NovelToon NovelToon
Pangeran Bertopeng

Pangeran Bertopeng

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyelamat / Perperangan
Popularitas:277
Nilai: 5
Nama Author: Anand Mehra

Sudah genap dua puluh tahun pangeran Syah Hang diungsikan. Kini saatnya dia harus kembali ke Kerjaan untuk mengambil hak tahtanya yang sedang diperbutkan oleh dua saudara tirinya. Yaitu Pangeran Hang Djie dan Hang Tsu anak dari selir ayahnya. Karena keserakahan dari selir Tsu En, pangeran asli pewaris tahta harus terasingkan. Tapi takdir kebaikan akan selalu mencari jalannya. Hingga sampailah di hari pangeran Syah Hang pewaris tahta asli kembali dan mendapatkan tahtanya dan memimpin Kerjaan dengan kebijaksanaan.

Tapi kedua saudara tirinya tidak mau tinggal diam. Keduanya bersekutu untuk menjatuhkan pangeran Syah Hang dari tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anand Mehra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendapatkan Informasi Tentang Istana

Sebelum pangeran muda Syah Hang berangkat, ketua Putih memberikan sebuah kipas untuk pangeran Syah. Kipas itu bukan sembarang kipas. Kipas itu milik pendekar pesolek 102 yang terkenal sakti dan juga cerdik.

"Kipas ini akan menjadi teman dan juga senjata untuk selalu melindungimu"

"Ketua, ini seperti membuatku lebih gemulai" pangeran Syah Hang tertawa geli saat mengibas-ngibaskan kipas pemberian ketua Putih.

"Jangan sembarangan, kipas itu milik tuan pendekar pesolek yang sangat terkenal di Barat sana.

"Sungguh? Aku belum pernah mendengar tentangnya"

Ketua Putih terkekeh lalu menunjukkan sebuah buku yang isinya adalah catatan jurus-jurus peninggalan pendekar pesolek 102.

Wai Hang yang tahu tentang kemasyhuran pendekar 102 itu pun terbelalak. Bola matanya membulat. Tak percaya jika kitab jurus legendaris pendekar pesolek 102 ada di hadapannya.

"Guru Tzao" desis Wai Hang.

Tzao Tung Tau adalah nama asli dari ketua Putih. Pada masa mudanya guru Tzao Tung Tau adalah seorang pendekar yang cukup mumpuni.

"Ini ambilah, aku melihat pangeran Syah Hang cocok untuk menerima warisan pendekar pesolek dari Barat itu.

"Sifat dan sepak terjang pangeran muda Syah Hang, memang mirip dengan pendekar pesolek itu" ujar Wai Hang yang memang menjadi fans dari pendekar kipas 102.

"Rupanya kau tau juga Wai Hang. Jika kau berminat pelajarilah jurus itu bersama pangeran"

"Baik ketua"

"Sekarang kami akan berangkat menuju istana" pangeran Syah Hang memberi hormat terakhirnya untuk ketua Putih.

Ketua Putih mengangguk dengan tersenyum tipis tanda senang dan juga sedih untuk kembalinya sang pangeran ke istana.

"Pangeran....!!"

Pengawal Fank berlari memeluk sang pangeran.

"Fank, tidak usah bersedih. Kita akan berjumpa lagi nanti. Aku tau lembah damai lebih membutuhkan mu" keduanya berpelukan erat.

Sebagai pelayan, dan juga teman dekat sang pangeran Fank Wei sangat merasa kehilangan. Pangeran Syah Hang tidak pernah memperlakukannya sebagai pelayan. Justru hubungan mereka bak sahabat yang sangat dekat.

"Aku titip guru ketua. Dan juga taman-taman bungaku ya"

Fank Wei pun terkekeh. Taman bunga justru yang dititipkan oleh pangeran padanya. Tepat sudah jika pangeran muda Syah Hang menjadi penerus dari pendekar legendaris kipas 102. Menyukai taman, hati yang lembut dan juga romantis. Sifat itu menjadi dominan pada sifat sang pendekar.

"Baik pangeran, akan aku kirim surat seminggu sekali untuk pangeran"

"Itu berlebihan, cukup sebulan sekali"

Seketika suara tawa pun langsung pecah mendengar percakapan pangeran muda Syah dengan pelayanan Fank.

~~

Di perjalanan menuju ke istana, Wai Hang dan pangeran Syah Hang berhenti di sebuah kedai untuk makan. Sekelompok orang dengan tampilan terlihat moncer alias gemerlapan duduk berselang satu meja dari Wai Hang dan pangeran.

"Kalian sudah taukan kalau pangeran Hang Djie akan naik tahta sebentar lagi"

"Jangan asal bicara kau gendut. Aku lebih suka jika pangeran Hang Tsu yang naik tahta"

Plaak!!

Kepala botak si pria gendut kena keplak oleh si ceking berwajah tirus.

"Apa kau loyalis pangeran Hang Djie? Dibayar berapa kau!" si ceking menarik kerah baju si gendut.

"Lepaskan dia! Apa kau juga mendapat bayaran dari pangeran Hang Tsu! Katakan!" pria yang paling pendek membentak si ceking.

Ceking pun menatap si pendek dengan mata yang membulat penuh. Dengusan kasar terdengar jelas dari si ceking.

"Yang pasti Ibu permaisuri Tsu lebih mendukung pangeran Hang Tsu daripada Hang Djie"

Pria dengan jubah megah masuk ke dalam kedai dengan senyuman jumawanya. Sorot matanya tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya.

"Tuan Yank, maafkan kami"

Pria Gendut diikuti oleh ceking, dan pendek langsung berjongkok memberi hormat pada Pria yang mereka panggil Tuan Yank.

