Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Rahasia Terbongkar
Lisa cs memperhatikan mobil yang berhenti di depan stadion, seraya memindai jalanan yang hampir sepi padahal waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB.
"Itu kan mobil Berry sayang." Ujar Menala.
"Iiish kau ini ga usah pake sayang kali, dengernya aja udah bikin muntah. Lebay tahu enggak!" Protes Lisa masih dengan mata yang memindai sekeliling.
"Bilang aja cemburu aku sebut Berry sayang." Ujar Menala tertawa lepas.
"Ih cemburu? Ya engga lah memang aku siapanya dia?"
"Otw pacar." Jawab Menala ngasal.
Lisa hanya tersenyum kecut. Teman-teman yang lainnya ikut tertawa karena sudah berhasil menggodanya.
"Tunggu- tunggu itu memang mobilnya bang Berry, lihat di sana ya di sana! Itu pasti bang Berry. Sepertinya dia sedang dalam masalah." Ujar Brenda yang membalikkan badannya ke belakang.
Teman-temannya menoleh. Keempat wanita cantik itu tengah menyaksikan pertunjukan gratis perkelahian Berry dengan 6 orang preman.
Berry terlihat kuwalahan menghadapi 6 preman tersebut. Dia hampir saja tersungkur.
Lisa yang melihat pemandangan seperti itu langsung mengambil tindakan, seraya membuka pintu mobil.
"Menala, Riana, Iren ikut aku menghadapi mereka. Dan kau Brenda seperti biasa, rekam kejadian ini. Jangan ada yang terlewat! Kalian paham?" Titah Lisa memberi tugas pada ketiga temannya.
"PAHAM!" Jawab mereka kompak.
Mereka adalah 4 sekawan yang jago bela diri sejak SMA. Pamornya tidak diragukan lagi. Beladiri yang mereka miliki semata-mata untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Seperti malam ini sepertinya Berry sangat membutuhkan uluran tangan mereka.
Berry kaget dengan tiga orang yang ikut berbaur melawan beberapa orang preman. Sementara Brenda bersembunyi di tempat yang aman.
Bugh
Bugh
Bugh
Satu persatu preman bisa dilumpuhkan. Kemampuan bela diri yang dimiliki 3 orang wanita tersebut membuat Berry kagum.
Berry menarik Lisa menjauh dari tempat tersebut.
"Kamu kenapa ada di sini?" Tanya Berry pada Lisa yang sudah mampu mengalahkan preman dengan tiga kali serangan saja.
"Aku tadi tidak sengaja melihatmu dikeroyok preman." Jawab Lisa beralasan.
"Aku tidak apa-apa, pergilah aku tidak mau kalian terlibat." Berry khawatir Lisa dan teman-temannya akan menemui masalah di kemudian hari.
"Jangan mengotori tanganmu untuk melawan mereka. Gunakan otakmu!" Ujar Lisa bijak.
"Kamu sendiri menggunakan tangan. Ayo pulanglah ini sudah malam." Bujuk Berry.
"Sebelum kamu terbebas darinya aku tidak mau pulang." Tolak Lisa masih mengambil ancang-ancang khawatir preman-preman tadi kembali lagi.
"Dasar keras kepala." Ujar Berry menghampiri dua wanita yang sudah berhasil membuat preman-preman tersebut lari tunggang lenggang.
Beberapa menit kemudian datang seorang laki-laki berambut gondrong berkumis tebal, dialah Baron yang selalu ditemani si Ucrit dan Embul.
Prok
Prok
Prok
Tepuk tangan dan suara tawa yang keras memecahkan keheningan malam itu.
"Hebat...hebat. Tenyata hilang satu tumbuh tiga orang wanita cantik. Boleh juga yang memakai hijab merah, cantik!" Baron tertawa senang sambil mengedipkan matanya ke arah Lisa.
Lisa menjadi risih ditatap seperti itu oleh preman garang model Baron. Dia menyembunyikan tubuhnya di belakang punggung Berry.
"Jadi ini ulah kamu, dasar brengs*k bisa-bisanya kamu mencelakai Beenaku." Berry menunjuk muka Baron dengan emosi.
"Ya aku puas sekarang. Kalau saja si Mbee itu mau kulahap abis tubuhnya tentu akan lain ceritanya. Yang akan menjadi suaminya adalah aku, bukan laki-laki itu!" Baron tertawa puas.
"Tunggu, apa maksudmu?" Tanya Berry tidak mengerti penjelasan Baron yang membuatnya kaget dan tidak percaya.
"Jadi kamu tidak tahu? Mbee kesayanganmu itu sudah menikah dengan lelaki lain dan sekarang aku puas karena aku sudah berhasil memisahkan kalian dan menjebloskannya ke dalam penjara."
"Apa! Jadi Beena di penjara ulahmu juga, keterlaluan!" Geram Berry akan menyerang Baron, namun dicegah oleh Lisa. Lisa menggelengkan kepalanya.
Baron tertawa puas melihat Berry yang begitu marah, kesal dan tentunya patah hati.
"Siapa suruh dia mengganggu pekerjaanku. Anak kecil itu milikku bukan miliknya. Sok-sokan dia menolongnya dan mau mengembalikannya pada orang tuanya. Dia itu tambang emas buatku. Siapa pun yang mengusik pekerjaanku, maka akan berakhir ke penjara, ingat itu!" Baron meninggalkan Berry yang berdiri sambil bergeming. Tidak lama kemudian sebuah mobil polisi datang tepat waktu.
Ngiung...ngiung...ngiung...ngiung
Suara sirine mobil polisi memecah keheningan. Dua orang Polisi keluar dari mobil tersebut.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..