Raisya Putri jatuh cinta pada gurunya sendiri ketika masih menempuh pendidikan sekolah menengah atas, namun sang guru yang tampan rupawan ternyata mempunyai kekasih yang sangat dicintainya.
Ketika sang Ayah sakit keras Raisya diminta menikahi seorang Pria pilihan orang tuanya. Raisya ingin menolak tapi tidak memiliki keberanian, alhasil Ia pun menerima lamaran itu.
Ikuti kisah kelanjutannya dalam karya cinta setelah menikah, semoga terhibur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Maaf Hasan
Meskipun rasanya agak aneh tapi karena cacing dalam perutnya sudah mulai meronta, akhirnya Sya memutuskan menyantap sebagian dari makanan yang tersaji di atas meja.
Ia memandang kesana kemari siapa tau ada orang lain disana selain dirinya.
" Maaf ya, aku minta makanan nya sedikit. Habisnya sih masak di rumahku ya aku minta. " Ucap Sya seraya menyantap makan siangnya hingga kenyang.
Sya mengucap syukur karena dapat rezeki hari ini, Ia menunggu sampai jam satu namun tidak ada siapa pun yang datang.
" Nak, kok aneh ya. Tidak ada siapa pun yang datang, kita tidak bisa terus menunggunya disini karena kita harus lanjut bekerja. " Sya berbicara sambil mengusap perutnya.
Karena memang sudah waktunya bekerja jadi Sya memutuskan pergi.
Selama beberapa hari Sya selalu mendapatkan hal yang serupa, di meja selalu tersedia makan siang untuknya. Bukan hanya itu, isi kulkasnya pun tidak berkurang sama sekali.
Karena merasa penasaran Sya berniat mematai- matai siapa sebenarnya yang masuk kedalam rumahnya secara diam-diam. Sya berangkat bekerja namun kemudian Ia mengambil jalan lain tepat di belakang rumahnya, kurang lebih satu jam Ia menunggu akhirnya Ia mendengar ada tanda- tanda kehidupan di dalam rumahnya.
" Ah alhamdulillah aman, sekarang kita masak apalagi ya. Hm... apa ya yang kira- kira di sukai Sya ya, aku bingung. Takutnya nanti dia nggak suka. " Gumam Hasan yang sudah siap dengan alat tempurnya.
Ia menggunakan celemek nya, dari penampilannya sudah seperti koki terkenal.
Ia mulai berselancar dengan resep yang Ia ambil dari embah. Tanpa Ia sadari sedari tadi ada yang mencoba mengintip nya.
" Dia siapa sih. " Batin Sya karena hanya melihat punggungnya saja.
Mulutnya melongo setelah bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang memasak untuk nya itu, dengan melangkah perlahan Ia masuk kedalam rumah.
" Mas Hasan. " Sapa Sya pelan.
Hasan terkejut hingga tidak sengaja pisau yang sedang Ia gunakan memotong wortel malah melukai tangannya sendiri.
" Sya. "
Hasan terharu bisa melihat bahkan berhadapan langsung dengan Istrinya, Ia bahkan bisa melihat perut sang Istri yang mulai membesar.
" Maafkan Mas, Mas hanya.....! "
Sya langsung menarik tangan Hasan dan memintanya duduk di sofa, Ia melangkah ke arah lemari dan mengambil kotak obat disana.
Sebenarnya Ia ingin marah karena Hasan masuk kedalam rumahnya tanpa ijin lebih dulu, tapi entah mengapa amarahnya langsung hilang setelah melihat kecerobohan Pria itu.
Bagaimana tidak, Ia bahkan tidak merasa kalau tangannya terluka.
" Sya, maafkan aku. Aku kemari sebenarnya hanya ingin minta maaf padamu, maafkan aku karena sudah menyia- nyiakan kamu. Maafkan aku karena aku sudah meninggalkan luka yang begitu mendalam padamu, sekali lagi maaf. "
Hasan menatap wajah Sya dan terus minta maaf.
" Bisa diam tidak Mas, tangan mu terluka dan kamu masih bisa bicara seperti itu. Seolah-olah kamu tidak merasakan sakit apapun. "
Sya membersihkan luka di tangan Hasan, Ia sampai heran. Bahkan alkohol yang Ia usapkan untuk membersihkan luka itu sama sekali tidak merubah ekspresi suaminya itu.
" Tidak apa- apa sayang, Ini juga jauh dari jantung. Tidak perlu di obati, aku juga tidak akan mati hanya dengan luka kecil seperti ini. "Hasan menarik tangannya, Ia mengambil alat penutup luka dari tangan Sya dan menutup lukanya sendiri.
Sya terkejut, ternyata bukan hanya satu luka yang ada di tangan Hasan tapi ada beberapa.
" Apa luka- luka ini Mas dapat dari memasak untukku beberapa hari ini. "
Sya memegang tangan Hasan dan memperhatikan setiap luka yang ada di tangan sang suami.
" Ah bukan, bukan karena itu. Sudahlah sayang, ini tidak apa- apa. Bukankah aku sudah bilang, ini tidak akan membuat aku mati. Sayang, aku datang kemari untuk meminta maaf padamu, aku mohon maafkan aku. Kita kembali ke Jakarta, ke rumah kita yang dulu, aku kamu dan anak kita. "
Hasan meraih tangan Sya namun Sya menepis nya, mendengar kata anak kita di sebut membuat Sya ingat mengenai semua yang sudah terjadi.
" Maaf Mas, aku tidak bisa ikut dengan mu. "
Sya meluapkan isi hatinya, Ia berharap Hasan akan mengerti apa yang Ia rasakan dan meninggalkan nya.
Melihat perubahan Sya, Hasan memilih pergi meninggalkan Istrinya. Ia tidak mau karena keegoisan nya membuat Sya semakin marah padanya, bukan hanya itu. Hasan takut hal buruk terjadi pada bayinya yang masih berada di kandungan sang Istri.
" Baiklah sayang, Mas akan pulang. Tapi besok Mas akan kembali lagi. "
Sebelum pulang Hasan kembali meminta maaf, semua yang Ia katakan tulus dari hatinya. Ia benar-benar ingin mendapatkan maaf dari Istrinya dan kalau bisa Ia ingin membangun keluarga kecil yang sudah pernah Ia porak porandakan dulu.
bener Sya kamu harus tegas terhadap ulet keket macam Lusi biar kamu nggak selalu diremehkan