Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelaki yang Kehilangan Segalanya
Flashback ❤️
Sebelum Ayana mengenal Angga sebagai lelaki yang selalu terlihat tenang, Angga adalah seseorang yang pernah menjalani hidup dengan perasaan bahwa tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Seseorang yang pernah memiliki banyak hal, lalu kehilangan semuanya satu demi satu.
Ayana tidak pernah benar-benar tahu seberapa dalam luka yang pernah dimiliki Angga. Lelaki itu jarang bercerita tentang masa lalunya. Bukan karena ingin menyembunyikannya, tetapi karena ada beberapa kenangan yang terasa terlalu berat untuk disentuh kembali. Dan Ayana mengerti akan hal itu. Ia tidak pernah bertanya sebelum Angga sendiri yang menceritakannya. Dan salah satu nama yang selalu berada di dalam kenangan itu adalah Rara.
Bertahun-tahun lalu, Angga masih menjadi lelaki yang berbeda. Saat itu ia memiliki pekerjaan yang disukainya. Ia memiliki impian yang ingin dicapai. Dan yang paling penting, ia memiliki seseorang yang sangat dicintainya yaitu Rara.
Hubungan mereka dulu begitu sederhana. Mereka tidak membutuhkan tempat mahal untuk merasa bahagia. Secangkir kopi di kedai kecil sudah cukup untuk membuat mereka betah berlama-lama. Berjalan berdua tanpa tujuan juga bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Bahkan ketika hujan turun dan mereka hanya duduk diam di dalam mobil, Angga tetap merasa waktu yang mereka habiskan bersama adalah sesuatu yang berharga.
Pada masa itu, Angga percaya bahwa Rara adalah perempuan yang akan menemaninya sampai tua. Ia pernah membayangkan rumah kecil untuk mereka. Pernikahan sederhana dan anak-anak yang akan berlari di halaman rumah kecil itu. Kehidupan yang mungkin tidak mewah, tetapi penuh dengan rasa saling memiliki.
Angga tidak pernah berpikir bahwa semua bayangan tersebut bisa hilang hanya karena satu keputusan. Namun cinta ternyata tidak selalu membuat dua orang memilih jalan yang sama.
Rara mulai merasa lelah dengan kehidupan mereka. Ia lelah hidup sederhana. Lelah menunggu Angga berhasil. Lelah mendengar kata nanti setiap kali mereka membicarakan masa depan.
Angga sebenarnya sedang berusaha. Ia hanya membutuhkan waktu. Sayangnya, waktu yang dibutuhkan Angga tidak sama dengan waktu yang sanggup ditunggu Rara.
Sampai suatu malam, Rara akhirnya mengatakan bahwa ia tidak bisa terus menunggu. Angga masih mengingat malam itu dengan jelas. Mereka duduk berhadapan. Mata Rara terlihat basah, sementara Angga masih berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Kalau aku bekerja lebih keras?” Angga masih mencoba mencari jalan keluar. Tangannya menggenggam jemari Rara, seolah dengan begitu perempuan itu tidak akan benar-benar pergi.
Namun Rara hanya menggeleng. “Aku sudah menunggu sangat lama.”
“Aku akan berjuang lebih keras lagi, Ra.” Angga masih masih belum melepaskan tangan Rara, bahkan ketika gadis itu sudah memutuskan untuk menyudahi perjuangan mereka.
“Bukan itu masalahnya, Angga.” Rara menundukkan wajahnya. Air mata jatuh sebelum akhirnya ia mengusapnya dengan cepat. “Aku ingin hidup yang berbeda.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi bagi Angga, kalimat tersebut seperti akhir dari semua rencana yang pernah mereka buat bersama. Malam itu, Angga pulang sendirian. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang masih sangat ia cintai. Ia tidak marah kepada Rara, juga tidak membenci gadis itu. Ia hanya tidak mengerti bagaimana seseorang yang dulu begitu yakin ingin bersamanya, akhirnya bisa memilih kehidupan yang tidak melibatkannya lagi.
Beberapa bulan setelah Rara pergi, hidup Angga semakin sulit. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan dan namanya termasuk di dalam daftar tersebut. Ia kehilangan pekerjaannya.
Awalnya Angga mencoba menganggap semuanya sebagai bagian dari kehidupan. Ia masih percaya bahwa selama dirinya mau berusaha, ia bisa mendapatkan pekerjaan lain.
