Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.
Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.
Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Pengorbanan dibalas Pengepungan
"Semoga saja pengobatan ini benar. Kalau tidak benar dan kau mati... aku pasrah jika nanti kau menjadi sosok hantu yang terus menghantuiku seumur hidup, Tuan," ucap Vina tulus sambil berkomat-kamit memanjatkan doa.
Vina bangkit berdiri, meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku dan pegal. Langkah kakinya bergerak mendekati satu-satunya jendela kayu di gubuk tua itu. Saat mengintip ke luar melalui celah-celah papan yang renggang, ia mendesah pelan melihat rintik hujan yang masih menghantam bumi dengan brutal, ditemani kilatan petir yang sesekali menyambar.
"Apa badai ini akan berakhir esok pagi?" gumam Vina cemas.
Gadis itu menoleh, kembali melirik ke arah pria berseragam militer yang masih terpejam di sudut ruangan. Jantung Vina berdegup sedikit lebih kencang karena rasa risih yang mendadak menyerang benaknya. "Tidak baik jika seorang gadis yang belum menikah seperti aku berada dalam satu ruangan tertutup dengan seorang laki-laki asing semalaman."
Merasa tidak nyaman, Vina melangkah menuju pintu gubuk. Ia memegang pegangan kayu kuno itu dan mencoba mendorongnya. Namun, daun pintu itu terasa sangat berat dan susah untuk digerakkan, seolah ada sesuatu yang menahannya dari luar.
Vina mengerutkan dahi, mencoba mendorong sekali lagi dengan bahunya. Nihil. "Apa karena tekanan angin badai di luar, ya? Ditambah kayu gubuk ini juga sudah tua dan lapuk, jadi memuai dan susah untuk didorong?"
Setelah beberapa kali mencoba dan tetap gagal, Vina akhirnya menyerah. Ia mengembuskan napas pasrah, menyeka peluh di dahinya dengan lengan baju yang basah.
"Sudahlah. Hanya untuk malam ini," bisik Vina menenangkan hatinya sendiri. "Sebaiknya aku menjaga jarak saja di sini. Khawatir di esok hari ada beberapa orang kampung yang mendadak menemukanku dalam posisi yang salah paham."
Vina akhirnya memilih untuk duduk bersandar di dekat pintu kayu, melipat kedua lututnya ke dada untuk menghalau hawa dingin yang kian menusuk. Perlahan, rasa lelah yang teramat sangat setelah seharian mendaki gunung dan bertaruh nyawa di tengah badai mulai mengambil alih kesadarannya. Sepasang mata Vina yang berat akhirnya tertutup rapat, membawanya masuk ke dalam tidur yang lelap.
Vina sama sekali tidak menyadari, di tengah kehangatan gubuk yang samar dan badai yang perlahan mulai mereda menjelang fajar, pria di hadapannya kembali membuka mata.
Pria itu sebenarnya sudah terbangun sejak Vina mengunyah daun herbal yang pahit itu. Sepasang mata elangnya yang tajam kini bergerak lurus, memandangi sosok gadis desa yang tertidur pulas di dekat pintu. Kamar gubuk yang remang-remang justru membuat garis wajah Vina terlihat begitu lembut di matanya.
"Aku baru memerhatikan wajah gadis ini dengan jelas," batin pria itu. Dada sang perwira berdesir aneh saat menatap bulu mata lentik Vina yang bergetar halus dalam tidurnya. "Ternyata... dia sangat cantik untuk ukuran seorang anak kampung yang hidup di perbatasan."
Namun, bukan hanya paras Vina yang mengusik ketenangan pria itu. Ada perasaan asing yang mendadak menghentak sanubarinya. "Tapi... apa aku mengenalnya? Kenapa aku merasa wajahnya begitu familiar? Wajah polos itu mirip dengan seseorang yang selalu hadir di dalam mimpiku sejak kecil. Tapi, aku baru pertama kali ini tersesat di daerah terpencil ini."
Pria itu menggelengkan kepalanya perlahan, mencoba mengusir debaran aneh di jantungnya yang berdegup tak beraturan. Ia mulai menggerakkan tubuhnya dengan hati-hati. Memang masih ada rasa sakit yang berdenyut di daerah perut dan kaki kanannya, tetapi rasa sakit itu jauh lebih mendingan daripada sebelumnya. Denyut beracun yang tadi membakar darahnya kini mereda.
