Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?
Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.
Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Jagabaya Kasapin
Jika para keturunan penyihir itu disebut Dekekuoi oleh para pemburu karena desa mereka berasal sejak nenek moyang, maka para pemburu di setiap negara disebut dengan julukan berbeda. Kalau di sini, mereka disebut Jagabaya Kasapin.
Para pemburu ini kaya raya, mereka selalu diberkati.
Bukan hanya dalam bentuk umur panjang atau keberuntungan, tetapi juga dalam kehidupan yang nyaris tidak pernah kekurangan. Kekayaan mereka telah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, terus bertambah, hingga tidak seorang pun dari keluarga biasa mampu membayangkan seberapa besar harta yang sebenarnya mereka miliki.
Tanah menjadi salah satu sumber kekayaan terbesar mereka.
Di berbagai daerah, para pemburu memiliki perkebunan luas, hutan pribadi, vila, rumah peristirahatan, hingga tanah yang sengaja dibiarkan kosong. Sebagian besar properti itu tidak pernah muncul dalam daftar kepemilikan yang mudah ditemukan. Semuanya diwariskan melalui keluarga dan dijaga oleh aturan yang hanya dipahami oleh para pemburu.
Mereka juga memiliki rumah-rumah besar yang tidak sekadar berfungsi sebagai tempat tinggal.
Rumah utama keluarga Jagabaya Kasapin biasanya dibangun seperti perpaduan antara rumah bangsawan Eropa dan rumah keluarga tua Nusantara. Pilar-pilar tinggi menghiasi bagian depan bangunan, sementara ukiran kayu gelap terdapat pada pintu, tangga, dan beberapa bagian dinding. Lampu-lampu kristal menggantung dari langit-langit tinggi. Karpet tua terbentang di sepanjang lorong.
Di dalam rumah mereka terdapat lukisan para leluhur.
Sangat banyak.
Beberapa lukisan bahkan telah berusia ratusan tahun.
Wajah-wajah dalam lukisan itu tampak serius, mengenakan pakaian dari zaman yang berbeda. Ada yang mengenakan pakaian bangsawan Eropa, ada pula yang mengenakan busana tradisional Nusantara. Semuanya memiliki satu kesamaan. Mereka adalah pemburu!
Kekayaan keluarga itu juga terlihat dari benda-benda yang mereka simpan.
Perhiasan tua, jam saku buatan tangan, pedang, keris, senjata pusaka, porselen kuno, buku-buku langka, hingga benda-benda yang tidak pernah dijual di pasar biasa memenuhi ruangan khusus milik keluarga.
Bahkan beberapa benda tersebut nilainya tidak dapat dihitung dengan uang.
Mereka juga memiliki perusahaan, hotel, perkebunan, rumah sakit, restoran, perusahaan ekspor dan impor.
Bahkan beberapa keluarga memiliki saham di perusahaan-perusahaan besar yang namanya dikenal masyarakat luas.
Namun, mereka tidak pernah suka memamerkan kekayaan, bagi para pemburu, kekayaan hanyalah alat.
Dengan uang, mereka bisa membeli tanah yang diperlukan untuk membangun tempat perlindungan. Mereka bisa membiayai perjalanan ke negara lain ketika ada laporan mengenai penyihir. Mereka bisa membeli benda-benda kuno sebelum jatuh ke tangan orang yang salah.
Dan yang paling penting, mereka bisa menjaga rahasia.
Sebab kehidupan para pemburu tidak pernah benar-benar sederhana.
Di balik pakaian mahal, rumah megah, mobil mewah, dan jam tangan yang harganya bisa membeli sebuah rumah, mereka memiliki kewajiban yang diwariskan bersama nama keluarga.
Mereka harus memburu, mereka harus menjaga keseimbangan, mereka harus memastikan bahwa para penyihir yang menggunakan kekuatan untuk mencelakai manusia tidak berkembang terlalu jauh.
Itulah sebabnya kekayaan mereka selalu dianggap sebagai bagian dari berkah, semakin kuat garis keturunan seorang pemburu, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikulnya.
Tidak semua orang mampu menjadi Jagabaya Kasapin, tidak semua orang sanggup menjalani kehidupan mereka, karena di balik kemewahan yang membuat orang lain iri, terdapat sebuah dunia yang tidak pernah diketahui manusia biasa.
Dunia yang dipenuhi darah, kutukan, perjanjian lama, dan rahasia keluarga. Para pemburu telah hidup di dalam dunia itu selama berabad-abad. Mereka tidak pernah menganggapnya sebagai pekerjaan, Bagi mereka, menjadi pemburu adalah warisan.
