Selama 2 tahun menjalin mahligai rumah tangga, tidak sekali pun Meilany mengucapkan kata 'tidak' dan 'tidak mau' pada suaminya. Ia hanya ingin menjadi sosok seorang isteri yang sholehah dan dapat membawanya masuk surga, seperti kata bundanya.
Meski jiwanya berontak, tapi Mei berusaha untuk menahan diri, sampai pada akhirnya ia tidak bisa menahan lagi ketika suaminya meminta izinnya untuk menikah lagi.
Permintaan itu tidak membuat Mei marah. Ia sudah tidak bisa marah lagi ketika sudah kehilangan segalanya. Tapi ia juga tidak bisa tinggal di tempat yang sama dengan suaminya dan memilih pergi.
Selama 7 tahun Mei memendam perasaan marah, sampai pada suatu ketika ia menemukan kebenaran di dalamnya. Kebenaran yang sebenarnya ada di depan matanya selama ini, tapi tidak bisa ia lihat.
Bisakah Mei memperbaiki semuanya?
*Spin off dari "I Love You, Pak! Tapi Aku Takut..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jnxdoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30 - Bahagia
"Mas? Mas yakin bawa Mei ke sini? Mei ga apa-apa kalau pulang sekarang."
Pegangan Aslan di tangannya menguat. "Tenang saja. Kamu juga belum makan, kan? Temenin mas makan."
Keduanya berjalan menuruni tangga melingkar besar yang ada di lobi. Khusus untuk bagian kantin dan area belanja, lokasi itu bisa dilalui banyak orang tanpa harus memakai kartu akses khusus.
Dengan leluasa, Aslan membawa isterinya ke kantin yang terkenal dengan masakannya itu. Area itu sangat luas dan bersih. Tampak berjejer para petugas melayani antrian yang perlahan menguar di sana. Beberapa tempat duduk mulai terisi, membuat Aslan sedikit menarik tangan isterinya.
"Ayo kita cari tempat duduk. Tempat ini penuh banget kalau jam makan siang. Susah cari tempat duduk."
Mereka pun mengambil tempat yang agak di pojokan dan tidak seperti biasanya, Aslan duduk di sampingnya.
Raut pria itu seperti anak kecil saat tidak sabar mengamati isterinya membuka tutup bekalnya.
"Wah! Kelihatannya enak banget, Mei!"
Tersenyum melihat ekspresi suaminya, Mei mulai mengatur bekal-bekal itu di meja.
"Mas mau minum apa? Biar Mei beliin. Tadi Mei lupa bawa minum dari rumah."
Pria itu mulai menguyah dengan rakus. "Es teh tawar saja, Mei."
Mengusap belakang kepala suaminya, wanita itu berdiri dan mulai berjalan ke arah yang menjual minuman. Ia baru saja akan membayar saat seseorang tiba-tiba saja berdiri di sebelahnya.
"Oh? Jadi ini isterinya pak Aslan?"
Komentar itu datang dari seorang wanita yang cukup cantik. Wanita itu sepertinya datang bersama rekannya yang juga terlihat sedang mengamati Mei dari atas ke bawah, dengan tatapan mengintimidasi.
Tidak mau mencari pertengkaran di tempat kerja suaminya, Mei hanya tersenyum sopan.
Ia baru akan melewati keduanya, saat salah satu dari mereka kembali nyeletuk. "Kayanya memang kurang pendidikan deh. Cantik sih, tapi cuman TKW. Aneh juga selera pak Aslan yang ternyata rendahan."
Dua orang itu tertawa melecehkan dan mereka melewati Mei, setelah dengan sengaja menyenggol bahunya.
Berusaha menahan kemarahannya, Mei duduk di kursinya dan menyerahkan botol minuman milik suaminya.
"Makasih, Mei."
"Hmm."
Menyadari sikap isterinya yang berbeda, Aslan menatap Mei lebih intens. "Kamu kenapa, Mei?"
Kepala Mei menggeleng. Ia berusaha tersenyum.
"Engga apa-apa kok, mas. Mas Aslan makan saja lagi."
Tiba-tiba Aslan menyadari, banyak pasang mata sedang mengawasi dirinya dengan isterinya. Tatapan mata yang menilai dan penuh rasa ingin tahu. Ia juga melihat beberapa wanita sedang memandanginya tidak suka, dan tatapan marah itu terutama mengarah pada isterinya.
Mata Aslan mengerjap dan ia menatap isterinya lagi. Pandangan wanita itu menunduk. Kedua tangannya memegang erat botol minuman dingin di depannya erat.
Pria itu akhirnya mengambil salah satu tangan Mei dan meletakkannya di pahanya.
"Mas?"
"Pegang paha mas, biar semua orang tahu, mas milik kamu Mei. Mas suami kamu, dan kamu isteri mas."
Sejenak, Mei tertegun tapi kemudian pipinya sedikit memerah. Ia tersenyum malu-malu. Tangannya mulai mengusap paha pria itu yang terasa keras di telapakannya.
"Tapi jangan godain mas ya. Mas masih harus kerja sampe sore nanti."
Kata-kata itu membuat Mei terkekeh. Wanita itu mendekatkan duduknya, sampai bahu mereka menempel.
Ia memandang suaminya gembira, "Enak mas semurnya?"
"Enak banget Mei. Kamu memang pinter masak."
Membersihkan sedikit saos di sudut mulut suaminya, Mei menggeser kotak bekal itu lebih dekat ke Aslan.
