Dosen, tampan, muda dan... duda.
Itulah panggilan yang disematkan mahasiswa terhadap Adam. Duda anak satu yang diam-diam menikahi salah satu mahasiswinya, Erica, dengan terpaut usia dua belas tahun.
Kehadiran Mona, mantan istri Adam justru memperkeruh suasana. Ia berusaha menguak masa lalu kelam Adam untuk merebut Adam dalam pelukan Erica.
Menikah dengan duda tidak seperti yang Erica bayangkan. Anak, mantan istri, dan masa lalu Adam selalu membayangi kehidupan Erica.
Mampukah mereka mengarungi kehidupan penuh cinta dengan duri dan bayang-bayang akan mantan istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riskaapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keras Kepala
Matahari mulai tenggelam, meninggalkan rona kemerah-merahan di langit. Orang-orang mulai berbenah diri di rumah, menyambut malam hari bersama keluarga. Layaknya keluarga pada umumnya, bercanda, bercerita, menonton film kesukaan Erica dan Adam lakukan di ruang keluarga. Tentunya dengan si kecil Zhafran yang membuat suasana menjadi lebih hidup dan ramai.
"Bubu, Bubu, kapan Zhaflan punya dedek bayi?" tanya Zhafran polos.
Sontak Erica dan Adam saling memandang. Berbeda dengan Erica yang terlihat begitu terkejut, Adam justru terlihat mengulum senyum. Seolah senang dengan pertanyaan Zhafran.
"Dedek bayi apa sayang?" tanya Erica lembut.
"Dedek bayi, Bubu. Teman-teman Zhaflan punya dedek bayi buat diajak main. Zhaflan juga mau!" Seru Zhafran. Lalu, bocah kecil itu menceritakan tentang teman-temannya yang mempunyai adik kecil yang masih bayi. Dengan begitu semangat Zhafran menggambarkan betapa teman-temannya itu menyayangi adik kecilnya.
Diujung cerita, Zhafran bertanya dengan serius, "Zhaflan boleh punya dedek bayi?"
Seketika Erica terdiam, membiarkan Adam menjawab pertanyaan anaknya itu.
"Boleh," sahut Adam seraya mengelus puncak kepala Zhafran. "Tapi bukan sekarang," imbuhnya. Adam menoleh pada Erica yang tengah menatapnya.
"Kenapa?" tanya Zhafran, seolah tidak puas dengan jawaban ayahnya itu.
"Tunggu Zhafran besar, biar bisa jagain dedek bayinya."
"Apa Zhafran kurang besar?" Zhafran bangkit dari duduknya, lalu merentangkan tangannya. Memperlihatkan tubuhnya yang menurutnya sudah cukup besar.
Kini giliran Erica yang berbicara. "Zhafran mau dedek bayi perempuan atau laki-laki?"
Refleks Adam menoleh ke arah Erica yang tengah tersenyum ke arahnya. "Ri?"
"Laki-laki, biar bisa main robot-robot an," sahut Zhafran penuh semangat. Seolah ia akan secepatnya mendapatkan apa yang ia inginkan hanya dengan menjawab pertanyaan ibu tirinya itu.
"Ri?" panggil Adam.
Erica menoleh, dan merasakan akan ada percikan-percikan baru.
"Bi, waktunya Zhafran untuk tidur," ucap Adam kepada Bibi yang duduk tak jauh di dekat mereka.
Zhafran nampak masih ingin menghabiskan waktu bersama kedua orangtuanya. Terlihat anak itu menolak ketika Bibi meraihnya. Zhafran justru melingkarkan tangannya ke leher Erica.
"Tidur dulu yuk!" ajak Bibi.
"Nggak mau sama Bibi, maunya sama Bubu," ucap Zhafran seraya mengeratkan pelukannya di leher Erica.
