NovelToon NovelToon
Pilihan Hati

Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Inisial EY

"Aku milih kamu."

"Tapi kita berbeda, Tuan."

"Berbeda?" Arnold mengernyitkan dahinya heran, pasalnya gadis di depannya ini dari kasta yang setara dengannya. "Apanya yang berbeda?"

"Agama." lirih Arini dengan menggelengkan kepalanya, "agama kita berbeda, Tuan."

"Gampang! Aku bisa mengikuti agamamu kalau kamu mempersoalkan itu."

Ikuti perjalanan kisah beda agama antara Arini dan Arnold ya readers, apakah mereka akhirnya bisa menikah? atau itu hanya angan-angan seorang Arnold saja? Dan apa sebenarnya motif Arnold memilih Arini untuk menjadi istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inisial EY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilamar 'Lagi'

Jam merujuk pukul delapan malam, Arnold ditemani Bagas beserta Madam Sinta datang ke mansion Chandra untuk melamar Arini menjadi istrinya.

Kedua orang tua Arnold tidak ikut karena mendadak Mom Celia sakit perut dan meminta Dad Graham menemaninya ke rumah sakit.

"Pak Chandra." sapa Madam Sinta sembari menjabat tangan Chandra.

"Nyonya Sinta," Chandra balas menjabat lalu mempersilahkan mereka untuk duduk.

Arah tatap Chandra membuat Bagas sedikit salah tingkah, namun laki-laki yang pernah mendatanginya dan meminta keponakannya untuk menjadi calon istrinya itu terlihat tidak bersedih sedikitpun dan itu membuat Chandra mengangguk-anggukkan kepalanya.

Laki-laki yang pernah menjabat sebagai dosen itu tau jika raut tersebut menandakan kepalsuan yang begitu kentara.

"Pak Chandra. Saya datang kesini karena mau melamar Arini menjadi calon istri saya." tegas Arnold to the point sembari memegang jasnya.

"Saya sudah mendengar dari Arini jika Anda memang ingin melamarnya. Tapi, jika saya boleh bertanya, ini lamaran sungguhan apa lamaran kepalsuan?" Chandra menarik napasnya begitu dalam, "Keponakan saya bukan barang atau mainan. Tentu, saya sebagai Uncle-nya tidak akan terima jika ada yang menyakiti hatinya." ujarnya yang tentu mengarah pada Arnold, tapi tidak bisa untuk tidak menyindir Bagas.

Laki-laki yang menjabat sebagai asisten pribadi Arnold itu harus tau betapa berharganya Arini di mata keluarganya.

"Sungguhan, Pak. Saya bersungguh-sungguh mau melamar Arini menjadi calon istri saya."

Chandra mengangguk-anggukkan kepalanya lagi, "Baiklah." Chandra lalu mendongak, menatap ke atas tangga di mana Arini yang ditemani Devano dan Delima tengah menunggu keputusannya. "Arini, kemarilah, Nak."

Arnold tersenyum sinis menatap Arini yang dandan begitu cantik dengan kebaya dan hijab senada berwarna burgundy untuk menyambut lamarannya.

Terpesona? Tentu tidak, Arnold hanya ingin mendapatkan istri, bukan wanita yang mengisi relung hatinya.

Hatinya sudah mati dan ia yakin tidak akan ada yang bisa kembali menghidupkan hatinya.

"Arini Abimana." Chandra menoleh pada keponakannya yang kini duduk di sampingnya, "di depanmu ini ada laki-laki yang melamarmu dan pernah melamarmu. Apa kamu benar-benar yakin mau menerima lamaran Arnold setelah kamu disakiti dan dibohongi oleh asisten pribadinya?"

"maksud Anda apa, Pak Chandra?" Madam Sinta bertanya, karena dari semua orang, Oma Arnold sendirilah yang tidak tau menahu hal ini.

"Asisten pribadi Arnold pernah melamar keponakan saya dua Minggu yang lalu, Nyonya. Dia bahkan mengajak kedua orangtuanya dan hampir sebagian kerabatnya untuk meminang keponakan saya." Chandra menarik napasnya begitu dalam untuk meluapkan kekecewaannya pada Bagas, "Saya sebagai Uncle-nya, sebenarnya tidak boleh seperti ini. Tapi saya tidak bisa untuk tidak sakit hati, mengingat lamaran itu diadakan baik-baik, dan seharusnya pembatalan lamaran pun dilakukan baik-baik bukan sepihak seperti yang dilakukan olehnya."

Chandra mengangkat tangannya saat Madam Sinta hendak berbicara, "dan pembatalan lamaran itu baru tadi siang, dan malamnya keponakan saya dilamar oleh bosnya. Apa keponakan saya dianggap tidak punya hati? Keponakan saya punya hati dan ia berhak memilih untuk menerima atau menolak lamaran Arnold."

"Pak Chandra, tolong maafkan Bagas dan Arnold yang seperti memainkan perasaan keponakan Anda." Madam Sinta berujar penyesalan.

"Saya maafkan." Chandra kembali menatap Arini, "Bagaimana, Nak? Apa kamu benar mau menerima lamaran Arnold?"

"Iya. Arini menerimanya, Uncle."

"Apa kamu mencintainya?" Chandra bertanya lagi yang dijawab tatapan datar semi sendu oleh Arini, "Akan diusahakan, Uncle."

"Baiklah, karena Arini menerima, Saya sebagai Uncle-nya hanya bisa merestui." ujar Chandra yang membuat Madam Sinta tersenyum lega.

