Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Rendra ikut pening memikirkan ulah Martin. Pria itu sibuk menyembunyikan hubungan gelapnya dengan Cika, padahal dua bulan lagi ia akan menikahi tunangannya, Rani.
Ironisnya, Martin justru tahu sisi paling bobrok dari masa lalu Rendra—tentang Vanessa, tentang Amerika, tentang kebebasan yang dulu di lakukannya.
Mereka duduk di sebuah bar yang tak terlalu ramai. Gelas minum masih utuh, tak tersentuh.
“Lo waktu sama Vanessa… emang aman, bro?” tanya Martin santai, seolah membicarakan hal sepele.
Rendra mendecih.
“Gue gak bakal naroh benih sembarangan di inang yang salah, bego. Gue cuma pengin punya anak dari Medina.
Dari dulu gue emang menginginkan dia. Tapi umur kita terpaut jauh, ditambah bunda menyayangi Medina kayak ke anak bungsu. Mana berani gue macem-macem."
Martin mengangkat alis.
“Terus?”
"Pas bunda nyuruh gue pulang ke Indo buat nikahin Medina. Jelas dengan senang hati gue terima.
Dalam pikiran gue, akhirnya gue bisa memiliki Medina. Gue bangga banget waktu itu. "
"Tapi, gue baru berani minta hak gue sebagai suami setelah beberapa hari nikah. Itu pun pelan-pelan.”
Martin tertawa keras.
“Gila. Player kelas berat kayak lo bisa nahan diri? Padahal lo tidur satu ranjang sama Medina. Kuat bener?
Gue aja udah bayangin kalo Rani tidur di sebelah gue, bakal gue garap tiap malem.”
“Ck! Lo lagi gak ngerti sih. Karena gue menghargai dia,” jawab Rendra dingin. “Medina itu murni, sebening kristal. Gue pengin semuanya penuh rasa, bukan sekadar nafsu kayak sama Vanessa.”
“Terus Vanessa lo anggap apa? Kenapa juga lo masih jalanin hubungan bebas dengan Vanessa, sedangkan lo udah dapetin apa yang lo mau.”
“Gak pernah serius. Gue juga bego sih, gampang ke goda sama dia. Niatnya pas balik Amerika gue mau putusin. Tapi dia malah menggoda di kamar hotel.
Akhh sudah lah, kesel kalo gue inget. Cewek binal itu selalu cari kesempatan di saat tubuh gue butuh asupan.
Lagian, dia cuma pelarian. Dan sialnya… semua itu kebongkar sama Medina. Gue kira dia polos. Ternyata dia terlalu cerdas dan teliti.”
Martin terkekeh.
“Terus? Lo bakal cerai?”
“Gak! Gak akan.” jawab Rendra tegas.
“Sampai kapan pun gue gak bisa hidup tanpa Medina. Gue takut kehilangan dia. Gue beneran pengin berubah, Martin.”
Martin terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan.
“Ya udah, jauhin cewek-cewek lain.”
“Gue udah jauhin. Tapi mereka aja yang masih berani deketin. Sekarang bokap nyokap gue sampai ngambil semua aset gue gara-gara kebejatan gue.
Gue bahkan gak boleh nemuin Medina di Melbourne, gue di larang telefon dia, kecuali Medina yang menghubungi duluan, gue juga gak di bolehin video call. Apa gak gila gue, coba?”
“Hah, separah itu?”
“Mereka nganggep Medina kayak anak kandung sejak lama,” suara Rendra melemah.
“Begitu tahu kebejatan gue, semuanya dicabut. Gue miskin sekarang, hati gue hancur, harus dipisahkan dengan belahan jiwa yang gue inginkan selama ini.
Gue berasa hidup tapi matii, kalo gak dengar suara nya. Untung kemaren, entah kenapa tiba-tiba dia nelfon. Gue berasa di siram angin surga denger suaranya.”
