NovelToon NovelToon
Presdir Cilok

Presdir Cilok

Status: tamat
Genre:Patahhati / Fantasi Urban-Percintaan Modern / Mengubah Takdir / Romansa / Masalah Pertumbuhan / Tamat
Popularitas:2.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Khinanti Nomi

PRESDIR CILOK Menceritakan tentang awal mula seorang Pemuda biasa berusia 24 tahun, bahkan mempunyai kehidupan yang sangat sederhana, setelah kepergian Ayahnya. Ia menjadi tulang punggung keluarga, ia harus bisa memenuhi kebutuhan hidup Ibu juga Adik laki-lakinya.

Putus sekolah, bekerja seadanya, sampai ia pernah menjadi kuli bangunan. Hingga suatu saat umurnya 18 tahun ia memakan olahan dari bahan dasar tepung kanji. Detik itu pula ia menemukan ide untuk membuka usahanya sendiri. Dan bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha sukses.

Dilengkapi dengan kisah asmara cinta segitiga, dan cinta sejati.

•••

Danum masih diam, percuma saja ia mendebat Kakaknya.
"Kalau kita mau sukses jangan suka beralasan. Jika suka beralasan, jangan pernah berharap bisa sukses.” lanjut Damar. Ia pun berjalan ke kamar Ibunya meminta ridho kepada surga yang telah melahirkannya.



Langsung ikuti alur kisahnya guys...
Jangan lupa dukungannya, Like, Vote, Hadiah dan Komentar penyemangat. Semakin banyak viewers makin seru. Agar saya tetap semangat semaksimal mungkin untuk update selanjutnya...

Boleh promosi meskipun pembaca sedikit, tapi please jangan plagiat meskipun karya ini masih receh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31 Cokelat meleleh

Didalam mobil sedan yang di kemudikan Bokir, dengan laju kecepatan sedang. Bokir sedikit bisa bernafas lega, untuk yang kedua kalinya Damar menyergapnya.

"Aku harus lebih hati-hati lagi, sama Damar. Pemuda itu ternyata tidak bisa di anggap main-main!” gumam Bokir.

Sementara Wulan yang duduk di sebelahnya hanya diam, dan mengedarkan pandangannya menghadap kaca netranya menembus laju mobil yang melintasi perkotaan dan melewati pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan.

Dengan penerangan dari lampu-lampu kuning penghias jalan. Tanpa sadar Wulan mengangkat tangan kanannya, menyentuh bibirnya sendiri, dan berseloroh dalam hati,

‘Kenapa rasanya sangat lembut, seperti memakan kue keck dengan lumeran toping cokelat meleleh.'

Bokir yang masih fokus menatap jalanan sekilas beralih menatap rekan yang jauh lebih muda tiga tahun darinya, berniat meledek Wulan, "Gimana Lan, apa ciumannya tadi menggoyahkan iman mu?”

Suara Bokir menghentakkan lamunannya, dan tersadar akan tangannya yang menyentuh bibir serta mengulas senyuman yang entah menandakan apa? Wulan sendiri pun tidak menduganya.

"Ekhmmm...” serileks mungkin, Wulan membenarkan tempat duduknya dengan sedikit menegakkan punggung.

Tidak mendapat jawaban, membuat Bokir mengerutkan keningnya. Dan kembali bersuara, "Nggak usah malu atuh Lan, aku juga setiap hari merasakan kenikmatan saat pertama kali mencium mantan pacar yang sekarang menjadi istriku,”

Wulan melirik sekilas kearah Bokir, dalam hatinya bersenandung dusta,

‘Kenikmatan? Siapa yang merasa nikmat dengan ciuman sepayah pemuda cilok itu!'

"Gue nggak merasakan apa-apa! Lagi pula tadi hanya suatu kecelakaan!” sanggah Wulan sedatar mungkin menjawab pertanyaan Bokir, rekan kerjanya yang sudah delapan bulan tergabung dalam agensi Intelejen.

Bokir mengangkat satu alisnya,

"Yah! Padahal ku pikir dari ciumannya, kamu dapat melihat sesuatu yang mungkin bisa kamu anggap cinta? Kan-- kan kamu nggak mungkin dong nikahin wanita?”

Tuduh Bokir dengan prasangka karena selama bekerja bersama dengan wanita yang terlihat sangat dingin dan tidak banyak bicara ini, terkesan angkuh kepada laki-laki yang menyukainya, dan pernah secara terang-terangan menolak sang atasan yang menyukai wanita yang terlalu menutup diri ini.

Wulan membuang pandangannya menembus kaca mobil yang berwarna gelap, rintik hujan mulai membasahi sebagian jalanan dan bodi mobil. Wulan menyentuh rintik hujan dari balik kaca. Wulan biasa saja menanggapi celotehan Bokir.