Melihat Zhafran mulai rewel, Adam turun tangan. Ia menarik Zhafran secara paksa agar melepaskan tangannya dari Erica. Dan hal itu membuat Zhafran menangis.
"Papa jahat hu hu hu."
Tidak tega melihat Zhafran menangis, Erica menarik Zhafran ke dalam pelukannya. Di dekapnya tubuh Zhafran, hingga tangisnya mereda.
Setelah tangis Zhafran reda, Erica mengantarkan Zhafran ke kamar tidurnya. Reaksi Adam langsung kesal melihat istrinya itu meninggalkannya dan lebih memilih mengeloni anak tirinya, bukan dirinya. Matanya mendelik ketika Erica menghilang di balik pintu kamar Zhafran.
Dua menit
Lima menit
Sepuluh menit
Lima belas menit
Dan setengah jam kemudian, Erica tidak kunjung keluar dari kamar Zhafran. Dengan kesal, Adam beranjak ke kamar Zhafran untuk menjemput Erica.
Erica sudah terlelap ketika Adam masuk. Adam terduduk di tepi ranjang. Lalu, ia bergerak untuk menggendong Erica dan membawanya ke kamar mereka. Tapi, pergerakannya terhenti ketika mendapati tangan Zhafran menyusup ke dalam baju Erica. Seketika Adam berdecak, meski tak terkekeh juga melihatnya.
Dengan pelan, Adam menyusupkan tangannya ke dalam baju Erica untuk mengeluarkan tangan Zhafran yang seenaknya menyentuh barang miliknya. Tapi, sebelum tangan Zhafran berhasil dikeluarkan, Erica sudah lebih dulu bergerak. Hingga tidak sengaja Adam menyentuh buah dada Erica.
"Mas?" ucap Erica terkejut melihat Adam menyusupkan tangannya ke dalam bajunya di samping tangan Zhafran yang ternyata sudah keluar lebih dulu.
"Ri?" Adam tak kalah terkejutnya. Lalu, dengan cepat ia menarik tangannya keluar dari baju Erica.
"Ada apa?" tanya Erica seraya membenarkan gaun tidurnya.
"Tadinya Mas mau gendong kamu ke kamar, tapi ternyata kamu keburu bangun."
Erica turun dari ranjang, lalu meraih tangan Adam. "Kalau bangun memangnya nggak boleh di gendong?" tanyanya seraya merapatkan tubuhnya ke tubuh Adam.
Adam mengendarkan pandangannya, melihat situasi rumah sebelum menjawab. "Janganlah, Ri. Malu nanti dilihat Bibi."
"Malu nih?" Erica memicingkan matanya, menatap Adam yang sebenarnya ingin menggendong tubuh Erica.
"Nanti sajalah, di depan kamar kita."
Seketika Erica tertawa mendengar ucapan Adam. Ternyata Adam terpancing juga, padahal Erica hanya bercanda.
Tak lama kemudian Bibi masuk, menginterupsi percakapan suami istri itu. Bibi tidak tidur dengan Zhafran, hanya saja Bibi selalu memastikan bahwa Zhafran tidur dengan nyenyak dan aman.
Adam dan Erica meninggalkan kamar Zhafran setelah Bibi mengambil alih Zhafran.
"Mas, beberapa bulan lagi aku ulang tahun," ucap Erica. Ia menaiki tangga lebih dulu, sedangkan Adam mengekor di belakangnya.
"Mau hadiah apa?" sahut Adam seraya mensejajarkan langkahnya dengan Erica. Dilingkarkan tangannya ke pinggang Erica.
Langkah Erica terhenti di depan pintu kamar mereka. Ia beralih menatap wajah Adam. Tangannya terulur, mengalung di leher Adam, mengikis jarak diantara mereka.
"Mau hadiah apa sayang?" Adam kembali mengulangi perbuatannya dengan tambahan embel-embel sayang.
Sudut bibir Erica terangkat ke atas, membentuk sebuah senyuman yang manis nan menggoda di mata suaminya.
