Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Pilihan Arsel
Jovan berkunjung dengan membawa sebuket bunga mawar. Klara harus dirawat selama beberapa hari karena ini kehamilan ketiga yang melalui proses sulit.
Hubungan Jovan dan Kyos tidak membaik, tapi mereka berdamai demi Arsel. Anak itu tidak boleh tahu apapun tentang identitasnya. Klara masih tidak mau kehilangan Arsel.
Klara juga bersyukur karena Jovan tidak mengambil Arsel dari mereka. Setidaknya itu yang Klara tahu.
"Makasih ya Jovan udah mau dateng." Klara menerima buket bunga yang diulurkan padanya.
Kyos menaruh vas bunga di atas nakas, dia membelinya di depan rumah sakit, masih sangat segar. Itu adalah bunga kesukaan Klara.
Kyos menoleh ke bunga yang dibawa Klara sekarang, ia tidak cemburu karena Klara tidak terlalu menyukai mawar. Jovan tidak tahu apapun tentang Klara.
"Masama, sekalian mau jemput Arsel," ucap Jovan.
Pasangan itu tampak terkejut, walaupun mereka tau bahwa cepat atau lambat Arsel akan pergi, akan tetapi ini terlalu mendadak bagi mereka.
"Bisakah kamu tidak membawa Arsel sekarang, Klara baru melahirkan, bahkan kita belum sempat jalan-jalan bersama Arsel," pinta Kyos kepada Jovan.
"Kamu bilang seperti itu juga satu bulan yang lalu, tapi maaf tapi kali ini tidak bisa menunda lagi," jawab Jovan tegas.
"Demi aku yang udah ngerawat Arsel hampir enam tahun ini, berikan kami waktu lagi." Klara tampak memelas.
"Ntahlah ... sepertinya sulit," jawab Jovan.
Hari ini Klara akan keluar dari rumah sakit dan menghabiskan waktu yang tersisa bersama Arsel. Begitupun Kyos, dia berencana membawa keluarga kecilnya jalan-jalan sebelum melepas Arsel pergi.
"Aku pamit dulu," ucap Jovan sembari menyentuh pipi tembem Cinta, bayi kecil itu masih tertidur.
Siang itu Kyos membawa Klara dan bayi kecil mereka pulang ke rumah. Anak-anak belum pulang sekolah, rumah tampak sepi. Seorang pengawal berlari ke arah Kyos.
"Tuan, Nyonya, saya mau lapor kalau tuan Arsel tidak ada di sekolah." napas pengawal itu memburu, ia takut diamuk oleh tuannya.
"Dia ke mana? Sudah tanya ke gurunya?" Kyos tampak khawatir.
"Tuan muda dibawa tuan Jovan."
Klara mulai cemas jika Jovan benar-benar membawa Arsel pergi jauh.
"Cepat Mas telpon Jovan," pinta Klara, tangannya gemetar mengingat Arsel akan pergi darinya.
Kyos segera mengeluarkan ponselnya dan menelpon sepupunya itu.
"Hallo," suara Jovan mengangkat telepon.
"Kau di mana? Kenapa membawa Arsel?" tanya Kyos dengan panik.
"Aku di bandara, Arsel putraku jadi aku akan membawanya pergi keluar negeri bersamaku."
"Jangan gila! Cepat kembalikan Arsel!" teriak Ravin marah.
"Kau tidak punya hak atas anakku. Kami akan segera masuk pesawat, kututup telponnya."
Dengan cepat Klara merebut ponsel sebelum Jovan menutup panggilannya.
"Jovan, tolong biarkan aku bicara dengan Arsel sebenar," pinta Klara dengan nada memelas.
"Baiklah,"
Jovan memberikan panggilan itu kepada Arsel yang tepat berada di sampingnya.
"Hallo Ma," suara Arsel tampak tenang.
"Arsel sayang dengarkan Mama, kamu bisa pura-pura ke toilet dan tunggu Papa sama Mama jemput kamu, kami janji akan cepat, Mama mohon kamu bertahan di sana." Intruksi dari Klara yang terlihat panik, dia benar-benar tidak ingin berpisah dari Arsel.
"Nggak Ma, ayah Jovan cuma punya Arsel. Kalau Arsel nggak sama ayah, ayah bakal kesepian, dan Arsel tau rasanya kesepian itu sakit. Arsel sayang sama Mama, Papa, Dek Chika, Dek Halim dan Dek Cinta. Tapi keluarga Arsel yang sebenarnya itu tetap ayah Jovan, maafin Arsel dan makasih karena udah sayang sama Arsel," ucap bocah itu sembari mengusap air matanya, telponnya pun dia tutup tanpa mendengar jawaban dari Klara.
Sementara itu Klara lemas di tempatnya, air matanya mengalir begitu saja. Jantungnya seakan berhenti mendengar penolakan dari putra kesayangnya itu. Kyos menangkap tubuh Klara yang hampir jatuh.
"Arsel lebih memilih Jovan dari pada kita." Klara merasakan sakit di dadanya, dia menyayangi Arsel seperti anak kandungnya sendiri.
Kyos pun tak kuasa menahan air mata, ia terus mengusap air mata yang akan mengalir. Sesal memenuhi dadanya, bahkan dia belum sempat membuat Arsel bahagia selama tinggal bersama.
Arsel pergi meninggalkan banyak kenangan dan sesal, bukan hanya untuk orang tua angkatnya, tetapi juga Chika dan Halim. Chika bahkan bersikeras untuk menjemput Arsel yang bahkan dia sendiri tidak tau keberadaannya. Setelah telpon terputus, nomor ponsel Jovan tidak bisa dihubungi lagi.
Halim kini tidak pernah menyentuh alat lukis, baginya alat lukis sama dengan mengingat Arsel, ia menjadi anak yang murung dan hanya menghabiskan waktu bermainnya di kamar.
Chika memilih pergi melanjutkan pendidikan di luar negeri, Rimay memberi pilihan jika mau keluar negeri itu harus ke Amerika, di sana ada bibinya Kyos. Tak ada negosiasi, Chika tak punya pilihan lain. Karena bagi Chika pergi keluar negeri akan membuatnya semakin dekat dengan Arsel, ia bertekad menemukan Arsel. suatu hari nanti.
Sementara itu Kyos sering menyendiri di kamar Arsel, walaupun ia berusaha keras menepis penyesalannya terhadap bocah itu, perasaan itu malah semakin terasa sakit. Piala-piala yang Arsel tujukan padanya masih berada di situ, masih tetap menyimpan rasa cinta dari Arsel untuknya. Penyesalan itu seakan menyekat tenggorokan, sulit menelan walaupun itu kebahagiaan kecil.
Klara sibuk mengurus si kecil Cinta, ia sering berdongeng untuk Cinta tentang Arsel, menceritakan setiap momen yang keluarga itu rasakan bersama Arsel selama hampir enam tahun. Walaupun mereka dan Arsel tidak terhubung ikatan darah, tapi Klara akan terus menghubungkan ikatan mereka dengan kenangan.
nyimak aah