Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.
Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.
Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.
Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.
Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?
Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?
Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Lima hari setelah pembicaraanku dengan mas Ryu waktu itu, hubunganku dengannya justru kian anyep. Sudah anyep, tambah anyep.
Namun tidak dengan Jani, meskipun belakangan ini mas Ryu jarang sekali mengunjunginya, tapi dia sering memantau sang istri siri itu melalui telfon. Mereka tetap berhubungan dengan bertelfonan hampir setiap malam. Tentu mas Ryu melakukannya saat dirinya berada di ruang kerja yang ada di depan kamar kami.
Lucu, bukan? Dalam satu atap, bahkan jaraknya hanya sekian meter dan hanya di batasi oleh dinding, kami malah mengobrol lewat jaringan internet. Padahal kami ini suami istri, bisa bicara secara tatap muka, di rumah ini kapanpun kami mau.
Tapi ya sudahlah, ini pilihan mas Ryu, sementara aku hanya ingin menikmati perhatian serta kasih sayangnya yang tak pernah ia berikan padaku sebagai istri sah.
Lagi pula aku belum sanggup jika harus mengakhiri permainan ini sekarang. Aku masih ingin mendengar keluh kesahnya, masih menginginkan perhatian serta cintanya, juga masih ingin bermanja di pelukannya.
Meski hati menjerit, tak apalah jika aku menerima perlakuan manis dari mas Ryu dalam wujud Jani. Walau ada rasa cemburu, tapi balik lagi kalau pada kenyataannya Jani itu aku. Coba kalau Jani benar-benar wanita lain idaman mas Ryu.
Ah.. Aku nggak bisa membayangkan.
Ngomong-ngomong soal mas Ryu, dia jadi lebih sering pulang ke rumah dan makan malam bersama kami.
Mungkin perubahan sikapnya itu karena untuk menutupi hubungannya dengan Jani, sebab dia berfikir kalau aku sudah mengetahui semuanya.
Dan melalui Jani aku bisa tahu kalau dalam waktu dekat mas Ryu akan membawa Jani ke hadapan ayah bunda.
Tapi karena Jani itu aku, akupun menyarankan agar jangan dulu. Aku seakan mengulur waktu supaya tak terlalu cepat memperkenalkan Jani pada orang tua mas Ryu.
Lagian mana mau aku di bawa ke rumahnya, yang ada akulah yang akan di pecel sama ayah.
Saat tengah melamun, aku di kejutkan oleh kedipan ponsel milik Jani.
Dengan gesit tanganku menyambar benda itu di samping aku duduk.
Meskipun sudah terbiasa mas Ryu menelfonku, tapi tetap saja aku selalu di buat deg-deggan juga penasaran.
Menggeser tombol hijau, aku menempelkan ponsel di salah satu telingaku, sedetik kemudian suara lembutnya langsung tertangkap oleh pendengaranku.
"Wa'alaikumsalam, mas. Ada apa?"
"Kangen kamu, sayang"
"Kan sudah ketemu beberapa hari lalu"
"Jangankan beberapa hari lalu, aku bahkan merindukanmu setiap detik"
"Lebay ihh..." Sahutku.
Alih-alih senang karena mas Ryu merindukanku, aku justru memasang wajah cemberut.
"Sayang, sepertinya Naina sudah tahu soal hubungan kita"
"Terus?" Kataku tak heran.
"Aku berniat menjebaknya"
"Menjebak gimana?" Aku terkesiap mendengar kalimat mas Ryu.
"Aku ingin tahu kemana dia pergi, jadi aku berniat buat membuntutinya"
"Caranya?" Tanyaku ingin tahu.
"Aku pura-pura nggak pulang setelah dari rumah sakit. Nanti aku bisa ikutin dia pergi kemana, kalau perginya ternyata buat nemuin laki-laki lain, itu akan menguntungkan buat kita, akan aku adukan ke bunda, dan setelahnya aku bisa men_"
"Okay mas, aku setuju" Potongku cepat. Aku nggak mau kata-kata perceraian keluar dari mulut mas Ryu. Aku tahu mas Ryu akan mengatakan itu, jadi ku sambar saja kalimatnya yang belum selesai.
"Terus nanti mas bilang ke Naina mau ada urusan pekerjaan, dengan begitu dia pasti berfikir kalau mas akan menemuiku, jadilah dia minta ijin ke bunda biar bunda nyangkanya Naina makan dengan mas, padahal sebenarnya tidak, begitu kan maksud, mas?"
"Tepat sekali sayang" Balasnya dengan penuh percaya diri.
Aku tertawa dalam hati, mas Ryu tidak tahu kalau Naina justru berada satu langkah di depannya.
"Kapan mas akan menjebak Naina?"
"Nanti malam. Ini aku lagi kirim pesan ke dia kalau aku nggak bisa makan di rumah"
"Baguslah sayang, mas akan tahu kemana dia pergi, nanti"
"Iya sayang, aku penasaran apa yang dia lakukan di luar sana"
"Tapi apa mungkin Naina nggak hafal mobil mas, takutnya Naina menyadari kalau mas mengikutinya"
"Ah iya, aku hampir melupakan itu, sayang. Untung kamu ngomong"
"Terus gimana?"
"Aku coba pinjam mobil temanku deh, biar dia nggak curiga"
"Mobil siapa, mobil warna apa? Kalau bisa mobil yang beda warna dengan mobil mas?"
