan sorot mata penuh kebencian dan amarah.
"Apa yang kamu dapatkan dari perbuatan jahat mu ini, bi. Apa?" teriak Rania lantang.
"Kalian merencanakan pembunuhan pada saudaraku. Aku pastikan kalian akan mendekam di penjara seumur hidup kalian," kata Rania lagi. Perkataan Rania spontan membuat tiga laki laki yang sedang menggeledah isi koper menoleh ke bibi Nining. Mereka terlihat terkejut, tidak disangka jika kejahatan bibi Nining tidak hanya mencuri.
Tak berapa lama kemudian. Beberapa perhiasan yang hilang ditemukan dari koper bibi Nining.
"Aku tidak membunuh Ayumi. Kalian tidak ada bukti. Tentang perhiasan ini. Aku tidak mencurinya. Melainkan Ayumi sendiri yang memberikan padaku karena sudah bosan."
Lama terdiam. Akhirnya bibi Nining menemukan kata kata untuk membela dirinya dan Usi.
"Bohong. Dia pembohong."
Suara Hanin dari pintu utama terdengar menggelegar. Sama seperti Rania dan Arya. Hanin juga terlihat marah.
Plak. Plak.
"Dasar manusia titisan setan. Kamu telah memisahkan seorang suami, anak anak dari mamanya. Dimana hati nuranimu?" tanya Hanin histeris.
Kini bukan hanya kehilangan yang ditangisi oleh Hanin. Tapi Hanin menyalahkan dirinya yang tidak peka sejak awal ketika Ayumi menceritakan teror pada dirinya. Andaikan, kejahatan bibi Nining terdeteksi sejak awal. Bisa saja, Ayumi masih hidup.
"Aku tidak melakukan apapun pada Ayumi...."
"Diam," bentak Arya tiba tiba.
"Katakan itu pada pihak yang berwajib. Sekeras apapun kamu berusaha membela diri. Maka aku akan berusaha keras juga untuk menemukan bukti kejahatanmu. Aku pastikan kamu dan putrimu akan membusuk di penjara."
Arya berkata dengan gigi yang rapat. Dia tidak akan membiarkan bibi Nining lolos dari jeratan hukum. Kehilangan Ayumi adalah duka mendalam. Hukuman penjara tidak sebanding dengan rasa kehilangan yang dirasakan oleh keluarga besar Arya.
pantes dr kmrn cek riceknko gk update 😁