Gwiyomi Allura, wanita yang kesuciannya harus terenggut oleh pria yang tidak dikenal dan meninggalkannya begitu saja. Ia hancur dan kehilangan seluruh masa depannya saat dirinya dinyatakan positif hamil sebelum menikah.
Hingga uluran tangan Hazel datang dengan sukarela mau menikahinya meski tahu dirinya sudah ternoda.
Lantas, siapakah yang sebenarnya telah menghamili Gwiyomi?
******
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN SUBSCRIBE YA KAK UNTUK MENDUKUNG KARYA AUTHOR!
Follow Ig : putriaayu_98
FB : Putria R.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baby Blues.
Axel mengajak Hazel ke atas gedung rumah sakit yang begitu sepi. Wajahnya benar-benar sangat mengerikan setelah ia melihat video yang dikirimkan oleh Bram. Ayah mana yang tidak marah jika selama ini putri kesayangannya justru hanya dijadikan mainan seperti boneka dan dihancurkan kehidupannya.
"Kamu mau menjelaskan sendiri atau aku yang mengatakan semua kebusukan mu?" Ujar Axel melirik Hazel yang berdiri disampingnya dengan sangat tajam, mungkin jika bisa, dia akan membunuh pria ini.
"Maafkan aku, Pa." Hazel menunduk tanpa berani menatap Axel sama sekali.
"Mau menjelaskan atau aku yang berbicara!" Hardik Axel sama sekali tidak sabar.
"Aku benar-benar minta maaf karena sudah merusak masa depan Gwiyomi, aku-"
Bugh
Tanpa tendeng aling-aling Axel langsung memukul Hazel dengan pukulan telak sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.
"Pa, aku sudah mencintainya!" Ujar Hazel hampir KO di detik pertama saat Axel memberikan pukulan telak padanya.
Bugh
Axel justru meradang mendengar ucapan Hazel, ia menarik kerah baju pria itu dengan kasar hingga pria itu bangkit lagi.
"Cinta omong kosong! Kau tidak mencintainya! Tapi kau sudah merusaknya dan menjadikan putriku barang taruhan!" Axel berteriak sangat keras di depan wajah Hazel.
Kali ini Axel tidak menahan dirinya lagi, ia menghajar Hazel dengan membabi buta. Hatinya sakit sekali hingga rasanya ingin menangis, putri kesayangannya yang dulu selalu tersenyum ceria harus kehilangan masa depan dan kini menderita trauma karena selalu teringat jika dirinya sudah diperkosa.
"Kau benar-benar harus mati! Beraninya kau menjadikan putriku seperti barang! Kau tahu aku sangat menyayanginya! Tapi kau mempermainkannya seperti boneka! Kau harus mati!" Teriak Axel menduduki tubuh Hazel seraya terus memberikan pukulan diwajah pria itu, tidak peduli saat ini Hazel sudah tersengal-sengal dengan wajah penuh darah.
"Astaga Axel! Hentikan itu!"
Bella berteriak sangat kaget melihat suaminya memukuli Hazel dengan membabi buta. Ia datang bersama Angga dan Tiara karena kedua orang itu pulang setelah Axel menghubunginya.
"Anak ini pantas mati! Dia pria kurang ajar!" Axel tidak mendengarkan istrinya sama sekali, darahnya mendidih dan ingin membunuh Hazel saat itu juga.
"Axel stop Axel, aku mohon lepaskan putraku Axel." Tiara langsung menarik tangan Axel agar menyingkir dari atas Hazel, ia memeluk putranya yang kini terbaring dengan wajah berlumuran darah.
"Dia memang pantas mati kau tahu! Dia sudah mempermainkan putriku dan menjadikannya bahan taruhan, bang sat!" Axel masih tidak terima rasanya melihat Hazel yang sudah sekarat itu.
"Bahan taruhan?" Bella berdiri mematung, tubuhnya seperti disambar petir mendengar ucapan suaminya.
"Ya, ba ji ngan ini bukan hanya menodai anak kita, tapi dia menikahinya hanya karena taruhan," sahut Axel dengan gigi gemeletuk.
Bella semakin tidak percaya mendengar itu semua, ia menatap Hazel yang menangis di pelukan Tiara.
"Hazel tidak mungkin seperti itu 'kan Nak?" Bella bertanya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Apanya yang tidak mungkin, Bram sudah memberikan buktinya. Ba ji ngan ini memang harus mati," ujar Axel kembali merangsek maju tapi Bella menahannya.
"Hazel memang salah, tapi tidak seharusnya kau menghukumnya seperti ini Axel. Kau keterlaluan," kata Tiara tidak terima melihat putranya babak belur seperti ini, ia padahal baru sembuh, tapi harus melihat kejadian mengerikan seperti ini.
"Aku atau anakmu yang keterlaluan? Dimana otakmu sebenarnya Tiara? Apa kau juga akan diam saja saat tahu jika putrimu hanya dijadikan oleh mainan seorang pria?" Bentak Axel sama sekali tidak bisa berbicara dengan nada suara rendah.
Tiara tidak mampu menjawab, perbuatan anaknya memang salah, tapi ia juga tidak terima jika melihat anaknya dipukuli seperti ini. Seumur hidup ia selalu menjaga anaknya agar selalu dalam kondisi baik, tapi kini harus babak belur ditangan Axel, pria itu meskipun tua, kekuatannya tidak main-main sama sekali.