Martin tertawa kecil, getir.
“Masalah gue udah ribet, tapi hidup lo lebih nyesek. Orang tua lo bener-bener menghukum lo sampai lo beneran sadar. haha..”
“Terus aja ketawa,” dengus Rendra.
“Terus kasus gue gimana ya Ren?”
“Ya lo tanggung jawab lah. Cika hamil kan anak lo.”
“Ah, tapi dia gak pantas jadi ibu. Rani yang gue mau. Apa gue suruh gugurin aja ya.”
“Jangan ngaco!” suara Rendra meninggi.
“Gue pernah kehilangan anak gue dalam kandungan, Martin! Itu penyesalan terbesar gue. Karena semua itu gara-gara gue. ”
Rendra terdiam. Kenangan pahit itu kembali menekan dadanya.
“Gue lihat bayi gue… dingin, pucat. Sedang ibunya berjuang di ruang ICU antara hidup dan mati. Melihat kondisinya yang kritis. Gue hampir kehilangan segalanya.”
Martin menunduk.
“Gue… jadi mikir ulang.”
“Jelasin ke Rani apa adanya. Kalau jodoh, dia bakal bertahan. Kalau enggak, ya ikhlasin.”
Martin menghela napas panjang.
“Lo enak, udah nikah.”
“Justru karena itu,” jawab Rendra pahit, “risikonya lebih besar.”
Setelah Pertemuan
Rendra pulang ke rumah yang sunyi. Orang tuanya sedang di Melbourne menjenguk Medina, lalu lanjut ke Amerika. Karena akan di adakan rapat dewan direksi, untuk menunjuk Azzam sebagai pimpinan baru.
“Gue benci Azzam gara-gara bunda pernah jodohin dia sama Medina,” gumamnya. “Padahal gue yang paling dulu sayang sama Medina…”
Flashback on beberapa tahun lalu.
“Medina? Kok bisa jatuh?”
Rendra berlari kecil saat melihat gadis kecil itu tertindih sepedanya. Lututnya terluka.
“Habis jatuh dari sepeda, Kak,” suara Medina bergetar.
Rendra menggendongnya masuk ke rumah, mendudukkannya di sofa, lalu mengambil kotak P3K. Tangannya cekatan membersihkan luka.
“Aduh…”
“Sakit?”
Medina mengangguk.
Rendra meniup pelan lukanya.
“Sabar ya. Sedikit lagi.”
Tatapannya lembut, penuh rasa khawatir—seperti seorang kakak yang takut adiknya terluka.
“Nanti hati-hati kalau naik sepeda.”
“Iya, Kak. Tadi ada kucing lewat berlari, aku kaget jadi oleng.”
Rendra tersenyum tipis.
“Ya sudah gak papa. Kamu mau es krim?”
“Mau.. mau!”
Mereka makan es krim bersama di dapur. Medina tertawa saat es krimnya belepotan.
“Pelan-pelan makannya,” ujar Rendra sambil mengelap pipi Medina dengan tisu.
“Kakak cerewet,” Medina tertawa.
Rendra ikut tersenyum. Ada rasa hangat yang tak bisa ia jelaskan—rasa ingin melindungi. Bukan lebih, bukan aneh. Hanya tanggung jawab yang tumbuh tanpa ia sadari.
“Kakak mau mandi dulu,” katanya kemudian. “Sudah sore, kamu jangan keluar main lagi. Bentar lagi bunda sama ayah pulang.” ucapnya sambil mengusap kepala Medina.
“Iya, Kak.”
Rendra masuk ke kamar, menghela napas panjang.
“Kenapa gue selalu kepikiran dia?” gumamnya lirih. “Gue cuma pengin dia baik-baik aja. Tapi, ada rasa aneh di hati gue. Hahh..”
Saat itu, Rendra tak pernah tahu… rasa ingin melindungi itu kelak berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam—dan jauh lebih menyakitkan.
...----------------...