Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reaksi Protektif
Deru mesin sedan mewah Adrian memekik keras saat mobil itu berbelok tajam memutari bundaran jalan Menteng. Adrian menginjak pedal gas tanpa memedulikan marka jalan, melesat membelah sisa-sisa kemacetan sore ibu kota dengan satu tujuan mutlak: menyelamatkan wanita yang kini berada di balik barikade rumahnya. Di dalam kabin yang kedap, rahang Adrian mengetuk begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang menahan ledakan amarah yang siap tumpah kapan saja.
Ponselnya yang tergeletak di kursi penumpang terus menyala, menampilkan rentetan pesan koordinasi dari Baskara yang mencoba melacak asal-usul paket koran bekas tersebut. Namun, semua analisis hukum dan taktik korporasi itu mendadak terasa tidak berarti bagi Adrian. Pikiran pria itu sepenuhnya terkunci pada laporan kepala keamanan tentang kondisi Alena yang histeris ketakutan di dalam rumah.
Brak!
Pagar besi hitam kedaleman Menteng terbuka lebar seketika begitu sistem sensor mengenali plat nomor mobil Adrian. Sang aktor tidak menunggu hingga mobilnya terparkir dengan sempurna di dalam garasi. Begitu roda kendaraan itu berhenti mendadak di atas lantai beton pelataran depan dengan bunyi decitan karet yang memekik, Adrian langsung mematikan mesin, menendang pintu mobilnya hingga terbuka, dan berlari cepat menaiki anak tangga lobi utama.
Suasana di dalam lobi terasa sangat mencekam. Dua orang petugas keamanan internal berdiri tegap di dekat pintu penghubung dengan wajah tegang, sementara Bi Asih tampak berdiri di dekat koridor dapur dengan mata yang bengkak karena ikut menangis. Begitu melihat sosok Adrian melangkah masuk dengan jaket jas yang sudah dilepas kasar dan kemeja yang berantakan, Bi Asih langsung berlari mendekat.
"Tuan... Tuan Adrian... Nona Alena..." isak Bi Asih terbata-bata, menunjuk ke arah ruang tengah.
"Di mana kotaknya?" tanya Adrian, suaranya terdengar begitu rendah, dingin, dan sarat akan ancaman yang mematikan.
"S-sudah diamankan oleh petugas di pos depan untuk barang bukti, Tuan. Tapi Nona Alena... beliau tidak mau dipindahkan dari sudut sofa sejak tadi. Beliau terus menangis dan memeluk perutnya," jelas Bi Asih dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.
Adrian tidak membalas lagi. Ia melangkah lebar memutari sekat ruangan, menembus ruang tengah yang luas. Di sana, di bawah pendar lampu kristal yang mulai menyala otomatis karena senja telah larut, ia mendapati pemandangan yang seketika meremukkan seluruh dinding keangkuhannya sebagai seorang pria.
Alena sedang meringkuk di sudut sofa beludru besar. Kedua lututnya ditarik rapat ke dada, sementara kedua telapak tangannya mencengkeram erat kain gaun katun longgar tepat di atas permukaan perutnya yang masih rata. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan binar tegas di depan kamera kini tampak sangat pucat, dipenuhi oleh aliran air mata yang membasahi pipi hingga ke lehernya. Tubuhnya terguncang hebat oleh isak tangis yang tertahan, sebuah ekspresi ketakutan murni dari seorang wanita yang merasa seluruh ruang amannya telah ditembus oleh monster tak kasat mata.
Rasa sakit yang aneh dan tajam seketika menghantam dada Adrian melihat kondisi istrinya. Tanpa keraguan atau kalkulasi apa pun, Adrian langsung menerjang maju. Ia menjatuhkan dirinya berlutut di atas lantai karpet tebal tepat di hadapan sofa tempat Alena meringkuk.
"Alena..." panggil Adrian, suaranya bergetar hebat penuh dengan rasa khawatir yang teramat sangat.
Mendengar suara parau yang sangat ia kenali, Alena mendongak perlahan dari balik lututnya. Sepasang matanya yang sembab dan memerah menatap wajah Adrian. Ketakutan yang membayang di dalam bola mata bening wanita itu begitu besar, membuat Adrian tidak mampu lagi menahan diri. Ia mengulurkan kedua belah tangannya yang kekar, menarik tubuh Alena yang rapuh ke dalam dekapan pelukannya yang erat.