"Okay, sayang. Aku akan pinjam mobilnya dokter Yola"
"Emang mobilnya Yola warna apa sayang"
"Merah, sayang"
"Semoga sukses ya, mas"
"Doain ya sayang, minimal aku dapat bukti kalau dia menemui pria lain"
"Tentu dong sayang, aku pasti doain"
Baiklah, pak dokter. Mari kita lihat, siapa yang memenangkan permainan ini.
****
Malam pun tiba, sesuai dengan rencana mas Ryu, aku sudah meminta izin bunda dan berpura-pura kalau kami akan makan malam bersama di luar. Alasan yang sama persis seperti yang ku lakukan jika mas Ryu ingin menemui Jani.
Mengenakan kaca mata hitam, aku mengedarkan pandangan sebelum menaiki taxi online yang saat ini sudah berada di depan rumah ayah.
Dari sini bisa ku lihat mas Ryu memakai mobil berwarna merah, terparkir di depan rumah bu Anis. Aku yakin saat ini dia sedang mengawasiku dan akan langsung mengikutiku begitu taxi yang ku naiki melaju.
Hhhh... Dia pikir aku nggak tahu.
Aku langsung masuk begitu pintu mobil bagian penumpang ku buka.
"Ke perpustakaan kota ya, pak" Ucapku seraya memasang sabuk pengaman.
"Baik mbak" Jawab si sopir taxi.
Ketika ku tengok ke belakang, mobil merah itu berada tepat di belakang taxi ku.
"Sukurin kamu mas" Lirihku, kembali mengarahkan pandangan ke arah depan.
Setibanya di perpustakaan, aku mencari tempat duduk ternyaman untuk membaca buku.
Aku tahu tempat ini karena dulu sering sekali mengunjungi perpustakaan ini.
Saat sudah duduk, aku melihat sosok mas Ryu masuk dengan sembunyi-sembunyi sambil mengawasiku, tapi aku pura-pura tak tahu. Dia kemudian turut duduk di tempat yang tak jauh dari tempatku duduk.
Tak memperdulikannya, aku terus fokus membaca buku dengan sesekali melirik ke arah mas Ryu.
Beberapa saat kemudian, teman SMP ku datang, teman yang pernah bertemu di supermarket saat aku baru menikah. Aku memang janjian dengannya di sini.
"Hai Yul!" Kami bersalaman, lalu berpelukan.
"Hai, Nei! Maaf telat" Yulsa mendudukkan dirinya di depanku.
"Nggak apa-apa. Aku juga belum lama ko"
"By the way, ternyata kamu masih suka berpenampilan seperti ini? Sayang lho Nei, suamimu kan ganteng, dokter pula. Cobalah bajunya jangan kayak gini, yang agak modis dikit"
"Nggak juga kok, suamiku justru suka yang tertutup gini"
"Ah masa? Agamis berarti ye?"
"Hmm" Bibirku terkatup, kedua alisku terangkat.
"Beruntungnya kamu, punya suami kayak dia"
"Alhamdulillah"
Baru mengobrol sekitar tiga puluh menit, tiba-tiba ponselku berdering. Itu tanda bahwa seseorang menelfonku.
Mengambil ponsel dari dalam tas, muncul nomor mas Ryu di layar ponsel.
Ku angkat, lalu ku tempel di telinga.
"Assalamu'alakum, mas" Nada suaraku memang sudah ku atur lebih lembut dari pada suara Jani.
"Aku sudah mau pulang, tolong kamu siapkan makan malam. Lima belas menit lagi sampai"
"Lima belas menit, mas?" Kagetku.
"Kenapa? Lagi sibuk? Atau keberatan nyiapin makan malam buat suami?"
"E-engak"
"Okay, aku mau berkendara, ini ku tutup. Assalamu'alaikum" Ketusnya.
"Wa'alaikumsalam"
Setelah panggilan terputus, dengan perasaan tak enak hati aku berpamitan pada Yulsa.
Keluar dari gedung perpustakaan, aku langsung mendapatkan taxi.
Karena aku tahu mobil yang di pakai mas Ryu ada di belakang taxi yang ku tumpangi, aku mengirim pesan padanya.
"Mas dimana? Bisa mampir ke minimarket yang di ujung jalan dekat rumah bunda? Aku di sini sekarang, kalau bisa tolong jemput aku sekalian"
Pesanku langsung terbalas.
Hubby : "Okay!"
Jelas mas Ryu tahu kalau aku berbohong. Dan ini pertama kalinya kami akan pulang sama-sama.
***
Ketika aku keluar dari mini market setelah tadi membeli roti tawar dan juga selai, mobil mas Ryu sudah terparkir di halaman mini marketnya. Aku manghampirinya setelah dia mengeluarkan sebagian kepala melalui kaca mobil yang terbuka.
Tadi aku memang pura-pura tak tahu kalau itu mas Ryu.
"Mas bawa mobil siapa?" Tanyaku ketika aku duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.
"Teman" Jawabnya singkat. Lalu melajukan mobilnya.
"Kenapa dengan mobil mas?"
"Nggak kenapa-kenapa"
Aku manggut saja meresponnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan ke kamu!"
Suara mas Ryu membuatku reflek menoleh ke kiri.
"Bicara apa?" Aku memindai wajahnya dari samping.
Mas Ryu menepi, lalu mengerem mobilnya.
"Aku mau memberitahumu kalau aku_"
Dia memenggal kalimatnya sendiri.
"Mas kenapa?"
Hening mas Ryu seperti menimbang-nimbang. Dua menit kemudian.
"Aku sudah menikah siri dengan wanita lain"
Bersambung.
Maaf kalau ada typo, nanti pasti di revisi lagi biar enak di baca.
Regard,
ANE
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi