Brisa tiba-tiba terbangun di tempat asing, ia di culik dan kini sudah mengenakan pakaian pengantin. ia tak tau kenapa dan siapa yang sudah melakukan semua ini. Sampai ia tau jika ia sudah menjadi seorang istri dari pria misterius yang tak pernah ia temui bernama Tuan Adam.
Hidup Brisa berubah, menjadi istri seorang tuan Adam menjadikan seorang Cinderella. Ia membalas semua perbuatan keluarga yang pernah menyia-nyiakan dirinya. Sampai suatu ketika, pria bernama Tuan Adam berdiri didepan mansion tempat tinggal Brisa.
"siapa wanita ini?" tuan Adam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Tubuh Brisa menggelinjang di atas ranjang, menikmati sentuhan dari Tuan Adam yang saat ini sudah berada di atas tubuhnya. Padahal wanita itu baru saja dipukuli dan terbaring di lantai, tapi kini Brisa sudah berakhir di ranjang bersama dengan Tuan Adam dan menikmati malam panas bersama.
"Brisa, sejak kapan kamu menjadi wanita murahan seperti ini? Kenapa kamu membiarkan pria jahat ini menyentuhmu setelah dia menginjak-injak tubuhmu di lantai?" geram Brisa dalam hati. Wanita itu terus merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menahan diri saat menerima sentuhan Tuan Adam di ranjang.
Brisa tidak dapat menahan diri saat ia bergumul dengan Tuan Adam di ranjang. Brisa terus mendesahh dan melenguhh, menikmati dekapan hangat Tuan Adam.
Setelah ia selesai melayani Tuan Adam, Brisa pun segera membersihkan diri di kamar mandi dan menghabiskan waktu cukup lama di sana. Brisa menatap dirinya di cermin besar yang ada di dalam kamar.
"Untung saja memarnya tidak parah," ujar Brisa mencoba memeriksa luka yang ada di wajahnya akibat pukulan dari Tuan Adam.
Ternyata Tuan Adam masih menunjukkan belas kasihan. Meskipun pria itu memang memukul Brisa, tapi Tuan Adam tidak meninggalkan luka yang bisa merusak wajah cantik wanita itu. Bagi seorang wanita, tentu saja luka di wajah bisa menjadi masalah besar.
"Kapan aku bisa pergi dari mansion ini?" gumam Brisa.
Brisa terpaksa berdiam di mansion Tuan Adam sementara waktu sambil mencari celah untuk kabur. Brisa harus menyusun rencana baru. Sepertinya wanita itu tidak akan bisa meninggalkan mansion dalam waktu dekat. Apalagi, seharian ini Tuan Adam ada dirumah.
"Apa dia tidak punya pekerjaan hari ini? Kenapa dia terus berada di rumah sejak pagi?" gerutu Brisa sembari mengintip Tuan Adam yang tengah bersantai.
Untuk menghabiskan waktu, Brisa pun sengaja menyibukkan diri di dapur dengan membuat kue. Menikmati makanan manis mungkin bisa sedikit menghiburnya saat ini. Ditambah lagi, Tuan Adam tidak menyukai makanan manis. Brisa bisa bebas menikmati makanan tersebut tanpa harus membaginya dengan Tuan Adam.
Dengan membawa satu piring kue manis, wanita itu duduk bersama dengan Tuan Adam di ruangan yang sama. Brisa nampak begitu menikmati kuenya di depan Tuan Adam, tanpa berniat membaginya sedikitpun.
Namun, namun, Brisa sengaja duduk di bangku yang agak jauh dari Tuan Adam. Brisa menikmati kuenya sendiri, dan membiarkan Tuan Adam sibuk mengamati televisi. Melihat Brisa yang memakan kuenya dengan begitu lahap, membuat perhatian Tuan Adam pun mulai teralihkan.
"Kamu sebegitu takutnya aku akan merampas kuemu?" sindir Tuan Adam pada Brisa.
Brisa melirik ke arah Tuan Adam dengan takut-takut. Wanita itu sengaja mengabaikan Tuan Adam dan tidak menanggapi perkataan pria itu.
"Aku tidak akan meminta kuemu! Kenapa kamu duduk jauh dariku?" tanya Tuan Adam.
"Aku ingin makan di sini. Abaikan saja aku," sahut Brisa.
Mana mungkin Tuan Adam bisa mengabaikan Brisa? Tentu saja Tuan Adam ingin memanfaatkan momen untuk bisa dekat dengan Brisa selama mereka bersama di dalam mansion. "Kemarilah! Duduk duduklah di dekatku!" perintah Tuhn Adam.
"Aku ingin di sini saja," tolak Brisa halus.
"Kemarilah selama aku masih bersikap baik padamu!" sentak Tuan Adam.
Jika Brisa tak juga menurut, mungkin Tuan Adam akan kembali memberi pelajaran untuk wanita itu. "Kamu masih tetap tidak mau mendengarkanku? Apa kamu ingin aku mendisiplinkanmu lagi?" ancam Tuan Adam.
"Kemari sekarang juga!" ujar Tuan Adam meminta Brisa untuk duduk di pangkuannya.
