Sekuel Terpaksa Menikah.
Yang langsung mau baca season dua juga boleh, ada di sini semua ya gaes.
Chelsi Amira Putri berusaha menghindari perjodohan yang dibuat oleh ayahnya. Namun, dia malah terjebak dalam kesalahannya sendiri. Dia menjadikan Alaska Lencana kambing hitam untuk menolongnya agar terhindar dari perjodohan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dek La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
“Siapa yang hamil bohongan?”
Betapa terkejutnya Amira dan Cinta saat melihat Alfaliansky Afganda tengah berdiri di belakang mereka dengan tangan berada disaku celana. Pria itu memandang dengan tatapan tajam, seakan ingin menguliti keduanya.
“Aku tanya siapa yang hamil?” tanya Alfa lagi, Amira masih bungkam. Pikirannya mendadak buntu dan sangat sakit sekali.
“Itu, film yang kami tonton sewaktu menginap bersama,” bohong Cinta, dia menunduk tak kala Alfa menatapnya dengan intens.
“Kalian mencoba membohongiku? Aku bukan anak kecil!”
“Kami tidak berbohong Al,” ucap Amira dengan nada suara bergetar. Sungguh dia sangat takut.
Alfa mendecih, dia tertawa kecil seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah ketakutan milik Amira.
“Hmm, Lo tahu Laska gimana ‘kan? Dia sangat sangat membenci orang yang tukang berbohong.” Alfa menatap Amira dengan tatapan merendahkan.
“Kami mohon jangan bongkar ini. Kami mohon,” ucap Cinta dengan memohon, bahkan dia sudah berada tepat di depan Alfa, menghalangi tubuh Amira.
“Gue kecewa. Lo permainin Laska, meski gue gak suka sama dia. Tetap saja dia abang gue, Amira!”
“Aku terpaksa Alfa, aku mohon jangan marah.” Amira sudah menangis karena ketakutan. Sedangkan Cinta hanya bisa mengelus punggung gadis itu.
“Terpaksa demi kepentingan Lo sendiri? Jawab Amira! Asal Lo tahu, Laska itu gak cinta sama Lo! Dia punya wanita impiannya, tapi Lo mengacaukan semuanya.” Alfa menjeda kalimatnya, dia mengalihkan pandang saat melihat Amira semakin terisak.
“Dan Lo sakiti dia,” lirih Alfa lemah.
Gadis yang masih terus terisak, menggenggam ponselnya erat. Baru saja dia ingin bahagia, kenapa masalah datang secara tiba-tiba? Menghancurkan semua mimpi-mimpi yang telah dia bangun dengan susah payah.
“Maaf,”
“Oke. Gue gak akan bocorkan ini, dengan satu syarat,”
“Apa Alfa?” tanya Amira dengan menggebu.
Kesalahanku mungkin akan menyakiti dia, tetapi hatiku, selalu menginginkannya. Maaf Cinta.
“Cinta harus menuruti semua permintaanku, tanpa terkecuali,” ucap Alfa dengan lantang, membuat Amira melotot tak percaya.
“Ini masalah kita, bukan Cinta. Minta syarat yang berhubungan denganku,” protes Amira.
“Tidak ada yang menarik dari dirimu. Apa yang akan aku dapatkan? Bukankah kita harus saling menguntungkan?”
“Aku pikir kamu pria baik, ternyata aku bodoh. Kamu tak ada bedanya dengan berandalan!”
“Jahat siapa, aku atau Lo, Amira?!”
Amira menundukkan kepalanya, menyesali semua perbuatannya. Dia melukai semua orang, dia sadar akan itu.
“Aku akan jujur dengan om Laska,” lirih Amira tiba-tiba.
“Tidak. Aku akan menuruti semua keinginan Kak Alfa.” Cinta menggenggam jemari Amira, seraya berkata, “Kamu mencintainya, Ra. Hubungan kalian harus berjalan selamanya. Aku takut dia akan meninggalkanmu bila tahu kenyataannya.”
“Tapi aku tidak ingin kamu berkorban Cinta. Aku tahu kamu tersiksa,”
“Aku bisa. Kamu tenang saja. Bukankah menginginkanku? Ayo pergi.” Cinta langsung menarik tangan Alfa untuk segera mengikuti langkahnya.
Dia hanya ingin memberikan Amira ruang, ia tahu sahabatnya itu sangat terpukul. Banyak sekali masalah yang harus Amira hadapi, dia tak tega bila harus memutuskan kebahagiaan yang baru gadis itu capai. Bagaimanapun, Amira juga hidupnya. Hanya dia yang mau menerimanya.
Ya Allah maafkan aku, karena telah membantu Amira untuk berbohong.
“Masuk mobilku,” perintah Alfa meninggalkan Cinta. Gadis itu hanya mengangguk kecil, mengikuti Alfa masuk ke dalam mobil Sedan.
