Menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis di penghujung masa SMA. dari awal yang tak mengenal cinta, hingga tersakiti oleh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Di dalam mobil hanya ada keheningan. Aku hanya terdiam meski rasanya Aku ingin sekali mengeluarkan banyak unek-unek dalam hati yang sejak kemarin sengaja Aku tahan.
hingga akhirnya mobil yang Rayyan kendarai sampai di sebuah Taman yang terlihat cukup sepi.
"Bukankah Aku sudah pernah bilang padamu untuk menjauhi Vino! Tapi kenapa kamu selalu saja membantahku?" Ucap Rayyan yang akhirnya membuka suara.
Aku menatap kearah Rayyan yang justru menatap kearah depan. Kedua telapak tangannya mencengkram erat kemudi mobil seolah tengah menyalurkan sebuah emosi yang tengah di pendamnya.
Aku menghela kasar nafasku. Aku masih tak mengerti dengan situasi yang terjadi diantara Rayyan dan Vino. Jika memang diantara mereka berdua terdapat sebuah masalah, bukankah seharusnya mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Bukannya malah jadi melibatkan Aku yang tak tahu apapun.
"Gue ga tau sebenarnya kalian berdua punya masalah apa. Yang pasti, please jangan libatin gue!" Ucapku tegas.
"Tentu saja kamu juga ikut terlibat. apalagi kamu adalah calon istri Aku, Dan Aku ga suka kamu terlalu dekat sama Vino." Ucap Rayyan sambil menatap tajam kearah ku.
"Rayyan, sejak kapan Gue jadi calon istri Lo? Gue bahkan belum jawab lamaran Lo kemarin! Dan Gue semakin yakin buat menolak tegas lamaran Lo kemarin." Jawabku dengan tatapan tak kalah tajam dari Rayyan.
kini Aku sudah membulatkan keputusanku, untuk menolak tegas lamaran Rayyan kemarin yang memang belum Aku jawab sebelumnya.
"Kamu yakin menolak Lamaranku?" Ucapnya dengan seringai aneh di wajahnya. Membuatku bulu kudukku seketika berdiri.
"Gue yakin 1000%" Jawabku tegas. Aku tak ingin Rayyan tahu jika sebenarnya Aku sedikit terintimidasi dengan ucapan dan raut wajahnya yang terlihat cukup menyeramkan saat ini.
"Kalau begitu, seluruh keluargamu yang Akan mendapatkan resiko dari penolakanmu ini." Jawab Rayyan.
DEG
"Apa maksud Lo?" Tanyaku memastikan jawaban Rayyan sebelumnya.
"Karena kamu menolak ku, maka seluruh keluargamu yang akan menanggung resikonya. Aku yakin kamu paham maksudku bukan!" Jawab Rayyan dengan wajah terlihat serius. Sungguh membuatku menjadi semakin takut, bahkan bungkam seketika.
Aku tahu dan percaya. Jika Rayyan sanggup melakukan apapun pada keluargaku. Apalagi background keluarganya yang mendukung. Pastinya sangat mudah bagi seorang Rayyan untuk menghancurkan keluargaku.
Mobil Yang kami tumpangi kembali berjalan di bawah kemudi Rayyan.
pendingin udara yang di hasilkan AC mobil tampak tak berpengaruh terhadap suhu tubuhku yang tengah memanas saat ini. Pikiran ku terus berkelana, menerka apa yang sekiranya akan terjadi jika Aku tetap bersikeras menolak lamaran itu. Karena Aku tahu, jika Rayyan tak pernah main-main dengan setiap perkataannya. Seperti itulah salah satu sikap Rayyan yang sering aku dengar dari perbincangan seluruh siswa di sekolah.
Di dalam mobil keheningan kembali tercipta. situasi tersebut terus terjadi hingga akhirnya kami sampai di rumahku.
"Aku menunggu jawaban " Iya " dari lamaranku kemarin." Ucap Rayyan sebelum Aku turun dari mobil miliknya.
Di dalam kamar, Ucapan Rayyan kembali berputar di otakku. Jika sudah seperti itu. Rasa khawatir bercampur takut kembali menghantuiku. Aku tak ingin jika nantinya keluargaku yang akan menanggung dampak dari keputusanku.
"Kakak, Ini Ibu."
Terdengar suara ibu memanggil dari balik pintu yang memang sengaja ku kunci dari dalam kamar. Dengan segera, ku lap tetes air mata yang sedari tadi membanjiri wajahku sebelum membuka pintu kamar.
"Kak, Boleh Ibu masuk?" Tanya Ibu ketika pintu terbuka. Aku hanya mengangguk untuk mempersilahkan Ibu masuk.
Ibu duduk diatas kasur, tepat di sampingku duduk. Membelai lembut rambut panjangku dengan penuh kasih sayang.
"Ayah dan Ibu akan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusan Kakak. Jangan merasa terbebani dengan apapun. Semuanya Harus Kakak pikirkan matang-matang." Ucap Ibu dengan tangan yang terus membelai sayang rambutku.
mendengar ucapan Ibu, tak terasa Air mata yang sejak tadi ku tahan, akhirnya mengalir juga.
Aku hanya mampu terisak sambil memeluk tubuh Ibu. Berusaha menyalurkan semua kekhawatiranku sedari tadi, tanpa bisa berucap apapun yang ada di pikiranku pada Ibu.
Jika sudah seperti ini, Apakah Aku masih sanggup menolak? Jika semua orang yang ku sayang yang akan menanggung resikonya.
******
Buat pembaca yang kepo tentang masalah yang terjadi diantara Rayyan dan Vino hingga akhirnya Alya juga jadi ikut terlibat.
Yuk komen di bawah.
Ceritanya sendiri, mudah diikuti. Cerita cinta pertama dengan lika-likunya sendiri. Nggak terlalu mainstream, nggak mudah ditebak akhirnya. Penceritaan yang dominan POV 1 sudah baik, dan enak dibacanya, itu saja.
Manis di awal doang.
terkadang orang perfeksionis itu temperamental.
kecuali kamu.