Warning 21+
Sekuel Virgin
Harap bijak dalam membaca..
Valerie Angelina Putri merupakan seorang gadis yang terlahir dari kalangan keluarga berada, dengan semua fasilitas yang ia miliki ia bebas melakukan apa saja sesuka hatinya. Dulu Valerie adalah gadis yang begitu lugu dan polos namun setelah mendapatkan kekecewaan yang begitu mendalam kini ia berubah menjadi sosok yang bertolak belakang dengan sebelumnya.
Sampai suatu hari ia di pertemukan kembali dengan sosok pria yang selama ini ia rindukan, namun situasi dan kondisi yang telah berubah membuat gadis itu membenci sosok yang ia rindukan itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? akankah semua nya berubah?
Sambungan dari novel Virgin (true love)
#Slow update
#banyak typo
#alur sesuai isi otak othor
salam othor kecil 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
"Ahh... kepala ku sakit sekali." Gumam seorang wanita yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Ia melihat ke sekeliling ruangan yang tak lain itu adalah kamarnya. Terdapat sebuah sarapan yang terletak di mejanya dengan sepucuk surat di sampingnya. Ia membuka kertas tersebut dan membaca isi nya yang tak lain adalah sebuah pesan yang akan tuliskan untuk Friska.
Gadis itu tersenyum tipis setelah membaca surat tersebut, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Besok malam aku ada acara gala dinner bersama dengan rekan bisnis ku, kau mau ikut? Tanya Elang.
"Tentu, aku akan menjadi pendamping mu yang paling cantik dan memikat semua orang."
"Dasar narsis." Elang mencubit gemas hidung Valeri.
"Hehe... yaudah aku masuk dulu sampai ketemu nanti siang."
"Hm, nanti aku suruh Beichen untuk jemput kamu."
"Kayak nya gak usah deh, Alan pasti jemput aku."
"Baiklah."
Elang mengecup kening Valeri sebelum ia pergi menuju perusahaannya.
Di saat yang bersamaan, Rivan yang baru sampai menghampiri Valeri yang sedang berjalan seorang diri ia menarik tangan Vale hingga membuat gadis itu kaget dan menoleh ke belakangnya.
"Rivan, aku kira siapa?"
"Kenapa? kau kaget?"
"Tentu saja aku kaget, aku kira kau orang jahat yang akan menculik ku."
"Haha... mana ada yang mau menculik kamu."
"Gak tau saja aku begitu menggoda."
Langkah Rivan seketika terhenti mendengar apa yang di katakan gadis itu, kau benar kau begitu menggoda sampai aku tak sadar sejak kapan perasaan ini tumbuh, Rivan bergumam seraya menatap punggung Vale yang perlahan menjauh dari pandangannya.
*
Selesai mengikuti kelas, Valeri bersama dengan Friska keluar dari sebuah ruangan, mata mereka tertuju pada beberapa orang yang berbondong-bondong berlarian menuju sebuah parkiran, siang itu sejumlah mahasiswi kampus di hebohkan dengan kedatangan seorang pria tampan yang terlihat seperti sedang menunggu seseorang.
Dengan penasaran kedua gadis itu menghampiri kerumunan para gadis untuk melihat siapa yang telah membuat kehebohan di kampusnya.
"Alan?" Ucap Vale dan Friska secara berbarengan.
"Hello baby." Alan melambaikan tangannya ke arah dua gadis itu.
Ia membukakan pintu mobilnya untuk Friska dan juga Vale, sorakan yang bergemuruh dari para gadis lainnya terdengar seperti para supporter yang sedang menyemangati para atlet. Sebuah mobil berwarna hitam pung perlahan pergi meninggalkan kampus.
Suasana di perusahaan JM group tidak begitu tenang seperti biasanya, sesuai dengan informasi yang di dapatkan sekretaris Yu mengenai perkembangan bisnis Joe di negara X saat ini sangatlah berada di ujung tanduk, ditambah dengan informasi yang di berikan Beichen mengenai tempat yang akan di jadikan sebagai proyek pembangunan hotel di kota D sedikit terkendala.
"Bagiamana bisa itu terjadi? bukan kah selama ini papa menjadi pemegang saham terbesar disana?"
"Hal itu masih dalam penyelidikan, dan kemungkinan besar JM group di negara X akan di akusisi oleh tuan Marvel."
"Om Yu tolong bantu papa sebisa mungkin, aku yakin ada sesuatu di balik semua ini."
"Baik tuan." Feng Yu bergegas pergi dari ruangan Elang.
