Spin Off Menikahi Pamanmu
Kisah cinta karena perjodohan antara Reka (adik dari Kayla) dengan Nara seorang wanita berprofesi sebagai dosen di kampus Reka. Keduanya tidak menyetujui perjodohan tersebut, mengingat Reka dan Nara sempat berseteru bahkan Reka menyebut Nara Perawan Tua.
Namun, kembalinya mantan Nara membuat wanita ini meminta Reka mempercepat pernikahan mereka. “Please, jangan batalkan perjodohan ini. Aku minta sama kamu untuk bantu bicara dengan keluarga agar pernikahan kita dipercepat,” ungkap Nara.
Reka menatap sinis pada Nara. “Jangan bilang kalau kamu hamil dan aku ketiban sial harus bertanggung jawab.” Nara menggelengkan kepalanya. “Aku tidak hamil. Reka, tolong aku. Setelah kita menikah aku akan biarkan kamu tetap berhubungan dengan kekasih kamu. Sampai kondisi aman kamu boleh ceraikan aku. Please, bantu aku,” pinta Nara.
Follow medsos Author
instagram : dtyas_dtyas
facebook : dtyas auliah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Jodoh
“Bu,” panggil Reka. “Ibu ada masalah apa sih?”
Nara berhenti lalu menoleh pada Reka yang berdiri tidak jauh darinya, “Masalah saya? Harusnya saya yang tanya kamu, masalah kamu apa? Mengacau di kelas, tidak punya etika sekarang mengeluh kamu akan gagal lulus karena mata kuliah saya. It’s your problem not me.”
Reka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bener juga ya, gara-gara ide brilian Papih bikin semua jadi kacau. Reka sedikit berlari mengejar Nara, “Saya bisa ikut kelas berikutnya ya? Udah clear dong, ‘kan sudah minta maaf," tutur Reka.
Nara sangat geram dengan kalimat Reka barusan, “Kalau semua kesalahan bisa selesai dengan minta maaf, tidak perlu adanya pengadilan dan penjara.”
“Perbandingannya enggak banget sih, Cuma balikin spidol disamakan dengan pembunuh.”
“Karena kamu sudah bunuh karakter saya di kelas tadi,” sahut Nara.
Tik tok tik tok
Reka coba berfikir, tapi tidak bisa. Karena otak Reka memang jarang dipakai untuk berfikir.
Nara menghela nafasnya, “Terserah kamu mau ikut kelas berikutnya atau tidak. Yang jelas, sikap kamu hari ini harus berbanding lurus dengan nilai kamu. Capaian nilai kamu harus A, kurang dari itu silahkan mengulang,” ujar Nara lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Reka.
“Hah, A?”
Masalah aku apa? Ini juga karena ulah Kakek, berhasil buat mood aku jadi naik turun. Hari gini perjodohan, hanya karena masa lalu, batin Nara.
Nara kembali duduk di kursi kerjanya. Menikmati cappucino ice yang sudah tidak semanis tadi, karena es yang mencair. Ulah siapa? Tentu saja Reka. Tidak ada Ardi di kubikelnya, mungkin sedang ada kelas. Membuka laptop, kembali menyusun bahan untuk kelas dan materi berikutnya.
Tidak lebih dari sepuluh menit, Nara menutup Laptop tiba-tiba lalu menelungkupkan wajah pada meja kerjanya. Terbayang kembali ide dari Kakek untuk menjodohkannya. Sangat mengenal sifat Kakek yang keras, bahkan ucapannya seperti sebuah titah raja yang tidak boleh ditentang.
“Minggu depan akan diatur pertemuan kalian. Tidak usah menolak, ini untuk kebaikan kamu. Jangan juga mengadu pada orangtua kamu untuk minta dukungan agar Kakek menghentikan ide ini,” ancam Radit kakek Nara.
Bukan tanpa alasan Radit akan menjodohkan Nara. Ibu Nara yang merupakan putri dari Radit telah mengecewakan keluarga dengan menghadirkan Nara sebelum menikah. Bahkan setelah dinikahkan dan melahirkan Nara, orangtua Nara memilih berpisah. Nara tumbuh dan besar di bawah asuhan Radit. Ibunya sudah memiliki keluarga baru, sedangkan Ayahnya saat ini tidak ada di Indonesia. Nara tidak tau pasti apakah Ayahnya sudah berkeluarga atau belum, karena dia tidak memiliki kedekatan baik dengan Ayah atau Ibunya. Meskipun sesekali mereka masih berkomunikasi dan seingat Nara, Ayahnya akan kembali ke Indonesia minggu depan.
Nara kembali menegakkan tubuhnya, menghembuskan nafasnya kasar. Yang membuatnya keberatan dengan perjodohan adalah dia harus hidup dengan pria yang tidak dia cintai. Bahkan dengan pria yang dicintai saja hubungan bisa bubar.
Huft
Mantan kekasih Nara tidak setia, membuat Nara semakin tidak percaya dengan mahluk yang bernama laki-laki.
“Heh, melamun?”
Nara menoleh, “Bukan melamun tapi sedang berfikir.”
“Mikirin apa? Jodoh?” tanya Ardi sambil terkekeh dengan fokus pada ponselnya.
“Iya,” jawaban singkat Nara membuat atensi Ardi berubah.
“Seriusan? Maksudnya mau cepat dapat jodoh atau ....”
Nara mengedikkan bahunya.