Sebelum kemarahan Tuan Adam kembali meledak, akhirnya Brisa pun menurut dan duduk di dekat pria itu. Brisa duduk di pangkuan Tuan Adam dengan canggung. Brisa semakin merasa tidak nyaman saat Tuan Adam terus menetap dirinya tanpa berkedip.
"Kenapa dia terus melihatku sejak tadi? Apa dia akan memukul lagi?" batin Brisa.
Wanita itu pun segera menyibukkan dirinya dengan kue untuk mengurangi rasa gugupnya saat berada di pangkuan Tuan Adam. Brisa memakan kuenya dengan lahap.
Sesendok kue sudah berpindah ke mulutnya, dan sedetik kemudian kue itu sudah berada di mulut Tuan Adam. Ya, Tuan Adam merebut kue yang sudah berada di mulut Brisa.
Brisa benar-benar terkejut saat Tuan Adam merebut kue miliknya. "Kenapa kueku ada di mulutnya?" batin Brisa.
Pada Brisa tahu betul jika Tuan Adam tidak menyukai makanan manis. Namun, pria itu tak segan merebut kue yang hampir ditelan oleh Brisa. Tak hanya itu, Tuan Adam juga bersikap lebih lembut dari biasanya.
Meskipun sebelumnya Tuan Adam masih bertingkah menyeramkan, tapi setelah Brisa duduk di pangkuannya, Tuan Adam tak lagi berusaha menakut-nakuti wanita itu.
"Itu kue milikku!" seru Brisa pada Tuan Adam yang tengah mengunyah kue manis yang ia rebut dari Brisa.
"Kuenya sangat manis," komentar Tuan Adam.
"Bukankah Tuan tidak menyukai makanan manis?" tanya Brisa keheranan. "Aku sengaja membuatku ini untuk diriku sendiri."
"Aku hanya ingin mencicipi satu suap saja. Kenapa kamu pelit sekali?" omel Tuan Adam.
"Kalau ingin mencicipi satu suap, ambil saja dengan tanganmu sendiri! Kenapa Tuan harus merebut kue yang sudah ada di dalam mulutku?" sahut Brisa.
"Memangnya kenapa? Kamu tidak terima?"
"Kalau aku tidak terima, kenapa? Lagi pula, sejak kapan Tuan menyukai makanan manis?"
Adu mulut antara Brisa dan Tuan Adam pun tak lagi terelakan. Namun, perdebatan Brisa dan juga Tuan Adam bukanlah perdebatan serius yang akan menimbulkan pertengkaran seperti sebelumnya.
Tuan Adam nampak senang sekali menggoda Brisa dan melihat wajah cemberut wanita itu. "Hanya karena aku bilang kalau aku tidak menyukai makanan manis, bukan berarti aku tidak akan pernah memakannya, kan? Aku ingin memakan apa pun juga, itu terserah padaku, kan?" cibir Tuan Adam. "Kenapa kamu begitu peduli dengan makanan yang aku makan? Aku membuatmu rugi? Kamu sendiri membuat kue ini dengan bahan-bahan yang dibeli dari uang siapa?"
Brisa selalu saja kalah. Wanita itu tak mampu lagi berkata-kata setelah mendengarkan ocehan panjang Tuan Adam. "Baiklah, Tuan! Terserah padamu saja!" cetus Brisa tak ingin memperpanjang perdebatan mereka.
"Lagi pula, kamu sudah tahu kalau aku tidak menyukai makanan manis, tapi kenapa kamu malah membuat makanan manis? Kamu sengaja ingin membuatku kesal? Atau kamu sengaja ingin membuatku tidak bisa makan?" omel Tuan Adam.
"Aku memang suka makanan manis. Aku juga membuatnya untuk diriku sendiri, bukan untuk Tuan."
"Jadi begini cara kamu melayani tuanmu? Kamu bisa melahap makanan enak sendirian, dan membiarkan tuanmu kelaparan? Kamu bisa menikmati makanan enak sendirian, dan membiarkan aku menjadi penonton saja?"
"Jadi penonton apanya? Lihat saja, sekarang kamu juga ikut memakan kue bukan?"
Di saat Tuan Adam dan juga Brisa tengah sibuk memperdebatkan soal kue, tiba-tiba seorang anak buah Tuan Adam datang menghadap Tuan Adam dan hendak melaporkan sesuatu pada pria itu. "Tuan, ada hal yang ingin saya sampaikan!" ucap anak buah Tuan Adam itu pada Tuan Adam yang saat ini masih asyik memangku Brisa.
"Berita apa yang kamu bawa?"
"Ini menyangkut Mansion Lavender!" ungkap anak buah Tuan Adam itu. Mansion Lavender, adalah mansion kedua di mana tempat perisa alam tinggal. Untungnya, anak buah Tuan Adam tidak menyebut menyebut nama Brisa Alen dan Tuan Adam sendiri juga tidak membahas Brisa Alen di depan Brisa Fidden yang saat ini tengah bersama dengannya.
"Mansion Lavender? Itu mansion Tuan Adam yang satunya, kan?" batin Brisa.
****
kk ku nantikan karya2 mu lagi yaa 😘😘😘
setlah drama sekian lama akhirnya adam memilih brisa yg gila
apa kabr smoyn
jangan sampai dipikirnya ia menikahi kekasihnya