Pria itu menunduk, menatap gumpalan daun hijau yang menempel di atas luka perutnya. Sudut bibirnya berkedut tipis, mengulas senyuman yang sangat samar. "Gadis ini... cara mengobatinya memang bodoh dan asal-asalan. Tapi entah bagaimana, ini berhasil."
Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaga dan ketahanan fisik militernya, pria itu mencoba berdiri. Ia bertumpu pada dinding gubuk, menahan ringisan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Vina. Tangan kekarnya meraih jas militer hijau tuanya yang tergeletak di lantai tanah. Di bagian dada jas tebal itu, tertera emblem nama yang disulam dengan benang emas tegas "Radit Laksmana".
Sambil menahan rasa pening, Radit melangkah tertatih-tatih mendekati Vina. Namun, begitu ia berjongkok di depan gadis itu, alisnya langsung bertaut erat. Ia bisa mendengar napas Vina yang terengah-engah pendek, dan kedua pipi gadis itu tampak merona merah yang tidak wajar.
Radit mengulurkan punggung tangannya, menyentuh kening Vina dengan lembut. Detik itu juga, matanya membelalak.
"Dia demam," bisik Radit lirih.
Kulit Vina terasa sangat panas dan badannya sedikit menggigil. Saat jemari Radit menyentuh lengan Vina, ia baru menyadari bahwa pakaian yang melekat di tubuh gadis itu masih dalam kondisi basah kuyup. Gadis desa ini Ternyata jatuh sakit dan membiarkan tubuhnya kedinginan semalaman pasti karena nekat menerobos hujan badai yang ekstrem demi mencari ramuan herbal untuk menyelamatkan nyawanya.
Rasa kagum dan utang budi di dalam diri Radit kini bercampur menjadi satu rasa protektif yang amat besar. Seseorang yang sekecil dan serapuh ini telah mempertaruhkan nyawa untuknya tanpa pamrih.
"Sepertinya aku harus membalas budi dengan membawanya turun ke pemukiman warga sekarang. Siapa tahu keluarganya sedang cemas mencari dirinya," gumam Radit dengan nada tegas yang tak terbantahkan.
Tanpa memedulikan rasa perih di tubuhnya sendiri, Radit memakaikan jas militer tebal miliknya ke tubuh kecil Vina, membungkus gadis itu agar terlindung dari sisa angin dingin. Setelah itu, dengan gerakan perlahan namun pasti, Radit menyusupkan lengannya dan mengangkat tubuh Vina, menggendong gadis itu di atas punggung tegapnya.
Akh!
Radit mengatupkan rahangnya rapat-rapat saat rasa sakit kembali menjalar hebat di kaki kanan yang terluka dan perutnya yang robek. Keringat dingin kembali bercucuran di pelipisnya karena menahan beban. Namun, sang perwira mengabaikan rasa sakit itu. Genggamannya pada tubuh Vina justru semakin mengerat, memastikan gadis itu aman dalam dekapannya.
Dengan langkah yang diseret pincang namun tetap gagah, Radit mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendobrak pintu kayu gubuk tua yang sempat macet. Begitu pintu terbuka, udara fajar yang bersih langsung menyambut mereka. Badai telah sepenuhnya reda, menyisakan kabut tipis yang mengambang indah di antara pepohonan gunung.
Radit mulai berjalan turun menyusuri jalan setapak, membawa Vina kembali menuju pemukiman warga setempat. Kepala Vina yang terasa panas terkulai pasrah di ceruk leher Radit, mengembuskan napas hangat yang beraturan. Setiap langkah pincang yang diambil Radit terasa begitu berat, namun entah mengapa, kehangatan tubuh Vina di punggungnya membuat sang perwira merasa medan perang sedingin apa pun mampu ia lalui.
Namun, baru saja langkah kaki Radit menyentuh perbatasan gerbang bawah desa, keheningan fajar itu mendadak pecah. Suara gaduh langkah kaki banyak orang terdengar mendekat dengan tergesa-gesa dari balik kabut.
"Itu dia si anak sialan! Benar-benar tidak tahu malu, tidak pulang semalaman!"
Suara lengkingan tajam milik Nisa, ibu tiri Vina, mendadak menggema dengan sangat histeris, memimpin rombongan warga desa yang membawa obor untuk menyudutkan Vina tepat di depan mata semua orang!