NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelidikan Senyap Dimulai

Malam harinya, keheningan terasa begitu pekat di dalam ruang kerja pribadi Elang Danuarta yang terletak di dalam apartemennya sendiri. Elang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah gemerlap lampu kota Jakarta, menatap kosong ke luar. Cangkir kopi di mejanya sudah mendingin, sama sekali tidak tersentuh. Otak cerdas Elang tidak bisa tenang sejak pulang dari rumah Menteng sore tadi. Perubahan sikap Abid menjadi teka-teki yang harus ia pecahkan malam ini juga.

​Elang mengambil ponsel pintar di atas meja kerja, menekan satu tombol panggilan cepat ke kepala keamanan pribadinya.

​"Selamat malam, Pak Elang. Ada instruksi?" suara bariton Baskara terdengar dari pengeras suara ponsel.

​"Malam, Bas. Aku butuh kamu bergerak cepat malam ini," ucap Elang, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mutlak. "Besok pagi-pagi sekali, datangi pihak pengelola TK Internasional tempat Abid bersekolah. Aku minta kamu periksa seluruh rekaman CCTV di area luar pagar samping dan depan sekolah pada jam pulang sekolah siang tadi. Periksa apakah ada sosok mencurigakan yang berinteraksi dengan Abid di balik pagar. Jangan sampai Rania tahu tentang penyelidikan ini."

​"Dimengerti, Pak Elang. Besok pukul sembilan pagi, semua rekaman sudah ada di meja kerja Anda," jawab Baskara dengan tegas sebelum panggilan itu diputus.

​Keesokan paginya, Elang sengaja datang lebih awal ke rumah Menteng untuk menjemput Rania dan Abid agar bisa berangkat bersama-sama. Suasana sarapan di meja makan rumah Rania tampak berjalan seperti biasa, namun atmosfernya terasa kaku bagi Elang yang terus mengawasi gerak-gerik sang anak.

​Rania sibuk mengoleskan selai cokelat pada selembar roti gandum untuk Abid, sementara bocah kecil itu duduk di kursi tingginya dengan pandangan yang sesekali mencuri lihat ke arah tas ranselnya yang ditaruh di kursi sebelah.

​"Ini roti cokelat kesukaan Abid. Habisin ya, Sayang, biar nanti di sekolah tetep semangat belajarnya," ucap Rania dengan senyuman keibuan yang hangat.

​"Makasih, Bunda," jawab Abid pelan, menggigit rotinya dengan gerakan lambat.

​Elang mencoba mencairkan suasana sekaligus menguji reaksi Abid. "Abid, nanti siang Papa Elang yang jemput ke sekolah lagi ya? Kita mampir beli es krim vanilla yang besar, mau?"

​Mendengar tawaran es krim yang biasanya paling dinanti, tubuh Abid seketika menegang kecil. Ingatan tentang bisikan Rendra di balik pagar langsung berputar otomatis di kepala kecilnya. 'Om Elang itu bukan orang baik... Jangan terlalu nurut ya.'

​Abid meletakkan sisa rotinya di atas piring, menatap Elang dengan pandangan yang dipenuhi rasa takut tersembunyi. "Ngg... Abid gak mau es krim, Om... eh, Papa Elang. Abid mau langsung pulang aja sama Om supir."

​Rania yang sedang meneguk susu almond seketika menoleh, menatap anaknya dengan dahi berkerut. "Lho, tumben Abid gak mau es krim? Biasanya paling semangat kalau diajak Papa Elang jalan-jalan."

​"Abid... Abid cuma lagi gak mau, Bunda," cicit Abid dengan suara yang bergetar. Dia merasa bersalah karena membohongi Bundanya, namun ancaman Rendra bahwa "Bunda akan marah dan robotnya diambil" membuat mental anak TK itu ketakutan setengah mati.

​Elang hanya membalas senyuman Rania dengan anggukan kepala yang tenang, namun di bawah meja makan, jemari tangan Elang mencengkeram kain celananya hingga urat-urat tangannya menonjol keluar. Panggilan 'Om' yang kembali hampir diucapkan oleh Abid secara berulang menjadi bukti valid bahwa ada seseorang yang secara sengaja sedang mencuci otak anak itu.

​Tepat pukul sembilan pagi, setelah mengantar Rania ke kantornya dan Abid ke sekolah, Elang langsung kembali ke apartemen pribadinya. Di dalam ruang kerjanya, Baskara sudah berdiri memegang sebuah tablet yang menampilkan potongan gambar digital resolusi tinggi.

​"Pak Elang, laporan dari TK Internasional sudah selesai. Dugaan Anda akurat," ucap Baskara langsung menyodorkan tablet tersebut.

​Elang menerima tablet itu. Matanya melebar dengan kilat kemarahan yang membumbung tinggi saat melihat rekaman video di layar. Di sana, di balik pagar pembatas samping sekolah yang rimbun, terlihat sangat jelas sosok seorang pria bermotor bebek seken, mengenakan kemeja flanel kotak-kotak, sedang berjongkok menyodorkan sebuah kotak mainan besar kepada Abid.

​Meskipun wajah pria itu sebagian terhalang pagar, namun Elang mengenali postur tubuh pria itu.

​"Rendra Wijaya..." desis Elang, suaranya terdengar seperti suara malaikat maut yang siap menjemput nyawa. Rahangnya mengatup begitu keras hingga terdengar bunyi gemeletuk yang mengerikan.

​"Pria ini memanfaatkan kelengahan penjaga, Pak. Dia membujuk dan memberikan ancaman psikologis ringan agar Abid merahasiakan pertemuan ini dari Ibu Rania dan Anda," jelas Baskara dengan detail yang rapat.

​Elang meletakkan tablet itu di atas meja dengan bantingan keras. Kemarahan Elang sudah mencapai puncaknya. Rendra, bajingan yang dulu menelantarkan anaknya sendiri sampai kritis, sekarang berani-beraninya menggunting dalam lipatan, menyusup diam-diam hanya untuk meracuni otak suci Abid.

​"Dia belum kapok rupanya setelah kehilangan seluruh hartanya," ucap Elang, senyuman dingin yang kejam kini terukir di wajah tampannya.

"Baskara, cari tahu di mana bajingan itu bekerja sekarang. Aku tahu ekonominya mulai membaik sedikit sampai bisa membelikan mainan mahal. Hancurkan pekerjaannya, buat dia kembali merangkak di jalanan, dan pastikan dia tahu... jika dia berani mendekati Abid satu kali lagi, aku sendiri yang akan menyeretnya masuk ke sel!"

​Penyelidikan senyap Elang telah mengungkap kebenaran. Umpan Rendra yang sempat dimakan oleh Abid kini justru berbalik menjadi bumerang berdarah yang siap menghancurkan sisa hidup sang mantan suami Rania tanpa ampun pada langkah berikutnya.

1
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
akhirnya mereka di penjara
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
walau jauh bisa memantau lewat cctv
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!