Perjuangan seorang kapten gagah berani dalam mendapatkan cinta seorang gadis yang merupakan adik dari sahabatnya sendiri serta pengorbanannya dalam tugas mengabdi pada negara.
" Zaid tidak perlu dijodoh-jodohkan. Zaid bisa mencari jodoh Zaid sendiri, Bu " tolak Zaid mentah-mentah.
" Kali ini kamu harus menerimanya karena ini permintaan almarhum ayah kamu dan kamu akan segera menikah dengan Adinda, adiknya Arjuna " titah sang ibu.
" Apa ?"
" Dinda menolak perjodohan ini. Kenapa harus dinda ? Kenapa bukan Kak Tiwi aja yang dijodohin " tegas Adinda menolak rencana perjodohan sang bunda dan sang kakak.
" Kamu harus menerimanya dan kamu akan segera menikah dengan Kapten Zaid "
" Apa ? "
Note : Follow ig author ya 🤗 @ovadelovee
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKZ part 31
Kevin akhirnya berhasil melacak posisi Pertiwi. Saat ini Pertiwi berada di gedung apartemen tempat Mario tinggal.
Farhan segera mengganti jasnya dengan jaket yang selalu dikenakannya saat berangkat. Kemudian ia mengendarai mobilnya menuju lokasi Pertiwi. Sementara Kevin diperintahkan untuk kembali ke perusahaan.
Setelah memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, akhirnya Farhan sampai juga di gedung apartemen tempat Mario tinggal.
Farhan segera menaiki lift menuju lantai dimana Mario tinggal. Pikirannya hanya tertuju pada keadaan sang istri. Ia sangat khawatir Mario akan melakukan hal buruk kepada Pertiwi. Farhan bergegas keluar dari lift saat telah sampai di lantai yang dituju. Setengah berlari ia menuju unit apartemen milik Mario.
Dengan nafas menderu Farhan sampai di depan unit apartemen milik Mario.
" Sial, apa kodenya ? " gumam Farhan frustasi saat ia menekan kode akses yang selalu ditolak.
Farhan mengacak kasar rambutnya. Ia menghela nafas, mengingat-ingat kode yang dulu ditekan oleh Pertiwi saat memergoki Mario dengan Tika.
" Ya, tanggal lahir Pertiwi " girang Farhan lalu dengan segera menekan kode berdasarkan tanggal lahir sang istri.
Pintu akhirnya terbuka dan Farhan segera masuk. Di ruang depan ia tak menemukan siapapun. Hanya sofa yang nampak berantakan. Farhan melangkah lebih dalam hingga ia menemukan kemaja Pertiwi terserak di lantai.
Deg... Detak jantung Farhan berdegup kencang. Ia meraih pakaian istrinya itu.
Tuhan, tolong jaga Pertiwi untukku. Jangan biarkan hal buruk menimpanya.
Mohon Farhan penuh harap.
Terdengar suara gedoran pintu dan suara seseorang yang berteriak di depan pintu. Farhan bergegas menuju arah suara dan melihat Mario yang sudah berantakan mencoba membuka pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Amarah Farhan semakin menjadi. Tangannya mengepal lalu ia menarik tubuh Mario dan menghadiahi Mario dengan pukulannya. Mario berusaha membalas, namun Farhan yang dilanda amarah terus menyerang Mario hingga ia tersungkur, tak berdaya lagi melawan.
Setelah puas memukuli Mario, Farhan mengetuk pintu kamar mandi.
" Wi, kamu gak apa-apa ? " tanya Farhan khawatir.
" Farhan ? Itu kamu kan ?Aku gak salah denger kan ? " tanya Pertiwi sambil keluar dari bath tub dan melangkah mendekati pintu kamar mandi.
" Iya, ini aku... Ayo buka pintunya, kita pergi dari tempat ini ! " seru Farhan lagi.
Pertiwi segera membuka pintu kamar mandi, kemudian melihat sang suami yang berdiri di hadapannya. Pertiwi segera menghambur ke pelukan Farhan tanpa menyadari jika tubuhnya basah dan tanpa mengenakan kemeja yang menutupi tubuh bagian atasnya.
Farhan menelan saliva dengan susah payah, kali ini ia bisa melihat dengan jelas tubuh indah milik istrinya walaupun hanya bagian atasnya saja.
Farhan segera membuka jaket lalu memakaikannya pada Pertiwi kemudian segera membawa Pertiwi pergi dan meninggalkan Mario yang sudah babak belur ia hajar.
Di dalam mobil, rasa itu kembali menyergap Pertiwi. Kendati tubuhnya masih basah tetapi ia masih merasa kepanasan bahkan rasa itu jauh lebih panas dibanding sebelumnya. Pertiwi membuka jaket milik Farhan yang menutupi tubuh bagian atasnya.
" Kamu kenapa, Wi ? " tanya Farhan yang merasa aneh dengan sikap Pertiwi.
" Panas... Gerah... " ucap Pertiwi dengan wajah memerah
Pertiwi hampir saja melepaskan jaket Farhan yang menutupi tubuhnya.