Bukan hanya dari Bokir saja yang menuduhnya dengan perkataan bahwa Wulan lesbian. Dari teman-teman rekan kerjanya yang mencoba mendekatinya pun kini enggan untuk mengenalnya lebih dalam lagi. Bukan berarti Wulan membenarkan ucapan para lelaki yang mencoba mendekatinya.

Akan tetapi ada sebuah rasa yang harus ia jaga.

Dan perihal Cinta? Ya, Cinta!. Nyatanya selama 17 tahun lamanya Wulan hanya mencintai satu orang saja. Yaitu teman masa kecilnya yang sampai sekarang sedang ia cari tak kunjung menemui titik terang.

"Lan?” seru Bokir, mendapati Wulan hanya diam sibuk dengan pikirannya.

Wanita dengan rikma sebahu ini pun menoleh sekilas kearah Bokir yang masih sibuk dengan kemudinya. Dan kembali menatap lurus ke depan, ia enggan melanjutkan kembali pertanyaan Bokir.

Wulan lebih memilih mengalihkan pembicaraan, meskipun terkesan kaku, "Sudah berapa bulan sekarang bini Lo hamil?”

Pertanyaan Wulan sukses membuat Bokir mengerutkan keningnya, "Kenapa nanya istri ku, Lan? Jangan-jangan setelah istriku melahirkan...” ucapan Bokir mengambang. Dengan tekad ia berujar bersamaan tuduhannya, "Kamu nggak berniat buat mengincar istriku kan, Lan?” lanjut Bokir menengok sekilas Wulan.

"Lo pikir gue lebian?” sinis Wulan.

Bokir hanya mengangkat bahunya acuh, Wulan semakin geram akan sikap rekannya.

Wulan memutar bola matanya, malas dengan tuduhan Bokir. Ia pun meninju pundak Bokir hingga membuat si empunya terkejut dan menekan tombol klakson dengan irama yang memanjang..

BEEEEEPPP...

Bokir hilang kendali kemudi, namun ia masih beruntung Wulan dengan kecepatan tangannya Wulan dapat menghandle kemudi mobil dan tidak berakibat fatal. Karena dari arah berlawanan mobil sedang melaju kencang serta ugal-ugalan.

Bokir yang memejamkan matanya, dan beberapa detik kemudian ia membuka netranya dan menangkap Wulan sedang tersenyum simpul menatap keluar kaca mobil.

"Aneh!” cibir Bokir.

Sekilas dari lampu sorot mobil, Wulan melihat si pengendara mobil dari arah berlawanan, siapa yang telah mengemudikan laju mobil dengan ugal-ugalan. Dan tersenyum layaknya seperti premanisme.

Wulan dapat melihat dari ekor matanya kalau Bokir sedang menatapnya, dengan tatapan aneh. Ia melirik tajam bagaikan anak panah, membuat Bokir merasa ngeri.

"Pegang!” hardik Wulan, meminta agar Bokir mengambil kendali kemudi. Karena ia tidak merasa nyaman jika mengemudikan mobil dari samping.

Dengan sigap, Bokir pun mengambil kendali kemudi. Wulan yang semula mencondongkan tubuhnya kearah kemudi mobil kini menarik diri dan duduk kembali dengan bersandar pada jok mobil. "Nyaman!” gumamnya.

Bokir mencebikkan bibirnya, melihat sikap Wulan yang sering sekali bersikap arogan.

••

••

Selang waktu setengah jam tepat pukul 21:05 wib. Damar melirik alroji di pergelangan tangannya,

"Kemaleman kan pulangnya, mestinya aku ada kerjaan lain, di restoran Pak Budi.” gumamnya, ia pun menatap pintu rumah. Damar melihat penerangan dari ruang tamu sudah gelap. ia merasa Ibunya juga Danum sudah tidur.

Seperti biasa, setiap ba'da isya Damar akan bekerja paruh waktu sampai jam satu malam. Akan tetapi saat ini, ia merasa percuma jika harus memenuhi panggilan kerjanya.

Damar berjalan mendekati pintu dan mengambil kunci yang terdapat dalam tas selempangnya, dan memegang handle pintu lantas segera membuka pintu samping rumah. Yang di khususkan untuk menaruh gerobak-gerobak ciloknya.

Damar kembali ke gerobak ciloknya yang masih ia parkirkan di halaman rumah. Lantas mendorongnya masuk kedalam rumah lewat pintu samping yang semula ia buka,

Dengan sigap setelah masuk kedalam rumah, ia pun menutup pintu kembali. Melihat lampu tengah yang masih menyala membuat ia berspekulasi bahwa Ibunya atau mungkin adiknya masih terjaga.

