"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan di Pintu Ujung Gang
Malam merayap semakin pekat, menyelimuti kompleks perumahan tua ini dengan kesunyian yang mencekam. Angin malam berdesir di antara dedaunan pohon mangga di halaman depan rumah, seolah-olah ikut menahan napas bersama kami.
Di ruang tengah, layar ponselku masih menyala terang, menampilkan notifikasi yang masuk bertubi-tubi. Hanya dalam waktu tiga puluh menit sejak bab tentang "Baskoro sang perancang bayangan" kuunggah ke platform NovelToon, kolom komentar langsung meledak. Ribuan pembaca setia histeris, menyadari bahwa kisah Sandiwara Istri yang Terbuang belum benar-benar berakhir dengan ditangkapnya Adrian Mahendra.
@PecintaThriller: "Gila, ada plot twist lagi! Jadi si Adrian cuma pion? Siapa sebenernya Pak Baskoro ini?!"
@RatuTeori: "Thor, inisialnya terang-terangan banget! Jangan-jangan ini tetangga sebelah rumah Laras yang asli?!"
Aku mematikan layar ponsel itu, lalu menoleh ke arah Zaidan. Ia sedang fokus menatap layar tabletnya yang menampilkan grafik pemantauan sinyal seluler di area sekitar kompleks kami.
"Sinyal dari rumah di ujung gang menunjukkan aktivitas yang tidak biasa, Laras," ucap Zaidan tanpa mengalihkan pandangannya. "Dua menit setelah novelmu terbit, ada tiga panggilan keluar beruntun dari nomor anonim milik Baskoro. Dia mencoba menghubungi nomor-nomor darurat di Jakarta, tapi semuanya sudah diblokir oleh tim siber kami. Dia terjebak."
"Dia panik," ujarku sambil merapikan jaket hitam yang kupakai di atas gamis. "Tikus yang cerdas sekalipun akan langsung melompat jika menyadari sarangnya mulai terbakar."
"Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mendatangi sarangnya sebelum dia nekat menghancurkan sisa dokumen cetak biru milik Ayahmu," Zaidan berdiri, memasukkan alat pelacaknya ke dalam saku jaket. "Kau tetap di belakangku, Laras. Orang yang terdesak bisa melakukan apa saja."
Kami melangkah keluar dari rumah masa kecilku, melewati gerbang besi yang berderit pelan. Bi Ijah menatap kami dari balik jendela dengan wajah cemas, namun aku memberikan isyarat anggukan agar dia tetap mengunci pintu dari dalam.
Jalanan kompleks sangat sepi, hanya diterangi oleh beberapa lampu tiang yang temaram. Setiap langkah kaki kami di atas aspal kering terasa begitu berat. Di ujung gang, sebuah rumah bergaya kolonial tua dengan cat putih yang sudah mengelupas tampak berdiri angkuh. Lampu terasnya menyala kekuningan, memantulkan bayangan jeruji jendela yang kaku.
Kami tiba di depan pagar besi rumah itu. Zaidan memberikan kode tangan agar aku berhenti di dekat pohon palem di samping pagar, sementara dia melangkah maju mendekati pintu kayu jati yang kokoh.
Tok... Tok... Tok...
Zaidan mengetuk pintu itu dengan ketukan yang ritmis dan tegas. Tidak ada jawaban dari dalam, namun dari celah tirai jendela yang sedikit terbuka, aku bisa melihat bayangan seseorang yang bergerak terburu-buru di dalam ruang tamu yang remang-remang.
"Pak Baskoro," Zaidan memanggil dengan suara yang lantang namun tenang, menggetarkan keheningan malam. "Tidak perlu mengemas barang-barang Anda lagi. Seluruh akses keluar dari kota ini sudah ditutup oleh Kejaksaan. Buka pintunya."
Suasana mendadak hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya terdengar suara selot kunci yang diputar dari dalam. Cklek.
Pintu kayu besar itu perlahan terbuka, menampakkan sesosok pria paruh baya dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya. Ia mengenakan kacamata berbingkai perak, persis seperti foto yang ada di basis data Zaidan. Wajahnya tampak pucat, namun matanya yang tajam di balik lensa kacamata itu memancarkan kilat kecerdasan yang dingin—tipe mata seorang perancang yang biasa mengatur strategi di balik meja.
Baskoro menatap Zaidan, lalu pandangannya beralih melompati pundak Zaidan dan mengunci langsung ke arahku yang berdiri di kegelapan teras.
