NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Kehangatan Suami Perwira

​Setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif dan melewati masa kritisnya akibat racun mematikan itu, hari ini akhirnya Vina diperbolehkan pulang oleh tim dokter Rumah Sakit Militer.

Tubuhnya memang masih tampak sedikit lemas, namun rona merah alami perlahan sudah kembali menghiasi kedua pipinya yang manis.

​Di sepanjang lorong rumah sakit yang bernuansa putih dan dingin, Radit tidak melepaskan dekapannya sedikit pun. Tangan kekarnya merangkul protektif pinggang Vina, menopang sebagian bobot tubuh istrinya agar tidak terlalu lelah berjalan.

​"Mas, aku sudah kuat jalan sendiri. Sungguh, memalukan dilihat banyak orang dan suster yang lewat," bisik Vina dengan wajah merona, melirik beberapa perawat yang tersenyum menggoda ke arah mereka.

​Radit justru semakin mempererat rangkulannya dan mengecup pelipis Vina dengan lembut tanpa memedulikan sekitar. "Biar saja mereka melihat. Istriku baru saja sembuh, dan tugasku adalah memastikan tidak ada satu langkah pun yang membuatmu kesakitan atau kelelahan, Vina. Mengerti?"

​"Tapi Mas Radit berlebihan sekali, aku kan cuma keracunan, bukan patah kaki," gerutu Vina pelan, meski sudut bibirnya tak bisa menyembunyikan rasa bahagia.

​"Cuma keracunan kamu bilang?" Radit menghentikan langkahnya sejenak di tengah lorong, menatap manik mata Vina dengan tatapan dalam dan sarat akan rasa bersyukur yang amat besar. "Setengah nyawaku rasanya ikut hilang waktu melihat kamu muntah darah tempo hari, Vina. Jadi, tolong turuti suamimu ini, ya?"

​Vina tertegun, lalu mengangguk hangat. Rasa hangat dan aman seketika menjalar di dadanya, menghapus sisa-sisa trauma beberapa hari lalu.

​Begitu sampai di depan jip militer, Radit bergerak dengan sangat cekatan dan perhatian. Ia membukakan pintu penumpang, lalu dengan perlahan dan hati-hati membantu Vina naik ke atas kursi yang tinggi itu.

Sebelum menutup pintu, Radit membungkuk untuk memasangkan sabuk pengaman Vina. Jarak wajah mereka yang begitu dekat membuat Vina bisa merasakan embusan napas hangat Radit di pipinya.

​"Nyaman?" tanya Radit lembut, jemarinya merapikan anak rambut yang menghalangi kening Vina.

​Vina mengangguk hangat, menatap wajah tegas suaminya yang kini melembut. "Sangat nyaman, Mas. Terima kasih banyak."

​Radit tersenyum tipis, lalu mendaratkan sebuah kecupan lembut dan agak lama di kening Vina sebelum menutup pintu. Di sepanjang perjalanan membelah jalanan kota, tangan kiri Radit tidak pernah lepas menggenggam jemari lentik Vina di atas pangkuan.

​"Mas, setir mobilnya pakai dua tangan, ih. Bahaya," tegur Vina lembut, mencoba melepaskan tangannya, namun genggaman Radit justru semakin mengerat.

​"Tidak mau," sahut Radit santai tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan depan. "Tanganmu sedingin es beberapa hari lalu di jip ini, Vina. Sekarang, setelah tangan ini kembali hangat, aku tidak akan melepaskannya lagi. Aku ingin memastikan kamu benar-benar nyata dan ada di sampingku."

​Vina tersenyum haru, ia membawa tangan besar Radit yang sedang menggenggam tangannya itu ke depan bibirnya, lalu mengecupnya balik dengan penuh rasa cinta dan rasa syukur karena masih diberi kesempatan hidup bersama sang perwira.

​Sesampainya di mansion Laksmana, Radit langsung menghentikan jipnya tepat di depan undakan tangga utama. Ia melompat turun, memutari kap mobil, dan langsung membuka pintu tempat Vina duduk.

​"Eh? Mas, aku bisa jalan sendiri kalau di rumah—"

​Kalimat Vina terputus saat tubuh ringkihnya tiba-tiba melayang di udara. Dengan gerakan yang sangat cekatan dan kokoh, Radit langsung menggendong tubuh Vina. Vina yang terkejut secara spontan langsung mengalungkan kedua lengannya di leher tegap sang suami, menyembunyikan wajahnya yang memerah padam di dada bidang Radit yang beraroma parfum maskulin bercampur wangi khas tubuhnya.

​"Mas Radit, turunkan... malu dilihat pelayan lain dan Ibu," cicit Vina dengan suara teredam di dada Radit.