" Tahan wi, sebentar lagi kita sampai ! " ucap Farhan sambil menahan Pertiwi yang hampir meloloskan jaket dari tubuhnya.
Beruntung kaca mobil Farhan tidak terlihat dari luar sehingga tidak ada yang bisa melihat tubuh Pertiwi.
Farhan melajukan kendaraannya secepat mungkin agar mereka sampai di apartemennya. Farhan membawa Pertiwi menuju unitnya dengan menggendong Pertiwi. Segera setelah masuk ke dalam apartemen, Farhan membawa Pertiwi untuk berendam di bath tub. Setidaknya itu akan mengurangi apa yang dirasakan Pertiwi meskipun untuk sementara.
Farhan segera menghubungi Kevin, menanyakan cara agar bisa mengobati Pertiwi yang terlanjur diberi obat perangsang oleh Mario.
Betapa tercengangnya Farhan saat Kevin memberikan jawaban untuk melakukan hubungan suami istri sebagai obatnya.
Farhan mengusap wajahnya kasar lalu melemparkan dirinya duduk di sofa.
" Han... Tolong aku, rasanya semakin panas ! " ucap Pertiwi dengan nafas terengah.
Farhan begitu terkejut karena Pertiwi tiba-tiba ada di hadapannya dengan tubuh yang hampir tanpa busana.
" Wi... Maafin aku, satu-satunya jalan mengobati kamu hanya dengan berhubungan i***m " ucap Farhan dengan menelan salivanya melihat tubuh seksi sang istri.
Pertiwi mengangguk,
" Lakukan saja " ucap Pertiwi sambil menghampiri Farhan lalu mencium bibir Farhan dengan penuh n***u.
Mendapat serangan mendadak membuat hasrat Farhan naik. Sebagai laki-laki normal tentu saja ia pun menginginkannya.
Farhan menatap Pertiwi yang sudah berkabut gairah.
" Kamu yakin, Wi ? Mau melakukannya sekarang ? Setelah melakukannya kamu akan terikat selamanya denganku " ucap Farhan yang dijawab dengan anggukan oleh Pertiwi.
Farhan tak menyia-nyiakan waktu, ia segera membawa sang istri ke kamar dan membaringkannya di peraduan. Farhan segera membuka semua yang melekat di tubuhnya serta menanggalkan yang tersisa di tubuh Pertiwi.
Keduanya kini polos tanpa sehelai benang pun. Farhan ******* bibir Pertiwi dengan rakus. Merasai bibir manis sang istri yang telah lama didambanya. Pertiwi membalasnya dengan penuh hasrat.
Hingga akhirnya penyatuan terjadi diantara mereka. Farhan begitu bahagia karena bisa menjadi yang pertama untuk sang istri. Begitu pun dengan Pertiwi, ia bahagia bisa mempertahankan mahkota yang dijaganya dan menyerahkannya hanya kepada sang suami.
Hingga akhirnya keduanya merasakan pelepasan bersama setelah merengkuh kenikmatan dunia yang membawa mereka serasa terbang menuju nirwana.
" Terima kasih telah menjaga dan menyerahkannya padaku. Aku mencintaimu, Pertiwi " ungkap Farhan mengutarakan isi hatinya sambil mengecupi pucuk kepala sang istri yang terbaring lelah di sampingnya dengan tubuh bermandikan peluh.
" Hem... Aku juga mencintaimu. Maafkan aku karena sudah menemui Mario tanpa memberi tahumu lebih dulu " aku Pertiwi dengan rasa bersalah.
Entah apa yang terjadi seandainya Farhan tidak datang menyelamatkannya tadi. Mungkin ia akan hidup dalam penyesalan seumur hidupnya.
Farhan menyunggingkan senyum membuatnya semakin terlihat tampan meskipun wajahnya penuh keringat.
" Semua ada hikmahnya... Tanpa kejadian tadi, mungkin kita tidak akan pernah bersatu. Dan aku tidak akan pernah tahu perasaanmu padaku. Awalnya kupikir, aku cinta sendiri. Tapi sekarang aku bahagia karena ternyata kamu juga mencintaiku " ucap Farhan lalu mendekap sang istri.
Pertiwi memeluk Farhan dengan erat.
" Mulai sekarang, aku sepenuhnya menjadi istrimu. Dan aku akan selalu mencintaimu " ucap Pertiwi.
" Kamu harus janji, jika nanti ada hal yang diluar perkiraanmu, kamu akan tetap menerimaku dan berada di sisiku selamanya " pinta Farhan.
" Baiklah, aku berjanji suamiku sayang " ucap Pertiwi sambil mengecup pipi Farhan.
" Dih, mulai nakal ya ! " ucap Farhan sambil mencubit hidung Pertiwi.
" Kamu harus tanggung jawab lho ! " bisik Farhan.
Pertiwi mengernyitkan keningnya, bingung mengartikan ucapan Farhan.
" Tanggung jawab apa ? " tanya Pertiwi.
Farhan meraih tangan Pertiwi lalu membawanya menyentuh miliknya yang sudah tegak kembali.
Ya, ampun... Dikasih sekali, keterusan mau lagi... mau lagi...!