Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Numpang Mandi
Bab 4
Numpang Mandi
"Mila! Mila!" teriak Arjun yang baru saja pulang dari nongkrong bersama teman-temannya. Saat masuk ke dalam rumah, dia melihat ibu dan adiknya tengah nonton tv sambil makan kuaci yang sampahnya berserakan di lantai.
"Kamu nyari siapa?" tanya bu Lisa, ibunya Arjun.
"Nyari istriku lah Ma, nyari siapa lagi!" kesal Arjun sambil meneriaki nama Mila.
"Udah deh Kak, berisik tau. Mau kakak teriak-teriak seribu kali pun dia nggak akan muncul!" potong Vio adik Arjun. Seketika Arjun mendekati Vio dengan tatapan memicing.
"Memangnya kemana Mila, kok kalian malem-malem di sini?" tanya Arjun penuh curiga.
"Tadi sih katanya lembur di kantor, tapi nggak tahu deh. Makanya kami di sini, biar kamu di rumah nggak kesepian," sambung bu Lisa.
Mendengar penjelasan dari keluarganya, Arjun pun mengangguk paham. Dia pun tak lagi mencari keberadaan Mila karena sudah tahu jawabannya dari sang ibu.
"Dek, buatin Kakak kopi!" perintah Arjun akhirnya yang ikut gabung makan kuaci bersama mereka.
"Ish! Buat sendiri lah. Memangnya aku babu di rumah ini," protes Vio tak ingin beranjak dari kursinya. Dia asik makan kuaci sambil senyum-senyum baca chat di hp nya.
"Kamu males banget sih jadi cewek. Gimana ntar kalo udah punya suami!" kesal Arjun.
"Ma... Bikinin dong," pinta Arjun dengan memelas pada bu Lisa.
"Huh! Dasar kamu ini, bikin kopi aja pake merintah orang tua!" kesal bu Lisa.
Bu Lisa pun akhirnya beranjak menuju ke dapur dengan sangat terpaksa. Padahal lagi asik nonton sinetron kesukaannya.
Sesampainya di dapur, bu Lisa membuka toples kopi dan menuangkannya ke gelas. Lalu meraih toples gula yang terasa ringan. Saat di buka tutupnya ternyata isinya tidak sampai seujung sendok.
Bu Lisa pun membuka lemari gantung yang berada tepat di atas kepalanya untuk mencari yang namanya gula. Tangan keriputnya meraba-raba isi di dalamnya namun dia tak menemukan apa pun selain hanya kresek bekas bahan-bahan yang di simpan.
"Arjun!" teriak bu Lisa memanggil putranya.
"Kenapa sih, Ma, teriak-teriak kayak di hutan aja," kesal Arjun.
"Gulanya mana, gimana Mama mau bikin kopi kalo gulanya nggak ada," ketus bu Lisa memperlihatkan toples kosong ke depan muka Arjun.
"Hmm, kan kemarin gula yang jadi stock di lemari itu Mama bawa pulang ke rumah. Udahlah, sana beli di warung sebelah mumpung masih buka," pinta Arjun yang tak mau pusing.
"Mana duitnya, sini." Bu Lisa menengadahkan tangannya ke hadapan Arjun.
Arjun berdecak kemudian merogoh kantong celananya. Teringat jika tadi ada kembalian saat dia membeli rokok.
"Nih," Arjun memberikan uang pecahan sepuluh ribu ke tangan bu Lisa.
"Uang segini kamu suruh Mama jalan kaki buat beli gula, nggak mau!" tolak bu Lisa tegas.
"Astaga! Ma, uang ini cukup lah kalo cuma beli gula buat kopi secangkir. Aku nggak bodoh Ma, harga gula seperempat lima ribu, uang segini bisa dapat gula setengah kilo, bisa buat aku ngopi seminggu." Arjun tak terima dengan penolakan mamanya.
"Ya udah, sana beli sendiri gulanya." Bu Lisa mengembalikan uang sepuluh ribu itu ke tangan Aji dan berlalu meninggalkan putranya yang masih berdiri di dapur dengan wajah kesal.
"Huh, dasar orang tua nggak tau bersyukur!" umpatnya.
"Apa kamu bilang, hah?" bu Lisa kembali secepat kilat dan mendengar umpatan putranya yang sudah jelas di tujukan untuk dirinya.
Telinga Arjun pun menjadi sasaran empuk karena sudah melakukan kesalahan secara di sengaja membuat mamanya meradang.
"Aaa! Ampun Ma, sakit, sakit," ringis Arjun berusaha melepaskan jeweran mamanya.
Bu Lisa berkacak pinggang dan melototkan matanya menatap kesal pada Arjun.
Mendengar keributan di dapur, Vio pun menghampiri.
"Ada apa sih, cuma perkara kopi aja berisik banget. Males, deh!" cibir Vio.
Gadis itu menyelonong melewati ibu dan kakaknya begitu saja menuju ke kulkas untuk mencari minuman dingin yang biasanya selalu standby di dalamnya.
"Diam kamu Vio," bentak bu Lisa. Kemarahannya merambat ke anak bungsunya karena kesal pada si sulung.
Vio hanya mengedikkan bahu seolah tak peduli, lalu dia mengobrak abrik isi kulas itu karena tak menemukan minuman yang dia inginkan.