​"Biarkan saja. Rumah ini harus tahu kalau istri Tuan Mudanya sudah kembali pulang," jawab Radit tegas dengan langkah lebar menerobos pintu utama.

​Di ruang tamu utama yang megah, kedatangan mereka sudah dinantikan oleh Nyonya Besar Laksmana yang duduk anggun, didampingi oleh Bi Asih dan Ica yang berdiri siaga di belakangnya. Begitu Radit menurunkan Vina dengan sangat perlahan dan hati-hati di atas sofa beludru yang empuk, Ica langsung berkaca-kaca menahan haru.

​"Nyonya Vina... Akhirnya, Nyonya sudah sembuh dan pulang," bisik Ica dengan suara bergetar bahagia.

​"Terima kasih ya, Ica, Bi Asih, karena sudah mengkhawatirkanku," jawab Vina dengan senyuman tulus.

​Nyonya Besar Laksmana berdehem pelan untuk mencairkan suasana. Tatapan matanya kini jauh lebih lunak dan hangat saat menatap Vina, tidak ada lagi keangkuhan pembenci seperti dulu. "Duduklah yang nyaman, Vina. Asih, buatkan teh herbal hangat yang bagus untuk pemulihan menantuku."

​"Baik, Nyonya Besar," sahut Bi Asih segera melangkah ke dapur bersama Ica dengan wajah cerah.

​Radit kemudian mengambil posisi duduk di samping Vina, merangkul bahu istrinya dengan posesif. Setelah memastikan Vina merasa nyaman dengan bantal penyangga di punggungnya, raut wajah Radit mendadak berubah menjadi serius dan dingin saat menoleh ke arah ibunya.

​"Ibu, bagaimana kelanjutan interogasi tentang masalah pelayan keparat bernama Ika itu? Apa ajudanku sudah berhasil membuat mulutnya terbuka tentang dari mana asal racun militer itu?" tanya Radit dengan nada tegas, menuntut kejelasan.

​Nyonya Besar Laksmana menghela napas panjang, wajah tuanya tampak sangat kecewa dan lelah. "Tidak ada kemajuan, Radit. Ajudanmu sudah menggunakan berbagai cara di ruang bawah tanah, tapi Ika tetap bersikeras pada pengakuan awalnya. Dia terus berteriak histeris dan bersumpah bahwa dia membelinya sendiri dari seorang pedagang gelap di pasar dan tidak ada orang lain yang menyuruhnya. Penyelidikan ini benar-benar menemui jalan buntu karena tidak ada bukti fisik baru di kamarnya."

​Mendengar hal itu, Vina perlahan menyentuh lengan Radit, menatap suaminya dengan pandangan memohon yang lembut.

​"Mas... kalau memang tidak ada kemajuan, sudahlah. Anggap saja ini masalah kecil dan musibah yang sudah lewat," ujar Vina pelan, mencoba menenangkan suaminya. "Toh, sekarang aku sudah sembuh dan baik-baik saja. Aku tidak mau mansion ini terus-terusan tegang dan dipenuhi aura permusuhan. Lepaskan saja Ika, atau serahkan dia ke polisi biasa dan biarkan masalah ini selesai sampai di sini."

​Radit langsung menoleh ke arah Vina, matanya membelalak tidak percaya dan rahangnya mengeras seketika. "Masalah kecil kamu bilang, Vina?! Seseorang hampir saja merenggut nyawamu dari sisiku! Kamu menganggap percobaan pembunuhan yang berencana ini sebagai masalah kecil?!"

​"Bukan begitu, Mas... tapi aku lelah," sela Vina dengan suara lirih. "Ika sudah dihukum di ruang bawah tanah. Aku hanya ingin kita hidup tenang setelah ini tanpa harus terus mencari-cari siapa lagi musuh kita."

​"Tidak bisa, Vina! Aku tidak akan pernah setuju!" potong Radit dengan nada suara yang meninggi dan tegas, membuat Vina terdiam. Radit menggenggam kedua bahu Vina, menatapnya dengan kilat mata yang tak terbantahkan. "Dengar aku, Vina. Pelayan bodoh seperti Ika tidak akan mungkin punya akses untuk mendapatkan racun militer selangka itu. Ada dalang utama yang lebih besar dan berbahaya di luar sana! Dan selama bajingan itu belum tertangkap dan membusuk di penjara, nyawamu dan keselamatanmu di rumah ini masih terancam! Sebagai suamimu, aku tidak akan pernah membiarkan masalah ini selesai sampai aku sendiri yang menyeret dalang itu ke hadapanmu!"