Namun kenyataan ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Lamaran pekerjaan dikirim ke banyak tempat. Sebagian tidak pernah mendapat jawaban. Sebagian lainnya memberikan penolakan.
Hari-hari Angga mulai berubah. Dulu ia bangun dengan tujuan yang jelas. Sekarang ia bangun hanya karena malam telah berakhir. Ia mulai mengurangi pengeluaran. Makanan yang dulu sering dibelinya mulai ditinggalkan. Ia juga berhenti bertemu dengan teman-temannya karena tidak ingin menjawab pertanyaan tentang pekerjaannya.
Ada rasa malu yang perlahan tumbuh di dalam dirinya. Bukan karena kehilangan pekerjaan. Tetapi karena ia merasa gagal. Ia pernah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi lelaki yang mampu membangun masa depan bersama wanita yang ia cintai.
Namun sekarang, untuk dirinya sendiri saja, ia merasa tidak mampu memberikan apa-apa. Saat hidupnya belum sempat kembali membaik, kabar lain datang. Ibunya mengalami kecelakaan. Telepon dari rumah sakit membuat tubuh Angga terasa dingin. Ia bahkan tidak benar-benar mengingat bagaimana dirinya sampai di rumah sakit. Yang ia ingat hanya lorong panjang, bau obat, dan beberapa orang yang berbicara kepadanya dengan suara pelan.
Ketika Angga sampai, semuanya sudah terlambat. Ibunya telah pergi meningalkannya ke tempat yang sangat jauh. Tidak ada kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Tidak ada kesempatan untuk mengatakan bahwa ia masih berusaha. Tidak ada kesempatan untuk mengatakan bahwa suatu hari nanti ia akan membuat ibunya bangga.
Angga berdiri di depan ruang perawatan dengan tubuh yang terasa kosong. Ia tidak lagi menangis. Kesedihan yang terlalu besar terkadang justru membuat seseorang tidak mampu melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri sambil menatap pintu di hadapannya.
Pekerjaannya sudah hilang, Rara sudah pergi. Dan sekarang ibunya juga sudah tidak ada di dunia ini.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Angga benar-benar merasa sendirian. Malam itu, ia pergi ke sebuah taman.
Hujan baru saja berhenti. Beberapa bangku terlihat masih basah, tetapi Angga tetap duduk di salah satunya. Tangannya menggenggam ponsel. Layar benda itu beberapa kali menyala, tetapi tidak ada satu pun nama yang ingin ia hubungi.
Dulu, ketika merasa lelah, ia bisa menelepon ibunya. Ketika ingin bercerita, ia bisa menghubungi Rara. Sekarang kedua orang itu tidak lagi berada di sisinya.
Angga menatap jalanan yang mulai sepi. Orang-orang berjalan menuju rumah masing-masing. Lampu kendaraan bergerak melewati jalan di depannya. Semua orang terlihat seperti memiliki tempat untuk pulang. Sementara Angga bahkan tidak tahu harus pergi ke mana.
Untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan muncul di dalam kepalanya. Untuk apa aku terus berjalan? Pertanyaan itu membuatnya takut. Bukan karena ia menemukan jawaban, justru karena ia tidak menemukan apa pun.
Angga menundukkan kepala. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam sampai seseorang datang dan berhenti tidak jauh darinya. Seorang gadis berhenti tepat di hadapannya.
Ayana.
Saat itu Ayana belum mengenal laki-laki yang terlihat menyedihkan itu. Ia tidak tahu siapa Angga. Tidak tahu apa yang sedang dialami lelaki itu. Ia juga tidak tahu bahwa beberapa jam sebelumnya Angga baru saja kehilangan ibunya.
Ayana hanya melihat seorang lelaki yang tampak terlalu lelah. Mungkin karena merasa kasihan, mungkin juga karena memang ada sesuatu dari wajah Angga yang membuatnya ingin berhenti sebentar.
“Mas.” Ayana berdiri beberapa langkah di depan Angga.
Angga mengangkat wajahnya. “Kenapa?”
Ayana tidak langsung menjawab. Ia justru menunjuk bangku di sebelah Angga. “Kalau saya duduk di sini boleh?”
