ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 4: Demam, Keterbatasan, dan Kehancuran Ego.
Setelah konflik dengan Elina, suasana di mansion terasa lebih dingin dan mencekam. Sania merasakan beban psikologis dan fisik yang berat. Stress karena ancaman, caci maki ibu mertua, dan keharusan hidup di bawah atap seorang mafia mulai menggerogoti ketahanan tubuhnya.
Pagi itu, saat subuh, Sania merasa tubuhnya lemas. Kepalanya berdenyut, dan sekujur tubuhnya terasa ngilu. Ia bersujud lebih lama dari biasanya, berdoa agar diberi kekuatan, namun tubuhnya terasa seperti kapas. Ia memaksakan diri menyelesaikan sholat Dhuha, lalu mencoba membereskan kamar.
Saat sedang melipat pakaian di atas sofa, pandangan Sania tiba-tiba kabur. Keseimbangan tubuhnya hilang.
"Laa hawla walaa quwwata illaa billaah..." lirih Sania sebelum tubuhnya ambruk ke lantai kayu kamar, mengeluarkan bunyi dug yang cukup keras.
Alaska Ravendra seharusnya sudah berada di markasnya. Namun, ia kembali ke mansion untuk mengambil dokumen penting yang tertinggal. Saat melewati kamar utama, ia mendengar suara gaduh dari dalam.
Ia membuka pintu kamar tanpa mengetuk. Pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Sania tergeletak tak berdaya di lantai, masih mengenakan cadar dan khimar, dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya yang tertutup kain tampak sangat pucat.
"Sania!" Alaska berseru, sedikit panik. Ia segera menghampiri, berlutut di samping istrinya.
Alaska dengan cepat menyentuh dahi Sania. Panasnya luar biasa, seperti menyentuh bara api. Pria itu mengumpat kasar. Ia mengangkat tubuh Sania dengan hati-hati—pertama kalinya ia benar-benar menyentuh Sania, bukan dengan cengkeraman kasar, melainkan dekapan protektif.
Ia meletakkan Sania ke ranjang, lalu segera menghubungi dokter pribadinya, Dr. Hans, dengan nada penuh ancaman.
"Datang ke rumahku sekarang juga, Hans! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan pastikan kau dan keluargamu menghilang dari muka bumi!"
Tak sampai dua puluh menit, Dr. Hans sudah tiba. Ia adalah pria paruh baya yang terbiasa menangani luka tembak, bukan demam biasa. Namun, aura mengerikan Alaska membuatnya berkeringat dingin.
"Apa yang terjadi, Tuan Alaska?" tanya Dr. Hans sambil mengeluarkan stetoskopnya.
"Dia demam tinggi. Cepat periksa! Dan jangan coba-coba membuka penutup wajahnya!" perintah Alaska tajam.
Dr. Hans kebingungan. Bagaimana mungkin ia memeriksa pasien yang tertutup kain? Namun, melihat ekspresi Alaska, ia tidak berani membantah.
"Ba-baik, Tuan."
Dr. Hans hanya bisa memeriksa denyut nadi, pupil mata, dan suhu tubuhnya.
"Stres dan kelelahan akut, Tuan Alaska. Ditambah dengan perubahan cuaca dan mungkin kurang nutrisi. Saya akan memberinya suntikan penurun panas dan beberapa antibiotik," jelas Dr. Hans.
Saat Dr. Hans hendak menyuntik, Sania yang setengah sadar merintih. Ia meronta pelan.
"Jangan... jangan sentuh saya... tidak ada izin..." rintih Sania dalam delirum.
Alaska menatap Sania, lalu menatap Dr. Hans. Matanya menyipit.
"Hanya aku yang boleh menyentuhnya," putus Alaska dingin. Ia mengambil jarum suntik itu dari tangan Dr. Hans. "Kau tunjukkan caranya, aku yang menyuntik."
Dr. Hans terkejut setengah mati. Namun, ia tidak punya pilihan selain mengajari sang mafia cara menyuntik dengan benar. Setelah menyuntik Sania dengan canggung, Alaska menyuruh Dr. Hans pergi, tidak lupa dengan ancaman untuk merahasiakan semua yang ia lihat.
Malam itu, Alaska Ravendra, sang penguasa yang terbiasa memerintah ratusan anak buahnya, kini mendapati dirinya duduk sendirian di samping ranjang Sania, sibuk mengganti kain kompres di dahi istrinya.