​Sementara itu, tepat di balik pintu depan mansion yang sedikit terbuka, Sella berdiri mematung. Hari ini ia berniat datang berkunjung membawa hadiah kelulusan rumah sakit untuk Vina demi menjaga citra baiknya di depan Radit dan Tante Laksmana. Namun, langkah kakinya terhenti total dan tangannya yang memegang tas jinjing mewah seketika membeku begitu mendengar perdebatan dan pembicaraan dari dalam ruang tamu.

​“Penyelidikan ini benar-benar menemui jalan buntu... Ada dalang utama yang lebih besar dan berbahaya di luar sana! Aku tidak akan pernah membiarkan masalah ini selesai!”

​Gema suara Radit dan Tante Laksmana itu menembus indra pendengaran Sella, dan seketika itu juga rasa lega yang amat besar bercampur ketakutan murni bergejolak hebat di dadanya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya mencekik tenggorokan. Sella langsung mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu dan melangkah masuk.

​"Baguslah kalau pelayan bodoh itu belum membuka mulutnya sampai sekarang dan penyelidikan mereka macet," batin Sella dengan mata yang menyipit tajam penuh kelicikan dan kegelapan. "Tapi ucapan Radit tadi... dia tidak akan pernah berhenti menyelidiki. Lambat laun, di bawah siksaan para ajudan militernya, pertahanan Ika pasti akan runtuh dan dia akan menyeret namaku untuk menyelamatkan nyawanya sendiri."

​Sella buru-buru membalikkan tubuh anggunnya. Dengan langkah yang cepat dan setengah mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, ia berjalan kembali menuju pelataran parkir dan langsung menyelinap masuk ke dalam mobil sedannya.

​Brak!

​Sella menutup pintu mobilnya rapat-rapat. Ia mencengkeram erat kemudi mobilnya dengan jemari yang gemetar hebat, menatap lurus ke arah jendela mansion dengan tatapan mata yang dipenuhi kilat kegilaan dan dendam yang memuncak. Napasnya memburu berantakan saat otak liciknya mulai menyusun sebuah rencana baru yang jauh lebih radikal dan berdarah dingin.

​"Ika tidak boleh sampai menyebutkan namaku di depan Radit, bagaimanapun caranya! Jika Radit dan Vina tidak mau menghentikan masalah ini... maka aku sendiri yang harus bertindak," bisik Sella di dalam hati dengan seringai mengerikan yang terukir di bibirnya yang dilapisi gincu merah tua. "Aku harus menyelinap dan membuat pelayan bodoh dan sialan itu bungkam selamanya di ruang bawah tanah sebelum dia sempat berkhianat dan menghancurkan hidupku!"

1
Ris Ris.25
Mila.. Tuh banyak kaca..😊
Putri Ayu/PqxxyZ: waduuhhh🤣
total 1 replies
Nalara amora
semoga Nerima baik keluarga mas raditt😭😭🙏
takut mlh di usirr😭😭🙏
Nalara amora: aduhh takot nih ka😭
total 2 replies
Nalara amora
curiga bgt nih sana Mila 😭
Nalara amora: hahahah iya nih kaa😭🤣🙏
total 2 replies
Ris Ris.25
Ada niat jahat
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih.. mencurigakan sekali kan?🤣
total 1 replies
Nalara amora
aduhh salting nya mas raditt 🤭🤭
Nalara amora
jadi kalung yg di mba vina itu kalung mas Radit kah😭🤭
Nalara amora
cintaa segi tiga kah mereka kaa😭
Nalara amora: aduhh semoga aja milih mas radittt😭🤭
total 2 replies
Nalara amora
aduhh ngakak sama mas Radit nih 🤭
itu mas dimas mau buat skenario sendiri kah😭
Mustafa
anaknya tomboy sekali ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ: nah betul sekali..
total 1 replies
Ris Ris.25
waduhh susah ya
Putri Ayu/PqxxyZ
iya nih refresing otak dulu
Putri Ayu/PqxxyZ
waduuhh
Nalara amora
aduh makin ga suka nih sama mas dimas 😭🙏
Nalara amora
aduhh teka teki nih😭
Nalara amora
aduh makin bimbang, sebenarnya mas dimas apa mas Radit nihh😭
mba vina sini mba cerita, aku nanti yg tanya tanya deh ke mas Radit sama mas dimas nya😭🙏
Nalara amora
pikiran orang tuanya mas Radit plis, ngakak bgt😭😭
Arni Arlinawati pratiwi
anjayyyy.. kosakata nya loh ada bumbu gombalan, 👍
Arni Arlinawati pratiwi
eh.. roti sobek, 😍
Arni Arlinawati pratiwi
masih di simak banyak waktu ko tenang..
Arni Arlinawati pratiwi
ayam liar.. bejir cuma judul, langsung di galakin anak orang,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!