NovelToon NovelToon
Ibuku Sayang Istriku Malang

Ibuku Sayang Istriku Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyesalan Suami / Hantu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mahlina

Sebagai anak sulung, aku sangat menyayangi ibuku. Wanita yang telah melahirkan, membesarkan serta mendidik ku.

“Kalo kamu udah nikah! Prioritaskan ibu dan adik mu, Ratih! Istri mu belakangan, dia itu wanita terakhir yang kamu kenal. Sayangi dia 20 persen aja, ingat itu pesan ibu, Nang!” ujar Sari penuh harap.

Aku hanya bisa tersenyum tulus, “Iya, bu! Danang akan selalu berbakti, mendengarkan semua perkataan ibu! Danang gak akan pernah membantah mau ibu!”

“Tenang aja Gi! Hati abang cuma buat Anggi. Mau kan Anggi kalo abang ajak serius? Bukan lagi pacaran, tapi …” beo ku kala itu.

Dan akhirnya ku nikahi Anggi, tanpa peduli dirinya yang mencintai pria lain. Yang penting aku pemenangnya, aku yang menikahinya.

Kejanggalan demi kejanggalan akhirnya mencuat, membuka tabir kehancuran dalam keluarga ku.

Mulai dari Anggi, gadis polos. Hitam manis dengan tubuh mungil, adik dari teman ku. Meninggal usai melahirkan putra kedua kami. Sementara si sulung baru menginjak usia 7 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

...🌼🌼🌼🌼...

Tepat pukul 2 dini hari, yang mana puskesmas tempat Sari di rawat tampak sunyi. Dengan hawa anyep, mencekam yang membuat bulu kuduk kian meremang. Suasana yang sebelumnya gak pernah terjadi, selama puskesmas itu beroperasi.

Dalam keadaan duduk, punggung menyandar pada sandaran kursi. Danang tertidur dengan lelapnya. Melupakan kebiasaannya bangun pukul 2 dini hari. Sementara beban perasaan atas Anggi, seakan terlepas dari punggungnya. Gak ada lagi nafas sesak yang sebelumnya ia keluhkan pada Ropih.

Dalam keadaan mata terpejam, senyum lebar terukir di bibir Danang, ‘Mampus lu, Asep! Itu balasannya kalo lu berani menantang Danang! Masih untung lu gak gua buat masuk kubur!’

Berbanding terbalik dengan Sari, wanita paruh baya yang tengah terbaring di atas ranjang rawat. Matanya terpejam, tapi jelas dari wajah dan nada suaranya ia begitu ketakutan, dengan nada memohon.

“Jangan! Jangan dia! Dia kesayangan gua! Genderuwo sialan! Jangan dia! Siapa pun boleh, asal jangan dia! Mau berapa nyawa pun, silahkan ambil! Tapi tolong jangan dia!” racau Sari dengan nada ketakutan.

Danang yang mendengarnya di bikin tersentak, mata kantunya dengan terpaksa ia buka. Di ikuti dengan decakan kesal.

“Ah elah! Ora tua, ora tau gua ngantuk apa ya! Pake ada acara mimpi buruk segala! Kaya gua kenapa, mimpi indah!” gerutu Danang, menatap jengkel samg ibu.

Sari terus menggeleng, mata nya terpejam erat, “Jangan dia! Jangan!”

“Bu! Astagaa bu! Bangun bu, bangun! Mimpi itu bu! Melek bu, melek! Denger Danang ngomong kenapa bu! Bu! Bangun bu!” seru Danang, berusaha membangunkan Sari. Pemuda 25 tahun itu mengguncang bahu Sari.

Danang mulai gusar, saat usahanya belum juga berhasil membuat Sari terbangun dari mimpi buruknya.

“Astaga kebo bangat si nih orang! Gak takut ganggu pasien yang lain apa ya!” beo Danang.

Netra Danang tertuju pada perban putih panjang yang membalut tangan Sari.

Seringai terbit di bobor Danang, “Maap ya, bu! Salain diri ibu yang kaga mau bangun! Danang cuma usaha buat bangunin ibu!”

Plak plak.

‘Kali ini harus bangun!’ jerit batin Danang. Saat rasa greget yang membaur dengan perasaan jengkel. Ia menepak nepak tangan kiri Sari cukup keras.

