NovelToon NovelToon
PETUAH TANAH LELUHUR

PETUAH TANAH LELUHUR

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Spiritual / Duniahiburan / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:581
Nilai: 5
Nama Author: Artisapic

Seorang Punggawa mengharapkan sebuah arti kehidupan rakyanya yang penuh dengan kemakmuran. Banyak bahaya dan intrik di sana.
Simak ceritanya......Petuah Tanah Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Artisapic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB IV SUDRASA NING ATI

    Malam itu di pendopo Cikeusik begitu tenang, damai dan penuh kekhidmatan, tatkala Nyai Bengkalis dan para Kerani saling berdialog. Ki Sawerga sangat santun dan fasih dalam membahas setiap hal yang dibahasnya, sehingga waktu pun tak terasa hampir menjelang pagi.

    Gumebyar sira ing wanci, kairing maring kersa nira, tumindak ing lampah, babad tanah ira ingkang luhur, suci maring tingkah, ja jumawa ing rasa nira, amblas maring siksa, kauyup maring toya, sigra nira lelampah ingkang mulya.

    Sinar mentari muncul dalam awan tipis yang menghias ufuk nun jauh di Timur sana. Sebersit harapan dari setiap insan yang akan mengais rizki dengan pelu membasahi tubuhnya. Dalam setiap langkah yang dipenuhi dengan karya nyata senantiasa sebuah kodrat yang terus bernaung pada tubuh dari setiap insan.

    Di pendopo yang selalu dipenuhi banyak orang, kala itu pagi telah merubah segala kegiatan setiap warga. Berbagai aktifitas mulai tampak, di sawah telah banyak yang bekerja, suara ayam ternak begitu riuh menikmati makanannya, sementara para Kerani bergegas untuk hadir demi pelayanan kepada warga. Duduk dengan penuh wibawa, Nyai Bengkalis sedang menikmati sarapan dengan minuman teh manis. Di ujung jalan menuju pendopo, tampak berjalan Sawerga dan Nyi Emban Kuning membawa sebakul sayuran. Sementara di samping pendopo Soma dan Wirya sedang membuat kandang ayam, juga di belakang pendopo terlihat Dula dan Bowo membawa potongan bambu sebagai bahan kandang ayam. Suasana pagi itu begitu penuh aktifitas yang sesuai dengan keadaan pedukuhan.

    Beberapa saat kemudian Sawerga sudah duduk di hadapan Nyai Bengkalis.

    " Semalam penjabaran sampeyan itu membawa ke dalam sebuah harapan dari masa depan pedukuhan ini Ki," kata Nyai Bengkalis sambil meletakkan gelas.

    " Semoga saja ucapan Nyai menjadi kenyataan akan suatu cita-cita demi anak cucu kelak," jawab Sawerga.

    " Semoga saja," seloroh Nyai Bengkalis.

    " Oh iya Ki, semalam Ki Sawerga menjabarkan ini itu tentang sintren dan wayang, arti dari kedua kata itu apa Ki, tolong jelaskan supaya saya paham maknanya," lanjut Nyai Bengkalis.

    " Begini , sintren itu asal katanya isin dan mentereng, artinya milikilah rasa malu manakala sudah jaya atau hidup dalam kemewahan, malu dalam arti hartamu itu kau dapatkan dari mana, apa merugikan yang lain atau memang harta warisan, maka janganlah kita bangga karena belum tentu hartamu akan menolongmu saat kau nazah. Apa hartamu itu bisa menolongmu saat jasadmu ditinggalkan sukma, apa hartamu yang kau banggakan itu akan kau bawa mati, begitu sekiranya. Sedangkan wayang asal katanya nyawa dan melayang atau bisa juga nyawa dan bayangan. Artinya nyawa sesungguhnya sesuatu yang menggerakan kita. Sedangkan melayang atau bayangan sesungguhnya yang bernaung dari gerakan itu sendiri," kata Sawerga.

" Wayang itu kan banyak nama pelaku atau tokoh di dalam ceritanya, apakah itu sesuai dengan tabiat manusia Ki," tanya Nyai Bengkalis.

" Betul , dalam wayang beber itu menceritakan beberapa tokoh yang menurut cerita para leluhur itu terbagi dalam 12 sifat, dari 12 sifat itu nantinya bisa untuk menilai tabiat arang, itu menurut cerita leluhur, adapun ke 12 sifat wayang itu nanti kita bahas di lain waktu," kata Sawerga.

" Bukannya sekarang saja Ki," desak Nyai Bengkalis.

" Nanti saja, kebetulan saya mau menemui Raden Singgala yang sudah menunggu di balong Bakung ," jelas Sawerga.