Dan bagi Jagabaya Kasapin, kewajiban itu tidak boleh berhenti hanya karena satu generasi telah berakhir, Sebab selama masih ada penyihir yang mengancam manusia, akan selalu ada seorang Kasapin yang berdiri untuk memburu mereka.
…
“Makanmu sedikit sekali ada apa?” Bapak Huron bertanya, dia adalah ayahnya Dani.
“Tidak ada apa-apa.” Ibunya tidak mau ada keributan saat makan malam.
“Bukankah kau baru saja menangkap seorang gadis kecil penyihir? Kau ingin hadiah?” Lelaki tua yang sangat tua tapi tidak terlihat setua itu bertanya.
“Tidak terima kasih, lagi pula itu tangkapan pertamaku selama berpuluh tahun ini.”
“Ya, kita harusnya senang kan Dan, tidak lagi banyak Dekekuoi di negara ini.”
“Dia sudah dibakar, kau kan tahu, mereka itu penuh tipu daya, karena kalau tidak dihabisi mereka bisa menipu kita, bukankah kau tahu tentang keluarga Ramon yang dibantai oleh para Dekekuoi itu?”
Dani terdiam, dia kembali mengingat kejadian itu.
Keluarga Ramon adalah kerabat jauh, mereka tinggal di pedesaan karena suka udara di sana, selain itu, tentu saja, mereka juga tahu kalau ada desas-desus yang mengatakan kalau di desa itu ada seorang Dekekuoi.
Kepindahan mereka sempat ditentang ayahnya Dani, karena dia merasa Ramon dan keluarganya belum siap berburu, Dekekuoi bukan musuh yang mudah dihabisi, jika satu saja membuat kewalahan mana tahu jumlah di desa itu banyak dan Sila keluarga Ramon tidak setinggi itu sebagai keluar dengan kelas yang rendah.
Sila adalah energi kehidupan yang mengalir dalam tubuh, baik Jagabaya Kaspin dan Dekekuoi memilikinya, energi itu sama, tapi berbeda tujuan.
TAHUN 1965
“Kau tahu di saat panas seperti ini kita punya keuntungan yang besar.” Pak Ramon berkata pada Huron ayahnya Dani, dia dan istrinya datang ke desa itu karena dikirim pesan untuk segera datang, sedang Dani masih di rumah, Huron tidak ingin Dani ikut pertarungan ini.
“Tapi jika kita menampakkan diri saat ini, artinya, mereka ketahuan, kita juga ketahuan Ramon. Kau tahu kan, sejak kepindahanmu 2 tahun lalu, aku selalu was-was, migrasi kita belum sepenuhnya berhasil, kerabat kita tidak sebanyak Dekekuoi yang tinggal di negara ini.
Seharusnya kita menunggu lebih lama lagi. Dengan begitu, kita akan lebih siap membantai mereka.”
“Huron , kau ini selalu saja penuh kekhawatiran dan ragu, mereka memang penyihir, tapi sekali cabik habislah mereka. Apa yang kau takuti?
2 tahun lalu aku sudah tahu kalau pemerintah akan segera bergejolak, 9 tahun lalu Presiden mendirikan Nasakom, aku sudah tahu kalau cepat atau lambat Nasakom akan menjadi bom waktu, pembantaian di mana-mana akan terjadi begitu satu langkah saja salah satu dari perkumpulan itu mengambil langkah, kita bisa mengambil kesempatan.
Kau tahu kan, para penyihir pasti akan melindungi keluarga mereka, kita bisa pastikan, satu demi satu warga di desa ini yang mungkin adalah Dekekuoi melalui pembantaian besar-besaran.
Kemarin banyak Jenderal yang dibunuh oleh PKI, sekarang, PKI diburu oleh para jenderal, terdengar familiar kan Huron? Pasti, salah satu yang dibantai itu ada keluarga yang merupakan Dekekuoi, aku yakin, maka mereka akan selamat menggunakan kekuatan mereka, sekali mereka menunjukan kemampuan sihirnya, maka sekali itu juga kita cabik mereka.”
“Kalau tidak ada yang menunjukkan kekuatannya?”
“Kita bantai mereka semua sampai ada yang memperlihatkan, kau tahu kan, di era yang panas ini, kita bebas membantai orang dengan mengatakan kalau mereka anggota PKI, dengan begitu, kita takkan kesulitan menghapus jejak, kita hanya tinggal ikuti jejak para Jenderal yang memang memburu PKI, sedang kita memburu Dekekuoi.”