Grep.
Alena tersentak kecil saat tubuhnya menabrak dada bidang Adrian. Namun, begitu aroma parfum maskulin yang familier dan kehangatan tubuh suaminya menyergap indra penciumannya, sisa-sisa pertahanan batin Alena runtuh total. Ia tidak mencoba mendorong Adrian menjauh. Sebaliknya, kedua tangan Alena yang gemetar langsung bergerak mencengkeram erat kain kemeja di punggung Adrian, menyembunyikan wajahnya yang basah di ceruk leher pria itu.
"Adrian... mereka tahu... mereka tahu tentang anak ini..." isak Alena di sela-sela tangisnya yang kembali pecah. Suaranya terdengar begitu pilu, menyiratkan keputusasaan yang mendalam. "Boneka itu... foto itu... mereka ingin membunuh anakku, Adrian... Aku takut..."
"Aku di sini, Alena. Aku di sini. Kamu aman," ujar Adrian berulang kali dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan penekanan yang menguatkan. Ia membekap kepala Alena dengan telapak tangan kanannya, menekan tubuh istrinya lebih rapat ke dalam dadanya seolah-olah ingin menyerap seluruh rasa takut yang sedang menyiksa jiwa wanita itu. Tangan kirinya mengusap punggung Alena dengan gerakan yang cepat dan protektif, memberikan remasan-remasan lembut untuk menenangkan saraf-saraf Alena yang menegang.
Adrian memejamkan matanya erat-erat, membiarkan air mata Alena membasahi kulit leher dan kerah kemejanya. Setiap isak tangis yang keluar dari mulut Alena terasa bagai tusukan bilah pisau yang merobek harga dirinya sebagai seorang suami. Ia telah berjanji untuk menjadi perisai bagi wanita ini, ia telah bersumpah di depan meja makan kemarin bahwa di dalam rumah ini tidak akan ada satu pun bahaya yang berani menyentuh mereka. Namun sore ini, kelicikan musuh di luar sana berhasil menyelundupkan teror psikologis yang meremukkan mental istrinya hingga seperti ini.
Amarah di dalam dada Adrian berada di puncak tertinggi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah hidupnya. Naluri protektif seorang pria, seorang suami, dan seorang calon ayah kini telah sepenuhnya mengambil alih seluruh rasionalitasnya sebagai seorang aktor papan atas. Siska telah melangkah terlalu jauh; ia tidak lagi sekadar bermain di ranah intrik showbiz atau pembatasan kontrak kerja, melainkan telah beralih menggunakan teror fisik psikologis yang nyata untuk menyerang keselamatan calon anak mereka.
"Dengarkan aku, Alena Putri," Adrian melonggarkan pelukannya sedikit, memegang kedua belah bahu Alena dengan lembut namun tegas agar wanita itu mau menatap matanya. Adrian menghapus air mata di pipi Alena menggunakan kedua ibu jarinya dengan gerakan yang sangat berhati-hati. "Tatap mataku."
Alena mengerjapkan matanya yang basah, menatap lurus ke dalam manik mata hitam pekat milik Adrian yang kini memancarkan kilat tekad yang sangat kuat dan tidak tergoyahkan.
"Anak ini tidak akan pernah terluka. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak akan ada satu orang pun di dunia luar yang bisa menyentuhmu atau janin di dalam rahimmu," ujar Adrian, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang begitu dalam dan dingin, sebuah sumpah setia seorang pria yang sedang mempertaruhkan seluruh keberadaannya demi melindungi teritorinya. "Kotak itu adalah tindakan pengecut terakhir dari musuh yang sedang sekarat karena jalurnya kita kunci. Mereka mencoba membuatmu stres dan keguguran karena mereka tahu mereka tidak bisa lagi menyerang kita lewat jalur hukum atau media."
Adrian menarik Alena kembali ke dalam pelukannya, mencium puncak kepala wanita itu dengan penuh rasa sayang yang mendalam, sebuah gestur intuitif yang lahir tanpa ada skenario atau naskah drama yang mendikte. "Menangislah jika itu membuatmu lega, tapi setelah ini, kita akan berdiri kembali. Aku tidak akan membiarkan rumah ini diintai lagi. Aku akan membawamu ke tempat di mana tidak ada satu pun pasang mata yang bisa menemukan kita."