Di lain tempat, Amira tengah menangis. Dia terus menjerit, meluapkan segala sesak yang menumpuk di dada. Dia kini tengah berada di pinggir danau yang tak jauh dari sekolah. Tempat yang nyaman dan aman untuk dia menangis, menyesali segala tindakan yang selalu dia ambil secara terburu-buru.
“Di dalam sebuah hubungan, harus ada yang namanya kejujuran. Karena itu sangat penting.”
Perkataan ibunya berdengung ditelinga, Amira semakin terisak. Dia bingung harus seperti apa. Dia ingin egois, tetapi banyak hati yang akan dia sakiti.
Tetapi, dia juga belum sanggup bila harus mengalami perceraian secara mendadak dengan Laska. Dia mencintai pria itu, sangat mencintainya.
“Aku harus apa?” tanya Amira pada dirinya sendiri, dia duduk di bibir danau dengan keadaan yang sangat kacau.
“Tetap bertahan. Katakanlah jika ada masalah, saya akan membantu.” Suara familier itu mengharuskan Amira membalikkan badannya. Laska di sana, pria itu tampak lebih tampan jika memakai pakaian biasa.
Amira mendadak bingung, dia langsung mengusap air mata dan segera menghampiri Laska.
“Om kenapa ada di sini?” tanya Amira pura-pura tak terjadi apa-apa.
“Temanmu yang bilang, setelah terjadi pertengkaran antara kamu dan Alfa. Lantas kamu pergi ke sini,” ujar Laska seraya menjatuhkan bokongnya di atas rerumputan yang tumbuh dengan liar.
“Itu ... aku hanya ada masalah kecil,” jawab Amira gugup.
“Saya tak akan ikut campur bila kamu tidak menginginkannya. Duduklah,”
“Iya.” Amira langsung menjatuhkan bokongnya di dekat Laska, ikut menatap ke depan.
Keduanya memilih saling diam, Amira sibuk memilin roknya. Memikirkan langkah apa yang harus dia ambil. Sedangkan Laska, memilih menikmati pemandangan danau di depan mata.
Setelah sampai di depan gerbang sekolah tadi, Laska sudah melihat banyaknya siswa berhambur keluar. Tetapi tidak dengan Amira, gadis itu tak terlihat sama sekali.
Karena merasa sangat khawatir, akhirnya Laska memilih masuk ke dalam untuk mencarinya. Sekitar kelas sudah dia cari, bahkan belakang sekolah. Tetapi Amira tetap tidak ada. Akhirnya dia bertanya pada teman gadis itu. Dan tahu bahwa Amira tengah berada di danau setelah terjadi perdebatan antara adik dan istrinya itu.
“Apa Alfa melukaimu?” tanya Laska setelah lama bergelut dengan pikirannya.
“Tidak. Aku sudah bilang tadi, Om, kami hanya ada masalah kecil. Tenang saja,” jawab Amira mencoba meyakinkan Laska, pria itu hanya mengangguk patuh.
“Aku bisa membantu di saat tertentu, jangan sungkan untuk bercerita,” kata Laska lagi.
“Ini kali kedua Om berucap seperti itu. Bukankah aku sudah bilang, hanya masalah kecil.” Amira tertawa kecil, tetapi langsung terdiam saat melihat wajah Laska yang semakin datar dan dingin.
“Ah, maaf. Aku hanya bercanda,” ucap Amira sambil menutup mulutnya.
“Tadi kamu menangis, dan sekarang bercanda. Dua hal yang tak aku mengerti dari perempuan,”
“Om bilang apa?”
“Tidak ada. Ayo kembali.”
“Tidak jadi makan di restoran?”
“Saya sibuk,” ungkap Laska sembari terus melanjutkan langkah kakinya.
Amira mendecih kesal. “Tadi sudah janji, kenapa mengingkarinya?”
“Tak ada masalah jika memang sedang ada urusan.”
“Tapi itu dosa Om, yang namanya janji harus tetap ditepati. Pokoknya makan di restoran,” ucap Amira kukuh membuat Laska menghembuskan napas kasar dan akhirnya memilih mengangguk.
“Baiklah.”
“Hore!”
“Benar-benar bocah,”
“Biarkan saja, yang penting aku cantik.”
Amira tertawa melihat wajah kesal Laska. Dia berjalan menghadap ke belakang, tak peduli akan ada sesuatu yang akan membuatnya jatuh. Karena dia hanya ingin melihat wajah Laska lama-lama. Dia sangat takut kehilangan pria itu.
Maaf Om, aku terlalu takut untuk jujur. Biarkan saja semua mengalir sempurna, seperti yang Om katakan. Meski aku tahu, perbuatanku ini menyakiti banyak orang. Aku mencintaimu dan takut kehilanganmu.
Bersambung
Buat yang bilang alurnya muter-muter, yuk boleh berhenti baca mulai dari sekarang. Othor gak papa kok, karena memang ini karekteristik othor😁
Kamu masih muda,Kamu juga cantik,kamu juga gak benaran hamil kan,terus kenapa harus ngemis2 cinta sama orang..
awas Lo bucin sama om om 😃