‘Idemu tidak buruk, tapi akan banyak korban tak bersalah yang tumbang.”
“Sudah kubilang si Huron ini selalu saja ragu-ragu, tentu saja di setiap perjuangan akan selalu ada korban, memang kau berharap apa pada peperangan saudara ini?”
“Aku tidak setuju.” Nyonya Huron berkata, sedang Nyonya Ramon hanya mendengar di sofa ruang tamu mereka, 4 anak keluarga Ramon juga ada di sana, para Jagabaya Kasipin yang sangat tangguh, jika dibanding dengan mereka, Dani sungguh hanya anak bawang yang belum paham teknik perburuan yang hebat.
“Kita tak perlu ikut campur nyonya Huron, biarkan kaum pria yang memutuskan.” Nyonya Ramon yang sedari tadi diam mendengar Nyonya Huron berbicara dia tidak ingin perempuan itu ikut campur.
“Kita memang hidup sudah sangat lama, tapi bukan berarti kepala kita juga menjadi kuno nyonya Ramon, ingatlah, setiap keberhasilan atas perburuan, selalu didampingi taktik dari kita para Ibu Kasipin. Lalu kenapa sekarang saya dilarang bicara?”
Secara level memang Nyonya Huron jauh di atas keluarga Ramon, makanya nyonya Huron tak segan bicara begitu karena perkataannya dipotong oleh keluarga bangsawan rendahan.
“Maafkan istri saya Nyonya Huron, silahkan anda kemukakan keberatan anda.” Ramon tahu kalau dia tak boleh sembarangan pada Nyonya Huron, meski dia sedari tadi selalu sarkas pada pak Huron karena mereka selevel secara kekeluargaan bangsawan Jagabaya Kasipin.
Ya! Pak Huron dan istrinya menikah beda level kebangsawanan, meski sempat ditentang oleh keluarga Nyonya Huron tapi karena mereka selalu memperjuangkan hubungan, akhirnya pernikahan itu disetujui meski awalnya sangat berat.
Jadi tak heran Ramon selalu bisa sarkas dan bicara seenaknya pada Huron tapi sopan pada Nyonya Huron, karena kasta tidaklah boleh dilewati.
“Aku tak ingin dia, dia, dia dan dia mati konyol, anak-anak kalian ini juga seharusnya di kota bersama kami, bukan di sini, belajar membangun bisnis, kita memang Jagabaya Kasipin, tapi selain berburu, kita juga punya kewajiban menjaga kekayaan yang sudah diwariskan turun temurun, selama mereka tidak berulah, kita tak perlu mencari. Kita sudah hidup layak selama ini kan?”
“Memang ibu Huron senang dengan kematian? Kau tahu dengan jelas jika kita tak menangkap mereka maka kita yang akan mati!”
“Jaga bicaramu!” Ramon berkata pada anaknya.
“Aku tidak salah kan? bukankah sejak dulu begitu? Kalau kita tak membantai mereka, maka kita yang akan dibantai bukan?” Anak Ramon tidak berhenti, dia terus bicara.
“Aku menyayangi kalian, tapi kalian tidak paham, terserah saja. Kita pamit, kami tak setuju dengan peperangan ini, kalian lakukan sendiri, keluarga Huron tidak bisa ikut mendukung dan mungkin para keluarga bangsawan Kasipin juga akan ikut mundur. Maaf.”
Nyonya Huron beranjak pergi dari rumah pedesaan Ramon dengan mobil milik mereka, ya, tentu saja mereka memilikinya meski itu adalah tahun 1965.
“Wanita itu memang selalu licik, dia tak ingin membantu tapi juga membuat banyak bangsawan Kasipin juga tak mau membantu kita, tapi tenanglah Pak, kalau kita berhasil membawa satu saja Dekekuoi, kita pasti akan langsung naik kasta.
Kita akan injak kepala perempuan brengsek itu, hanya karena keluarganya adalah keturunan bangsawan tingkat tinggi, bukan berarti dia bisa seenaknya, seangainya aku bisa bertemu para petinggi Jagabaya Kasipin, aku pasti akan membuat mereka memusuhi keluarga Huron, tapi tak apalah Pak, sekarang kita jalankan saja dulu rencana kita.”
Ibu Ramon yang tadinya terlihat diam dan terlihat tak ikut andil, sekarang bicara seolah dia juga ikut dalam rencana peperangan ini, munafik memang sepertinya adalah identitas keluarga itu.