Seenggaknya cucu kesayangannya tidak ditolak oleh gadis pilihan yang sudah membuat Arnold berpindah agama dan menentang Mom-nya.

****

Pagi menuju siang, Arini sebagai reporter beserta tim yang turun ke lapangan sedang bersiap untuk menghadiri undangan peluncuran produk baru oleh Diamond Grup.

Berita terbaru tentang perusahaan terbesar di Asia Tenggara itu tentu sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh warga Indonesia dan kantor redaksi Arini tidak boleh ketinggalan cepat meng-update.

"Ibu Eve tidak ikut, Bu?" tanya Dimas selaku fotografernya.

"Tidak! Eve ada kerjaan." jelas Arini sembari melirik sekilas Dimas yang duduk di kursi belakang mobilnya.

Beberapa menit perjalanan, sampailah mereka di perusahaan Diamond Grup dan sudah banyak wartawan dari kantor redaksi lain yang siap meliput padahal peluncuran produk baru itu akan berlangsung dua jam lagi.

Tidak lupa Arini dan timnya pun menulis di notebook yang dibawanya untuk menulis apa saja pertanyaan yang mau diajukan, dan notebook kecil pun ia siapkan di tangan beserta pena untuk mencatat apa saja yang akan ia dapatkan nanti.

ID card persnya pun tidak ketinggalan ia kalungkan di leher sebelum masuk ke dalam Diamond Grup.

Arini dan tim beserta wartawan lainnya bersiap-siap setelah para petinggi Diamond Grup memasuki ruang pers di mana produk baru itu akan diperkenalkan.

"Selamat datang di peluncuran produk baru Diamond Grup." Jessica membuka peluncuran produk baru perusahaannya dengan senyum lebar seraya matanya terus menatap ke kanan dan ke kiri bergantian menatap para wartawan yang meliput.

Arini yang kebetulan duduk di pojok sebelah kanan pun tak luput dari arah tatap Jessica dan membuat wanita cantik berambut coklat itu mengepalkan tangannya secara tiba-tiba.

Jessica tidak terima dan benci terhadap Arini karena Arini yang dipilih Arnold di pesta ulang tahun Arnold beberapa hari yang lalu, laki-laki yang dicintainya.

"Oke! Sebelum saya memperkenalkan produk baru perusahaan saya, Saya mau memilih dari kantor redaksi mana saja yang boleh meliput." sisi egois Jessica muncul dan itu membuat Papanya kaget.

"Jess! Dari dulu perusahaan kita tidak pernah memilih kantor redaksi yang boleh meliput. Mereka semua satu, jangan seperti ini, Sayang." Raka Bramantyo, Pemilik Diamond Grup juga Papa Jessica menegur dengan pelan tepat di telinga putri tercintanya.

"Tapi Pa! Kita sebagai pemilik perusahaan tentu sangat berhak memilih." sanggah Jessica tidak terima karena ia ingin sekali menghempaskan Arini dari perusahaannya.

"Itu kalau acaranya private dan kita hanya mengundang salah satu apa dua kantor redaksi, Sayang. Tapi ini undangan umum, jangan permalukan perusahaan Papa dan membuat saham perusahaan Papa nilainya turun."

"Oke! Demi Papa, aku nurut." Jessica menekan segala egonya lalu mulai memperkenalkan produk barunya walaupun ada salah satu wartawan yang bertanya kenapa tidak jadi memilih siapa saja yang boleh meliput.

Setelah perkenalan produk baru itu selesai, para wartawan pun boleh mengajukan pertanyaan dan kebetulan Arini lah yang mengangkat jari telunjuknya terlebih dahulu namun langsung ditolak dengan keras oleh Jessica, "Saya tidak menerima pertanyaan dari Anda."

"Jess!" tegur Raka kembali namun tidak dihiraukan oleh Jessica, sudah cukup ia mengalah tadi.

Arini terperangah kaget saat Jessica menolak mentah-mentah dirinya yang mau bertanya. Ia merasa belum pernah menyakiti pewaris Diamond Grup itu dan ia pun belum pernah merasa mengenalnya.

Namun, kenapa Jessica bersikap seolah-olah tengah memusuhinya? Apa salahnya pada Jessica? Batin Arini bertanya-tanya namun hanya diam yang bisa ia perbuat karena sedang di ranah umum, dan semua sedang meliput.

"Ada lagi yang mau bertanya? Kalau yang lain bertanya boleh, akan saya jawab. Tapi kalau khusus dia, tidak ada sesi tanya jawab." Jessica lebih memperjelas yang membuat seluruh wartawan bingung namun juga cepat-cepat menulis berita terbaru yang mereka yakini akan menjadi trending topik hari ini.

"Nona Jessica--" Arini ingin bertanya ada masalah apa antara dirinya dengan Jessica, namun baru saja ia menyebut nama pewaris Diamond Grup itu, Jessica langsung mengangkat tangannya menyela, "Saya sudah bilang, tidak ada tanya jawab dengan dia." tegasnya lagi yang membuat Arini menggelengkan kepala dan Raka segera mengambil alih peluncuran produk baru perusahaannya dari tangan anak gadisnya.

Arini pun akhirnya bisa melakukan sesi tanya jawab dengan Raka bergantian dengan para wartawan lainnya dan mengabaikan Jessica yang duduk sembari mendengus sebal pada Arini.

Bersambung...

1
Inisial EY
Hai-hai readers, ini kisah tentang Arini anak jennifer ya, kalau kalian pengen tau siapa Arini, kalian boleh baca novel aku sebelumnya yang judulnya "JANDA ITU ISTRIKU" oke.. makasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!