"Larasati Hermawan..." suara Baskoro terdengar parau namun tetap stabil, sama sekali tidak terdengar seperti orang tua yang ketakutan. "Kau rupanya jauh lebih pintar dari yang diperkirakan oleh Adrian. Menyerangku lewat cerita online... taktik yang sangat tidak biasa untuk seorang anak ilmuwan."
Aku melangkah maju, keluar dari bayangan pohon palem, berdiri tegak di samping Zaidan. "Taktik biasa tidak akan bisa menyentuh orang yang bersembunyi di dalam bayangan selama tiga tahun seperti Anda, Pak Baskoro. Atau harus kupanggil... Sang Arsitek?"
Baskoro terkekeh pelan, sebuah tawa getir yang terdengar hambar. Ia membuka pintunya lebih lebar, memberikan ruang bagi kami untuk melihat ke dalam ruang tamunya yang sudah dipenuhi oleh beberapa kardus pakaian dan tumpukan kertas yang sebagian sudah hangus di dalam wadah pembakaran besi.
"Adrian Mahendra adalah pria yang serakah, dia mengira uang bisa membeli segalanya termasuk kesetiaanku," ucap Baskoro sambil menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. "Dia membuang Ardiantoro saat situasinya memburuk, dan dia pasti akan membuangku juga untuk menyelamatkan kulitnya sendiri di pengadilan nanti. Jadi, untuk apa aku harus terus menyembunyikan rahasianya?"
"Jadi Anda mengakui bahwa Anda yang merancang kecelakaan mobil Ayah dan Ibu?" tanyaku, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang mendidih di dalam dada.
Baskoro menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan—ada sedikit rasa penyesalan, namun lebih banyak kepasrahan di sana. "Aku hanya merancang sistemnya, Larasati. Eksekusinya tetap ada di tangan orang-orang Adrian. Tapi jika kau mencari dokumen asli cetak biru teknologi pemurnian energi milik Januar Hermawan... benda itu tidak ada di Jakarta. Benda itu ada di sini, di dalam hard disk eksternal yang belum sempat kubakar."
Ia menunjuk ke arah sebuah perangkat hitam kecil yang terletak di atas meja kerja di sudut ruangan.
Zaidan bergerak cepat hendak mengamankan perangkat tersebut, namun tiba-tiba... dari arah jalanan di luar kompleks, terdengar deru suara mesin mobil yang melaju kencang dan berhenti mendadak tepat di depan pagar rumah Baskoro. Suara pintu mobil yang digebrak terbuka dengan kasar memecah kesunyian lorong.
"Jangan bergerak! Tetap di tempat!"
Belasan petugas kepolisian berpakaian sipil bersama Tim Satgas Kejaksaan daerah langsung merangsek masuk ke dalam halaman rumah dengan senjata api yang sudah siap di tangan mereka. Di barisan paling depan, seorang jaksa muda menunjukkan surat perintah penangkapan resmi yang baru saja diterbitkan secara kilat dari Jakarta.
Baskoro tidak melawan. Ia hanya mengangkat kedua tangannya perlahan saat petugas mulai memasangkan borgol besi di pergelangan tangannya yang sudah keriput. Sebelum diseret keluar menuju mobil tahanan, Baskoro sempat berhenti tepat di hadapanku.
"Ceritamu bagus, Larasati," bisik Baskoro dengan senyuman miring yang misterius. "Tapi ingat... sebuah bangunan besar tidak hanya memiliki satu arsitek. Adrian tumbang, aku tertangkap... tapi pastikan kau tidak pernah membuka file di dalam hard disk itu jika kau masih ingin hidup tenang di rumah ini."
Kalimat ancaman bernada teka-teki itu menjadi kata terakhir dari Sang Arsitek sebelum pintu mobil polisi ditutup rapat dan membawanya pergi meninggalkan kepulan asap knalpot di ujung gang.
Aku berdiri terpaku di ambang pintu rumah tua itu, sementara Zaidan berjalan kembali menghampiriku sambil memegang erat hard disk hitam yang berhasil diselamatkan dari meja kerja Baskoro. Di bawah langit malam yang perlahan mulai digantikan oleh semburat fajar, aku tahu bahwa satu lagi bab gelap dari sejarah keluargaku telah berhasil kubongkar. Namun, kata-kata terakhir Baskoro tadi meninggalkan sebuah tanda tanya baru yang jauh lebih besar di dalam draf kehidupan nyata yang sedang kutulis ini.