Ia melakukannya dengan kaku. Kain itu berulang kali jatuh. Alaska mengumpat pelan setiap kali kain kompres yang dingin itu meleset.
Ia menatap wajah Sania yang hanya terlihat bagian matanya. Ada rasa kesal, cemas, dan bingung yang bercampur aduk.
"Apa yang kau lakukan padaku, Humairah?" batin Alaska.
Ia bisa saja mengusir gadis ini, membiarkannya mati dan mencari pengganti yang lebih patuh, seperti yang selalu ia lakukan. Tapi kenapa ia tidak mau?
Bukan cinta. Alaska tahu itu. Ini adalah masalah kepemilikan. Ia tidak suka ada "miliknya" yang rusak atau hilang tanpa izin darinya. Dan melihat Sania, yang selalu tegak dan kuat dengan imannya, kini tak berdaya, membuatnya merasa aneh.
Di tengah tidurnya yang gelisah, Sania kembali merintih. Kali ini ia tidak meronta, melainkan mengucapkan kalimat-kalimat yang semakin membingungkan Alaska.
"Ya Allah... jadikan sakit ini penggugur dosa... Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, sakit, kecemasan, kesusahan, kesakitan atau kesedihan, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan semua itu. (HR. Bukhari dan Muslim)."
Alaska mendengarkan kata-kata itu. Ia adalah pria yang hidup tanpa rasa bersalah. Dosa baginya hanyalah konsep abstrak. Tapi gadis ini, dalam kondisi kritis, justru bersyukur karena sakitnya membersihkan dosanya.
"Mengapa dia tidak meminta kesembuhan, tapi malah meminta pengampunan?" pikir Alaska.
Dunianya terlalu gelap untuk memahami logika cahaya Sania.
Alaska mendekat, mengatur cadar Sania yang sedikit miring, memperlihatkan sedikit garis tulang pipinya yang tirus. Ia melihat plester kecil yang ia pasang di jari Sania kemarin.
"Kau bodoh," bisik Alaska lirih. "Kenapa kau harus terlalu baik? Kenapa kau tidak marah pada ibuku? Kenapa kau tidak minta ampunan padaku?"
Alaska menyentuh tangan Sania yang terasa panas. Tiba-tiba Sania menggenggam erat tangan Alaska yang memegangnya. Genggaman yang lemah, namun terasa mengikat bagi Alaska.
"Jangan pergi, Tuan..." lirih Sania dengan mata terpejam. "Jangan tinggalkan aku sendiri..."
Sania tentu tidak bermaksud pada Alaska secara spesifik, tapi pada Tuhan yang ia yakini. Namun, di telinga Alaska, kalimat itu terdengar seperti permohonan yang ditujukan padanya. Sebuah kelemahan yang justru membuat ego Alaska melambung tinggi.
Seketika, rasa dingin dalam hati Alaska mencair sedikit. Ia duduk tegak, membiarkan tangannya digenggam erat oleh Sania. Untuk pertama kalinya, ia merasa dibutuhkan bukan karena kekuasaan, melainkan karena kehadirannya.
"Aku tidak akan pergi," jawab Alaska, suaranya sedikit serak. Ia tidak tahu kenapa ia mengucapkan janji itu. Mungkin karena ia tidak ingin melihat wanita yang ia "milikinya" mati.
Di tengah malam yang sunyi, Sang Mafia kejam itu tertidur sambil duduk, dengan tangannya digenggam erat oleh istrinya yang bercadar dan sedang sakit. Sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan oleh siapapun.
Alaska menyadari satu hal, kekayaannya, kekuasaannya, dan anak buahnya tidak bisa membuatnya tidur nyenyak. Namun, genggaman lemah dari Sania justru memberinya kedamaian yang aneh.
Esok pagi, ia bertekad, Sania harus sembuh. Bukan karena ia mencintainya, tapi karena Sania adalah satu-satunya orang yang tidak takut padanya, dan kini... satu-satunya yang membuat ia merasa lebih dari sekadar bos atau monster.
__Kelemahan sejati seseorang bukanlah saat ia sakit, melainkan saat ia tidak memiliki keyakinan apa pun di kala ia sehat__
__Terkadang kita diuji dengan kesendirian di tengah keramaian, agar kita sadar bahwa sekuat apapun kita, kita tetap butuh bantuan dan pertolongan__
Bersambung ....