"Mulai detik ini aku memutuskan, jangan pernah menemui Gwiyomi lagi. Aku mencabut hak mu sebagai suaminya dan segera tanda tangani surat perceraian yang sudah aku kirim kerumah kalian," kata Axel dingin.
Ucapannya itu sontak membuat semua orang syok, apalagi Hazel. Ia langsung melepaskan dirinya dari Mamanya dan merangkak kearah Axel.
"Pa, aku tidak mau bercerai dengan Gwiyomi, Pa. Aku minta maaf, aku janji akan berubah," ucap Hazel terbata-bata.
"Meminta maaf setelah membuat kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi itu sudah menjadi hal biasa yang dilakukan setiap manusia yang telah berbuat salah. Tapi aku tidak akan memberikan kesempatan kedua untukmu," kata Axel bergeming sama sekali.
Biarlah orang menilai dia adalah Ayah egois karena tidak menunggu persetujuan dari anaknya, ia melakukan ini demi kebahagiaan putrinya. Gwiyomi benar-benar sangat trauma dengan Hazel, bahkan sampai detik ini wanita itu tidak mau menyentuh anaknya karena menganggap anak itu adalah pembawa sial baginya.
******
Selama seminggu, Gwiyomi masih dirawat di rumah sakit, wanita itu keadaannya semakin hari semakin memburuk karena Gwiyomi tidak mau makan dan hanya terus menangis. Apalagi jika Bella membawa anaknya ke dekat Gwiyomi, putri ya akan sangat marah dan kembali histeris.
"Dokter, kenapa putri saya seperti ini, Dok? Apa yang harus saya lakukan untuk membuatnya sembuh?" Bella menangis saat menemui Dokter yang selama ini menangani Gwiyomi, hatinya sangat sakit karena Gwiyomi sudah seperti manusia yang hidup tanpa nyawa.
"Nona Gwiyomi mengalami trauma pasca melahirkan atau yang disebut dengan baby blues, kondisi ini membuat beliau merasa tertekan dengan kehidupan yang berubah drastis setelah memiliki anak. Saran saya jangan memaksa Nona Gwiyomi untuk menerima keadaan ini, biarkan perlahan-lahan dia mencoba mengenali anaknya. Kita hanya perlu membuat lingkungan yang nyaman untuknya, dengan begitu Nona Gwiyomi akan merasa tenang dan dia akan mengenali anaknya sendiri nanti," jelas Dokter.
Bella mengangguk mengerti, ia akhirnya menuruti semua apa yang disarankan Dokter dengan tidak mendekatkan anak Gwiyomi kepada Ibunya. Setiap hari bayi mungil itu hanya minum dari susu botol karena Gwiyomi enggan menyentuhnya.
Pagi-pagi sekali, Bella membawa cucunya itu masuk kedalam ruangan Gwiyomi. Ia meletakkannya di box lalu menghampiri Gwiyomi yang hanya diam dengan tatapan kosongnya.
"Gwi ..." panggil Bella dengan suara lembutnya.
"Ada apa, Ma?" Gwiyomi menyahut layaknya orang yang sedang baik-baik saja.
"Gwi mau pulang nggak?" ujar Bella mengelus lembut rambut Gwiyomi yang tergerai panjang.
"Udah boleh pulang, Ma? Sebenarnya aku sakit apa?"
Bella mengigit bibirnya, rasa trauma anaknya sepertinya memang sangat dalam sampai wanita itu tidak mau mengingat hal yang telah menyakiti hatinya.
"Nggak apa-apa kok, sekarang Gwi udah boleh pulang. Mama bantu sisirin rambutnya sini, Mama kangen saat Gwiyomi minta di kepang sama Mama," ujar Bella seraya menahan tangisnya.
Bella mengambil sisir yang ada di nakas, ia kemudian menyisir rambut Gwiyomi dengan sangat lembut menjadi kepangan yang begitu cantik.
Selama Bella menyisir rambutnya, Gwiyomi memperhatikan bayi kecil yang bergerak-gerak di dalam box. Sorot mata Gwiyomi sama sekali tidak tertebak sama sekali.
"Nah, gini kan cantik anak Mama," ucap Bella dengan senyum tipisnya.
"Terimakasih, Ma." Gwiyomi balas tersenyum meski sangat kaku.
Tidak lama kemudian, pintu ruangannya terlihat terbuka menampakkan sosok Axel disana.
"Ma, aku mau ngomong sebentar," ucap Axel pada istrinya.
"Oh iya, Mama tinggal sebentar ya Sayang," ujar Bella bergegas mendatangi suaminya.
Gwiyomi hanya mengangguk singkat, ia memastikan kalau kedua orang tuanya pergi lalu ia turun dari ranjang. Gwiyomi berjalan menuju arah box dimana bayinya berada. Ia memperhatikan bayi mungil yang tengah tertidur lelap itu.
Gwiyomi memperhatikan wajah bayi itu lekat-lekat, lama kelamaan semakin dipandang, wajah bayi itu justru semakin mirip dengan Hazel.
"Kau sangat mirip dengan Ayahmu, seharusnya kau tidak ada di dunia ini," ucap Gwiyomi dengan nada penuh kebencian.
Gwiyomi tersenyum sinis, ia mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi itu. Untuk pertama kalinya semenjak lahir, baru kali ini Gwiyomi menggendongnya. Tapi ia tidak melakukan apapun, ia hanya menggendongnya lalu membawanya pergi tanpa sepengetahuan siapapun.
Happy Reading.
TBC.
eyank kasih mawar cantik buat Gwi yaa