Sari membuka matanya, dengan suara dan wajah kesakitan. Ia mengangkat sedikit tangan kirinya beberapa centi dari dadanya.

“Uugghhh sakit!” ringis Sari dengan nafas ngos ngosan

Dengan wajah tanpa dosa, Danang terkekeh, “Bangun juga bu!”

“Tangan ibu sakit bangat, Nang! Kamu apain sih! Jangan bilang ini ulah kamu! Aduh sakit bangat ini!” cerocos Sari dengan suara tertahan, antara sakit, perih, ngebet pada luka beka5 jahitan di tangan kirinya.

“Danang panggil dokter jaga dulu! Ibu tunggu sini!” tanpa menunggu jawaban, Danang langsung berlalu dari hadapan Sari.

Dada Sari masih berpacu dengan cepat, ‘Mimpi gua ngapa serem amat ya! Jangan ampe si genderuwo gendeng ambil nyawa Danang sama Ratih. Keduanya kesayangan gua. Ora iklas gua kalo keduanya di ambil dari gua.’

Wushhhhh.

Angin berhembus kencang tanpa wajar, di bilik Sari di rawat.

~“Itu baru mimpi, Tuan Sari! Belum jadi nyata!” ~ beo genderuwo, seakan menjawab kerisauan hati Sari.

Dengan tubuh sebesar manusia, genderuwo berdiri di depan ranjang rawat Sari. Masih dengan bulu bulu hitam halus menyerupai gorila. Gigi taring menyeramkan, ke luar dari ke dua sudut bibirnya. Sepasang mata merah tanpa kelopak, menatap galak Sari.

Sari menatap jengkel makhluk yang ia puja, ia sekutukan sang pencipta dengan genderuwo. Belum lagi jiwanya yang sudah ia serahkan pada genderuwo.

‘Jangan berani berani lu coba sentuh Danang apa lagi Ratih! Lu bisa ambil Dayat sebagai tumbal.’ sentak Sari dalam hati.

~”Hahahaha gua mau ambil kewarasan Dayat dan Jojon, 2 putra yang gak pernah lu anggap ada, Sari!”~

Sari menggeleng, keberatan dengan permintaan gendoro, ‘Gila! Lu kata gua apa! Di kasih anak kurang waras! Kenapa gak lu ambil aja 2 jiwa mereka, genderuwo?’

~”Ahahhaha biar lu makin emosi, makin banyak nyerahin jiwa buat gua, Sari! Jangan bego kenapa lu jadi manusia! Itu harga mahal buat harta yang lu dapat setelahnya.”~

Sari mengepalkan tangannya kesal, ‘Gendoruo sialan!’

Kreeek.

Pintu ruang perawatan di buka dari luar.

Danang kembali dengan seorang dokter muda berparas cantik. Sementara sosok genderuwo masih anteng di sana. Hanya memperlihatkan sosoknya pada Sari. Sementara Danang dan dokter Sri hanya dapat merasakan bau ubi yang di bakar. Tanpa bisa melihat sosok genderuwo.

Dokter Sri menelan salivanya sulit. Saat melangkah ke bilik tirai di mana ranjang rawat Sari berada. Dokter muda itu meyakini adanya makhluk selain manusia.

‘Ya allah, bau ini semakin menyengat! Lindungi hamba mu ya rab!’ jerit batin dokter Sri.

“Selamat malam ibu! Ada keluhan ibu dari luka ibu?” tanya dokter dengan suara lembut, mati matian menyembunyikan rasa takutnya.

“Tangan saya dokter! Ini sakit! Gak tau kenapa, pas bangun tidur, sakit bangat.” Sari menunjukkan tangan kirinya.

Dokter Sari memeriksa keadaan perban Sari, ada rembesan darah yang keluar dari beka5 jahitan sebelumnya.

‘Aku rasa ada yang memukulnya, tepat di mana luka itu di jahit.’ pikir dokter Sri.

“I- itu dokter! I- ibu dari bangun ngeluh sakit, dok! Kasih aja ibu obat bius dok! Biar bisa tidur nyenyak!” beo Danang dengan gugup.

“Gak usah ngaur kamu, Nang!” sentak Sari kesal.

“Nanti saya bawakan obat pereda nyeri ya, bu! Biar ibu malam ini bisa istirahat lagi! Saya permisi dulu ya!” dokter Sri langsung meninggalkan ruang rawat dengan tergesa.