"Habisin mas. Kalau kurang, masih ada sisa kok di rumah buat mas makan nanti malem."
***
\= Lantai 56. Salah satu ruangan direksi \=
"Aku tadi lihat kau memanggil Aslan, Hag. Apa katanya tadi?"
Menghempaskan diri ke sofa di ruangan Stanley, Hagen mend*sah. Ia menatap Herman di seberangnya.
"Dia bilang itu murni kecelakaan, Man. Dia tidak ada maksud melakukan b*nuh diri di sana."
"Kau yakin?" Suara Herman terdengar sangat dingin dan skeptis.
Pertanyaan itu dijawab Hagen dengan anggukan singkat.
"Tadinya aku juga tidak percaya. Tapi setelah aku cek lagi di CCTV, dia memang sepertinya sedang berusaha mengambil sesuatu. Terlihat seperti dasi, dan Aslan membenarkannya tadi pagi."
"Tapi kenapa sampai seperti itu? Memangnya dasi itu mahal sekali?"
Kepala Hagen sedikit meneleng ke arah Stanley yang tampak menyeruput kopinya.
"Itu dasi dari isterinya. Hadiah saat Aslan berulang tahun yang ke-31. Tepat sebulan sebelum wanita itu pergi meninggalkannya tujuh tahun lalu."
Informasi itu membuat kedua rekannya saling berpandangan.
Suara Stanley sedikit memelan saat ia bertanya, "Jadi benar dia sudah menikah? Rumor itu benar kalau isteri Aslan adalah Meilany, sekretaris Conrad, perwakilan dari GuardYourInvest.com?"
Hagen mengangguk dan mengambil cangkir kopinya sendiri.
"Aku tidak mau bertanya lebih jauh soal masalah pribadi mereka. Aslan hanya bilang, dia dan Mei sempat terpisah beberapa tahun. Wanita itu pergi ke LN, dan dia tetap di Indonesia. Dia tidak mendaftarkan data isterinya karena memang Meilany kerja di LN, jadi tidak ada gunanya juga. Untuk anaknya sendiri, Aslan tidak menjelaskan detail, tapi aku asumsikan, anaknya sudah meninggal cukup lama."
"Meninggal?" Kembali Stanley terkejut. Saat ini, pria itu pun baru akan menjadi seorang calon ayah.
"Aslan bilang anak itu sudah tidak ada waktu Meilany pergi ke LN."
Lagi-lagi ruangan itu menjadi hening, sampai terdengar nafas Herman yang sedikit berat.
"Kasihan sekali dia. Aku masih ingat ibunya meninggal saat dia baru join ke TJ Corp. Aku tidak tahu kalau saat itu, dia juga baru ditinggal isteri dan anaknya. Pasti berat sekali harus melalui semuanya sendirian selama tujuh tahun ini. Aku tidak bisa membayangkan jadi dia."
"Aku juga hanya bisa mengira-ngira saja, Man. Tapi kalau itu terjadi padaku, aku tidak akan menyalahkannya kalau Aslan memang benar-benar mau b*nuh diri malam itu. Kita tidak pernah tahu beban pikirannya selama ini. Karena yang aku tangkap, sepertinya memang ada masalah antara Aslan dengan Mei. Kalau memang tidak ada masalah, mereka tidak akan seperti orang asing saat bertemu beberapa minggu lalu. Aneh kan?"
"Aku setuju denganmu, Stan. Aku sudah curiga dua orang itu ada sesuatu, karena mereka memakai cincin kawin yang hampir sama. Aku sempat berfikir apa itu kebetulan, atau karena keduanya hanya ingin menjaga hubungan profesional selama bekerja. Tapi tidak pernah mengira kalau keduanya benar-benar pasangan."
Kembali ruangan itu senyap. Hagen akhirnya menepuk sofa dan berdiri. Tampak ia merapihkan jasnya.
"Kau mau pergi?"
"Aku ada kunjungan lapangan bersama Alex sore ini."
Stanley mengangguk dan ia ikut berdiri. Baru saja Hagen akan membuka pintu, tiba-tiba ia berseru cukup nyaring, "Oh ya. Kau sudah berhasil menghamilinya?"
Pertanyaan itu hanya dijawab Hagen dengan raut kesal, dan pria itu membanting pintunya keras.
Dua orang yang tertinggal saling berpandangan, sampai Herman nyeletuk. "Sepertinya belum, Stan."
Rekannya terkekeh, "Perjuangannya masih panjang kalau begitu. Hebat sekali anak buahmu, Man. Dia bisa membuat seorang Hagen sampai ingin menanamkan benih padanya. Luar biasa sekali dia."
Pernyataan itu membuat Herman tertawa dan ia ikut berdiri.
"Andromeda memang bawahanku yang istimewa, Stan. Aku tidak akan pernah memaafkan Hagen kalau dia sampai menyakitinya dan membuat wanita itu resign."
Terlihat cibiran dari bibir Stanley yang merah muda.
"Kau ini tidak ingin kehilangan bawahan kompeten, atau kau memang peduli padanya sebagai manusia?"
Sejenak Herman berfikir, tapi ia kemudian tersenyum datar.
"Aku serahkan jawaban itu padamu, Stanley. Aku pergi dulu."
"Dasar balok es!"
meican Ama aslan gak terpisah
bibit bebet bobot penting, agama penting, kaya penting....
tapi juga gak penting penting amat
yang terpenting watak dan akhlak...
jika baik insyaallah rumah tangga juga baik.....
makasih Thor.........
payah loe Aydin