NovelToon NovelToon
My Annoying Lecturer

My Annoying Lecturer

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Dosen / Tamat
Popularitas:12.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Juliahsn

"Kamu manggil dosen kamu abang?!"

"Iya, gimana dong. Gak sengaja."

"Mampus Elvia, kuliah kamu kayaknya gak bakal tenang." Emang salah curhat sama Devi, bukannya bantuin cari solusi malah diketawain.

---

"Nanti saya telat, Pak. Saya gak mau dimarahin sama dosen saya. Dosen saya galak."

"Dosen kamu itu saya, Elvia."

"Ntar boss saya marahin saya lagi. Boss saya juga galak!"

"Harus berapa kali saya bilang ke kamu?" Elvia tertawa melihat wajah kesal Arfa.

"Saya bossnya, Elvia!"

---

Kisah tentang Elvia, mahasiswi yang hobi nitip absen. Lalu Arfa, dosen mulut samyang yang karena satu dan lain hal dipanggil abang oleh Elvia.

Mampir dulu yuk, siapa tahu nyantol. Cerita tentang dosen memang banyak, tapi cerita ini dijamin mampu membuat kalian menahan kesal saking gemasnya. Happy Reading!

Update seminggu dua kali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juliahsn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Be Mine

Masih ada waktu 10 menit lagi sebelum kelas Pak Arfa dimulai.

Karena takut telat, aku pun sudah hadir dan duduk manis di ruang kelas.

Tentu saja aku memilih tempat duduk paling strategis, yaitu tempat duduk paling belakang dan di pojok.

Devi dan Aldo pun baru datang sekitar 15 menitan. Memang kalau mereka berdua udah pacaran, bisa gitu lupa sama teman.

"Dev, kamu jahat banget sih. Daritadi aku gabut disini." Rengekku.

"Makanya jangan jones." Celetuk Aldo yang mendapat jempol dari Devi.

"Ngeselin ya kalian berdua."

"Bukannya kamu udah selangkah lebih maju dari kita?" Tanya Devi yang berhasil membuat wajahku terlihat lebih masam dari sebelumnya.

"Selangkah lebih maju gimana? Dia bilang suka aja enggak, nembak aja enggak." Gumamku kesal.

"Jadi lu tunangan tapi Pak Arfa masih belum nembak?!" Pekik Aldo sedikit keras yang langsung aku hadiahi dengan geplakan yang cukup keras pula.

"Jangan keras-keras, bego."

Selain rekan bisnis Papa, Bang Kelvin, dan Pak Arfa. Aldo dan Devi juga tahu.

"Jadi sebenarnya hubungan lu sama Fafa apaan?" Tanya Aldo yang membuatku tertawa geli saat dia mengganti nama Pak Arfa dengan sebutan Fafa.

"Tunangan." Jawabku singkat.

"Tunangan rasa temen?" Tanya Devi yang ikutan kepo.

"Mending kalau temen, lah ini..." Ujarku seakan menggantungkan kalimat yang belum selesai aku ucapkan.

"Hubungan gak jelas." Lanjutku yang mampu membuat Aldo dan Devi menghela napas panjang.

Lalu secara tiba-tiba riuh kelas yang awalnya ricuh, berubah jadi hening seketika tatkala mendengar derap langkah Pak Arfa yang semakin dekat menuju kelas.

Parah sih, derap langkah aja sekarismatik gitu.

"Pak Arfa udah dateng." Ucap Devi yang langsung membuatku dan Aldo mengubah posisi kami yang awalnya saling berhadapan menjadi lurus kedepan. Iya, posisi duduk kami tuh Aldo di kiri, Devi di tengah, aku di kanan.

Selama Pak Arfa menerangkan materinya, entah kenapa rasa kantuk tiba-tiba menyerang begitu saja.

Padahal tadi enggak ngerasa ngantuk. Apa mungkin karena udah mulai malam ya?

Aku pun memutuskan untuk memejamkan mataku sejenak. Berharap rasa kantukku dapat diatasi sebentar.

"Elvia, kalau kamu hanya mau tidur. Dengan hormat saya persilahkan kamu untuk keluar dari kelas saya."

Deg!

Suara Pak Arfa berhasil membuatku jadi pusat perhatian kelas saat ini.

Gila, baru mejem mata bentar doang. Pak Arfa kenapa sih sensitif banget hari ini?

"Maaf, Pak." Ujarku sembari menunduk.

💥💥💥

"Pak..."

Pak Arfa hanya diam. Seakan malas menanggapiku.

"Mas.."

Kali ini Pak Arfa menoleh, hanya saja ia tak mengeluarkan suara.

"Pak, jangan marah lah." Ujarku sembari memegang tangan Pak Arfa. Kelakuanku sekarang persis kayak anak TK minta permen ke bapaknya.

"Saya gak marah." Jawab Pak Arfa sembari melepaskan genggaman tanganku dengan pelan.

"Bohong, tadi pas ngajar aja kayak sensi gitu sama saya."

Alis Pak Arfa terangkat satu, "Saya sensi? Bukannya itu salah kamu tidur di kelas saya?"