"Kamu jangan berantakin isi kulkasnya Dek, yang beres-beres rumah nanti siapa," tegur Arjun.
Pria itu mencoba kabur dari kemarahan bu Lisa.
*
Di sisi lain
"Tawaran yang waktu itu?" tanya Andra bingung.
Saat ini pikirannya hanya tertuju pada kesedihan Mila. Ingin menghibur wanita pujaannya agar tidak menangis lagi.
"Iya, Pak. Kan Bapak sendiri yang bilang minta temenin saya," beber Mila.
"Masih, kapan kamu bersedia. Biar perencanaannya kita majukan," tanggap Andra.
Pria itu merasa sangat senang karena Mila menyetujuinya secepat ini. Padahal waktu itu dia hanya ingin mencari kesempatan agar bisa berduaan dengan Mila.
"Kapan pun, saya siap," ucap Mila dengan penuh keyakinan.
Mila merasa harus benar-benar memberi pelajaran untuk suami dan juga keluarganya. Rasa lelah itu telah memuncak dan ini saatnya untuk melepas rasa itu.
Entah benar atau tidak jalan yang dia ambil saat ini, tapi Mila sedang butuh pelampiasan. Malam ini, dia bingung harus tidur di mana.
"Ayo saya antar kamu pulang," ajak Andra.
Pria itu telah memastikan jika Mila sudah tenang dan tidak sedih lagi. Hanya ada sisa sesenggukan yang sesekali masih keluar.
"Pulang ke mana, Pak. Saya sudah di usir dari rumah saya sendiri," sungut Mila.
Rasa dongkol itu kembali datang saat mengingat rumah. Ibu mertua dan adik iparnya yang telah berbuat semena-mena padanya membuat Mila enggan kembali ke sana.
"Apa kamu mau ke apartemen saya?" tanya Andra. Dia takut jika Mila akan menolak.
"Baiklah, semoga Bapak tidak merasa repot karena saya," jawab Mila.
"Oh tentu tidak, saya malah sangat senang bisa membantu kamu, Mil." Andra sangat gembira karena ini adalah kesempatan emas.
"Kamu naik apa ke tempat ini?" tanya Andra melihat ke sekeliling tapi tak menemukan kendaraan yang mungkin Mila bawa.
"Saya tadi naik angkot pak, cuma bawa hp sama tas kerja." Mila menatap ke arah kakinya yang tidak memakai sendal.
Andra merasa terenyuh melihat keadaan Mila, dia di usir dari rumah hanya membawa badan tanpa koper atau pun mobil inventaris.
"Ya sudah, kita naik taksi saja," usul Andra.
Mereka pun menaiki taksi yang kebetulan masih ada lewat di sekitar taman. Andra membawa Mila ke apartemennya yang tak jauh dari kantor. Pria itu juga tidak membawa mobil karena tadi sedang kabur dari acara makan malam di rumah.
Tapi untuk dompet dan ponsel masih aman di dalam saku jasnya. Mereka pun akhirnya sampai di apartemen milik Andra.
Andra menekan angka untuk membuka pintu dan mempersilahkan Mila masuk, lalu di susul oleh dirinya yang berjalan di belakang Mila.
Mila tampak mengamati keadaan dalam ruangan yang tampak bersih, cukup mewah dan lengkap sekali.
"Semoga kamu betah tinggal di sini, Mil," kata Andra. Pria itu mempersilahkan Mila duduk dan mengambilkan minuman dingin yang ada di kulkas.
"Terimakasih, Pak. Maaf sekali lagi saya sudah merepotkan," ucap Mila dengan sungkan.
"Tidak masalah, ehm!" Andra berdehem.
Pria itu ingin mengatakan sesuatu, tapi dia perlu mengatur kata-kata agar tidak terlalu memaksa.
"Mil," panggil pak Andra.
"Ya, Pak," balas Mila.
"Ini kan di luar jam kantor, rasanya terlalu formal kalau kamu panggil saya 'Pak'."
"Jadi, maksud Bapak gimana?" Mila mengerutkan dahi.
"Panggil dengan panggilan santai saja, seperti mas, atau ..." ucapan Andra langsung di potong oleh Mila.
"Baiklah, saya akan panggil Mas," putus Mila tanpa ba-bi-bu lagi.
Wanita itu ingin segera beristirahat karena sangat lelah. Tapi tubuhnya terasa sangat lengket dan dia pun celingukan membuat Andra mengerti akan situasi.
"Oh iya, kamar kamu yang di sebelah sana. Mari saya antarkan," ajak Andra.
Mila mengekori langkah Andra menuju ke kamar yang biasa di tempati oleh pria itu ketika sedang malas pulang ke rumah.
Ruangan khas pria dan aromanya pun menunjukkan aroma pria. Tapi Mila tidak peduli.
"Boleh saya menumpang mandi, Pak. Eh, Mas?" tanya Mila sedikit grogi karena panggilan baru tersebut.
"Silahkan, kamu pakai saja seperti di rumah kamu sendiri. Tidak perlu sungkan, setelah selesai mandi kita makan malam. Kamu pasti belum makan, kan?" Andra memastikan.
Mila menjawab dengan anggukan, lalu dia pun masuk ke dalam kamar tersebut. Sedangkan Andra pergi menuju ke dapur.