"Aku nggak main-main saat bertanya pada Zhafran mau adik laki-laki atau perempuan."
"Benarkah?"
Erica mengangguk seraya memainkan rambut belakang kepala Adam.
"Sudah larut malam, Ri. Waktunya tidur." Adam melepaskan tangan Erica dari lehernya, lalu beranjak memasuki kamar.
"Mas?" panggil Erica.
"Mas tidak mau bertengkar, Ri," sahut Adam tanpa memperdulikan Erica yang masih berdiri di ambang pintu.
"Jadi?"
Adam naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya di sana. "Kita bicarakan lain kali, Ri. Mas ngantuk. Besok harus bangun pagi."
Erica mengerucut di ambang pintu melihat Adam sudah bergelung dengan selimut. Bahkan laki-laki itu pura-pura tertidur agar ia tidak bertanya lebih lanjut.
Dengan lesu Erica berjalan memasuki kamar, menyusul Adam yang sudah dibalut selimut tebal. Erica menghela napas panjang, ia tahu Adam tidak setuju dengan keinginannya.
Tapi sampai kapan Adam akan terus menolak keinginannya? Berhenti kuliah ditolak, mau punya anak ditolak juga. Sebenarnya apa yang Adam inginkan dari pernikahan ini? Batin Erica.
Adam melingkarkan tangan kekarnya di perut Erica, lalu ia merapatkan tubuhnya dengan punggung istrinya itu.
"Mas belum siap berbagi dirimu dengan yang lain, sayang. Termasuk anak kita nanti. Untuk saat ini biarkan kamar kita hanya diisi oleh hangatnya dirimu, tanpa terganggu oleh anak kecil yang akan tidur ditengah-tengah kita."
"Egois," sahut Erica.
"Mungkin bagimu Mas egois, tapi itulah cara Mas untuk memiliki mu seutuhnya."
"Egois."
"Terserah kamu mau memanggil apa, tapi memang begitu kenyataannya."
"Egois."
"Ya, Mas tahu itu."
"Egois."
"Sebanyak apapun kamu mengatai Mas egois, tidak akan membuatmu mendapatkan apa yang kamu inginkan."
"Aku cuma minta Mas untuk menanamkan benih Mas di rahimku. Setelah itu aku yang mengandung, melahirkan, dan menyusui. Mas tinggal terima beres."
Terdengar Adam menghela napas panjang mendengar celotehan istrinya itu. Baru ia ketahui sifat lain dalam diri Erica: Keras kepala. Padahal dulu Erica terlihat gadis penurut.
"Kamu hanya tahu step by step nya, tidak dengan prosesnya. Perlu kamu ketahui sayang, prosesnya tidak semudah seperti yang kamu katakan. Perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran harus sudah siap dalam diri kita. Kita, bukan hanya kamu. Karena anak yang akan kamu kandung itu benih Mas. Mas tidak mungkin membiarkanmu menjalani masa itu sendirian," ujar Adam panjang lebar.
Niat Adam untuk tidak mendebat Erica pupus sudah. Batinnya gemas sekali ingin menjelaskan itu semua. Masih ia ingat bagaimana sulitnya dulu menghadapi Mona yang tengah mengandung Zhafran. Kesabarannya diuji bukan main.
"Kalau begitu beri aku kesempatan untuk menjalani proses itu." Erica masih keukeuh dengan keinginannya untuk memiliki anak.
"Mas pasti akan membuat perut ini membuncit, tapi tidak sekarang sayang," ucap Adam seraya mengelus perut rata Erica.
Sebuah kecupan mendarat di pelipis Erica disusul menyusupnya wajah Adam di leher Erica. Berharap dengan menghisap leher istrinya itu, keras kepala Erica akan hilang terhisap olehnya.
Adam kamu harus sadar
GDA exrtapartnya Thor rasanya kurang😂😂