Setelah berpamitan dengan Nyai Bengkalis, kini Ki Sawerga menuju balong Bakung. Beliau berjalan bersama Bowo dan Warji. Dalam perjalanan kesana, Ki Sawerga memandang hamparan sawah yang hijau. Setiap langkahnya selalu diwujudkan dengan langkah yang mantap. Beberapa saat kemudian sampai juga di balong Bakung, di sana telah duduk di pinggir balong, ada Raden Singgala, ki Surya dan Samba.

" Sampurasun semuanya," kata Sawerga.

" Rampes ," jawab mereka serempak .

" Syukurlah Ki, kalian datang tepat waktu," kata Singgala.

" Gerangan apa yang membuat saya disuruh kesini Raden," kata Sawerga.

" Begini Ki, sebetulnya saya malu mengatakan hal ini, tapi demi kesempurnaan dari niat yang tulus, saya berharap Ki Sawerga memahami atas segala niat saya Ki," jelas Singgala.

" Maksudnya apa Raden, saya kurang paham, niat tulus yang mana dan apa ?" tanya Sawerga bingung.

" Begini Ki, ini ada hubungannya dengan hati saya sama Nyai Bengkalis , maksudnya, tolong beri jalan untuk saya agar dekat dengan dia Ki," kata Singgala sambil tersipu.

" Oooooooh itu, baiklah Raden, saya usahakan supaya Sampeyan bisa lebih mengenal," janji Sawerga.

" Maaf Raden, sebaiknya setiap malam, sampeyan hadir di pendopo, nanti saya akan memancing perhatiannya," celoteh Bowo.

" Jangan dulu Wo, nanti semuanya berabeh," jawab Sawerga.

Akhirnya setelah terjadi kesepakatan, mereka membubarkan diri, Sawerga dan temannya meneruskan perjalanan untuk melihat-lihat sawah yang lain, sementara Singgala dan juga temannya menuju sebuah warung makan di sudut jalan.

Terik Matahari kini telah menuju ke temaram langit, terasa sedikit sejuk dan membawa suasana redup kian mendekat dalam keheningan senja. Segala jerih payah masyarakat mengais rejeki rupanya berakhir dengan cucuran keringat dan pelu. Semua kembali dalam peraduan yang menanti rindunya dari setiap keluarga. Hening dan tenang tampak terasa di setiap tubuh-tubuh berkeringat.

Malam telah tiba, kala itu gerimis mulai turun menghias kegelapan yang membuat suasana dingin kian menusuk tubuh. Berbeda dengan situasi di pendopo, saat itu tampak sosok yang duduk di teras dengan kondisi tubuh penuh tanah.

" Kulonuwun Nyai, saya mau melapor, bahwasanya tadi di sawah, saya bertemu dengan beberapa orang sambil membawa sebuah kandek dari bahan kain, terlihat sangat terburu-buru menuju ke arah Selatan," kata orang itu.

" Monggoh, rupanya hal itu yang ki sanak laporkan, tidak usah kawatir ki sanak , kita sudah pantau mereka," jawab Nyai Bengkalis sambil mempersilahkan orang itu pergi.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara orang-orang sedang menuju ke pendopo. Tampak di depan sosok Sawerga membawa orang dengan tangan terikat, lalu dibelakangnya ada Soma dengan laki-laki yang diikat juga serta Mandaga seperti yang lain, membawa orang yang diikat tangannya. Setelah sampai di pendopo, ketiga orang yang terikat itu disuruh duduk di depan Nyai Bengkalis. Di pendopo itu banyak orang yang penasaran untuk melihat apa yang terjadi di sana.

Dalam keadaan penuh orang, pendopo Cikeusik kini begitu ramai, dan beberapa saat kemudian.....

" Apa yang kalian lakukan di sini ?" tanya Soma.

" Maafkan kami tuan, apa yang terjadi di sini, kami hanya orang suruhan tuan," jawab salah satu dari mereka.

" Kami disuruh tuan," kata temannya.

" Betul tuan, kami orang suruhan dari seseorang yang membayar kami tuan," kata orang yang satu lagi.

" Siapa namanya ?" tanya Mandaga dengan geram.

" Dia tidak menyebut namanya tuan," kata orang pertama.

" Apa ciri-ciri orang yang menyuruh kalian ?" tanya Mandaga.

" Cirinya orang itu tinggi besar, kulitnya hitam, rambutnya diikat di atas kepala, terus ada bekas luka di pipinya tuan," jelas orang itu.

" Hmmmmm....rupanya dia makin penasaran denganku, kurang ajar", gumam Mandaga.

1
ArtisaPic
apa tuh judulnya.....soalnya aku baru ikutan di apk ini/Pray/
Winsczu
kayak baca novel yang udah di cetak 🤣. Tapi gapapa, bagus! 👍🏼👍🏼👍🏼
ArtisaPic: itu lanjutan dari judul
MENGUNGKAP SEJARAH PETENG
baca biar jelas ya/Rose//Ok/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!