Angga mengangguk kecil. Ayana kemudian duduk di sana. Anehnya, perempuan asing itu tidak bertanya banyak. Ia tidak menanyakan kenapa Angga sendirian. Tidak memaksanya bercerita. Tidak juga mengatakan bahwa semua masalah pasti akan segera selesai.
Mereka hanya diam dan duduk berdampingan. Namun bagi Angga, diam bersama seseorang ternyata terasa berbeda dengan kesepian. Beberapa menit kemudian, Ayana berdiri. Sebelum pergi, ia sempat menatap Angga.
“Kadang orang tidak perlu langsung menemukan jalan keluar.”
Angga menatapnya. “Maksudnya?”
Ayana tersenyum kecil. “Cukup bertahan sampai besok dan terus melaluinya. Setelah mengatakan itu, Ayana pergi. Tidak ada perkenalan nama yang ditinggalkan juga tidak ada nomor telepon dan tidak ada janji untuk bertemu lagi. Namun, kalimat sederhana itu justru terus berada di kepala Angga.
Cukup bertahan dan terus melaluinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Angga memikirkan hari esok. Bukan karena tiba-tiba semua masalahnya selesai. Bukan pula karena ia langsung memiliki harapan besar. Hanya karena ada seseorang yang mengingatkannya bahwa mungkin tidak apa-apa jika hari ini ia belum menemukan jalan.
Hari berikutnya, Angga kembali mencari pekerjaan. Hari-hari setelahnya ia terus berusaha. Perlahan, kehidupannya mulai kembali membaik. Dan tanpa pernah benar-benar ia sadari, Ayana menjadi bagian dari proses itu.
Hubungan mereka tumbuh dengan sederhana. Tidak ada awal yang terlalu istimewa dan tidak ada janji besar. Hanya dua orang yang perlahan saling mengenal.
Ayana mengenal Angga sebagai lelaki yang selalu berusaha terlihat kuat. Sementara Angga mengenal Ayana sebagai perempuan yang tidak pernah memaksanya menceritakan hal-hal yang belum siap ia ceritakan.
Bertahun-tahun kemudian, Angga masih mengingat masa lalu itu. Rara adalah perempuan yang pernah ia cintai. Perempuan yang pernah menjadi bagian dari rencana hidupnya.
Namun Ayana adalah perempuan yang datang ketika hidupnya sudah tidak lagi memiliki arah. Ayana tidak menyelamatkannya dengan cara yang besar. Wanita itu hanya pernah duduk di sampingnya ketika ia merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Ayana tidak menarik Angga keluar dari kesedihan. Ia hanya menemaninya Angga sampai lelaki itu menemukan keberanian untuk berdiri kembali. Mungkin karena itu pula Ayana memiliki tempat yang begitu dalam di hati Angga.
Sayangnya, hidup tidak pernah benar-benar membiarkan masa lalu tinggal di masa lalu. Rara kembali. Dan meskipun Angga sudah memiliki kehidupan baru, ia tidak bisa begitu saja mengabaikan seseorang yang pernah menjadi bagian penting dari hidupnya. Ia tidak menyadari bahwa setiap kali dirinya berlari untuk membantu Rara, ada satu perempuan lain yang diam-diam mulai merasa semakin jauh darinya.
Ayana.
Perempuan yang dulu menemukan Angga ketika lelaki itu kehilangan segalanya. Perempuan yang pernah menjadi tempat Angga belajar kembali tentang kehidupan.
Dan sekarang, tanpa disadari oleh Angga, Ayana mulai merasa takut. Bukan karena Angga berhenti mencintainya. Tetapi karena untuk pertama kalinya, Ayana mulai merasa bahwa cinta saja mungkin tidak cukup jika seseorang terus-menerus memberikan tempatnya kepada orang lain.
Emak akan memberi 5 bintang jika Angga benar-benar hancur
slah sndiri lbh memilih memungut smpah masa lalu....
mna g sadar diri... egois.... maunya sll di mngerti... tpi tak mau mngrti org lain....
harusnya km sadar angga.... perempuan yg dlu mninggalknmu... tk akn mngkin brubah.... dan mau mnemanimu di saat susahmu....
lihatlah skrg.... disaat km butuh suport & butuh ktenangan.... masa lalumu tak prnah mau mngrti keadaanmu... tak peduli dgn smua msalahmu... krna dia maunya sll km yg harus mngerti dia....