Alena mencengkeram kemeja Adrian lebih erat, membiarkan dirinya tenggelam di dalam rasa aman yang ditawarkan oleh pelukan suaminya. Di tengah sisa-sisa trauma yang menyiksa batinnya, kehadiran Adrian di sisinya sore itu menjelma menjadi satu-satunya tiang pancang yang kokoh, sebuah tempat bernaung yang nyata dari kejamnya badai dunia luar yang sedang mencoba meruntuhkan istana dongeng mereka.
Satu jam berlalu, dan isak tangis Alena akhirnya sepenuhnya mereda. Kelelahan emosional yang luar biasa membuat wanita itu perlahan-lahan memejamkan matanya, tertidur di dalam dekapan pelukan Adrian dengan napas yang mulai teratur. Adrian mengangkat tubuh Alena dengan sangat hati-hati, menggendongnya menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Setelah membaringkan Alena di atas ranjang dan menyelimutinya hingga sebatas dada, Adrian berdiri di tepi tempat tidur selama beberapa menit. Ia menatap wajah tidur Alena yang masih menyisakan jejak guratan kesedihan di sudut matanya. Adrian mengulurkan tangannya, merapikan beberapa helai rambut yang menempel di dahi istrinya dengan sentuhan yang sangat lembut, sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar dengan wajah yang kembali berubah menjadi topeng es yang mematikan.
Adrian menuruni tangga menuju ruang kerja pribadinya, di mana Baskara sudah menunggu dengan wajah yang tidak kalah tegang. Di atas meja kerja jati, kotak kardus berisi boneka rusak dan foto Alena yang dicoret spidol merah telah diletakkan di dalam kantong plastik transparan khusus barang bukti.
"Apakah tim forensik digital kita sudah memeriksa rekaman kamera pengawas di sekitar area pemukiman, Baskara?" tanya Adrian, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin saat ia duduk di kursi kerjanya.
"Sudah, Tuan Adrian," sahut Baskara seraya membuka laptopnya. "Pengendara sepeda motor yang mengantarkan paket tersebut menggunakan nomor plat palsu yang terdaftar untuk kendaraan yang sudah dihancurkan lima tahun lalu. Namun, tim IT kita berhasil melacak koordinat GPS dari ponsel pintar yang digunakan untuk memesan jasa kurir instan tersebut polos. Pemesanan itu dilakukan dari sebuah area perumahan kelas menengah di wilayah Jakarta Barat—koordinatnya tepat berada dua blok dari lokasi rumah kediaman pribadi milik Siska."
Adrian mengeluarkan sebuah tawa sinis yang sangat pendek, sebuah tawa yang memancarkan aura kegelapan yang mengerikan. "Ular itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia pikir dengan menggunakan metode konvensional seperti ini, dia bisa lolos dari radar hukumku."
Adrian berdiri dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar yang menatap langsung ke arah kegelapan malam Menteng yang pekat. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, dan pandangan matanya tampak sangat dingin, menembus batasan dinding rumah mewahnya.
"Siska sudah bosan hidup bebas di luar sana, Baskara," desis Adrian dengan nada suara yang penuh dengan hasrat pembalasan yang mutlak. "Besok pagi, serahkan seluruh bukti rekaman CCTV, kesaksian staf klinik, dan data koordinat GPS ini langsung ke tingkat dewan penyidik polda metro jaya. Aku tidak ingin ada penundaan lagi. Aku ingin surat perintah penangkapan atas nama Siska dikeluarkan sebelum matahari terbit."
Adrian membalikkan badannya kembali menghadap Baskara, sepasang mata elangnya menyalang penuh keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. "Dan siapkan jet pribadi keluarga di bandara Halim Perdanakusuma untuk besok malam. Rumah Menteng ini sudah tidak lagi steril dari intaian orang-orang suruhan Ayah atau Siska. Aku akan membawa Alena pergi dari ibu kota ini menuju vila terpencil kita di atas bukit Uluwatu, Bali. Kita akan menyembunyikan masa kehamilannya di sana sampai hari kelahiran tiba, jauh dari jangkauan siapa pun."
Baskara menjura hormat, menyadari bahwa sang aktor utama kini telah resmi mengumumkan perang terbuka total demi melindungi istri dan calon penerus darah dagingnya dari ancaman dunia luar yang kotor.