"Beichen, apa yang menjadi kendala pada tempat itu? bukankah kemarin mereka sudah menyetujuinya?"
"Perusahaan Xin group menginginkan tempat itu, mereka telah menemui warga yang tinggal disana dan membuat sebuah perjanjian."
"Xin group? apa yang sebenarnya ingin om Marvel inginkan?" Gumam Elang yang memainkan kedua jarinya.
Ceklek. . .
Sebuah pintu terbuka, tanpa mengetuk atau permisi Valeri masuk ke ruangan Elang, ia menenteng sebuah paper bag yang berisi makan siang untuk calon suaminya itu. El memberikan isyarat pada Beichen untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua, pria itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Valeri yang berdiri di depan meja nya.
"Apa yang membawa mu datang kesini hm?"
"Aku bawakan makan siang untuk kamu, pasti belum makan iya kan?"
"Tau aja aku kelaparan." Elang tersenyum dan mencubit pipi Valeri.
"Yash, kebiasaan cubit-cubit."
Vale duduk di sebuah sofa dan membuka makanan tersebut, tak hentinya ia bercerita dengan begitu bawel sambil mengupas udang karang bumbu pedas yang di bawanya.
"Nih aaa..." Vale mencoba menyuapi Elang yang kini duduk di sampingnya.
Terlihat El yang sedang melamun entah apa yang ia pikirkan.
"El, hey...." Vale menggoyangkan tangan Elang hingga membuyarkan lamunannya.
"Ya? kenapa sayang?"
"Apa yang kau pikirkan? aku dari tadi disini loh apa kau gak menganggap ku ada?"
"Ahh maaf, kau sudah selesai mengupasnya?"
"Em, cobalah." Vale kembali menyuapi Elang.
Satu suapan berhasil masuk ke mulut pria itu.
"Gimana? enak gak?"
"Em, di tambah kamu yang nyiapin rasanya semakin enak."
Vale melebarkan senyumnya dan mengupas semuanya sampai tak tersisa, di tengah obrolan keduanya ponsel Elang tiba-tiba berdering ia melihat layar ponselnya dan segera menerima panggilan tersebut. Cukup lama ia berbincang dalam panggilan nya El kembali menghampiri Valeri dengan wajah yang sedikit kusut.
Hal itu tentu saja membuat Vale semakin penasaran, karena pada dasarnya El tidak pernah menunjukkan ekspresi wajah yang seperti itu ketika di hadapannya.
"Katakan ada apa? siapa yang barusan menelfon mu?"
"Papa, dia bilang akan kembali lusa."
"Ahh gitu, kenapa kau terlihat tidak begitu senang?"
"Gak papa, hanya ada sedikit masalah pekerjaan."
Valeri memeluk pinggang Elang dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Tingkahnya yang begitu manja membuat El semakin menyukainya dan enggan untuk meninggalkannya, namun entah apa yang akan terjadi setelah ini dia sendiri pun tidak mengetahuinya.
Sore hari, suasana kantor kini mulai sepi dan hanya tersisa Vale bersama elang yang masih berada dalam ruangannya, detik demi detik berlalu hingga matahari pun mulai tenggelam El masih sibuk dengan laptopnya.
Waktu menunjukkan pukul 21:00 namun masalah yang sedang di hadapi Elang masih belum menemukan solusinya, cukup lelah ia bekerja seharian hingga akhirnya El merebahkan tubuhnya di sebuah sofa sampai terlelap.
"Maaf tuan mengganggu..."
"Sssttt..." Vale menaruh telunjuk di bibirnya mengisyaratkan agar Beichen tidak berisik.
"Maaf nona."
"Katakan ada apa?"
"Besok saja saya bicara dengan tuan El, permisi."
Karena penasaran, Vale membuka laptop Elang dan melihat beberapa data mengenai masalah yang sedang di hadapi perusahaannya. Ia manggut-manggut meski tidak sepenuhnya memahami akar dari masalah tersebut.
Drrtt... drrtt... ponsel El kembali berdering, melihat nama yang tertera dalam layar ponsel tersebut membuat Valeri menerimanya untuk mewakili Elang.
"El, kita tidak punya waktu lagi kamu harus menerima permintaan om Marvel, segera ambil keputusan untuk menyelamatkan perusahaan, papa tau ini semua begitu mendadak tapi kita tidak punya pilihan lain papa harap kamu ngerti."
Vale hanya terdiam mendengar apa yang di katakan Joe tanpa menyauti nya sedikit pun.
***
Bersambung. . .
sukses
semangat
mksh