Danang mendaratkan bobot tubuhnya di tepian ranjang rawat sang ibu.

“Ibu tadi mimpi apa? Serem bangat ya?” bisik Danang, menatap Sari dengan serius.

Sari menggeleng, “Gak ada.”

“Jangan bohong, bu! Danang dengar ibu bilang jangan dia, dia kesayangan gua. Kalo gak salah ibu bilang gitu. Emang siapa yang mau di ambil bu?” desak Danang.

“Ka- kamu salah dengar itu, Nang! Ibu, ibu cuma cemas sama warung! Kamu anter bapak kamu gih ke pasar, beli belanjaan buat di jual. Ibu di rawat, jangan sampe kita gak ada pemasukan, Nang!” sangkal Sari dengan gugup.

~”Lu buru k4winin anak lu, Sari! Gua mau garis kedua dari keturunan lu! Gua mau nyawa merah tanpa dosa!~ beo genderuwo, usai melirik Danang.

“Salah dengar gimana si, bu! Danang dengar jelas bangat itu.” kekeh Danang.

Sari mengerdik kan dagunya, “Kamu balik jam berapa semalam? Ibu gak tau kamu balik. Yang ibu tau, bapak kamu pulang ke rumah jam 10 malam, kamu belum ada di sini.”

“Gak lama dari bapak balik. Danang sempat papasan semalam di jalan sama bapak.”

Sari menatap penuh selidik Danang, “Kamu bilang ada urusan, urusan sama siapa kamu semalam. Sampe gak bisa di tinggal kaya gitu! Urusan perempuan apa tagih menagih utang?”

Danang gugup, “A- anu bu… i- itu. Urusan…”

“Kamu udah punya calon buat nikah, Nang?” sela Sari.

Sementara di sisi lain.

“Tolong ya, pak! Obat pereda nyeri dosis untuk pasien dewasa ada di gudang.” jelas dokter Sri.

“Ya salam, malam ini dok!” beo Surip. Perawat pria yang kala itu kedapatan jaga malam dengannya.

“Ya mau gimana lagi, Rip! Tolong ya, Rip! Pahala loh nolong dokter. Biar saya yang jaga di pos” desak dokter Sri.

Dengan pasrah, Surip berlalu dari hadapan dokter Sri, “Ya udah, saya ambil dulu, dok!”

Lorong menuju ruang gudang penyimpanan obat berada tepat di samping ruang jenazah. Bak uji nyali, lorong yang harus di lalui Surip tampak sepi di bawah sinar remang lampu yang menyala. Dengan beberapa pohon palem yang membentang, mengiringi setiap langkah yang hendak menuju gudang obat..

Suara daun yang saling bergesekan berhembus angin. Sementara bayangan dari pohon dan dedaunan meliuk di atas lantai puskesmas. Kian menambah horor suasana malam ini.

“Buset dah, ini malam apa sih! Perasaan bukan malam jumat! Tapi ngapa hawanya horor amat ini! Mana kudu lewatin ruang jenazah. Elah!” gerutu Surip. Mengelus lengannya yang seketika meremang.

Krrrek.

Bersambung …

1
lina
siapa kata mak muda 🤭🤭
lina
eeeh dia ngelawak
lina
salam model modern ini nama nya
lina
kn msih muda juga. blm nikh 🤭
lina
ciiyeee yg g mau terpisahkan 🤣🤣
lina
tau tata krama bertamu itu namanya
lina
kaga bner emng nih org. pantes dah s ropih ora setuju anggi ama danang. omongan nya g d saring
lina
y salam. aib keluarga itu oy
lina
apa bae
lina
u juga bisa jadi calon pelaku ti dak kejahatan danang.
lina
bohong tu pih. alesan bae karung butek mah
lina
nh pelakunya
lina
minta d tinju nih mulut
lina
itu s ratihnya aja yg pilih2 tmn
lina
tuh denger danang. mang u.
lina
🤣 dasar pea siapa bae d kata
lina
semangt berkarya untuk q sendiri
lina
u aja jauh dr kata baik dananag. pake ngoreksi org lagi u
lina
buseeeh minta d potong lidahnya. biar ora ngomong nyelekit
lina
seengganya kan bisa ttp krj bagen udah nikah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!