Damar pun mengucap salam, "Assalamualaikum,”

Dan benar saja seperti dugaannya, jawab salam Ibunya terdengar sayup-sayup. "Wa'alaikumussalam.”

Damar berjalan mendekati Bu Suci yang sedang membaca buku, terduduk di sofa usang ruang tengah. Damar mengulurkan tangannya dan di sambut tangan Bu Suci. Lantas Damar menaruhnya di tengah-tengah antara keningnya.

Usai Damar menjabat tangan Bu Suci, ia pun melepaskan tas selempangnya, dan duduk tak jauh dari Ibunya.

"Ibu kok belum tidur?”

Bu Suci menatap putra sulungnya dan mengembangkan senyuman, "Bagaimana Ibu bisa tertidur Nang, sedangkan putra sulung Ibu belum pulang,”

Damar menyunggingkan senyuman, dan mengingat hal yang akan ia sampaikan kepada Ibunya perihal kerjasama yang akan ia lakukan dengan salah satu perusahaan makanan.

Damar merogoh tas selempangnya yang ia pangku di atas pahanya, dan menunjukkan kartu nama serta uang yang ia peroleh dari hasil penjualan cilok kepada Bu Suci. Menatapnya dan berujar,

"Bu ini uang dari hasil penjualan,”

Bu Suci mengulurkan tangannya, membelai rikma hitam putra sulungnya. Beliau tahu betul Damar adalah anak yang sangat berbakti, "Simpan untuk tabunganmu Nang, kamu lebih membutuhkan dari pada Ibu,”

Damar menggeleng, ia merasa sangat mengasihi Ibunya. Akibat dari penyakit diabetes yang di deritanya. Menjadikan Bu Suci lebih kurus dan wajahnya lebih sayu,

"Damar bekerja memang untuk Ibu dan juga biaya pendidikan Danum, jadi tidak ada salahnya kan, kalau Damar memberikan uang yang Damar dapatkan untuk Ibu,”

Bu Suci tersenyum lembut dan menggeleng tipis, "Tenanglah. uang pemberianmu kemarin masih ada Ibu simpan, uang ini kamu simpan sendiri. Kata kamu, kamu mau menabung untuk sewa tempat untuk berdagang agar tidak berkeliling lagi?”

"Damar tidak jadi menyewa ruko Bu,”

Alis Bu Suci saling berpaut mimik wajahnya menjabarkan ekspresi heran. "Kenapa? Kan kamu yang bilang sendiri kalau kamu mau nyewa ruko atau tempat usaha?”

•••

Bersambung...

1
Susi Susilawati
Luar biasa
🧭 Wong Deso: terimakasih 👍🏽
total 1 replies
Yolla
akirnya kata mutiara ku terucap ...Jancuuuuuukkkkkkk 😂😂😂😂
🧭 Wong Deso: 😆😆 iya kata² yang ringan diucapkan
total 1 replies
Hu la
like
🧭 Wong Deso: terimakasih 👍🏽
total 1 replies
Bella
luar biasa
🧭 Wong Deso: terimakasih 👍🏽
total 1 replies
Bagus Prakoso
hebat...Damar bisa tau kalau adiknya bakal kembali ke tempatnya meskipun tidak sadar
delesia
cerita yg bagus
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
Masruri Achmad
walaupun fiksi tapi alur ceritanya asyik
Masruri Achmad: ok siap,mau komen tp telat wong udah tamat
total 2 replies
dr awal di cerita ini klo opik itu adlh pelaku nya
🧭 Wong Deso: yah, seperti itulah adanya
total 1 replies
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
Asrori Asrori
mantap
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
gue kasian sm damar tunggulh bgi yg hina damar bkal dpat karma
hahaha 😅😅😅😅😅
Hm tipe gue kya si damar yg tanpa patah semangat, ga putus asa, penyabar 🙂
Hm tipe gue kya si damar yg tanpa patah semangat, ga putus asa, penyabar 🙂
Afika sakhi
othornya orang mana ini kakak ....
itu ada mahasiswa dr pemalang. kota aq
🧭 Wong Deso: salam wong Pemalang 😊.. terimakasih sudah menyempatkan singgah
total 1 replies
Reni Setia
makasih author
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
nurul istiqomah
bagus cerita nya.. Jogja istimewa
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
Jonathan Ray
tetap semangat thor&semoga sehat wal afiat.teruskan berkarya.dan sukses terus.
🧭 Wong Deso: Terimakasih
total 1 replies
Jonathan Ray
mantap nih.ceritanya mulai seru.ttp semangat bos qqq......💪💪💪💪💪
Maulana ya_Rohman
dah cus mampir.....
gak bisa comend apa²🤭
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!