Aku mengerucutkan bibirku karena kesal, "Saya cuman mejem mata lima detik, Pak. Bukan tidur."

Pak Arfa mengendikan bahunya, "Saya tahunya kamu tidur."

"Pak, saya mau tanya satu hal deh."

Pak Arfa yang daritadi sedang fokus dengan tumpukan kertasnya pun tampak tidak berniat menanggapiku.

"Saya lagi malas dengan kamu."

"Pak.."

Tidak ada respon.

"Pak Arfa.."

Masih tidak ada respon.

"Mas Arfa.." Ujarku sembari memeluk tengkuk Pak Arfa dari belakang. Kala kata orang sih namanya itu back hug.

Posisinya itu Pak Arfa lagi duduk, jadinya aku bisa meluk lewat belakang gitu. Walau lebih tepat disebut sebagai gelendotan daripada meluk. Soalnya aku cuman meluk tengkuk Pak Arfa.

Aku tenggelamkan wajahku di ceruk leher Pak Arfa, "Bapak bau apek."

Pak Arfa menyentil dahiku, "Saya lagi malas debat sama kamu, Elvia."

Entah kenapa, nada suara Pak Arfa nampak melemah. Apa mungkin karena skinship tiba-tiba yang aku lakukan sekarang?

Hehe. Aku juga bingung kenapa aku bisa seberani itu.

"Bapak cemburu ya?" Tanyaku yang masih tetap dengan posisi memeluk Pak Arfa dari belakang.

"Ya. Saya cemburu." Jawab Pak Arfa terus terang yang mampu membuatku tersentak heran.

Aku kan cuman mau menggoda Pak Arfa saja dengan bilang cemburu, tidak pernah berharap mendapat jawaban seperti itu.

"Bapak bilang apa tadi?" Tanyaku berharap Pak Arfa mau mengulang pernyataannya tadi.

"Saya tidak suka mengulang ucapan saya." Tegas Pak Arfa.

Aku pun berniat melepas tautan kedua tanganku di leher Pak Arfa. Namun, Pak Arfa malah menahan kedua tanganku.

"Saya cemburu, Elvia. Lain kali jangan buat saya cemburu."

"A-apa Pak?"

"Kamu. Jangan buat saya cemburu. Alvin itu sepertinya suka sama kamu. Jaga hati kamu untuk saya."

"Bapak aja gak pernah nembak saya kok."

"Memang perlu?" Tanya Pak Arfa yang membuatku geram.

"Menurut bapak aja sih. Tunangan kita kan cuman pura-pura doang." Celetukku.

"Siapa yang bilang seperti itu?"

"Saya menyimpulkannya begitu."

Pak Arfa pun mengganti posisi duduknya untuk menghadap belakang, menatap mataku dengan tatapan tajam yang ia miliki.

"Saya tidak pernah berniat untuk main-main dengan kamu, Elvia."

"Lalu kenapa gak pernah nembak? Bilang suka atau ajak pacaran gitu?"

Pak Arfa menghembuskan napasnya dengan pelan, "Saya pikir cukup saya bilang jaga hati kamu sudah paham dengan maksud saya."

"Saya kan lemot. Mana ngerti kode-kode bapak yang super."

"Elvia, would you be mine?"

Aku langsung melambaikan tanganku tanda menolak dengan keras pernyataan Pak Arfa tadi.

Pak Arfa lantas mengernyit heran, "Kamu gak mau?"

Aku menggelengkan kepalaku, "Ini gak romantis, Pak Arfa. Saya gak mau. Masa nembak gitu amat. Gak memorable."

1
Dila ID
tpi resiko juga sih, walaupun punya kemampuan tp bkn profesional / terbiasa apalagi di dpn org pnting jdi moderator itu ga gampang, butuh materi juga tentang apa, lah ini fl nya ga tau dosennya ngisi acara tentang apa 😧
Rina_
ini error kah?
Rina_
aw
Rina_
good
Evi Yolanda
ini sih fix jd novel Ter the best bgt koplak .. seru .. geli geli gmn gtu bacanya /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Rina_
yeyy
Angel's heart
kacau aldo
Meli Ana
lagian lo ngapain beli majalah wikwik do🤣🤣
Nurlita Khan's
seruuuuuu banget
Yuli Sri Winarti
ngakak terus aku bc ini....😂😂😂
Airish Qalesya
wakakkaka. wadidau banget sih pak
Putrii Silvia
Kecewa
Putrii Silvia
cerita ini udh di hapus yaa, kok aku ga bisa baca
Gusti Ramayanti
Kecewa
Lia Anggraini
bagus, tp candaan kosongnya kebanyakan porsinya
Kevsal S
agk'
Elvi Mend
kapan tuh?
perasaan dulu pertama ketemu panggil Abang fotocopy 🤔
Elvi Mend
dekatan toh rumahnya, tapi kok aneh aj aku rasa☺️
Dila ID: iya, tiba2 pdahal udh part sgini melewati huru hara
total 1 replies
Siti Solikah
suer seru abis novelmu thor
Siti Solikah
wkwkwk wah mampus Lo elvia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!