"Dia adalah menteri Yank Haq, menteri kepercayaan Selir Tsu En" bisik Wai Hang pada pangeran muda.

Pangeran muda Syah Hang pun hanya melirik ke arah menteri Yank Haq.

"Sekarang kalian pergilah ke tepi barat kota dan bantu promosikan pangeran Hang Tsu disana sebagai putra mahkota"

"Baik tuan Yank, kami siap melaksanakan perintah"

"Ini terimalah" satu kantong uang perak diterima mereka dari Mentri Yank.

"Terima kasih Mentri, kami segera laksanakan perintah menteri"

Yank Haq duduk dengan kejumawaan yang tinggi lalu melepaskan jubah megahnya. Memang Yank Haq hanya seorang Mentri ketua. Akan tetapi wewenang nya sama seperti seorang raja. Semenjak Selir Tsu En mengendalikan Sang Raja Hang Dzo. Pantas saja jika menteri Yank jumawa. Konspirasinya dengan selir Tsu En membuat mendiang permaisuri Hyung Pathan tersingkirkan.

"Selamat datang menteri Yank, maaf kami baru saja pulang dari tepi timur kota. Anda ingin makan apa?"

"Terima kasih tuan Zhau, anda memang pemilik kedai paling hebat yang ku kenal" puji menteri Yank dengan khasnya.

Senyuman yang menipu daya. Langkahnya adalah sesuatu diplomasi politik kotor. Itulah sifat dan karakter seorang Mentri Yank Haq. Berbanding terbalik dengan menteri Tan Rakha.

"Anda berlebihan tuan, kedai ini bisa maju karena budi baik Mentri Yank juga"

"Anda orang yang tau balas budi tuan Zhau. Jadi tidak salah permaisuri Tsu En selalu meringankan pajak anda"

"Kami sangat berterima kasih kepada permaisuri En. Dan kami tentu akan selalu setia di barisan permaisuri En"

"Bagus bagus..., dan kedatangan ku kemari memang kusus untuk memberikan hadiah dari Permaisuri En. Terimalah ini tuan Zhau" sebuah kotak kecil dengan hiasan dari manik perak di sekelilingnya diterima tuan Zhau.

"Ini sangat istimewa, kami sangat berterima kasih kepada permaisuri Tsu En. Semoga panjang umur untuknya"

Sementara pangeran muda Syah Hang dan Wai Hang hanya tetap diam namun sambil terus memperhatikannya.

"Zhau ......" desis Wai Hang pelan hampir tak terdengar.

"Apa anda mengetahui sesuatu dari orang itu" suara pangeran Syah Hang pun tidak kalah pelan.

"Aku masih mencoba mengingatnya pangeran" Wai Hang mencoba menerawang ke masa lalu.

"Kita harus cepat sampai ke istana"

"Hari sudah mulai gelap pangeran. Kita butuh dua hari lagi untuk sampai di ibukota"

Syah Hang memutar bola matanya karena jengah. Ia sungguh tak mengira sejauh itu letak istana dari lembah damai tempatnya dibesarkan.

"pangeran, kita harus mencari penginapan terdekat" Wai Hang membayar makanan yang telah mereka habiskan.

"Aku tau dimana kita akan singgah malam ini" pangeran Syah berjalan keluar dari kedai.

Sayangnya kuda miliknya sudah tidak dijumpainya lagi. Matanya menelisik ke sekitar, berharap menemukan kuda miliknya itu.

"Dimana kuda pangeran?" panglima Wai juga sibuk mencari-cari keberadaan kuda milik pangeran Syah.

"Siapa yang berani mencuri kudaku" pangeran muda Syah Hang menoleh ke belakang.

Tepat dimana Mentri Yank hendak menaiki kudanya. Semoga keduanya saling kontak mata.

"Aku seperti mengenal orang itu. Sorot matanya...." menteri Yank berlalu melewati pangeran Syah Hang yang tetap di tempatnya berdiri.

"Jangan menatapnya seperti itu pangeran" Wai Hang segera memberikan kudanya untuk pangeran muda.

"Aku masih sanggup berjalan" langkahnya lebih dulu mendahului Wai Hang yang masih diam bersama kudanya.

"Sifatnya benar-benar seperti ibunya" panglima Wai Hang menuntun kudanya mengikuti langkah pangeran muda.

Kabut sudah benar-benar tebal. Pandangan mata kabur oleh pekatnya kabut yang turun sampai ke lembah.

"Kita akan bermalam disini" pangeran Syah memasuki sebuah penginapan yang kecil dan terlihat sangat jauh dari mewah.

Wai Hang dibuatnya garuk-garuk kepala dengan tingkah sang pangeran.

"Satu kamar untuk berdua"

"Maaf tuan, kamar sudah habis hanya tersisa kandang kuda yang sudah tidak terpakai" pemilik penginapan yang bongkok itu menunjukkan bangunan kecil di sebelah.

"Anda yakin akan bermalam disana pangeran?" mata Wai Hang menelisik ke sekeliling.

Wai Hang ragu untuk bermalam disana. Selain tidak layak, tapi juga tidak aman untuk tidur nyenyak. Dinginya menusuk tulang, ditambah lagi tidak adanya pintu di kandang.

"Anda tidak usah membayar jika ingin bermalam disana"

"Baiklah, terima kasih....." pangeran Muda Syah langsung berjalan menuju kandang yang dihadiahkan cuma-cuma untuknya.

Wai Hang sang mantan panglima perang hanya bisa mengikuti sang pangerannya. Meski sejujurnya ini bukan kelayakan untuk seorang pangeran pewaris tahta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!