Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 30
"Diam kamu!" Wanita itu pun menyela, tangannya menghempaskan tangan selina dari pundak Dimas dengan kasar.
"Dimas! Apa kamu tuli, berapa kali mama dan papa katakan kalau mama dan papa nggak sudi wanita ini jadi menantu mama," lanjut wanita itu berujar dengan amarah yang menggebu.
"Nak Dimas ini teh ada apa sebenernya?"
Melihat hal yang tidak beres dan tak bisa ia mengerti Harun pun bertanya, masih dengan nada sopan.
"Saya bisa jelasin, Pak," jawab Dimas.
"Dimas!"
Kini suara keras kembali terdengar memanggil nama Dimas, kali ini suara berasal dari pria yang mengenakan jas berwarna hitam, pria yang datang bersama wanita yang menyebut dirinya sebagai mama dari Dimas.
Pria itu menatap tajam Dimas dengan rahang yang mengeras, kilatan kemarahan begitu terlihat jelas dari sorot matanya.
"Apa yang kamu lihat dari wanita ini? Sampai kamu berani membayar orang menggantikan orang tuamu hanya untuk menikahinya. Menjadi anak durhaka kamu!" ujarnya kemudian.
"Aa'?" selina tercekat, ia tak bisa mengeluarkan banyak kata, seluruh persendiannya melemah, tubuhnya terhempas dan terduduk di kursi.
Ingin tak percaya, tapi logikanya seolah menentang.
"selina." Asri berusaha untuk merengkuh selina, menguatkan.
"Dimas, apa ini, Dimas?" tanya Asri, menatap Dimas dengan tatapan penuh tanya, meminta pertanggung jawaban.
"Bu, saya bisa menjelaskan."
"Hei kalian. Saya tidak kenal siapa kalian. Mendengar saja saya enggan. Tapi guna-guna apa yang kalian berikan pada Dimas sampai dia menjadi anak pembangkang, anak durhaka!" tuduhnya pada keluarga Asri.
"Mama!" sentak Dimas.
"Diam kamu, Dimas! Jangan membentak Mama. Sekarang giliran Mama yang bicara. Mama sudah tahu semua. Dia pasti menggunakan guna-guna seperti yang digunakan bapaknya. Guna-guna turunan."
Tuduhan semakin keji dilontarkan wanita tak punya hati itu.
Di bangku keluarga Asri, Hasna tampak begitu malu dan ingin sekali memarahi Asri yang sudah membuat dirinya malu hari ini.
Sementara Ayu dan sang ibu, justru menyunggingkan senyuman. Dewa keberuntungan seolah berpihak pada mereka.
Riuh suara para tamu pun terdengar. Cerita yang sudah tenggelam puluhan tahun lamanya kini kembali mengembang bahkan semakin panas terdengar di telinga Dito.
Ia yang berdiri di sebelah sang ayah mengepalkan kedua tangannya. Ingin sekali ia meraih kerah kemeja lelaki yang dengan sandiwaranya memohon dan meminta hati kakaknya.
Ya, Dito tak menyangka Dimas melakukan kebohongan bahkan sejak lamaran hingga pernikahan.
Ditambah sekarang ia seolah tak ada ketegasan. Membiarkan kata-kata buruk keluar dari mulut ibunya.
Dito seolah tak bisa menahan, namun, ayahnya memegang tangan Dito kuat-kuat sehingga ia tak bisa lagi bergerak.
"Diam, saya tidak pernah melakukan apa yang Anda tuduhkan. Jika Anda bertanya, tanyakan pada A'Dimas,"
Selina yang sudah tak tahan mendengar orang tuanya dihina akhirnya berseru. Baginya tak mengapa jika dirinya yang menelan hinaan, tapi jangan ibu dannayahnya diikut sertakan.
"Pintar bicara juga kamu. Dasar keluarga kere jangan mimpi jadi kaya. Dimas sekarang kamu pilih ibu atau dia!"
Dimas terdiam lama, kediaman Dimas tentu membuat selina semakin terluka hatinya.
"Ma, kita bisa bicarakan baik-baik. Dimas mencintai selina. Tapi Dimas juga nggak mau kalau mama terluka," jelas Dimas pada akhirnya.
"Pilihan tetap pilihan Dimas!"
Selina menatap pria di hadapannya itu, tak ada tanda-tanda jawaban keluar, matanya pun mengembun.
"Pesta, semua biaya, kamu kan yang mengeluarkan?Dimas, Dimas... kena pelet apa kamu, Nak. Kamu harus pulang, mandi garam rukiyah sekalian. Mama nggak akan pernah ridho kamu menikah. Sekarang pulang! Dan kamu, semua biaya yang dikeluarkan Dimas. Kami anggap hutang." Air mata pun mengalir deras di pipi dari ibunya Dimas.
"Silahkan pulang dengan anak kesayangan kalian itu, mandiin di tujuh sumber mata air sekalian jangan cuma air garam." Suara bariton terdengar di tengah Isak tangis dari ke dua belah keluarga.
Seketika semua yang ada di sana menoleh ke arah suara, seorang pria gagah dan tinggi berdiri di depan mereka, mengalihkan semua pandangan dengan pesona yang di milikinya.
Dia adalah Aabid.
Tak tunggu ya.....
pasti selina hamil,,,